pancasona

pancasona
Part 149 Siapa sebenarnya Yudistira?


__ADS_3

Yudistira terus memberondong dengan tembakan ke segala arah. Tepat sasaran dan langsung membunuh makhluk di depannya. Rumah itu memang sudah terkepung dan menjadi incaran Lycanoid. Walau umurnya sudah tak lagi muda, tapi kemampuannya sangat melebihi rata-rata. Seorang mantan guru biologi yang fasih memegang senjata dan mampu melumpuhkan lawannya dengan cepat. Mendapat bantuan seperti ini, membuat semangat mereka kembali bangkit. Rendra kembali menyerang, diikuti Abimanyu, dan tentu mereka semua kembali bertarung demi membunuh makhluk mengerikan itu. Darah tersebar di mana-mana, bahkan tiap bagian tubuh mereka seolah mandi darah. Kematian ini bukanlah yang diharapkan, tapi mereka tidak punya pilihan lain lagi sekarang, selain bertahan. Toh, manusia itu akan kembali menjadi makhluk mengerikan jika malam tiba.


Mayat bergelimpangan. Tugas akhir adalah mengumpulkan mereka menjadi satu. Mengeruk makam massal untuk membakar mayat mereka. Setidaknya mereka sekarang harus menghilangkan jejak sekecil mungkin. Salah satunya dengan membakar mayat yang kini sudah berubah menjadi manusia seutuhnya. Kobaran api membentuk kepulan asap hitam di langit. Semua berduka. Berperang dengan tetangga dan orang yang sangat mereka kenali.


"Jadi siapa sebenarnya Anda?" tanya Abimanyu ke pria tambun di sampingnya. Yudistira tidak langsung menyahut, ia memberikan jeda untuk jawaban atas pertanyaan yang pasti beruntun di kepala mereka.


"Anda bukan guru biologi seperti yang kami kenal, bukan?" tambah Vin, yang kesal karena merasa dibohongi.


'Tentu saja aku benar-benar Yudistira, guru biologi seperti yang kalian kenal sebelumnya. Tapi aku tidak menceritakan siapa aku dalam sisi yang lain, kan? Lagian kalian nggak tanya," jawab Yudis, enteng.


"Oh, baiklah, Pak Yudistira. Jadi siapa Anda?" tanya Gio. Kobaran api ini membuat mereka makin emosional, panas dan penuh dendam. Lalu suara jeritan yang lebih mengarah ke geraman, terdengar mengerikan. Yah, mereka melupakan satu werewolf lain yang masih mereka ikat.


"Lebih baik kita mengurus gadis manis di dalam terlebih dahulu," ajak Yudis yang ngeloyor pergi meninggalkan tempat itu. Terpaksa mereka mengikuti Pak Tua ahli tanaman bunga di desa mereka. Vin bahkan masih geleng-geleng kepala, tidak percaya atas apa yang ia lihat tadi. Sikap Yudistira sungguh berbeda, tidak seperti Yudistira, tuan takur desa Amethys . Dia terlihat cool dan keren.


Sumpalan mulut Maya terlepas, membuat gadis itu mampu berteriak kencang dan sungguh berisik. "Untung rumah lu jauh dari pemukiman warga, Bi. Kalau sampai warga desa tau, bisa dirajam kita semua," tukas Vin. Abimanyu hanya melirik Vin yang ada di sebelahnya, sambil mendengus.


Yudistira berjalan memutari Maya yang memang diikat di tiang yang berada di ruang tengah. Ia terus menatap gadis itu lekat-lekat. "Kenapa kalian tidak membunuhnya saja?" tanya Yudistira, heran.


Gio berdeham. Vin mengangkat sebelah alisnya, sementara Abi hanya mampu menarik napas dalam-dalam. "Dia kerabat kami, Pak. Mungkin Anda bisa menolong dia agar kembali menjadi manusia?" tanya Ellea tegas. Yudistira menatap gadis itu lalu tersenyum.


"Maaf, aku bukan pendeta atau tabib," sahutnya santai.

__ADS_1


"Lalu siapa anda?" tanya Allea dingin.


"Well, baiklah. Daripada aku terus ditatap sinis oleh kalian, aku akan mengaku. Dulu ... aku seorang hunter!"


Semua dahi berkerut, menatap Yudistira dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tatapan mereka seperti mengisyaratkan dua hal. Antara kaget dan tidak percaya. Tampang Yudistira yang terkesan kalem dan tenang, sepertinya tidak cocok untuk sebuah pekerjaan menjadi seorang hunter.


"Seriously?" tanya Allea mewakili keraguan mereka semua. Yudistira tertawa, "Yah, kenapa? Tampangku nggak cocok jadi seorang hunter, hah?" tanyanya sedikit sinis, namun masih dapat tertawa.


"Itu memang sudah lama sekali. Dan sekarang aku sudah pensiun, tapi karena mereka mengusik tanah kelahiranku, maka aku harus kembali lagi."


"Pak, apa yang Anda buru dulu? Werewolf juga?" tanya Ellea penasaran. Karena kejadian tadi, dan karena mereka melihat dengan mata kepala sendiri, maka pernyataan Yudistira memang sangat masuk akal.


"Macam-macam. Salah satunya mereka."


Dan Yudistira menggeleng. Rendra pun mengiyakan, kalau manusia yang sudah menjadi werewolf, tidak akan bisa kembali seperti semula. Hanya butuh waktu dan kesabaran jika ingin mengendalikannya. Mereka sepakat tidak akan membunuh Maya, karena Maya sudah mereka anggap adik sendiri. Tapi tentunya mereka tidak bisa menyelamatkan semua warga yang terinfeksi. Memang tidak adil rasanya.


"Bagaimana anda tau kalau di desa ini ada werewolf?" tanya Gio.


"Sejak awal aku mencurigai beberapa pengunjung home stay itu. Waktu itu kami sempat bertemu di toko kelontong gerbang desa, dan kalian tau? Jika kalian sudah pernah menghadapi makhluk ini sebelumnya, pasti bau mereka akan sangat mudah terendus. Dan gerak gerik mereka sangat mudah terbaca. Mereka tidak seperti manusia normal pada umumnya. Dan benar, kan, sejak mereka datang ada beberapa kasus kematian yang sangat tidak wajar. Hewan buas? Oh, itu sangat tidak mungkin terjadi, kan? Walau desa kita di kelilingi hutan, tapi bisa saya pastikan kalau tidak ada hewan buas lagi di sini. Sementara kematian mereka? Tidak wajar!"


"Lalu bagaimana dengan saya, Pak? Apakah Anda sudah tau sejak awal siapa saya sebenarnya?" tanya Rendra. Tatapan mata Yudistira langsung tertuju pada pemuda di seberangnya. Ia tersenyum, " Tentu saja, Ren. Tapi aku tau kamu werewolf seperti apa. Kamu tidak berbahaya sama sekali."

__ADS_1


Mereka telah melewati malam ini dengan kejadian yang luar biasa. Lelah dan penat kini mulai terasa. Rendra dan Yudistira kembali ke rumah mereka masing-masing. Maya masih dalam posisi terikat di sana, dan akan di tunggu secara bergilir oleh tiga pria itu. Ia masih menjerit dan berusaha melepaskan diri dari ikatan yang membelenggunya. Entah sudah berapa lama Maya terinfeksi. Dan kemungkinan juga dialah yang membunuh Lulu.


Mereka juga harus istirahat, karena hari esok akan menanti dengan gemparnya warga desa yang menghilang dalam semalam. Pasti kali ini, kepala desa akan benar-benar memberlakukan jam malam, dan meminta bantuan penjagaan polisi seperti apa yang dia katakan beberapa waktu lalu. Dan jika hal ini terjadi, maka itu tidak akan baik untuk pergerakan Abimanyu dan kawan-kawannya. Mereka tidak bisa bergerak bebas untuk membunuh Ares dan pengikutnya. Dan tentu, mereka juga tidak bisa mencari siapa saja warga desa yang terinfeksi.


_____________


Pintu kamar Abi diketuk, pemuda itu yang baru saja berganti pakaian lantas menoleh ke arah pintu, "Masuk!" Dan ternyata gadisnya yang sedang berdiri di depan pintu dengan sebuah bantal di dekapannya. "Ell? Kenapa?" tanya Abi, heran.


Ellea menoleh sedikit ke lorong di luar kamar, suara lengkingan Maya sungguh mengerikan sekaligus memilukan. "Aku nggak bisa tidur," tukasnya. Abi tersenyum lalu mengulurkan tangannya. "Yuk, tidur sini saja," kata Abimanyu.


"Tapi siapa yang jaga Maya?"


"Paman Gio. Sudah, nggak apa-apa. Paman Gio itu jago begadang. Nanti baru gantian sama aku atau Vin." Ellea menerima uluran tangan Abimanyu. Pemuda itu menuntunnya ke atas ranjang. Selimut digelar dan menutupi separuh tubuh Ellea dan dirinya. Abi memeluk Ellea dari belakang dengan mata terpejam. Embusan napasnya terasa di sekitar leher Ellea, membuatnya makin tidak bisa tidur saja. Tapi setidaknya setelah ada Abi di dekatnya, ia merasa aman.


Ellea memperhatikan cincin yang kini melingkar di jari manisnya. Ia tersenyum saat mengingat momen Abimanyu melamarnya. Pelukan pemuda di belakangnya makin erat. Abi menarik tubuh Ellea lebih dalam ke pelukannya.


"Kenapa? Belum bisa tidur juga?" tanyanya berbisik di telinga Ellea, dengan mata terpejam.


Gadis itu mengelus lembut punggung tangan Abimanyu, dan tersenyum. "Enggak kok, Biyu. Yuk, tidur. Kamu pasti capek," gumam gadis dalam pelukannya itu.


kecupan lembut mendarat di kepala Ellea. Kini Ellea mencoba memejamkan mata di tengah suara raungan Maya yang tentu akan terus terdengar sampai pagi.

__ADS_1


Sementara itu, Gio yang menjaga gadis serigala di ruang tengah hanya diam sambil terus menatapnya datar. Ia menyulut sebatang rokok sambil terus memperhatikan gadis yang masih terikat kuat di depannya. Gio jamin, dia tidak akan membiarkan Maya lolos malam ini. Dalam lubuk hatinya, Gio terluka. Gadis yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri itu, benar-benar menyedihkan.


__ADS_2