pancasona

pancasona
Part 154 the watcher


__ADS_3

Ronal tampak terkejut melihat beberapa orang warganya yang berada di balik jeruji besi. Beberapa petugas polisi yang berjaga, bingung harus menjelaskan apa tentang penangkapan massal warga desa yang dilakukan oleh Abi, Gio, dan Vin. Tidak ada yang berani melawan Abimanyu di desa itu. Semua tau sepak terjang Abi yang telah beberapa kali membuat gempar desa Amethys.


"Ini?" tanya Ronal meminta penjelasan. Ia menunjuk ke sel-sel tahanan yang ini penuh sesak.


"Kami bisa jelaskan. Eum, Pak, bisa tolong perlihatkan CCTV semalam?" pinta Abi ke petugas jaga. Ia mengangguk dan membawa mereka ke sebuah ruangan lain di ujung koridor.


Kejadian peristiwa semalam memang sengaja di rekam, untuk membuktikan kalau ucapan Abi bukan omong kosong belaka. Hal yang tidak masuk di alak memang seharusnya dilengkapi bukti yang nyata, agar mereka percaya dan mengerti. Ronal melongo sambil geleng-geleng kepala melihat menit demi menit kejadian itu. Hal aneh yang akan tidak ia percayai jika tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri. "Ini gila!" gumamnya. "Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Ronal lagi.


"Gini, Pak. Kita harus mengumpulkan warga. Semua warga. Nanti kita akan pilih, mana warga yang sudah terinfeksi, mana yang belum. Warga yang sudah terinfeksi, harus di karantina. Terutama jika hari sudah menjelang malam. Karena di saat-saat seperti itu, mereka akan berubah," jelas Abimanyu.


"Sebentar. Bukannya, kalau setahu saya, manusia macam ini akan berubah saat bulan purnama, kan?" tanya Ronal. "Seenggaknya saya sering menonton film macam ini."


"Mereka lain, Pak. Karena perubahan mereka terjadi bukan hanya karena bulan purnama saja, tapi karena panggilan dari alpha-nya," tukas Vin.


"Alpha?"


"Yah, semacam pemimpinnya. Dia juga yang mengubah mereka semua menjadi makhluk mengerikan itu."


"Ada, kah, cara untuk menyembuhkan mereka?" tanya Ronal dengan penuh harap.


"Pak Yudis sedang mencari cara. Dia bilang ada ramuan yang bisa menetralisir atau menahan hasrat membunuh dan memakan manusia yang memang pasti ada dalam diri mereka. Yah, semoga berhasil."


"Pak Yudis? Yudistira maksud kalian?!" pekik Ronal tak percaya. Vin dan Abi mengangguk. "Masa? Perasaan dia itu ... guru biologi, kan? Kok bisa tau soal hal seperti ini?" Pertanyaan itu membuat Vin dan Abi saling lempar pandang. Mereka berdua memang harus menceritakan pandemi werewolf di desa mereka, tapi bukan berarti semua rahasia mereka bongkar juga. Seperti masa lalu Yudistira maupun siapa sebenarnya Rendra.


"Eum ... Pak Yudis memiliki banyak buku-buku tentang werewolf, Pak Kades," jelas Abi dengan gugup. Ia berusaha menetralkan nada bicaranya yang tidak tenang, takut ketahuan berbohong. Karena Abi tau bagaimana watak Ronal. Dia tidak suka dibohongi, dan salah satu orang yang sangat tegas. Maka dari itu ia diangkat menjadi kepala desa karena memang dia paling cocok di antara yang lain.


"Oh seperti itu," gumam Ronal. "Oke, baiklah. Kita mulai bergerak sekarang, kan? Sebelum sore, semua warga harus sudah dikumpulkan dan pisahkan, mana yang terinfeksi, mana yang tidak. Tapi ... Bagaimana memilih mana yang terinfeksi, mana yang bukan?"


"Kalau itu tugas Rendra, Pak. Dia itu orang yang paling sering ada di hutan dan tau bagaimana makhluk itu, karena Rendra sudah pernah menghadapi makhluk seperti itu sebelumnya," tutur Vin.


"Oke, baiklah. Kita mulai sekarang. Saya akan membuat pengumuman untuk warga agar berkumpul di balai pertemuan, sekarang. Kalian lakukan tugas kalian. Tapi saya mau pulang dulu, cari Jefri. Itu anak ke mana sih!" katanya sambil terlihat kesal mengingat putra semata wayangnya yang sulit diatur dan sering pergi seenaknya sendiri.


Mereka kemudian berpencar. Melakukan tugas masing-masing. Dan bersiap untuk mencari tempat untuk karantina lain. Karena penjara ini tidak akan cukup lagi nantinya. Ares sepertinya ingin membuat pasukan perang untuk memberontak desa ini. Yang pasti ia memiliki dendam dan sangat ingin membunuh Rendra, Abi, Vin, Gio, dan Yudistira.


_______________

__ADS_1


Gio sudah bangun dari tidurnya. Walau singkat tapi ia sangat merasa lebih segar dari sebelumnya. Maya dan Ellea juga sudah bangun dan sedang makan di meja makan. Sementara Yudis dan Allea justru sedang meracik ramuan rahasia itu untuk Maya. Allea sudah memasak makanan untuk mereka. Kini Maya dan Ellea sedang asyik makan, datang lah Gio dengan tampang acak-acakan. Ia hendak makan juga karena perutnya sangat kosong. Ia lupa sarapan tadi sebelum tidur, hanya meneguk secangkir kopi saja. "Wah, jelmaan iblis sama pembantu malaikat lagi makan bareng ini," sindir Gio dengan gaya khasnya. Dua wanita itu langsung melirik Gio dengan tatapan tajam. Gio hanya nyengir lalu tanpa berdosa melanjutkan mengambil makan. Nggak ada akhlak emang.


Makan siang kali ini terasa sepi. Karena semua orang sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Semua celotehan Gio terasa tidak lucu bagi Ellea dan Maya. Padahal semua yang dikatakan Gio memang benar.


Di lantai bawah tanah, Yudis dan Allea sedang sibuk dengan banyaknya bahan-bahan aneh yang sedang mereka racik untuk ramuan rahasia itu. Segala bahan yang belum pernah mereka temui bahkan mereka lihat mulai diolah menjadi rebusan air dalam kuali yang cukup besar. Memang sengaja membuat dalam porsi banyak untuk warga yang terinfeksi juga seperti Maya. Tetapi, Maya lah yang menjadi kelinci percobaan nantinya.


"Bagaimana? " tanya Gio saat memasuki ruangan itu.


"Sebentar lagi selesai. Dan Maya bisa mencobanya segera. Kita bisa langsung melihat reaksinya setelah dia meminum ramuan ini," ujar Yudis, yakin.


Hari mulai sore, matahari sudah makin bergeser ke barat, dengan senja sudah mulai menampakkan warna indahnya. Tetapi kali ini senja tak mampu membuat mereka menikmatinya dengan bahagia. Karena akan ada pertempuran setelah sang senja hilang.


"May, kamu siap?" tanya Yudis saat ia memberikan cawan berisi ramuan berwarna hijau pekat itu. Maya menerimanya dengan ragu, tapi perlahan ia mulai meneguknya sampai habis tak bersisa. Ramuan itu sudah masuk ke dalam tubuhnya. Semua orang menatapnya dengan perasaan campur aduk. Antara penasaran dan khawatir. Semua berkecamuk menjadi satu. Hingga tiba-tiba Maya menutup mulutnya, ia lantas berlari ke wastafel yang ada di dekat tangga. Hal itu membuat semua orang ikut panik dan menyusulnya. Maya muntah-muntah di wastafel cukup banyak. Cairan kental berwarna hitam keluar dari mulutnya.


"Pak, kenapa Maya, Pak?!" tanya Ellea panik.


Yudistira hanya diam sambil memperhatikan Maya yang masih saja muntah-muntah. "Ramuannya bekerja!"


Maya hampir mengeluarkan semua isi perutnya yang hanya didominasi air hitam pekat. Hingga akhirnya tubuh Maya lemas. Ia kini terduduk begitu saja di lantai. Ellea dan Allea mendekat dan membantunya berdiri. Maya duduk di sofa dan diberikan air untuk menetralisir tubuhnya.


"Terus bagaimana, Pak? Apakah ini sudah termasuk keberhasilan? Dan apa Maya bisa menahan hasrat perubahan wujudnya?" tanya Gio.


"Jujur saya tidak tau. Tapi melihat reaksinya yang seperti itu, rasanya ini berhasil. Dan untuk membuktikannya, kita harus menunggu sampai malam tiba."


"Jadi sekarang Maya kita bawa ke mana, Pak? Masih di ruang besi atau ...."


"Eum sepertinya masih harus di sana, karena kita juga nggak tau, kan, apa yang akan terjadi nanti? Kita tidak boleh lengah."


Ellea terlihat gusar, beberapa kali ia menoleh ke atas. Dahinya berkerut sambil menekan tengkuknya. "Rasanya di atas ada orang," ujar Ellea.


"Hah? Masa?" pekik Gio, "coba gue lihat!"


"All, kamu jagain Maya bentar. Aku menyusul Om Gio!" kata Ellea. Allea mengangguk.


Ruang bawah tanah ini memang diperuntukkan sebagai gudang dan tempat Yudis melakukan sesuatu yang ilegal. Di sini ia sering melakukan pengusiran roh, membunuh makhluk buruan lainnya yang memang tidak boleh sampai orang lain tau tentang kegiatannya ini. Banyak barang aneh dan bahkan ada beberapa potongan tubuh dan cairan menjijikkan yang enggan untuk orang melihatnya.

__ADS_1


Gio mulai mencari penyusup yang Ellea sebutkan tadi. Setelah menyandang status pembantu malaikat, apa pun yang Ellea katakan dan lakukan, pasti mereka langsung mempercayainya. Ia memang menjadi lebih sensitif atas beberapa hal yang tidak dirasakan manusia lain. Bahkan sebelum rumah Yudis dibobol oleh werewolf kemarin, Ellea sudah merasakan hal yang tidak enak dihatinya. Hanya saja dia masih belum bisa mengerti apa yang terjadi atau apa yang akan terjadi. Dan ia masih perlu mengasah kemampuannya itu.


"Om ... di samping rumah!" kata Ellea menunjuk ke arah kanan sambil menunduk, mencoba menajamkan inderanya yang lain. Perlahan Gio menuju arah yang ditunjuk Ellea. Ia sudah memegang kapak untuk berjaga-jaga. Memang hari masih sore, dan Lycanoid masih menjadi manusia seutuhnya, tetapi Lycans masih dapat berkeliaran walau matahari masih menampakkan wujudnya. Gio mengintip saat sudah sampai di ujung rumah yang menuju ke samping, ia mendengar suara aneh, saat ia mengintip rupanya ada seseorang yang sedang menutup semua simbol penangkal werewolf itu dengan cat semprot. Gio segera melayangkan kapaknya dan hendak melukai orang itu.


"Sialan kau!" umpat Gio dengan penuh emosi. Ellea baru sadar kalau semua simbol yang ada di depan rumah sudah kembali tertutup oleh cat hitam yang dilakukan orang itu. Pria dengan penutup kepala itu menahan serangan Gio, dan mereka terlibat pertempuran. Kapak yang seharusnya dijadikan alat untuk melukai penyusup itu malah sudah ada di depan wajah Gio. Gio terus menahan benda mengkilap itu sekuat tenaga. "Ell! " panggil Gio dengan setengah menggeram. Ia merasa tenaganya sudah hampir habis dan tidak sanggup menahan lebih lama lagi. Ellea yang sejak tadi bengong, lalu tersadar. Ia mendekat ke mereka berdua, menggenggam liontin di tangannya lalu tangan kanannya menjulur ke pria itu, menggenggam lengannya. "Recedere ab currentis!"


Sontak pria itu terpental jauh sambil memegang dada dan lengannya. Terlihat dari kejauhan ada asap yang membumbung ke angkasa yang berasal dari dada pria itu. Ia mengerang kesakitan lalu dengan tergopoh-gopoh segera pergi meninggalkan tempat itu.


"Siapa dia, ya?" tanya Gio yang mendekat ke Ellea sambil menatap kepergian manusia aneh itu. Manusia yang justru memihak makhluk iblis yang sudah meneror desa ini. Sungguh tidak masuk akal.


_______________________


Hari sudah mulai gelap, tugas Abi dan Vin cukup berhasil, dengan bantuan Ronal tentunya. Mereka sudah mulai mengumpulkan warga dan memilih mana yang sudah terinfeksi dan yang belum. Di balai pertemuan, semua warga sudah diberi ramuan buatan Yudistira, bahkan Ellea, Maya dan Allea kini juga ada di tempat ini. Semua warga ada di sini. Namun dipisahkan antara yang terinfeksi dan yang belum.


Awalnya tentu mereka tidak percaya atas apa yang diucapkan Ronal, tapi setelah semua melihat rekaman CCTV di penjara itu, akhirnya mereka tau dan mengerti kalau warga yang menghilang selama ini karena sudah diubah menjadi makhluk mengerikan itu. Mereka cukup tertib dan tidak ada keributan sejauh ini, Ronal memberikan penjelasan dengan sangat hati-hati agar warganya paham dan tidak panik. Apalagi dengan adanya ramuan dari Yudis, mereka sangat yakin itu adalah obat untuk mereka semua.


"Astaga, Jefri! Kamu itu ke mana saja. Ngeluyur terus! Bapak butuh bantuan kamu ini loh," omel Ronal ke seorang pemuda tampan yang baru saja datang. Ia memakai kemeja putih dengan rambut yang diberi sedikit pomade hingga menjadikan penampilannya terlihat rapi dan bersih. Ronal memperkenalkan putranya itu ke Abi dan yang lain. Ia terlihat sangat ramah dan mudah bergaul, terbukti Gio dan Jefri langsung akrab padahal baru saja berkenalan.


Ellea mendengus, ia menggerak-gerakkan hidungnya ke samping kanan dan kiri. Abi yang melihatnya lantas bertanya, "Kenapa?"


"Biyu, kamu nyium bau gosong nggak?" bisiknya.


"Gosong? Ah enggak, sayang. Kamu cium gosong? Salah mungkin?"


"Enggak, Biyu. Pekat banget!" Netra Ellea terus mencari sumber bau itu. Hingga ia melotot saat melihat lengan kanan Jefri yang hitam membentuk cap tangan. Dan ia langsung teringat kejadian sore tadi. "Hey, penyusup!" kata Ellea dengan menaikkan nada bicaranya. Sorot matanya menatap tajam dan dingin ke Jefri yang berdiri tak jauh darinya. Otomatis semua orang menatap balik Ellea dan ke Jefri yang tampak kebingungan.


"Maaf? Ada apa?" tanya Jefri dengan sikap santai.


"Kamu, kan, yang tadi ke rumah Pak Yudis? Menutup semua simbol di rumahnya!" tuduh Ellea.


"Apa maksudmu?" tanya Jefri dengan berlagak tidak paham. Tangan Ellea mulai menunjuk lengan Jefri. Bekas cap tangannya terlihat di sana. "Itu! Aku sudah membakarmu tadi. Dan itu buktinya!"


Ronal mulai terpancing, ia mendekati putranya. " Benar, Jef?"


"Pak, masa bapak percaya sama dia? Aku baru pulang dari kota, Pak. Bukan ke mana-mana. Mana ketemu sama dia!" belanya.

__ADS_1


"Sayang ... sudah. Yuk!" Abi menarik tangan Ellea dan mengajaknya pergi. Bisik bisik terdengar namun akhirnya terhenti karena suara lolongan serigala. Mereka akhirnya bersiap. Akankah warga berubah atau tidak?


__ADS_2