pancasona

pancasona
Part 7 Misteri di sekolah


__ADS_3

Tubuhku masih dibalut selimut tebal, Papa memeluk sambil menuntunku kembali ke kamarku sendiri. Om Gio dan Kak Rayi mengekor kami terus. Dari arah tangga, Pak Dio dan Bi Wati berlari kecil, mendekat.


"Kalian ke mana saja?" tanya Papa dengan nada tinggi.


"Maaf, Pak. Waktu saya melihat ada yang datang, saya coba untuk menghalanginya tadi. Tapi justru saya dilempar jauh, dan pingsan di bawah pohon Angsana sana," tunjuk Pak Dio sambil memegangi dadanya. Ia sesekali meringis kesakitan. "Bi Wati juga sama, Pak. Dia tadi saya temukan pingsan di kamarnya."


Papa tidak menanggapi mereka berdua dan kembali menuntunku masuk ke dalam kamar. "Kalian istirahat saja. Jendela yang pecah, biar kita urus besok," tukas Om Gio. Aku masih menggigil kedinginan, tubuhku gemetar, dan Papa masih berusaha membuat keadaanku lebih baik. Aku berbaring di kasur milikku, Papa kembali menarik selimut yang ada di atas kasur, dan menutup tubuhku lagi dengan selimut yang tadi kami bawa dari kamar sebelah.


Semua orang hanya berdiri diam, sambil terus memandangiku. Tatapan mereka bermacam-macam, tapi yang aku perhatikan hanya tatapan Kak Rayi. Aku yakin dia kini memandangku sebagai wanita aneh, yang makin aneh.


"Kamu butuh apa, sayang?" tanya Papa padaku. Menatapku dalam dengan suara lembut. Aku hanya menggeleng menanggapinya. "Oke, kalau butuh apa-apa bilang, ya? Atau mau Bi Wati buatkan teh hangat?"


"Nggak usah, Pah. Aku nggak pengen apa-apa sekarang."


"Apa yang kamu rasakan sekarang, Bil?" tanya Om Gio menambahkan.


"Cuma lemas, Om. Seperti biasa." Aku menatap ke Kak Rayi yang sejak tadi hanya diam saja di tempatnya berdiri, ia hanya menatapku dengan posisi yang sama sejak tadi. Kedua tangannya yang dimasukkan ke dalam saku celana, membuatnya terlihat tampan. "Kak Rayi, nggak apa-apa? Tadi aku lihat ...."


Dia langsung tersenyum, melepaskan kedua tangannya dari saku itu, dan berjalan menghampiriku. Papa yang duduk di pinggir ranjang juga seperti memberikan ruang pada kami untuk saling mengobrol. "Eum, kalian ngobrol dulu. Papa sama Om Gio ke bawah, mau cek keadaan di bawah," tutur Papa sambil menatap kami berdua bergantian.


"Oh, iya, Om."


Setelah kedua pria hampir tua itu keluar dari kamarku, Kak Rayi makin mendekat dan kini duduk di pinggir ranjang. Ia terus menatapku dalam, memaksakan seulas senyuman dari bibirnya tersebut. Tapi aku yakin, senyuman itu hanya kamuflase untuk menutupi perasaan dia yang sesungguhnya. Dan, masalahnya aku tidak tau apa yang ada di pikiran Kak Rayi setelah melihat hal tadi.


"Kalau setelah ini kakak nggak mau kenal aku lagi, karena aku aneh, nggak apa-apa kok, Kak," cetusku tiba-tiba. Dia mengerutkan kening atas perkataanku barusan. Dan kini ia justru tertawa lepas, membuatku makin kebingungan. Tapi aku sedikit kesal, karena merasa sedang diejek olehnya.


"Kenapa ketawa?" tanyaku sambil mengerucutkan bibir, pertanda sebal.


Kak Rayi justru makin mengeraskan tawanya, dan membuat kerucut di bibirku makin runcing. "Hey, kenapa kamu berpikir seperti itu?" tanyanya sambil memencet hidungku pelan.


"...."


"Kenapa coba?" Kembali aku seolah dibuat beku oleh sikap dan tatapan matanya. Yang awalnya aku ikut larut dalam sorot mata teduh itu, kini aku justru menunduk malu. Ah, bukan malu, grogi lebih tepatnya. Semakin lama aku menatap mata Kak Rayi, maka semakin hatiku panas dingin dibuatnya. Kak Rayi justru makin mendekatkan wajahnya padaku.


"Kak Rayi, ih!" cetusku sambil mendorong tubuhnya agar menjauh dariku. Ia tertawa.


"Gini, Bil. Perlu kamu tau, kalau aku sama sekali nggak pernah menganggap kamu itu aneh. Sama sekali nggak pernah. Bahkan kamu selalu membuat aku penasaran setiap harinya."


"Hah?!"


"Kamu tau nggak, kalau aku sering memperhatikan kamu selama ini. Bahkan sejak kamu jadi siswi baru sekolah. Inget, nggak? Pas MOS dulu? Waktu itu kamu berantem sama salah satu anak OSIS?" tanyanya. Aku pun berusaha mengingat kembali memori di mana beberapa bulan yang lalu itu terjadi.


"Oh yang aku jambak-jambakan sama Kak Putri?" tanyaku balik. Karena kejadian itu memang sudah agak lama dan aku sudah hampir melupakannya, jika saja Kak Rayi tidak membahas lagi.


"Iya, kamu ingat, kan?"


"Hm ... iya, inget. Terus apa hubungannya sama obrolan kita?"


"Iya, saat itu, aku ada di sana. Dan aku lihat pas kamu berantem sama dia. Jujur sejak saat itu aku penasaran sama kamu. Kamu itu bukan aneh, Bil. Tapi unik. Kamu berbeda dari perempuan-perempuan yang selama ini aku temui. "


"..." Jujur aku tidak tau harus berkata apa. Dan sedikit tidak menyangka kalau Kak Rayi ternyata sudah sangat lama mengetahui tentang aku. Karena aku tau tentang Kak Rayi baru sekitar 2 bulan lalu saja. Padahal kami selalu bersama saat latihan taekwondo. Aku tau namanya tapi tidak tertarik dengan kehidupannya. Tapi 2 bulan lalu ada acara basket ball open tournament, dan aku tidak sengaja menonton acara tersebut karena iseng. Acara yang berlangsung di stadion Gelora Bung Karno tersebut ternyata ada perwakilan dari sekolahku. Aku yang sedang lari seorang diri menjadi penasaran. Dan akhirnya menontonnya. Di sana aku bertemu teman-teman sekelas, Zidan kemudian menarikku agar duduk di sampingnya. Dan dari Zidan tersebut aku tau nama-nama pemain basket itu.


Dan, akhirnya aku mengetahui kalau Kak Roger dan Kak Bintang teman Kak Rayi, saat mereka mendatangi Kak Rayi latihan taekwondo seminggu setelah pertandingan basket. Sejak saat itu, nama-nama keempat orang itu begitu santer terdengar di telingaku. Rupanya mereka merupakan salah satu geng di sekolah yang cukup memiliki peran penting bagi sekolah. Selain latar belakang keluarga mereka, juga prestasi keempat orang tersebut yang membuat banyak orang kagum dan berusaha ingin dekat dengan mereka.


"Bil ... Jangan pernah berpikir begitu, ya. Kalau pun semua orang mungkin ngatain kamu aneh, tapi kamu harus percaya kalau aku nggak pernah berpikir demikian." Dia menatapku dalam, dan membuatku makin kedinginan. Astaga, Papa. Anakmu demam.


"Eh, Kak Rayi ke sini mau ngapain?" tanyaku yang seolah baru teringat pertanyaan ini. Kak Rayi langsung membetulkan posisi duduknya, "sebenarnya aku cuma ingin main aja sih tadi. Pas aku tunggu gerbang rumah kamu di buka, Om Gio muncul. Dan, kami kaget melihat kejadian yang menimpa kamu sama Papa kamu. Kami udah berdiri cukup lama di depan gerbang. Kenapa dia muncul lagi, Bil?"


"Hm, aku juga nggak tau. Tapi yang jelas sekarang dia sudah musnah. Aku yakin itu."


"Dan, kamu sendiri sekarang bagaimana? Kaki kamu ... baik-baik saja?" tanyanya ragu.


Aku menyingkap selimut yang menutupi tubuhku, dan memperlihatkan betisku yang tadi terkoyak dengan mengerikan. Semua sudah kembali utuh. "Sekarang sudah baik-baik saja. Aku juga nggak tau kenapa bisa gini, kak. Sejak kecil aku memang bisa melihat hal-hal yang nggak semua orang bisa lihat, entah apa penyebutannya, tapi jujur aku nggak suka. Bukan cuma itu saja, aku juga sering melihat semacam penglihatan. Hal yang akan terjadi pada seseorang. Bagaimana hidupnya, bagaimana dia mati, pokoknya semua kehidupan orang itu. Sampai akhirnya saat umurku 5 tahun, ada sebuah kejadian buruk yang menimpa aku. Aku diculik. Iblis itu menjadikan aku bagai bola kristalnya."


"Iblis?"


"Azazil."


"What?"


"Iya, kak. Aku disuruh melihat tentang masa depannya. Siapa saja orang-orang yang akan membunuhnya, dan bagaimana cara dia meninggal. Sampai-sampai Mama ku koma, karena terguncang. Papa terus mencariku sama teman-temannya."


"Terus bagaimana?"


"Azazil mati. Sesuai dengan prediksi awalku. Cuma saat itu kan aku masih kecil, nggak ngerti tentang semua hal itu. Siapa Azazil, bagaimana jahatnya dia. Dan aku baru tau setelah aku dewasa."


"..."


"Dan setelah penculikan itu, aku memiliki kemampuan ini. Menyembuhkan diri. Kalau aku terluka, separah apa pun itu, tubuhku seolah mampu menyembuhkan diri sendiri, asal aku dibaringkan di atas pasir, seperti tadi. Padahal sebelum aku diculik, semua normal saja. Aku sering jatuh, dan terluka. Tetapi luka itu nggak bisa sembuh dengan cepat seperti tadi. Aku juga nggak tau kenapa."


"Itu bukan aneh, Bil. Justru itu anugerah dari Tuhan, kan? Aku yakin pasti ada tujuannya kamu memiliki kemampuan seperti ini. Dan, yang perlu kamu ingat, kalau kamu bukan orang aneh, tapi spesial." Tanganku digenggam erat oleh Kak Rayi. Ia seolah memberikan energi positif dan membuatku kembali merasa baik-baik saja.


"Ehem." Suara Papa di depan pintu membuat Tangan Kak Rayi terlepas dariku. Aku dan dia terlihat salah tingkah, sementara Papa hanya diam menatap kami datar. "Sepertinya kamu harus pulang, anak muda. Ini sudah larut malam, besok kalian sekolah, kan?" tanya Papa sambil menunjuk jam dinding di kamarku.

__ADS_1


"Eum, aku pulang dulu, ya, Bil. Sampai ketemu lagi besok," pamit Kak Rayi.


Papa hanya menggeleng pelan dengan senyum tipis di bibinya. Dan aku kembali bergelung dengan selimut tebal di atas tubuhku. Yah, aku juga lelah, dan ingin tidur sekarang.


_____________


Hari Senin, adalah hari paling sibuk di sekolah. Setiap Senin, kami akan melakukan kegiatan upacara bendera yang memang rutin di semua sekolah. Setelah libur kemarin, beberapa orang juga pasti akan terlambat masuk sekolah. Dan itu hampir terjadi padaku. Aku datang saat 5 menit sebelum bel masuk berdering.


Saat memasuki pintu gerbang, suasana riuh di lapangan depan sangat klasik. Namun upacara kali ini memang agak lain, karena ada sebuah panggung kecil di tengah. Dengan spanduk panjang di pinggiran lapangan. Tempat ini memang biasa dipakai untuk upacara bendera tiap hari Senin atau hari besar lainnya.


Di sana ada seseorang yang menarik perhatianku. Bahkan sejak aku melewati gerbang dia terus menatapku sambil membantu yang lain. Kak Rayi. Aku menoleh karena rasanya tidak sanggup untuk menolak tatapan mata teduh itu. Aku seperti sudah sangat terbiasa dengan tatapan itu. Dan tatapan mata Kak Rayi seolah magnet yang memaksaku untuk balik menatapnya. Ada kedamaian yang ditawarkan di sana. Dan aku sangat menikmatinya. Aku menyukai tatapan itu. Entah mengapa.


Aku menarik kedua sudut bibirku, saat tatapan mataku bertemu dengan tatapan matanya. Dia pun melakukan hal yang sama. Bahkan sikapnya lucu, tangannya masih memegang beberapa spanduk yang akan dipasang, tapi Kak Rayi tidak fokus pada pekerjaan di depannya, dia malah terus tersenyum padaku. Sampai-sampai punggung Kak Rayi dipukul oleh Kak Roger, dia juga mengikuti arah tatapan mata temannya. Dan tentu akhirnya dia melihatku. "Oh, pantes!" jerit Kak Roger dan sangat lantang ia ucapkan. Telinga Kak Rayi di jewer Kak Roger bak ibu yang memarahi anaknya. Mereka akhirnya kembali dalam rutinitas pekerjaan mereka.


Ah, iya, aku baru sadar kalau mereka adalah pengurus OSIS. Lucu rasanya melihat sikap Kak Rayi tadi, dan itu berhasil membuatku tersenyum sepanjang kaki ku melangkah. Aku mulai naik tangga menuju kelasku berada. Sekolahku ini cukup luas, dengan banyaknya ruang kelas ditiap tingkatannya. Kelas 1 dan 2 saja ada sekitar 7 kelas. Sementara kelas tiga ada 9 kelas. Karena di kelas tiga ini, akan dibagi sesuai jurusan masing-masing. Ada IPA, IPS, dan Bahasa.


Kelas satu ada di satu gedung, di bawah ada 3 kelas, di tengah 3 kelas dan tersisa kelas paling atas 1 kelas saja. Tetapi di lantai tiga ada tiga ruangan kelas dengan 2 kelas yang kosong. Ruangan itu masih terbilang baru, tapi belum pernah dipakai. Sementara ruang kelasku ada di lantai dua. Berada di ruang paling pinggir dan juga penghubung ke lantai tiga.


Kelas dua ada di gedung depanku dengan struktur bangunan yang sama, tiga lantai. Tetapi di antara bangunan kelas satu dan dua dipisahkan oleh ruang guru yang memang ada di bawah. Jadi dari ruang kelasku, dapat melihat ruang kelas Kak Rayi dan teman-temannya. Kak Rayi berada di kelas 2-4 sama sepertiku. Aku kelas 1-4. Sementara ruangan kelas tiga ada di sisi lain bangunan, berdekatan dengan bangunan lain seperti aula, gedung olah raga dan ruangan untuk kegiatan ekstra kulikuler.


Masuk ke dalam kelas, mereka semua justru bersiap akan keluar kelas, karena bel baru saja berdering nyaring. Masing-masing mulai memakai atribut sekolah lengkap, seperti dasi dan topi. Aku buru-buru menuju kursi milikku. Ada di dekat jendela dan aku duduk sendirian. Di kelasku memilih teman sebangku tidak melulu sesuai gender, tetapi justru malah banyak teman perempuan yang duduk dengan teman laki-laki. Tetapi aku memilih duduk sendirian. Kebetulan absen kami genap, tetapi ada satu orang yang sejak tahun ajaran baru tidak pernah masuk sekolah. Mungkin pindah atau hal lain. Tapi namanya tetap selalu dipanggil oleh guru yang mengabsen setiap pagi.


Kelas sudah sepi, hanya beberapa anak yang berlarian di koridor karena mengejar waktu untuk mengikuti upacara bendera. Aku masih memeriksa tas dan mengambil atribut yang hendak kupakai. Sekalian memakai dasi, sembari mematutkan diri di depan cermin. Kelasku memang terpasang sebuah cermin di depan. Dan sangat berguna untuk hal-hal seperti ini. Bahkan biasanya semua perempuan di kelasku akan berdiri di sana tiap akan masuk kelas, keluar kelas saat istirahat atau saat akan pulang sekolah.


Saat memakai dasi, aku memang terburu-buru karena takut terlambat. Dan pasti akan terkena hukuman. Tetapi tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke dalam kelas, duduk di kursi paling belakang. Laki-laki, dan aku baru pertama kali melihatnya. Jangan-jangan dia murid yang sejak awal ajaran baru tidak masuk. Dia hanya duduk di kursi itu, karena memang hanya kursi-kursi di barisan belakang saja yang kosong. Diam dan menunduk.


"Bil! Ayo!' jerit Zidan yang tiba-tiba muncul dari pintu. Sontak aku menekan dada dan melotot padanya. Dia lantas segera pergi ke bawah dan aku menyusulnya. Suasana sekolah sudah sepi, beberapa murid yang masih ada di kelas berlari untuk mengikuti upacara bendera. Aku ikut berlari seperti siswa-siswa yang terlambat memasuki lapangan. Dan tentu menjadi pusat perhatian yang lain.


Beberapa pengurus OSIS mulai menertibkan siswa-siswa agar berbaris dengan rapi. Kak Roger menunjukku yang baru memasuki barisan. Hanya saja aku sering menoleh ke belakang. "Heh! Nabila! Terlambat kamu, ya! Cepat masuk barisan!" katanya dengan gaya memerintah. Aku menoleh padanya lalu menjulurkan lidah. "Eh, nantangin, ya. Kamu!" ujarnya lagi. Aku lalu berlari menerobos barisan dan berdiri paling belakang, sambil tertawa karena berhasil mengerjainya.


Sikap Kak Roger saat itu membuat beberapa pasang mata melihat ke arah kami. Aku tidak tau apa yang ada di pikiran mereka. Yang jelas aku merasa risih.


Upacara dimulai, satu demi satu acara sudah dilaksanakan. Dan tiba saatnya acara inti yang justru diletakkan pada urutan terakhir. Yaitu perekrutan anggota OSIS periode baru. Beberapa nama yang menjadi perwakilan tiap kelas dipanggil, dan aku mulai merasakan tidak nyaman. Apalagi teringat kalimat Papa kemarin, kalau aku akan ikut menjadi pengurus OSIS periode baru.


Sedangkan nama-nama yang tidak ada dalam daftar diminta kembali ke kelas masing-masing. Kini aku ada di dalam barisan orang-orang yang masuk dalam daftar, tentu aku akan menjadi salah satu pengurus OSIS nantinya. Sudah bisa ditebak. Sial.


Kakak kelas tiga selaku Ketua OSIS periode ini mulai memberikan sambutan dan kata pengantar, yang intinya kami adalah calon pengurus baru, dan sebentar lagi akan dibentuk OSIS dengan struktur anggota baru. Tentu akan ada pemilihan ketua OSIS nantinya. Setelah sambutan tersebut, kami diminta kembali ke kelas, untuk mengikuti pelajaran kedua dan ketiga, tapi setelah pelajaran keempat kami disuruh kembali berkumpul di ruang OSIS.


Barisan dibubarkan, aku juga mulai berjalan kembali ke ruang kelasku. Kebetulan di perwakilan kelasku tidak hanya aku, tapi juga ada Zidan. Dan kini aku berjalan bersama Zidan kembali ke kelas.


"Nabila!" panggil seseorang. Dan saat aku menoleh ternyata itu Kak Rayi. Dia berlari kecil mendekat ke kami.


"Kenapa, Kak?" tanyaku basa basi. Zidan yang seolah mengerti situasi pamit kembali ke kelas lebih dulu.


"Aku baik-baik saja. "


"Syukur deh. Jangan lupa nanti latihan, ya," katanya lagi.


"Heh! Ni orang berdua malah di sini, ayok balik kelas. Ah elah!" gerutu Kak Roger, menarik tangan Kak Rayi. Sementara Kak Bintang dan Kak Faza hanya tertawa melihat kami. Aku memalingkan wajah karena agak malu dalam situasi ini, beralih ke arah kelas dan melihat Zidan sudah masuk ke dalamnya. Tapi tiba-tiba senyumnya hilang sekejap, saat melihat siswa baru tadi justru berdiri di depan kelas, dan menatap kosong ke sekitar. "Ngapain dia, ya?" tanyaku dalam hati. Tapi tiba-tiba dia malah berjalan naik ke lantai tiga. Aku bingung, namun pikiran buruk segera kutepis dengan anggapan kalau dia mungkin anak kelas 1-7, kelas yang memang berada di lantai tiga.


Bu Nawang sudah berjalan keluar ruang guru, dan sontak aku segera pamit ke mereka. "Eh, aku duluan, ya. Bu Nawang sudah keluar ruangan tuh, Bye!" kataku sambil melambaikan tangan ke mereka dan berjalan agak cepat menjauh.


"Oke, Bil," seru mereka bersahutan.


Aku mensejajari langkah Bu Nawang. Wanita yang kutaksir berumur 35 tahunan itu, menoleh. Menarik sebelah bibirnya, "kok belum masuk kelas?" tanyanya yang sedang kesulitan membawa buku panduan kelas yang cukup banyak. Aku segera mengambil buku itu tanpa persetujuannya lebih dulu. "Iya, Bu. Tadi disuruh kumpul sebentar, buat pembentukan OSIS baru." Bu Nawang tidak menolak bantuanku, dan kini beliau sudah melenggang dengan ringan.


Kini gedung kelas satu sudah di depan kami, dan kami berdua mulai berjalan naik tangga. Langkah demi langkah mulai kami tapaki anak tangga yang cukup banyak tersebut. "Bu, ada anak baru, ya?" tanyaku penasaran. Tapi sebenarnya aku hanya basa-basi saja. Agar ada bahan obrolan dengan beliau. Karena kebetulan Bu Nawang adalah wali kelasku.


"Anak baru? Kelas kita?"


"Iya. Atau kelas 1-7 mungkin?"


Bu Nawang menatap ke atas, khas orang yang sedang berpikir atau mencari jawaban. Padahal di atas sana tidak ada apa pun. "Nggak ada ah. Kamu kata siapa?" tanya beliau.


"Eum, tadi rasanya ada siswa baru masuk kelas kita."


"Ngarang kamu. Atau salah lihat mungkin. Lagian sudah nggak ada murid baru. Malah murid ibu berkurang satu, si Rio. Entah ke mana anak itu. Ibu sudah hubungi orang tuanya malah nggak aktif."


"Sudah datangi rumahnya, Bu?"


"Sudah, Bil. Tapi rumahnya kosong. Mungkin mereka pindah rumah, tapi kenapa nggak ada konfirmasi apa pun. Kan sekolah jadi bingung. Ijazah SMP nya masih di sekolah kita, jadi kalau dia mau pindah sekolah tentu harus ambil ijazah nya lagi, kan?"


"Iya juga, ya."


Tak terasa kami sudah sampai ke lantai dua. Beberapa kelas yang kami lewati terlihat masih ramai, dan ternyata guru pembimbing mereka belum datang. Bu Nawang masuk ke kelas lain untuk menyuruh mereka diam. Aku hanya terus mengekor padanya. Sampai akhirnya kami sampai ke kelas kami.


Kelas yang tadinya ramai, kini mendadak tenang. Semua orang sudah duduk rapi di kursi masing-masing. Aku meletakkan buku milik Bu Nawang dan kembali ke kursiku setelah mendapat upah berupa ucapan terima kasih dari beliau.


Aku duduk di deretan ketiga meja yang paling dekat tembok dan pintu kelas. Sendirian. Zidan duduk di deretan sampingku persis, jadi kami duduk cukup dekat. Sementara di deretan meja ku hanya ada dua pasang perempuan yang duduk di meja masing-masing.


Aku melirik ke meja yang ada di belakang Zidan. Kosong. Ah, mungkin murid tadi salah masuk kelas. Dan kini kami mulai fokus dengan pelajaran dari Bu Nawang, matematika. Damn! I hate it!


Dua jam yang cukup menyiksa akhirnya selesai sudah. Kini Bu Nawang pamit setelah memberikan sebuah pekerjaan rumah yang membuatku garuk-garuk kepala. Saat Bu Nawang keluar, aku menoleh ke jendela sampingku. Di mana koridor lantai dua berada. Di setiap kelas setengah tembok adalah kaca yang dapat melihat ke arah kanan dan kiri kelas. Di kiri kami adalah lorong koridor lantai. Sementara di kanan kami adalah pemandangan luar sekolah. Kebetulan kelas kami berbatasan langsung dengan lapangan bola milik kelurahan setempat. Dan di sana kami juga sering melakukan olahraga untuk mencari tempat lain, yang lebih luas.

__ADS_1


Guru yang mengajar di kelas atas turun dengan beberapa siswa kelas itu di belakangnya, mereka membawa beberapa tumpuk buku dan aku yakin pasti mereka melakukan seperti yang kulakukan tadi. Membantu guru pembimbing, sekalian untuk alasan menghindari pelajaran selanjutnya. Setidaknya setelah mengantar tumpukan buku tersebut, mereka akan mampir ke kantin untuk sekedar membeli permen.


Seorang murid laki-laki turun dan tiba-tiba masuk ke kelas kami, Yah, dia siswa yang tadi pagi masuk kelas ini dan pindah kelas atas tadi. Aneh. Dia labil sekali, batinku. Siswa misterius itu duduk kembali di kursi belakang Zidan. Zidan berdiri sambil merentangkan tangan ke atas. Ia juga menguap dan langsung mengajakku untuk turun. Kami akan ke ruang OSIS untuk membahas tentang kepengurusan OSIS.


Sebelum keluar, aku sempatkan menoleh lagi, ke orang tadi. Tapi tangan Zidan makin kencang menarikku. Dia terus mengoceh sepanjang jalan. Bertanya banyak hal, terutama tentang kedekatanku dengan keempat pria populer di sekolah. Kak Rayi, Kak Bintang, Kak Roger dan Kak Faza. Dan gosip kalau aku kemarin camping bersama mereka sudah menyebar bak bensin yang siap untuk dibakar.


"Nggak sengaja, Dan. "


"Nggak mungkin, Bohong lu, kan? Gimana ceritanya sih, Bil."


"Kamu itu dapat informasi dari siapa sih? Ngaco!" Aku terus mengelak sambil berjalan makin cepat ke ruangan OSIS. Zidan terus menerus memojokkan aku sampai aku menceritakan semua itu. Tapi aku punya segudang cara untuk mengelaknya.


Saat masuk ke ruangan OSIS, tiba-tiba tubuhku terdorong karena menabrak seseorang. "Nabila? Sorry, sorry," ujar Kak Faza. Tubuhku ditangkap seseorang di belakangku. Tapi bukan Zidan. Tapi Kak Rayi!


"Yah, tepat sasaran," cetus Kak Roger yang juga ada di belakangku.


"Lu gimana sih, Za."


"Halah, seneng saja lu!" sindir Kak Faza ke Kak Rayi. Aku hanya tersenyum lalu menerobos masuk ke dalam ruangan. Zidan ikut masuk sambil terus memanggil namaku.


Ruangan ini cukup luas, ada sebuah meja berbentuk lingkaran di tengahnya. Dan di sana sudah ada beberapa orang yang duduk dengan tumpukan kertas putih di meja. Kursi juga mulai ditambah karena meja tersebut tidak memiliki kursi yang cukup dan hanya cukup untuk pengurus OSIS lama. Nanti sebagian dari pengurus OSIS lama juga akan meneruskan keorganisasian mereka sambil membimbing kami, angkatan termuda. Yah, tentu kakak kelas dua yang akan memegang kepemimpinan OSIS periode baru. Dan mungkin kami hanya mendapat bagian sebagai seksi 7K dan lainnya.


Rapat dimulai. Aku diam dan hanya menyimak acara ini dari awal hingga selesai, Yah, setidaknya itulah rencananya. Para senior mengabsen semua data yang ada di tangannya. Semua nama yang dipanggil mengangkat tangan pertanda kehadiran. Aku menoleh ke luar ruangan. Jendela di ruang OSIS juga dibuat rendah, sehingga mampu melihat pemandangan di luar. Jujur aku mulai bosan.


"Rio Aditya?" panggil sang ketua OSIS. Semua orang saling tolah toleh, mencari pemilik nama tersebut. Nama itu kembali disebutkan. "Rio Aditya dari kelas 1-4? Mana perwakilan 1-4?" tanyanya lagi. Zidan mengangkat tangan dan mengajakku turut serta. "Kami, Kak."


"Kalian berdua?"


"Iya, tapi Rio nggak ada, Kak."


"Ah, masa? Terus ini yang tanda tangan siapa?" tanyanya sambil menunjukkan kertas tersebut yang sudah ditanda tangani. Sebelum acara di mulai memang kami absen dengan menorehkan tanda tangan di tiap daftar hadir. Kak Andreas hanya mengulang nama tersebut untuk menghapal dan mengenal wajah dari tiap nama.


"Hah? Masa, kak? Dia itu nggak pernah masuk sekolah sejak awal tahun ajaran loh," cetus Zidan kebingungan.


"Tapi tadi aku lihat kok orangnya. Soalnya tadi duduk di sampingku sini," kata siswa lain, serius.


"Yang bener? Salah lihat barangkali." Zidan masih terus menampik segala hal tentang keberadaan Rio, teman sekelas kami yang bahkan kami belum pernah melihat wajahnya.


"Maaf, ciri-cirinya seperti apa, ya, kak?" tanyaku yang mulai merasa aneh.


"Tinggi. Rambutnya cepak, terus mukanya tuh mirip mirip artis. Si ... Bentar, duh siapa namanya itu, si chef galak itu loh!"


"Juna?" tanyaku.


"Nah iya!"


Deg! Jantungku nyeri. Kalimatnya tadi seolah membenarkan apa yang kulihat sejak tadi di kelas.


"Dan, bener! Tadi bukannya Rio itu ada di kelas kita? Pas Bu Nawan keluar, dia masuk loh ke kelas. Dan duduk di kursi belakang kamu!" kataku dengan antusias.


Kini semua orang menyimak pembicaraan kami. Zidan justru garuk-garuk kepala. "Ih, masa kamu nggak lihat?! Ada tadi! Di kelas. Pas pagi mau upacara dia masuk kelas kita, masa kamu nggak lihat juga pas kamu manggil aku?"


Zidan menggeleng pelan dengan wajah kebingungan.


"Hey, yang kalian bicarakan Rio yang juara lomba matematika tahun lalu, bukan?" tanya salah satu siswa lain.


"Enggak tau," sahut Zidan bingung. Aku pun sama karena kami memang tidak mengenal Rio sama sekali.


"Sebentar. Aku ada fotonya." Dia mengambil ponsel dan mulai membukanya. Sampai akhirnya menemukan sesuatu. "Ini, kan? Rio yang kalian maksud?" tanyanya sambil menunjukkan foto tersebut pada kami.


"Nah iya!" kataku dan siswa yang katanya duduk bersama Rio tadi, yang melihatnya menandatangani absensi.


"Gila. Kalian nggak tau, ya?" tanya orang yang tau siapa Rio tersebut.


"Tau apa?"


"Dia itu kan kecelakaan. Sampai sekarang tubuhnya belum ditemukan. Jatuh di hutan dekat perbatasan kota. Seluruh keluarganya juga."


"Kok kamu tau?"


"Soalnya dia tetanggaku. Rasanya aku udah bilang ke Pak Eri, tentang Rio. Apa Bu Nawang belum kasih tau kalian?"


"Bu Nawang justru nggak tau. Katanya dia nunggu Rio atau keluarganya konfirmasi, karena sejak masuk dia nggak muncul,"kataku yang memang mendengarnya sendiri tadi.


"Ngeri. Jangan-jangan tadi yang tanda tangan ...." cetus siswa lainnya.


"Hantu!" sahut yang lain.


Suasana rapat mulai riuh dan tak terkendali. Semua mulut mulai menyuarakan pendapat dan kengerian mereka masing-masing.


Aku mulai berpikir, kalau kemungkinan apa yang dikatakan dia memang benar. Jika memang Rio yang sejak pagi berkeliaran di sekolah adalah Rio yang mereka bicarakan, berarti itu memang ruhnya.


Jadi di mana jasadnya?

__ADS_1


__ADS_2