pancasona

pancasona
Part 38 Home


__ADS_3

Deburan ombak di bawah, berkumandang ramai terbentur badan kapal. Aku duduk di Buritan, bagian belakang kapal dengan pagar besi di sekitarnya. Ada sebuah tempat kecil yang muat untuk menempatkan bokongku di sana. Ini bukan pertama kalinya aku naik kapal seperti ini, hanya saja ini pertama kalinya aku tidak berantusias melihat laut dari jarak pandang yang sangat dekat seperti sekarang. Ini bukan liburan ataupun jalan - jalan, tapi perjalanan pulang dengan cara yang tidak menyenangkan. Aku memang sangat menyukai laut, bukan karena pasirnya yang akan membuatku sembuh dari luka apa pun, tapi aku suka suasana nya, berisik ombak, aroma asinnya, dan embusan angin laut yang kencang dan kuat. Tempat yang sangat aku sukai dan selalu membuatku betah berlama - lama. Pantai dan laut. Betapa aku mengaguminya, tapi semua terasa kosong saat ini. Semua kejadian yang menimpa kami membuat tenagaku seolah terkuras habis.Perasaanku berkecamuk hebat. Hanya memilih menatap riak air laut yang berada di bawah kapal.


Dua bawah tangan melingkar di bawah pinggangku, terus memutari nya hingga dia berhasil memelukku dari belakang. Embusan nafasnya terasa sampai cuping telinga. Ritme nafasnya sangat khas dan sudah ku kenal lama. Sekali pun aku tidak melihat sosok yang kini berada di belakangku, tapi aku sudah dapat menebak siapa dia. Kak Rayi.


"Are you oke?" bisik nya dengan lembut di telinga. Aku menoleh sedikit ke arahnya, tersenyum agar dia tidak terlalu khawatir padaku.


"Aku nggak apa - apa kok, Kak. Cuma ... capek, juga masih kepikiran tante Rani."


"Hm, iya, aku paham. Kamu pasti shock atas semua tindakan tante Rani."


"Bukan cuma itu, Kak. Tapi bagaimana kondisinya sekarang. Apa dia baik - baik saja?" tanyaku lantas membalikkan tubuh menghadapnya. Kak Rayi menyematkan rambutku ke belakang telinga, tersenyum tipis namun meneduhkan hati. Aku yang terus diperhatikan olehnya menjadi malu, hingga tidak sanggup lagi berlama - lama menantang sorot mata tajam dan dalam pemilik hatiku itu. Kak Rayi kini justru menaikkan daguku, membuat dua pasang bola mata kami kembali bertemu.


Wajah Kak Rayi mulai mendekat, seolah - olah kami sedang saling bertukar nafas. Bibir kenyalnya kini mendarat di bibirku. ********** lembut. Aku tidak menolak perlakuannya, justru turut hanyut dan mengikuti permainannya. Nafas kami mulai tidak menentu, naik turun dengan ritme yang tidak teratur, hingga akhirnya aku melepaskan ciuman kami. Tersenyum bersamaan lalu kembali saling berpelukan.


"Aku sayang kamu, Nabila."


"Aku juga, Kak Rayi."


"Hei, bukannya kita sudah ada kesepakatan?" tanyanya lalu melepaskan pelukan, menatapku intens seperti sedang menginterogasi sebuah kasus kriminal saja. Aku berlagak tidak paham maksudnya. Menatap ke atas, seperti berpikir sesuatu yang berat. "Apa ya?" tanyaku yang pura - pura tidak paham.


"Ih, jahat banget! Kamu lupa? Aku selama ini diem bukan karena lupa, ya. Aku sengaja!" omelnya terlihat menggemaskan dengan sikap sebalnya padaku. Aku tersenyum lalu mencubit kedua pipinya gemas. "Bercanda ih. Iya, sayang," sahutku lalu senyumnya mulai kembali terbit di bibir itu.


Kapal terus melaju menuju rimbunan pepohonan di sebuah pulau di depan kami. Aku bahkan tidak tau sedang berada di mana. Hanya saja itu sudah pasti bukanlah pulau Jawa. Jarak dari pulau ini ke sana tidak mungkin sesingkat ini.


Kak Rayi yang berjalan di depanku, lantas membalikkan badan, mengulurkan tangan kanannya agar aku dapat turun dari kapal dengan mudah. Kaki kami kembali basah terkena air laut. Sepatuku sudah sangat kotor, basah, kotor lagi, begitu seterusnya selama beberapa kali.


"Kita di mana, Om?" tanyaku ke Om Gio yang berjalan dekat denganku. Om Gio memperlambat langkahnya, menatap Papa di depan sana. " Pulau ini punya kenalan papamu."


"Kenalan Papa? Siapa?"


"Nanti juga kamu tau."


Pulau ini tidak terlalu besar, namun tidak terlalu kecil. Di pinggiran pantai banyak sekali pohon kelapa yang tumbuh subur, lengkap dengan buah kelapanya. Khas daerah pesisir. Beberapa orang mulai mendekat, mereka terlibat obrolan dengan Papa dan Opa. Papa lantas menoleh dan mengisyaratkan kami untuk menunggu di sini.


"Oke!" kata Om Gio langsung menyetujuinya, padahal aku hendak bertanya terlebih dahulu, tapi Om Gio seolah segera membungkamku dengan sikap tegasnya dan segera menyuruh Papa masuk ke dalam hutan tersebut. Yah, hutan. Lagi. Aku tidak tau ada apa di dalam sana, karena dari pantai ini aku belum melihat rumah atau bangunan lain, hanya ada barisan pepohonan sama seperti kampung halaman Om Dewa.


Terpaksa kami menunggu di pantai ini, duduk di bawah pohon kelapa yang dahannya cukup lebar. Angin laut membuat cuaca tidak panas.


"Eh, mau kelapa nggak?" tanya Kak Roger menatap kami satu persatu. Kami tidak menyahut perkataannya. Rasanya aku sudah sangat lelah jiwa dan raga. Aku lihat yang lain juga merasakan hal yang sama. Apalagi Kak Bintang yang masih belum sepenuhnya pulih dari luka yang dia derita. Bukan luka dalam atau parah, tapi tetap saja itu pasti akan terasa sakit.


Kak Roger mulai naik pohon kelapa incarannya. Om Gio hanya memperhatikan tingkah Kak Roger dan terkadang tersenyum geli melihat sikap konyol Kak Roger. "Yi, bantuin gue sini!" ajaknya setengah memaksa. "Lu nggak kasihan sama cewek lu. Haus dia tuh, dari tadi nge-lihatin kelapa mulu tau!" cetusnya sok tahu. Aku hanya berdecak atas opini nya yang menyesatkan itu. Tapi Kak Rayi tetap mendekat dan berdiri tak jauh dari pohon kelapa yang sudah dipanjat Kak Roger.


Suara berdebam sekali terdengar. Sebuah kelapa jatuh begitu saja. "Heh, ini tua! Mana ada airnya, ****!" omel Kak Rayi.


"Hah, serius lu? Yang mana nih jadinya? Duh, gue buta soal pilih kelapa muda tua, biasanya tinggal minum doang!" gerutunya masih berusaha memilih beberapa kelapa yang ada di depannya.


"Coba deh yang kulitnya masih seger, hijau begitu, Ger! Masa gitu aja nggak tau!" sindir Kak Rayi.


"Ya mana, Yi. Kagak keliatan ini!"


"Buta apa lu? Masa nggak kelihatan?" Mereka terus berdebat dengan kalimat hinaan yang saling beradu. Melihat perseteruan yang terjadi pada dua pemuda itu, Om Gio geleng - geleng kepala lantas mendekat.


"Gimana sih? Dari tadi belum juga dapat kelapa mudanya?"

__ADS_1


"Si Roger ****, Om. Nggak bisa pilih mana yang tua mana yang muda," hina Kak Rayi.


"Heh! Sembarangan lu. Sini coba lu naik ke atas, nggak kelihatan dari sini, setan!" umpatan demi umpatan terus keluar dari mulut keduanya. Kak Bintang tertawa tertahan sambil memegangi dadanya. Tante Jean ikut tertawa dan malah kini mendekat, membantu mereka memilih kelapa yang masih muda.


Kini beberapa butir kelapa sudah berhasil diambil dari pohon itu.


"Pertanyaannya bagaimana cara kita belah ini kelapa?" tanya Tante Jean.


"Eum, kita pinjam golok Om itu saja," tunjuk Kak Roger menunjuk salah satu penjaga yang berdiri sejak tadi di tempat Papa pergi. Sepertinya pulau ini memang hanya milik seseorang, buktinya tidak sembarangan orang bisa masuk, apalagi dengan penjagaan ketat di sekitarnya. Karena tidak hanya di tempat itu, tapi di beberapa sudut pantai, aku melihat ada beberapa orang yang mondar - mandir mengamati sekitar.


Kelapa sudah terbelah, masing - masing mendapatkan satu buah kelapa, menikmati air kelapa muda yang segar, ditambah daging buah kelapa yang masih muda cukup membuat perut kami kenyang. Tidak hanya kami saja yang makan buah kelapa ini, penjaga pantai juga ikut duduk bersama kami dan memakan buah ini bersama - sama.


"Jadi Papa aku sering ke sini, Om?" tanyaku ke Om Arie, salah satu penjaga pulau ini.


"Iya, lumayan. Cuma memang akhir - akhir ini lebih sering. "


"Om Gio masa nggak tau apa -apa sih?!" hardikku melirik ke pria di depanku.


"Memang kamu pikir Om ini istri papamu. Harus tau ke mana saja Papa mu pergi, ketemu siapa saja, ada urusan apa. Begitu?" tampik Om Gio dengan membuka buah kelapa kedua.


"YA biasanya Om lebih tau kegiatan Papa timbang aku, kan?"


"Iya, tapi kan nggak semua juga, Nabila!"


"Sudah ih. malah gantian berantemnya," goda Kak Rayi.


"Cewek lu itu," tunjuk Om Gio dengan santainya.


"Kalian ngapain?" tanya Papa melihat bekas kelapa yang berserakan di sudut semak - semak.


"Anak lu kelaperan!" tukas Om Gio. Aku sontak memukul lengan Om Gio sambil tertawa tertahan. Orang - orang yang ikut dengan Papa terlihat ramah, mereka sepertinya dari sebuah suku lain di tempat ini. Tidak mau terlalu banyak bertanya aku hanya diam.


"Kalian pulang duluan," perintah Papa tegas.


"Kalian ini maksudnya siapa saja?" tanya Tante Jean tidak paham.


"Ya kalian semua. Pulang."


"Terus Papa?"


"Papa di sini dulu, masih ada urusan yang harus Papa kerjakan. Apalagi kita belum tau bagaimana keadaan Tante Rani."


"Kalau begitu gue ikut. Gue juga harus tau keadaan Rani. Masalah ini belum selesai, Lang," tukas Tante Jean, bersikeras.


"Gue juga di sini. Sepertinya elu butuh banyak tenaga sekarang," tambah Om Gio.


"Oke."


"Papa, aku ...."


"Kamu pulang sama teman - teman kamu. Lagi pula kalian harus sekolah!"


"Tapi, Pa ...."

__ADS_1


"Titik!"


Perkataan Papa bagai sabda pendita ratu, yang harus aku turuti walau sekeras apa pun aku menolak, Papa tidak akan mempertimbangkan lagi keputusannya.


Kami diantar ke bandara terdekat. Sepanjang perjalanan aku terus mengerucutkan bibir, bahkan tidak berbicara pada Papa sejak berada di pulau tadi. Kami akan naik pesawat sore ini juga. Aku, Kak Rayi, Kak Bintang dan Kak Roger. Sementara yang lain akan tinggal di sini sampai masalah ini terselesaikan.


"Bil ...."


"Hm." Tidak mau menatap Papa, karena aku masih sangat kesal atas sikap Papa tadi.


"Papa harap kamu paham maksud Papa. Kali ini terlalu berbahaya, sayang. Lagi pula kita belum mendapat informasi lagi tentang masalah yang sedang kita hadapi sekarang. Siapa musuh kita, apa niatan mereka, dan Papa harus mencari tau itu semua."


"Pa, papa sadar, kan, kalau semua ini ada hubungannya denganku?"


"Justru karena itu, Papa ingin memastikan kamu aman. Kamu harus jauh - jauh dari tempat ini, karena tempat ini berbahaya, sayang."


"...."


"Papa minta maaf. Tapi Papa pasti akan terus menghubungi kamu dan memberitahukan perkembangan terbaru. Oke?"


"Hm iya."


'Jangan lemes gitu dong. Ayo senyum, masa Papanya sendiri dicemberutin begitu. Nanti kangen," goda Papa, mencubit hidungku pelan. Aku langsung menarik dua sudut bibirku dan memeluknya erat. "Papa harus janji, bakal pulang. Jangan sampai kenapa - kenapa lagi," rengekku dengan mata berkaca - kaca.


"Iya, papa janji."


"Kabarin aku terus."


'Iya, sayang. Kamu juga hati - hati, ya. Rayi, jagain anak saya," pinta Papa pada pemuda yang berdiri di belakangku sekarang. Kak Rayi langsung mengiyakan permintaan Papa tersebut. Kami segera kembali ke rumah. Walau rasanya ini tidak adil sekali rasanya.


________________


Kumpulan awan di samping jendela, bagai permadani yang indah. Di sampingku ada Kak Rayi, yang terus menggenggam tanganku, padahal dia sedang memejamkan mata. Aku tau dia sangat lelah. Harinya sangat berat, dan dia harus istirahat. Tapi genggaman tangannya terasa begitu kuat, seolah tidak mau melepaskan. Aku menyelimuti tubuh Kak Rayi lalu ikut memeluk lengannya dan mencari tempat ternyaman di bahunya. Mata terpejam, bukan karena mengantuk, tapi hanya lelah dengan semuanya. Berharap bisa tidur seperti Kak Rayi, namun sangat sulit kulakukan. Tapi setidaknya aku merasa sangat nyaman sekarang. ritme nafasnya seperti candu, membuatku ingin terus merasakannya. Aroma tubuhnya sangat kuhapal, hingga genggaman tangannya sangat khas Kak Rayi. Aku begitu menyayanginya.


Tangan Kak Rayi terus menggandengku saat kami sudah tiba di bandara. Kak Rayi sudah menghubungi supir pribadinya untuk menjemput kami. Tidak banyak pembicaraan selama perjalanan pulang, semua terlihat menjadi pendiam, bahkan Kak Roger yang sangat berisik pun menjadi berubah tenang.


"Thanks, Yi. Yuk, Bil, duluan ya. Kalian hati - hati," pamit Kak Bintang. Kak Roger baru saja kami antar pulang lebih dulu, kini giliran Kak Bintang.


"See you," sahut Kak Rayi, melambaikan tangan ke sahabatnya itu.


Kak Bintang mulai masuk ke dalam rumahnya, kaca mobil perlahan naik dan tertutup. Kami berdua sama - sama duduk di belakang kemudi. Aku kembali menyadarkan kepalaku ke bahunya. Entah kenapa rasanya ini bagai magnet. Bahu Kak Rayi sangat nyaman untuk menjadi sandaranku sekarang.


"Oh, iya, kamu malam ini tidur di rumahku saja. Sampai Papa kamu pulang, jangan di rumah sendirian," jelas Kak Rayi tanpa menatapku yang sedang memperhatikannya. Dia terus menatap jendela di samping.


"Tapi, kak ...."


"Papa kamu yang suruh, sayang." Kini tatapan Kak Rayi beralih padaku. Berusaha meyakinkan dan sedikit memaksa agar aku menurutinya.


"Papa yang suruh?'


"Iya, Papa kamu khawatir kalau kamu di rumah sendirian. Nanti kalau Papa kamu sudah pulang, kamu baru aku antar ke rumah. Oke?"


'Oke." Aku pasrah, dan rasanya keputusan ini memang cukup masuk akal. Aku juga sedikit takut jika sendirian di rumah, walau ada asisten rumah tangga dan sopir. Tapi rasanya itu tidak cukup untuk membuatku tenang, aman dan nyaman di rumahku sendiri. Aku kembali memeluk kak Rayi lebih erat.

__ADS_1


__ADS_2