pancasona

pancasona
Part 182 Azazil


__ADS_3

Azazil (panglima besar malaikat) adalah gelar untuk Iblis, dalam kitab karangan Al-Gahazali menyebutkan bahwa iblis itu sesungguhnya namanya disebut sebagai al-Abid (ahli ibadah) pada langit yang pertama. Pada langit yang keduanya disebut az-Zahid.


Pada langit ketiga, namanya disebut al-Arif. Pada langit keempat, namanya adalah al-Wali. Pada langit kelima, namanya disebut at-Taqi. Pada langit keenam namanya disebut al-Kazin.


Pada langit ketujuh namanya disebut Azazil manakala dalam Luh Mahfudz (Lauhul Mahfudz) namanya ialah iblis dan selama 1000 Tahun giat taat beribadah sujud non stop kepada Allah, bahkan pernah menjadi Sayyidul Malaikat (Penghulu atau Pemimpin Malaikat), dan Khozinul Jannah (Juru Kunci Surga; Penjaga Pintu Surga).


Ketika Allah SWT memerintahkan untuk bersujud kepada Adam, semua bersujud kecuali iblis, dan iblis pun berkata "Adakah Engkau mengutamakannya daripada aku, sedangkan aku lebih baik daripadanya. Engkau jadikan aku daripada api dan Engkau jadikan Adam dari pada tanah."


Allah berfirman kepada iblis: "Aku membuat apa yang Aku kehendaki."  Iblis pun tetap enggan bersujud kepada Adam, dengan merasa bangga dan sombong ia berdiri tegak sampai saatnya malaikat bangkit dari sujud.


Malaikat karena melihat iblis belum bangkit akhirnya bersujud kedua kali karena rasa syukur. Iblis dengan kesombongannya berdiri tegak dan memalingkan wajahnya dari malaikat serta masih enggan bersujud.


Akhirnya dengan kesombongannya yang tidak ada rasa sesal pada dirinya, sehingga Allah SWT mengubah mukanya yang semula sangat indah cemerlang, menjadi bentuk seperti **** hutan.


Membentuk kepalanya seperti kepala unta, dadanya seperti daging yang menonjol di atas punggung, wajah yang ada di antara dada dan kepala itu seperti wajah kera, kedua matanya terbelah pada sepanjang permukaan wajahnya.


Lubang hidungnya terbuka seperti cerek tukang bekam, kedua bibirnya seperti bibir lembu, taringnya keluar seperti taring **** hutan dan janggut terdapat sebanyak tujuh helai. 


Mungkin sejenak kita berpikir bahwa iblis merupakan mahkluk yang sangat berdosa, akan tetapi kita tidak tahu bahwasanya dia sebelumnya merupakan ahli ibadah kepada Allah.


Dalam kitab Tafsir showi Hal 2 Tafsir Al-a'rof disebutkan bahwa iblis itu bapak moyangnya jin dan setan, maksudnya bahwa sebelum dikutuk oleh Allah maka Iblis itu dahulunya bernama Jin, setelah dikutuk Allah hanya gara-gara tidak mau bersujud kepada Adam maka namanya menjadi Iblis.


Malaikat di penjuru alam semesta, dari bumi, langit, baitul makmur, arasy, dan sebagainya, mereka semua menghormati iblis sebagai makhluk Allah yang terhormat dan termulia, sehingga bila iblis lewat di depan para malaikat, maka malaikat menghormat pada iblis, bagaikan penghormatan prajurit kepada komandannya, pengawal istana pada rajanya, sehingga terhormatlah nama iblis di penjuru alam semesta. Namun sayang, di lauhul mahfudz, tulisan iblis terselubung rapi, tidak satu pun makhluk yang tahu kecuali Allah, tertera Alkafir Almalun (iblis ingkar terkutuk).


Sebelum Nabi Adam turun ke bumi, diceritakan bahwa yang menempati bumi ini adalah bangsa jin yang dikelompokkan menjadi banul jan dan banul ban. Setelah ditaklukkan, akhirnya Allah menciptakan nabi Adam. Azajil, malaikat dan Adam diberikan ilmu oleh Allah karena tujuannya untuk menjadikan satu dari mereka sebagai khalifah di bumi. Setelah diuji ternyata yang lulus dari ujian tersebut adalah Nabi Adam, akhirnya semuanya diperintah Allah untuk sujud penghormatan kepada Adam, fasajaduu illa Iblis, akhirnya semuanya sujud kecuali Azazil' sombong dan membangkang, aba wastakbaro


Itulah Azazil, panglima iblis yang membangkang. Ia turun tangan sendiri dalam mencari Nayla dan Arya. Balas dendam yang hendak ia lancarkan memang membutuhkan dua makhluk itu untuk berada di sisinya. Nayla dan Arya. Dan upaya pencarian Wira yang sudah membuahkan hasil, membuat beberapa iblis mampu mengendus keberadaan Nayla dan Arya.


***


Kampus mereka kembali berduka. Kematian Rian merupakan guncangan hebat kedua setelah Ferdie meninggal beberapa hari lalu. Kematian keduanya yang terasa janggal membuat beberapa mahasiswa menjadi ketakutan. Seolah kampus mereka sedang dikutuk dengan kematian beberapa mahasiswanya. Hal ini membuat kericuhan sesaat. Banyak mahasiswa saling berbisik dan mendiskusikan hal ini bersama kawan kawan terdekat. Semua berpendapat sendiri sendiri, mengasumsikan adanya pembunuhan berantai, hingga vampire.


Arya dan Nayla yang berangkat ke kampus bersama sama, lantas melihat Wira yang sedang berdiri di depan papan pengumuman bersama beberapa mahasiswa lainnya. Kabar kematian Rian yang mengerikan, membuat pihak kampus memperketat keamanan di lingkungan kampus. Beberapa petugas keamanan mulai dikerahkan. Berjaga di depan pintu masuk kampus dan berkeliling di lingkungan dalam kampus. Kegiatan perkuliahan juga mulai dikurangi untuk meminimalisir kegiatan mahasiswa di sekitar kampus.


Wira menatap antusias kedatangan dua temannya itu. Senyum mulai ia ciptakan saat dua orang yang sedang berjalan ke arahnya menatap tajam dirinya. Wira lantas mendekat berusaha menyapa seperti biasanya. "Wah, bareng lagi berangkat kampusnya nih. Mobil kamu belum diambil, Nay?" tanya Wira sambil mengekor dua orang itu yang masih saja tidak merespons. Wira mulai merasa aneh. Tapi ia tetap mengikuti mereka berdua sampai masuk ke dalam kelas.


Suasana kelas masih sepi. Hanya ada tiga orang yang sedang sibuk dengan laptop masing masing. Cuaca di luar yang sedikit mendung, membuat beberapa orang lebih memilih berada di dalam ruangan. Karena hujan bisa saja jatuh tanpa aba aba. Hawa dingin membuat beberapa orang juga memilih diam sambil dibalut sweeter dan jaket masing masing. Terkadang secangkir kopi tersedia untuk menghangatkan tubuh dan menghalau rasa kantuk.


"Hei, kalian kenapa sih?" tanya Wira sedikit menaikkan nada bicaranya, saat Nayla dan Arya sudah hampir menempati kursi mereka masing-masing. Arya yang memang sudah kesal pada pemuda itu, lantas langsung mendekat. Ia langsung mencengkeram kerah baju Wira dan mendorongnya hingga menabrak tembok dekat pintu. Nayla melotot dengan reaksi Arya yang tiba tiba itu. Dia menyapu pandang ke sekeliling, karena teman temannya kini melihat ke arah mereka dengan tatapan yang aneh.


"Arya?! Kenapa sih?"

__ADS_1


"Kita yang harusnya tanya! Kamu itu siapa?! Hah!" bisik Arya dengan menampilkan ekspresi kesal yang terpendam.


"Arya, jangan bahas itu di sini. Nggak enak sama yang lain," bisik Nayla. Wira yang tidak paham maksud dua orang itu hanya diam sambil menatap mereka bergantian. Meminta penjelasan atas ucapan Arya barusan.


Arya diam, tetap menatap dingin Wira. Lantas menyeret Wira keluar kelas. Nayla makin panik melihat reaksi Arya. Baginya Arya terkadang aneh. Dia bisa menjadi pria manis, dan menyebalkan dalam satu waktu. Tapi kali ini, Arya mengerikan. Mereka menyusuri koridor kampus dengan berbagai ekspresi ngeri dari teman teman mereka. Sampai akhirnya Wira menghempaskan tangan Arya dan membuat dirinya terbebas dari kemarahan Arya.


"Kamu kenapa sih?! Salahku apa? Hah!" bentak Wira mulai terpancing emosi.


"Kamu marah sama sikapku? Harusnya aku melakukan ini sejak kemarin!" omel Arya sambil menunjuk wajah Wira.


"Maksudmu?!"


"Kamu siapa, hah?!"


Sontak Wira diam. Ia mulai merasa kalau jati dirinya mulai terbongkar. Dan usaha penyamarannya sudah terendus. Kini ia bingung harus menjelaskan bagaimana ke dua orang di depannya itu. Karena Wira yakin kalau ada penyebab kenapa Arya bertanya begitu padanya. Sedangkan dia tidak tau sejauh mana informasi yang mereka dapatkan tentangnya.


"Begini, aku bisa jelaskan. Kita bisa bicarakan ini baik baik, oke?" tanya Wira, berusaha menenangkan emosi Arya. Arya yang hendak memukul Wira ditahan oleh Nayla. Nayla memeluk Arya dan membuat jarak antara dua pria itu. "Udah, Ya. Kita dengerin dulu penjelasan dia!" bujuk Nayla.


Deru nafas Arya yang naik turun tidak beraturan mulai mereda. Kedua pria itu lantas saling tatap dingin. Nayla yang menjadi penengah, menatap mereka bergantian. Lalu ia menunjuk Wira dengan tatapan mengintimidasi. "Jawab pertanyaan kami. Siapa kamu? Iblis, kah?"


"Apa?! Iblis? Oh Tuhan, Nayla? Kenapa kamu menuduhku begitu?"


"Semalam Rian datang ke kos ku. Dia bilang kamu sengaja mendekati kami karena kamu menginginkan kami seperti para iblis itu. Iya, kan?" tegas Nayla. Wira mengerutkan kening dan mencoba memahami situasi yang telah ia lewatkan semalam. Dia memang lepas pengawasan, karena sedang mengejar penguntit yang selama ini berada di sekitar kos Nayla.


Nayla menelan ludah, ia sadar kalau kata kata Wira memang masuk akal. Selama ini Nayla tidak mencium tanda tanda Wira sebagai salah satu iblis seperti Rian. Walau Nayla yakin memang ada yang aneh dengan Wira, tapi Wira bukanlah salah satu dari makhluk nista itu. "Jadi siapa kamu?" tanya Nayla.


"Samael," jawab Wira datar.


"Angel?" sahut Arya dengan bermaksud bertanya.


"Kamu tau dari mana tentang Samael, Ya?" tanya Nayla. Memang hal aneh kalau Arya tau siapa itu Samael. Karena ketidak percayaannya pada semua hal yang berhubungan dengan angel dan demon selama ini.


"Eum, buku."


"What?" pekik Nayla sedikit kaget.


"Apa buktinya? Kalau kamu Samael?!" tantang Arya. Nayla yang masih penasaran atas pengetahuan Arya mengenai Samael akhirnya teralih, karena makhluk di depannya memang membuat dirinya sedikit tidak percaya.


Wira lantas diam sejenak, dalam hitungan detik, ia menunjukkan sayap malaikat yang ada di punggungnya. Besar dan panjang. Arya dan Nayla melongo melihat hal itu nyata di depan mereka. Wira lantas kembali menyembunyikan identitasnya. "Sekarang kalian percaya?"


Kedua orang itu saling tatap lalu mengangguk. "Jadi selama ini kamu sengaja mendekati kami?" Wira mengangguk dengan menarik nafas panjang. "Dan apa alasan iblis dan kamu mencari kami. Rian bilang kalau semua iblis sedang mencari kami?!" tukas Arya, penasaran.

__ADS_1


Wira kembali menarik nafasnya berat. "Aku nggak tau harus memulai semua ini dari mana."


"Dari, siapa kami, kenapa kami begitu diinginkan mereka!"


Wira menatap Nayla dingin, sorot mata keduanya menyiratkan sesuatu hal yang berat. Wira takut jika mereka dipaksa untuk mengingat semua kenangan masa lalu mereka, itu justru akan membuat keduanya terluka. Wira mengelus keningnya mencari kalimat yang cocok untuk dia utarakan.


"Sebenarnya kalian sama sepertiku."


"Apa?! Maksudmu angel?" tanya Nayla seolah tidak percaya. Wira mengangguk sambil memperhatikan sekitar mereka.


"Iya. Kalian adalah fallen angel, yang telah dikutuk untuk menjalani kehidupan manusia sumur hidup kalian. Oh tidak, bukan seumur hidup, tapi sampai kiamat datang."


"..."


"Setiap 100 tahun sekali, kalian akan dihidupkan dan menjalani kehidupan bersama seperti ini. Dalam artian, kalian akan terus bersama menjadi pasangan."


"..."


"Kita bertiga dulu dikutuk. Karena saling jatuh cinta. Maka dari itu, Tuhan melempar kita ke bumi untuk menjadi manusia dan menyelesaikan kutukan itu."


"Tunggu! Kita bertiga? Kamu juga?" tanya Arya, bingung. Wira lantas mengangguk cepat. Sebuah kaleng yang terjatuh membuat perhatian mereka teralih. Wira mengisyaratkan mereka berdua diam. Wira yang penuh tatapan curiga segera mencari sumber suara tersebut. Tentu baik Nayla dan Arya juga penasaran terhadap sikap Wira tersebut. "Ada pengintai. Dia terus mengawasi Nayla selama ini. Dan semalam, aku sudah menemukan markasnya. Tapi sayang aku nggak berhasil mendapatkan dia," bisik Wira.


Mereka menelusuri halaman samping ruangan yang baru saja mereka pakai untuk diskusi. Mencari seseorang yang Wira maksud. Wira menunjuk ke arah sebaliknya agar Arya memutar. Arya mengangguk. Mereka bekerja sama untuk menangkap penguntit yang dimaksud Wira tadi. Keributan terdengar dari kejauhan. Wira dan Nayla yang sedang mendekat ke sumber suara itu lantas berlari untuk melihat apa yang terjadi.


Mereka melihat Arya sedang mengejar seseorang. Jaket penguntit itu sudah ditarik paksa oleh Arya, namun dia berhasil kabur. Wira dan Nayla lalu ikut mengejar dan mereka sampai ke halaman belakang kampus yang sepi. Merasa terpojok, pria asing itu, berhenti. Ia lalu menoleh ke belakang. Tiga orang yang sedang ia ikuti sejak tadi mulai mengepungnya. "Akhirnya kita ketemu juga, Adriel!" cetus Wira.


"Wah, semalam ada tamu datang ke rumahku, rupanya itu kamu, Sam?!"


"Kalian saling kenal?" tanya Nayla berbisik.


"Dia itu anak buah Azaziel. Dia juga yang selama ini mengintai kamu, Nay."


Ingatan Nayla kembali ke beberapa hari terakhirnya. Ia memang kerap kali merasakan sedang diintai oleh seseorang saat dirinya berada di kos. Ada sebuah sudut gelap yang seolah membuatnya merasa sedang diawasi.


"Kalian tidak akan lolos. Azaziel sudah menemukan kalian!" ungkap pria misterius dengan mata hitam di depan mereka. Arya menggumamkan mantra pengusiran iblis. Mendengar kalimat dengan bahasa latin itu diucapkan Arya, Nayla menatap heran pada pemuda itu. Dalam benaknya, Arya makin tidak bisa ia tebak dengan mudah. Sejak kapan Arya hafal mantra tersebut? Karena semalam dia masih harus memakai buku untuk mengucapkan semua hal itu. Arya berhenti, saat Adriel mengerang kesakitan. "Kasih tau, di mana Azaziel!" perintah Arya. Namun Adriel malah tertawa dan enggan memberitahu informasi apa pun pada mereka.


"Kamu mau menyerahkan dirimu pada Azaziel? Begitu, kah?"


Arya mendorong tubuh Adriel membentur tembok, lagi. "Aku mau membunuhnya!"


Adriel tertawa mengejek. Seolah ancaman Arya tidak berarti apa pun baginya. Arya kembali meneruskan mantra yang sengaja ia hentikan. Ia lalu merogoh saku jaketnya dan menyiramkan sebuah botol berisi air suci hingga Adriel menjerit kesakitan. Wira dan Nayla hanya diam saja melihat apa yang dilakukan Arya. "Bunuh saja aku!" tantang Adriel. Wira mendekat, ia menempelkan telapak tangannya di dada Adriel. Cahaya putih terang terlihat di tubuh itu. Semua rongga yang ada di dalam tubuh Adriel memancarkan cahaya putih hangat itu, yang makin lama berubah menjadi merah menyala. Hingga akhirnya cahaya itu berhasil membakar jiwa iblis itu. Meninggalkan tubuh inangnya yang selama ini ia rasuki. Arya menatap Wira kesal. Ia memukul Wira keras keras, namun kepalan tangan Arya malah sakit. Ia bagai memukul besi dan Wira tentu tidak merasakan sakit sedikit pun. "Kau! Kenapa kamu bunuh dia?!" jerit Arya, kesal.

__ADS_1


"Terlalu berbahaya jika dia terus hidup. Karena Adriel mengirimkan sinyal ke Azaziel atas keberadaan kalian. Kita harus sembunyi dari dia. Kita nggak bisa melawan dia tanpa rencana! Kalian nggak tau seberapa kuat Azaziel?!" protes Wira.


****


__ADS_2