pancasona

pancasona
Part 131 Heru


__ADS_3

Nabila dan Rizal kini sedang tidur di ranjang pasien. Untung Vin cepat bertindak dengan memanggil ambulance. Sehingga nyawa mereka berdua masih bisa tertolong. Nabila dan Rizal mengalami luka di sekujur tubuhnya, tapi beruntung tidak mengenai organ vitalnya. Untung kartu memori masih ada di tangan Abimanyu, setidaknya bukti masih aman berada di pihak mereka. Abi dan Vin masih berada di rumah sakit guna menunggu dua orang itu sadar. Keadaan mereka sudah stabil, hanya saja karena pengaruh obat bius, maka mereka harus beristirahat lebih lama lagi. Namun baik Abimanyu dan Vin memutuskan terus menjaga mereka berdua, karena keselamatan mereka sedang terancam.


"Menurut lu kita harus bagaimana, Bi?" tanya Vin. Dua pemuda itu duduk di kursi ruang tunggu yang ada di koridor rumah sakit. Koridor ini sunyi, mungkin karena hari sudah malam, dan jam tunggu pasien akan segera berakhir.


Abi yang sedang duduk, menatap lantai rumah sakit dengan kedua tangan yang bertumpu di lutut, menarik nafas kasar. Ia beranjak. "Elu sini saja, jagain mereka, gue mau ke suatu tempat!" kata Abi, menunjuk Vin yang terkejut melihat reaksi Abi yang tiba-tiba.


"Hah? Eh, eh elu mau ke mana? Bi!" teriak Vin yang tidak ditanggapi oleh Abi. Ia terus berjalan menyusuri koridor menuju pintu keluar. Vin tidak mungkin meninggalkan dua pasien di dalam. Karena anak buah Nicholas bisa sewaktu-waktu datang dan mencelakakan Nabila dan Rizal, lagi. Vin sedikit frustrasi dan akhirnya pasrah. Ia yakin Abimanyu tidak akan bertindak tanpa akal. Ia pasti sudah merencanakan sesuatu, dan semoga rencananya berhasil.


Mobil melaju dengan cukup kencang. Kebetulan jalanan sudah mulai sunyi, hanya ada beberapa kendaraan yang melewati jalan utama. Itu pun bisa dihitung dengan jari. Abi mulai masuk ke sebuah perkantoran yang masih buka. Walau karyawannya tidak begitu banyak, tapi tempat ini salah satu perusahaan yang tidak akan tutup hingga tengah malam nanti.


"Cari siapa, Pak?" tanya salah seorang sekuriti yang berjaga di lobi.


Abi berhenti sambil terus menatap ke dalam gedung besar itu, berharap melihat orang yang ia cari. "Eum, Heru ada?" tanyanya sedikit panik. Melihat gelagat tamu aneh ini saat hampir malam, membuat penjaga ini sedikit ragu. Ia justru menyuruh Abi untuk datang esok hari, dengan dalih kalau orang yang dicarinya sudah pulang.


"Pak, sebentar!" Tubuh besarnya di dorong keluar oleh satpam itu, namun saat seorang laki-laki turun ke bawah sambil menenteng tas, ia lantas menjerit memanggil namanya. " Her! Heru!"


Orang yang dipanggil, menoleh ke segala arah, mencari sosok yang memanggilnya. Abi kembali memanggilnya, dan akhirnya Heru menemukan Abimanyu yang mirip maling, sedang di tahan oleh Pak Satpam. Ia lantas segera menghampiri mereka dengan tatapan heran, terus melihat Abimanyu dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Abimanyu?" tanyanya heran.


"Iya, ini gue."


"Astaga, apa lu ke sini? Eh, Pak ini temen saya, udah nggak apa-apa kok."


Akhirnya Abimanyu dilepaskan, walau dengan sorot mata masih menaruh curiga pada teman Heru. Heru mengajaknya pergi karena jam kerjanya juga sudah berakhir. Mereka sampai di pelataran parkiran kantor yang sudah sepi. "Gue minta bantuan elu, Her, please!" pinta Abimanyu saat mereka sudah sampai di mobil masing-masing. Kebetulan posisi mobil mereka berdekatan.


"Gue harus liat dulu buktinya. Kalau memang ini berita besar, bakal gue bantu. Dari cerita elu sih, ini cukup menggemparkan, ya. Tapi gue harus liat dulu."


"Tapi ... elu yakin, Her? Soalnya temen gue yang tadi siang liat video dan semua bukti itu, sekarang belum siuman di rumah sakit." Abimanyu kembali ragu, padahal tadi dia sangat antusias untuk membongkar kasus ini ke media sosial, TV dan media massa. Ia mencari Heru karena bekerja di salah satu perusahaan penerbitan besar di Indonesia. Abi hanya mengenal Heru dan hanya Heru yang bisa ia percaya. Heru terlihat diam beberapa saat.


"Gue yakin. Gue bakal terima konsekuensinya."


Mereka sekarang menuju ke rumah Heru. Beberapa kali Vin menghubungi Abi namun tak kunjung ia jawab dan balas pesannya. Hingga pada dering selanjutnya, Abi mengangkat telepon Vin.


"Ya."


"...."

__ADS_1


"Gue nggak apa-apa. Gimana di sana? Aman, kan?"


"..."


"Pokoknya kita bagi tugas. Elu jaga mereka, biar gue yang kerjain sisanya. Terus satu lagi, hubungi Allea, bilang kalau kita belum bisa pulang dalam waktu dekat. Sampein, kalau handphone gue habis baterai, jadi nggak bisa telepon Ellea. Bilang gue baik-baik saja."


"..."


Dan akhirnya ponsel Abi benar-benar mati. Dia memang tidak bohong kalau ponselnya kehabisan baterai. Nanti setelah sampai rumah Heru, dan mengisi daya, dia akan menghubungi Ellea. Dia tau kalau gadis itu pasti gelisah menunggu kabar darinya.


_____________


Sampai di sebuah rumah yang berada di kompleks padat penduduk, Abi dan Heru masuk. Heru tinggal seorang diri, di rumah peninggalan orang tuanya yang sudah meninggal saat dirinya masih SMU. Heru dan Abi adalah teman masa kecil, karena dulu Heru tinggal bersama neneknya di desa Amethys. Setelah orang tuanya meninggal Heru kembali ke rumah ini, ia bekerja paruh waktu sebagai wartawan magang. Dan sekarang ia sudah menjadi karyawan tetap di perusahaan itu. Kariernya menanjak karena keuletannya dalam mencari berita. Beberapa kali Heru mendapatkan berita besar walau itu juga hampir beberapa kali merenggut nyawanya. Mungkin sekarang akan terulang lagi. Jadi dia sudah terbiasa dengan situasi ini.


Lampu dinyalakan, dan Abi duduk di ruang tamu. Keadaan rumahnya cukup rapi untuk seorang lelaki dengan predikat single. Heru termasuk orang yang rajin.


"Ngomong-ngomong gue ikut berduka, soal orang tua lu," kata Heru, meletakkan dua botol minuman bersoda di meja. Abi tersenyum tipis, "Iya, terima kasih. Akhirnya gue jadi yatim juga kayak elu, ya."


Keduanya lantas tertawa bersama. Mereka mengingat kejadian saat SMU dulu. Di mana Heru dan Abi terlibat perkelahian karena Heru yang menjadi frustrasi setelah kematian orang tuanya. "Elu liat aja, apa lu bakal bersikap biasa aja saat kedua orang tua lu meninggal!" Begitulah kalimat Heru yang ia lontarkan pada Abimanyu.


Laptop Heru mulai dinyalakan, sambil menunggu mie instant yang sudah mereka seduh matang, mereka memulai melihat video yang sudah diceritakan secara singkat oleh Abi tadi.


"Kok bisa sih, elu nemu ginian, Bi? Memang lu, tukang cari gara-gara dari dulu. Ada aja masalah yang datengin elu, heran gue!" kata Heru sambil geleng-geleng kepala.


"Ya mana gue tau. Lagian gue ke sana buat cari pacar gue, malah ada masalah ini. Jadi ... bagaimana? elu bisa bantu, kan?"


Heru menarik nafas panjang, menatap wajah-wajah yang ada di video itu, lalu beralih ke Abimanyu. Ia terlihat diam sambil berpikir keras. "Oke, gue bakal bantu. Lagi pula ini berita besar. Gue yakin rating bakal naik."


"Tapi ... elu siap juga? Kalau mereka nyerang elu, kayak apa yang mereka lakuin ke kami?


"Lah elu pikir udah berapa kali gue mau mati demi kerjaan gue? Ibarat hewan, gue ini kucing, nyawanya banyak."


Abimanyu hanya tersenyum, ia belum merasa lega atas tindakannya ini. Karena siapa pun yang berhubungan dengan hal ini, atau mengetahuinya pasti akan mengalami hal buruk. Ia cemas, jika Heru akan mengalaminya juga.


"Ya sudah. Elu mau balik apa nginep sini aja?" tanya Heru.

__ADS_1


Abi melihat jam di pergelangan tangannya. "Eum, gue balik saja, ya. Kasian teman gue sendirian di rumah sakit. Tapi elu nggak apa-apa, kan?"


"Astaga, Abimanyu! Sejak kapan elu dramatis gini? Jijik tau jadinya. Berasa gue ini pacar lelakimu saja!" kata Heru dengan logat alay, dibuat-buat. Abi tersenyum, walau demikian ia masih cemas dan khawatir.


Getaran di ponselnya membuat Abi segera menerima panggilan itu. Vin kembali menelepon dan mengabarkan kalau Rizal dan Nabila sudah siuman. Hal itu membuat Abi makin yakin untuk segera kembali ke rumah sakit, dan meninggalkan Heru. Mungkin memang Abi tidak perlu terlalu mencemaskan keadaan ini. Karena Heru pasti bisa menjaga dirinya sendiri. "Ya udah, gue balik, ya."


_________________


Pukul 00.30


Abimanyu baru saja pergi beberapa menit lalu. Sementara Heru tidak langsung tertidur. Ia justru kembali mempelajari tentang kasus ini. Sebelum Abimanyu pergi, ia sudah menyalin semua file dari memori itu. "Bener-bener berbahaya sih ini, kalau sampai mereka tau gue punya bukti ini. Dan untung besar buat gue juga. Bakal naik jabatan ini nanti. Huh, Barcelona ... I'am coming," gumamnya dengan senyum yang menampilkan barisan putih giginya. Heru memang ingin pergi ke Barcelona setelah tabungannya cukup, karena itu adalah tempat impiannya. Selama bertahun-tahun ia selalu sibuk bergelut dengan urusan pekerjaan, dan kini ia ingin sekali berlibur. Setelah kasus ini selesai tentunya.


Suara berisik di luar membuat dahi Heru berkerut. Ia merasakan kehadiran orang lain di sekitar rumahnya. Sadar akan bahaya ini, ia segera mengetik beberapa hal sambil memperhatikan sekitarnya. "Hm, gila, nggak nyangka gerakan mereka secepat ini. Bahkan gue nggak dikasih kesempatan buat tidur dulu."


Brakk! Pintu rumahnya didobrak kasar oleh beberapa orang yang kini mulai menerobos masuk ke dalam. Menodongkan senjata api dan beberapa senjata tajam. "Angkat tangan!"suruh salah satu dari mereka dengan sebuah shotgun yang ditodongkan pada Heru. Tangan Heru yang masih ada di keyboard laptop, berhenti. Tapi sebelum ia menuruti perkataan mereka, jari telunjuknya menekan tombol enter dengan pelan. Matanya melirik ke layar laptopnya, dan status centang hijau di sana, membuatnya lega. Ia lantas mengangkat kedua tangannya. Tapi salah satu dari kawanan itu melihat ke laptop milik Heru dan mengetahui kalau file itu sudah dikirimkan kepada seseorang.


Rahang kanan Heru dipukul dengan ujung senjata yang awalnya akan meledak di kepala Heru. "Kau ... Jangan main-main dengan kami, ya. Kamu bakal dapat hukuman karena hal ini!" Laptop diserahkan pada seseorang yang lain. Ia mengetik dengan cepat, berusaha membatalkan hal itu, dan itu tidak bisa tentunya. "Cari penerimanya!" suruh yang lain.


Heru hanya menarik sebelah bibirnya sinis. Ia merasa sedang berhadapan dengan orang-orang bodoh yang hanya mengandalkan kekuatan fisik mereka saja. Heru merasa menang. Karena penerima file itu tidak akan bisa dilacak oleh siapa pun.


"Oh, sial! Nggak bisa gue lacak!" umpatnya kesal. Satu orang yang sebagai pemimpin tim mereka, mendekat, merampas laptop Heru, lalu dengan keras membantingnya ke lantai. Hancur. Beberapa bagian benda itu remuk apalagi setelah diinjak oleh orang tadi. Heru geleng-geleng kepala, ia pasrah kalau semua file pekerjaannya selama ini rusak begitu saja. "Toh, gue juga bakal mati malam ini," gumamnya dalam hati. Ia merasa tidak dapat lagi mengelak dari kematiannya sekarang. Mungkin jika kucing memiliki 7 nyawa, ini adalah nyawa Heru yang ketujuh, nyawa yang tersisa miliknya.


Kepalanya dipukul dari belakang, membuatnya tersungkur begitu saja di lantai. Ia tidak bisa menggerakkan lagi tubuhnya, hanya jemarinya saja yang berusaha hendak meraih karpet yang ada di dekatnya. Ia ingin kabur, tapi sadar kalau sudah tidak mampu lagi. Kepalanya berdenyut hebat, sakit sangat. Membuat sekujur tubuhnya juga terasa ngilu.


Salah satu dari mereka menodongkan senjatanya ke arah Heru yang sedang menggerakkan tubuhnya, berusaha menghindari lagi malaikat kematiannya yang ke sekian kalinya. Bunyi pelatuk yang ditarik terdengar nyaring. Heru pasrah.


DOR!


Suara tembakan terdengar menggema. Tapi bukan Heru yang mengeluarkan darah, justru orang yang hendak membunuhnya. Ia lantas roboh dengan kepala yang berlubang. Semua orang menoleh ke arah pintu rumah ini. Begitu juga Heru yang kini tersenyum lebar. "Huh, untung dia balik lagi!" ucap Heru yang ditujukan pada temannya itu. Satu persatu dari mereka mulai menyerang Abimanyu dengan membabi buta. Abi dengan santai membalas mereka dengan pukulan yang jauh lebih telak dan membuat mereka langsung roboh. Bahkan saat salah satu dari mereka menodongkan senjata api ke Abi, pemuda itu terus berjalan mendekat dan merampas pistol itu. Hal ini membuat musuh ketakutan.


Seseorang lain yang berada di belakang Abimanyu sudah menodongkan senjatanya, peluru sudah menembus punggung Abi. Dan ia hanya menoleh tanpa reaksi sakit atau apa pun. Tatapan mata Abi dingin dan tajam, ia mirip manusia yang sedang dirasuki setan. Saat Abi akan ditembak untuk kedua kalinya, ia segera mengambil kursi kayu yang dekat dengannya dan menghantamkan pada orang di depan. Ia langsung terkapar, dengan bersimbah darah di kepalanya.


Satu persatu dari mereka, mulai mundur teratur. Abi menatap tajam ke arah mereka, yang mulai ketakutan. di tendangnya meja di depannya, hingga membuat orang-orang yang hendak kabur itu terjatuh. Abi berlari dan mulai menghajar mereka satu persatu. Hampir semua perabotan di rumah Heru hancur karena dijadikan alat untuk melumpuhkan lawannya.


"Ampun! Ampun," rengek orang terakhir dari mereka yang kini sudah tidak bisa berjalan lagi. Kakinya patah karena injakan Abi. Semua orang di rumah ini sudah tak sadarkan diri. Abi menoleh ke Heru yang sudah duduk dengan memegang dadanya, ia tersenyum sebagai ucapan terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2