
Dewa membawa mereka ke sebuah penginapan yang sejak seminggu ini menjadi tempat dirinya dan kelompoknya tidur. Sudah hampir satu bulan lamanya, Dewa berada di tempat ini. Ia memang memiliki hobi baru dan sangat menyukai alam bebas. Entah gunung maupun laut. Tetapi sekarang Dewa sedang meneliti tentang gua gua alam yang ada di tempat tempat sulit di seluruh dunia. Salah satu nya yang ada di blue hole tersebut.
"Jadi Elang juga lagi mencari kunci kunci ini?" tanya Arya sambil menatap kunci yang ada di genggamannya. Mereka kini sedang makan di sebuah restauran yang berada tak jauh dari penginapan.
"Iya. Sudah ada 2 yang ada di tangan Elang, kalian sendiri punya berapa?"
"kami punya 6. Berarti tinggal 2 lagi, ya, untuk bisa melengkapi 10 kunci itu?"
"Kenapa Om Elang juga memburu 10 kunci ini, Om Dewa?" tanya Abimanyu penasaran. Ia sangat paham bagaimana karakter Elang, dia sedang mencoba menjalani kehidupan normal. Tidak lagi ingin berurusan dengan hal hal seperti ini lagi. Abi masih sangat ingat bagaimana obrolan terakhir mereka dulu.
Dewa menarik nafas panjang, "Keluarga Elang mengalami hal buruk beberapa bulan lalu. Shanum koma, dan putra mereka diculik oleh iblis."
"Rajendra?" tanya Abi. Dewa menggeleng, "Rajendra sudah meninggal, Bi."
"..."
"Anak itu mengalami kecelakaan. Setahun setelah Rajendra meninggal, Shanum hamil lagi, namanya Nabila. Sejak kecil Nabila memang aneh, dia bisa melihat hal hal aneh yang nggak semua manusia bisa melihatnya."
"Maksudnya hantu gitu?"
"Iya, semacam itu. Dan beberapa kali Nabila udah bilang ke orang tuanya, kalau ada sesuatu yang sedang mengintainya sejak beberapa hari sebelum kejadian. Terus keesokan harinya, ada beberapa orang dengan mata hitam masuk ke rumah mereka dan membawa Nabila. Karena kejadian itu Shanum, mengalami shock, dan koma. Di saat itulah Elang mencari tau di mana Nabila, sampai akhirnya dia tau tentang kunci kunci itu. Elang yakin kalau Nabila di bawa ke dunia lain, dan Elang harus menjemputnya."
"Astaga. Nabila berapa umurnya sekarang?"
"Baru 5 tahun, Ell. Kasihan mereka. Elang benar benar kacau. Dia balik lagi fokus ke hal hal ini, nggak lagi mikirin perusahaannya itu. Untung saja Ayu bisa ngurus perusahaan, yah untuk sementara waktu selama kedua kakaknya belum bisa balik lagi."
"Memangnya sekarang Elang di mana?" tanya Gio.
"Dia dalam perjalanan ke sini. Aku sudah memberi kabar ke dia kalau kalian di sini. Tunggu saja."
_____________
Matahari sudah bergeser, membuat teriknya mulai memudar dan membentuk senja di langit. Untuk sementara mereka hanya diam dan menunggu Elang datang.
__ADS_1
"Menikah?" tanya Dewa sedikit tersentak kaget. "Kalian?" tanyanya lagi menunjuk Abimanyu dan Ellea yang duduk di depannya sambil bergandeng tangan. Keduanya mengangguk yakin, dengan sorot mata penuh harap. Dewa diam sejenak sambil menatap keduanya intens. "Oke. Aku coba cari informasi, ya. Kebetulan teman teman ku banyak yang berasal dari daerah ini. Mungkin mereka tau di mana tempat untuk mendaftarkan pernikahan dengan cepat."
Keputusan Abimanyu dan Ellea sudah bulat. Mereka benar benar akan segera melangsungkan pernikahan sebelum melanjutkan perjalanan mereka nanti. Arya dan Nayla juga sudah menyetujui hal tersebut. Karena Abi dan Ellea memang sudah menjalin hubungan itu lama.
Iklim di tempat ini yang tropis membuat mereka seperti berada di tanah air. Dan karena tempat ini memang dekat dengan laut, membuat mereka setidaknya memutuskan akan beristirahat sejenak sambil menunggu rencana pernikahan Abi dan Ellea di gelar. Mereka menyewa penginapan murah. Mereka menyewa 3 kamar untuk beberapa hari ke depan. Karena mereka juga tidak tau akan berada di tempat ini untuk berapa lama lagi. Rencana pernikahan Abi dan Ellea pasti akan segera di gelar, dan tentu saja, mereka membutuhkan waktu untuk bulan madu dan menikmati kebahagiaan sebagai pengantin baru. Biasanya penyewa di sini memang seorang wisatawan yang berasal dari luar kota bahkan luar negeri dan hanya akan menginap selama beberapa hari saja. Sementara itu, Dewa justru menyewa penginapan ini untuk satu bulan.
Elang datang. Penampilannya tidak banyak berubah. Hanya saja kini ia menambahkan tato di tangan kirinya. Alhasil sekarang kedua tangannya penuh dengan tato, bahkan sampai ke ruas jarinya. Ada nama putri dan putranya. Tapi ada satu hal yang membuat Elang berbeda selain tato tambahannya. Sorot matanya. Penuh rasa luka dan getir. Abi langsung mendekat begitu melihat Elang datang, mereka lantas berpelukan, karena memang sudah lama mereka tidak berjumpa. "Kamu makin ganteng saja, Bi," ungkap Elang dengan senyum tipis. Mata Abimanyu berkaca kaca melihat Elang. Bagaimana pun juga mereka pernah sangat dekat. Dan mendengar kabar keluarga Elang membuat dirinya terpukul. "Maaf, Om, kalau di saat Om Elang kesulitan, aku justru nggak bisa bantu apa apa."
"Apaan kamu ini. Kenapa jadi kamu merasa bersalah? Ini tanggung jawabku, untuk menjaga mereka. Eum, rasanya aneh ya, melihat orang tuamu lebih muda dari ku," tutur Elang beralih menatap Arya dan Nayla. Gio segera berhambur memeluk Elang, dan acara reuni akbar terjadi malam ini. Dan ada satu hal yang mereka sadari, kalau pemersatu mereka adalah masalah. Yang anehnya masalah yang mereka hadapi itu seolah saling terhubung.
"Gue sudah booking-in elu kamar, Lang," tukas Dewa memotong pembicaraan mereka. Hari sudah makin malam, Dewa sadar kalau Elang juga butuh istirahat. Wajahnya terlihat sangat kelelahan. "Thanks, Wa. Gue emang capek banget," sahut Elang sambil beranjak mendekati Dewa yang berdiri di dekat pintu. "Udah berapa malam elu nggak tidur?" tanya Dewa.
Elang menarik nafas panjang, lalu memberikan senyum simpul padanya. "Mana kunci kamar?"
***
Ia menghempaskan tubuhnya ke ranjang penginapan. Bagi Elang kasur empuk sudah tidak terasa lagi bedanya dengan kasur kasur di penginapan seperti ini. Lagi pula dia akan sangat jarang tidur di atas kasur, Elang lebih sering duduk dengan laptop dan semua informasi di mana keberadaan kunci yang akan membawanya ke gerbang iblis tersebut. Baginya, ia hanya ingin membawa putrinya pulang, agar Shanum juga segera sembuh. Elang percaya kalau Nabila di temukan, maka istrinya juga pasti akan bangun dari koma. Mata Elang terpejam, dia benar benar lelah. Setidaknya dengan melihat teman temannya di sini, Elang tidak merasa sendirian lagi. Dan kenyataan bahwa mereka sedang memburu hal yang sama, membuat Elang harus benar benar tidur malam ini.
Penginapan di sini ada 3 lantai dengan banyak kamar. Kamar mereka cukup berdekatan satu sama lain, karena memang sudah diatur oleh Dewa sebelumnya. Tentunya untuk memudahkan mereka berkomunikasi.
Pintu penginapan dibuka kasar, seorang pria mabuk sedang berjalan masuk menuju kamar miliknya. Walau ia mabuk, tapi masih bisa melihat jelas dan sadar di mana letak kamarnya yang memang berada di lantai 2. Di lantai ini juga, Abi dan teman temannya menginap.
Pria berumur 45 tahun tersebut berjalan lunglai. Beberapa kali ia bersendawa dengan aroma alkohol yang kuat dan pekat. Ia mulai berjalan menaiki tangga. Tetapi di samping nya kini ada seorang wanita yang terlihat sangat cantik, dengan balutan pakaian minim. Tentu pria tersebut tergoda untuk mendekatinya. Saat ia memanggil wanita itu, sang wanita tersebut justru seperti menggodanya agar mengikuti ke mana dia pergi. Merasa mendapat lampu hijau, ia tentu tidak mau melewatkan kesempatan ini. Bagai gayung bersambut, pria tadi terus mengikuti ke mana wanita tersebut pergi.
Sampai akhirnya mereka tiba di kamar di pria. Awalnya dia bingung dan merasa aneh, kenapa wanita asing itu tau di mana letak kamarnya. Tapi karena nafsu sudah menguasainya, ia tidak memperdulikan dan kini menutup pintu kamarnya.
Keesokan paginya, penginapan geger karena penemuan sebuah mayat di kamar. Polisi sudah dihubungi dan sedang menuju ke penginapan itu.
"Ada apa sih?" tanya Elang yang baru saja bangun dari tidur nyenyaknya. Tidur yang sudah lama tidak ia rasakan lagi. Ia menghampiri Dewa, Arya, dan Wira di depan kamar yang sudah dikerumuni banyak orang. Mereka tidak bisa masuk ke dalam, sampai akhirnya Gio keluar dari dalam dengan senyum kemenangan. Ia melirik ke arah teman temannya dan berjalan ke kamarnya. Tak peduli dengan panggilan dari rekan rekannya, ia justru hanya memberikan isyarat agar mereka mengikutinya.
"Ada apa sih, Gi?" tanya Elang begitu mereka sudah sampai di kamar Gio dan Wira.
"Mayat."
__ADS_1
"Itu juga kita semua tau! Maksudnya dia meninggal kenapa?!" protes Dewa, sebal.
"Aneh! Bener bener aneh. Kalian pernah nggak, lihat orang mati, terbungkus sarang laba laba? Dan anehnya lagi, dia menempel di sudut langit langit?!"
Mereka semua saling pandang satu sama lain. Apa yang Gio katakan memang tidak bisa diterima akal sehat. Dan memang baru kali ini mereka mendengar kematian aneh seperti ini.
"Kerjaan iblis?" tanya Arya langsung menebak.
"Kayaknya sih. Iblis laba laba mungkin?" sahut Gio.
"Jorogumo!" tukas Wira dengan sorot mata dingin dan tajam.
"Joro ... Apa?" tanya Elang meminta agar Wira mengulanginya lagi.
"Jorogumo. Jorogumo itu siluman laba-laba yang sudah ada sejak 400 tahun yang lalu. Dia bisa mengubah wujudnya menjadi wanita cantik yang suka merayu lelaki tampan, membungkusnya dengan jaring laba-laba, lalu kemudian memakannya. Biasanya itu mitos di Jepang. Tapi kenapa dia ada di sini?" jelas Wira dengan kembali melemparkan pertanyaan lain.
"Karena pemiliknya orang Jepang!" sahut Gio semangat.
"Mana ada! Ngaco lu! Mr. Rick asli orang sini!" kata Dewa tidak terima.
"Ya kali aja di Jepang udah penuh sama setan? Ada Juon, Sadako, kuchisake Onna, Reiko San, terus masih banyak lagi." Penjelasan Gio membuat yang lain mendengus sebal.
"Jadi dia berubah wujud jadi wanita cantik terus memakan korbannya? Mayat tadi, juga di makan? Iya. Nggak, Gi?" tanya Arya.
Gio kembali mengingat bagaimana kondisi mayat pria tadi. Ia lantas mengangguk. "Ada beberapa organ tubuhnya yang hilang memang, kayak busuk gitu!"
"Gila!"
"Eum, gaes, kita pindah aja yuk, dari sini," ajak Gio.
"Eh, gila lu! Gue udah booking kamar banyak dan lama. Rugi dong!" protes Dewa.
"Jalan satu satunya, kita cari siluman itu!" tambah Abimanyu, menatap semua orang di ruangan ini. Arya, dan Wira mengangguk setuju. Elang hanya menarik nafas panjang namun akhirnya ia juga mengangguk.
__ADS_1