pancasona

pancasona
61. Nama yang sama


__ADS_3

Kedatangan para tim pasukan khusus, serta para warga yang ikut dalam misi pencarian akhirnya kembali dengan selamat. Mereka disambut baik oleh seluruh warga yang memang sudah menunggu sejak seharian ini. Dana, Hani, dan Blendoz disambut juga oleh teman-teman mereka yang sudah menunggu sejak tadi. Hana dan Apri sudah sadar dan tampak lebih baik dari sebelumnya setalah diobati oleh pihak puskesmas keluruhan. 


"Jadi bagaimana tentang desa itu, Dan?"


"Mereka semua tewas. Saat kami tiba nggak ada satupun orang yang berkeliaran seperti sebelumnya saat kita datang ke sana."


"Kok bisa gitu, ya?"


"Mati semua gitu?"


"Iya, mati semua. Dan matinya tiba-tiba banget. Mereka seolah-olah terkena wabah mematikan di udara."


"Kok bisa gitu, ya? Padahal mereka sebelumnya juga baik-baik aja."


"Mungkin karena Jaka mati, jadi berimbas ke mereka juga. Secara logika, kan selama ini Jaka yang telah menghidupkan mereka lagi dari kematian. Jadi kalau inangnya mati, kemungkinan mereka juga akan mengalami hal yang sama. Masuk akal, kan?" tanya Dana.


" Masuk akal juga. Tapi Jaka beneran udah dipastikan mati, kan? Takutnya cuma kamuflase untuk menghindari semua orang, dan tiba-tiba dia hidup lagi. Dia kan mirip iblis juga/"


"Yah, memang itu juga yang gue khawatirkan. Tapi kita nggak bisa memasktikannya karena mayatnya udah dibawa orang-orang itu tadi. Kalian lihat, kan, yang tadi mereka masukan ke kantung mayat?"


"Oh iya, ada sih. Terus udah dibawa pakai ambulan puskesmas juga tadi."


"Yah, semoga Jaka bener bener udah mati. Berbahaya juga kalau sampai dia masih hidup. Gila sih, kalau kejadian di desa Tabuk Hilir bisa dialami desa lain."


"Amit-amit deh. Semoga spesies yang seperti Jaka nggak ada lagi."


Pak Wiryo mendekati mereka yang sedang berdiskusi. Kali ini dia sudah berganti pakaian dengan lebih rapi dan juga formal. Hal ini menjadikan tanda tanya besar bagi Dana dan kawan-kawan. Pakaian yang dipakai oleh Pak Wiryo sangat mirip seperti pegawai kelurahan dengan pangkat yang tinggi. 


"Kalian sudah makan, kan?" tanya beliau sambil duduk di antara mereka. 


"Eum, sudah, Pak. Terima kasih suguhannya. Maaf, kami jadi merepotkan Pak Wiryo dan warga desa yang lain," cetus Rea sungkan. 


"Tidak apa apa. Sudah menjadi kewajiban kami untuk membantu kalian. Toh, kejadian ini terjadi di wilayah kami, tentu saja kami pasti membantui sebisa kami."


"Eum, Pak. Maaf, bapak ini ...." Blendoz bertanya sambil menunjuk pakaian Pak Wiryo yang tampak sangat elegan dipakai oleh pria paruh baya itu. Dan membuat dia terlihat lebih berwibawa. 


"Oh ini, kebetulan saya ini kepala desa di sini."


"Hah?"


Mereka semua terkejut dengan penuturan Pak Wiryo. Tidak menyangka jika pria yang mereka temui adalah orang penting yang sempat mereka sepelekan. Apalagi saat mereka kerap melihat Pak Wiryo berada di hutan karena mencari kayu bakar, seperti saat pertama kali bertemu beberapa hari yang lalu. 


"Maaf, Pak. Kami pikir bapak cuma warga desa biasa saja karena ... waktu itu .... Di hutan," cetus Hani dengan terbat-bata karena merasa tidak enak membicarakannya. Hingga Hana pun menyikut adik kembarnya itu agar tidak lagi melanjutkan perkataannya. 


"Hahahahha. Tidak apa-apa, Mas. Saya maklum kok tentang apa yang kalian sangka. Yah, saya memang kepala desa, tapi saya juga seorang warga desa sama seperti yang lain. Jika saya sedang memakai pakaian dinas seperti ini, itu berarti saya sedang melaksanakan tugas saya sebagai kepala desa, dengan jam kerja yang sudah ditentukan pemerintah. Namun, jika saya memakai pakaian biasa saja, seperti yang kalian temui sebelumnya, itu artinya saya sedang menjadi warga desa seperti yang lain. Karena saya juga butuh memberi makan hewan ternak milik keluarga saya, juga kayu bakar untuk memasak istri saya. Sebenarnya ada kompor gas, tapi karena istri saya lebih suka memakai tungku api, maka kami lebih sering memasak di tungku. Maklum, kebiasaan orang tua kami sejak dulu ya memakai tungku api. Apalagi masakan yang dimasak di tungku api jauh lebih nikmat daripada dimasak dengan kompor." Pak Wiryo tampak tertawa tanpa ada gurat kebencian pada mereka. 


Dia memang merupakan sosok kepala desa yang disegani di desanya. Kepala desa yang sederhana dan tidak sombong atas jabatan yang dia terima. Justru dia malah semakin rendah hati selama menjabat sebagai kepala desa. 


"Oh ya, Pak, soal Jaka ... apa benar dia sudah meninggal?" tanya leni penasaran.


"Jaka, ya? Eum, saya pikir dia memang sudah meninggal. Karena kami melihat nya dengan jelas, dan sudah memeriksanya tadi. Dia sudah meninggal. Teman-teman kalian juga menyaksikannya," kata Pak Wiryo sambil menunjuk Dana, Hani, dan Blendoz. Mereka bertiga hanya menatap Pak Wiryo sambil mengangguk mengiyakan. 


"Tapi apa benar dia sudah meninggal, Pak. Kami agak ragu, karena apa yang sudah dia lakukan, masa iya, dia bisa semudah itu mati," tukas Diah.


Pak Wiryo diam sejenak, dia seperti sedang memikirkan sesuatu. "Kalian tidak usah khawatir. Nanti saya akan tanyakan pada tim yang tadi bertugas, bagaimana kondisi Jaka."


"Baik, Pak. Terima kasih banyak. Kami hanya cemas, jika sampai Jaka ternyata masih hidup, mungkin teror desa Tabuk Hilir akan terulang ke desa lain. Kami tidak ingin anak-anak seperti Riri menjadi korban lagi."


"Iya, saya pun merasa iba dengan apa yang menimpa keluarga Riri dan semua warga desa di sana. Dan kami sebagai desa terdekat justru tidak mengetahui apa pun. Saya turut merasa bertanggung jawab dengan tragedi itu. Seharusnya saya berkunjung ke desa desa lain di sekitar untuk melihat kondisi mereka. Sehingga jika ada hal yang tidak baik seperti desa Tabuk Hilir, maka saya dan yang lain akan bisa cepat mengatasinya."


"Betul, Pak. Mungkin harus ada pertemuan dengan kepala desa di desa sekitar, agar terjalin komunikasi yang baik antar sesama."


"Yah, betul. Dan itu akan menjadi program kerja terbaru saya nanti. Saya ucapkan banyak terima kasih pada kalian. Jika kalian tidak masuk ke hutan terlarang, dan tersesat di desa Tabuk Hilir, mungkin tragedi ini tidak akan berakhir. Kasihan mereka, terjebak dengan kehidupan yang tidak jelas."


"Iya, betul."


"Oh ya, Mba ... namanya siapa?" tanya Pak Wiryo menunjuk Leni yang duduk di depannya.

__ADS_1


"Saya, Pak?" tanya Leni agak bingung ditanya begitu oleh Pak Wiryo. "Saya Leni, Pak."


"Oh, Mba Leni, ya." Wajah Pak Wiryo tampak tidak nyaman saat menatap Leni, seperti ada hal yang sedang dia tutupi.


"Ada apa ya, Pak?" Leni yang penasaran terus bertanya karena dia pun yakin kalau Pak Wiryo sedang menyembunyikan sesuatu. 


"Eum, begini, Mba. Tapi saya minta maaf sebelumnya. Jika Mba Leni tidak mempercayai apa yang saya katakan, tidak apa-apa kok. Tapi saya hanya ingin memperingatkan ke Mba. Sebaiknya Mba hati-hati. Ada orang yang tidak suka dengan Mba Leni, dan berniat mencelakakan Mba."


Sontak Leni terkejut mendengar kalimat Pak Wiryo, karena apa yang disampaikan olehnya justru sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya dan keluarganya. Dan itulah alasan dia pergi jauh-jauh kembali ke tempat ini. 


"Apa yang bapak katakan memang benar. Justru alasan saya datang ke sini adalah karena alasan itu. Saya membawa salah satu bunga di hutan terlarang dan membuat saya selalu dihantui oleh sosok menyeramkan. Dia meminta kembali bunga anggrek hitam itu, jadi saya kembali ke sini. Untungnya teman-teman baik,. dan mau menemani saya kembali ke sini lagi. Saya jadi merasa tidak enak, karena saya, mereka terluka. Maafin gue ya, Han, Pri," kata Leni dengan mata berkaca-kaca. 


"Apa-apan sih lo, Len. Kita nggak apa-apa kok. Cuma luka kecil, ya kan, Pri," cetus Hana beruisaha agar Leni tidak merasa terbebani. Apri pun mengangguk walau masih tampak lemas akibat semua yang sudah mereka alami selama ini. 


"Tapi tetep aja, gue merasa bersalah."


"Nggak usah dipikirkan. Yang pasti habis pulang dari sini, traktir gue MCD. Lunas deh,"cetus Hana diikuti gelak tawanya.  


"Kalau aku mah nggak perlu MCD, starbuck aja. Soalnya pengen  Vanilla Sweet Cream Cold Brew. Ya ampun aku rindu hedon," ujar Apri dengan wajah memelas. 


"Dih, dasar orang kota!" sindir Diah. "Gue juga sih sebenarnya," bisiknya pelan, namun terdengar mereka semua. 


Akhirnya Diah mendapat sorakan dari teman-temannya. Mereka seakan-akan sudah lama sekali tidak tertawa ringan seperti ini. Sejak tersesat di hutan, dan hampir menjadi korban tumbal pesugihan di desa yang penuh dengan mayat hidup, mereka seperti melupakan bagaimana cara nya tertawa. Dan kini mereka mulai menemukannya. 


Pak Wiryo ikut tersenyum melihat tingkah anak anak muda di hadapannya.


"Jadi Leni sudah aman, kan, Pak?" tanya Ita penasaran.


"Eh tunggu! Tadi Bapak bilang kalau Leni dalam bahaya? Kalau memang Leni sudah aman, bukannya sudah nggak ada lagi?? Lagipula Pak Wiryo juga bilang, kalau ada orang yang tidak suka sama Leni? Kenapa bapak bisa berkata seperti itu?" tanya Rea yang menyadari keanehan dari kata-kata Pak Wiryo. 


Pak Wiryo menarik nafas panjang, dia kembali tersenyum mendengar perkataan Rea barusan.


"Yah itu yang saya maksudkan. Saya justru tidak tahu mengenai anggrek hitam yang Mbak Leni ambil dari hutan terlarang. Karena yang saya lihat sekarang bukan gangguan dari bunga anggrek hitam tersebut. Ada sesosok bayangan hitam yang terus berada di belakang Mbak Leni sejak kita bertemu di hutan waktu itu. Saya sejak kemarin hanya diam saja. Karena saya juga penasaran ingin mencari tahu Apa yang sebenarnya ada di belakang Mbak Leni itu. Rupanya Sekarang saya sudah mengerti."


" Oh ya? Beneran ada bayangan hitam Pak? Bentuknya seperti apa Pak? Lalu Siapa orang yang ingin mencelakakan Leni?" tanya Diah antusias.


" yah bentuknya Hanya bayangan hitam saja. Saya tadi bertanya kepada bayangan hitam itu sedang dilakukan pada tubuh Mbak Leni. Dia hanya mengatakan kalau dia disuruh oleh seseorang. Mungkin Mbak Leni bisa mengira-ngira sendiri siapa orang tersebut?"


"Len! Berarti gangguan telur yang kemarin kita lihat itu masih berlanjut!" cetus Rea.


"Gangguan telur? Maksud kalian apa?" tanya Dana.


" jadi gini, kemarin sebelum kita berangkat ke bandara. Aku memang minta tolong sama Leni agar dia jemput aku, biar kami bisa ke bandara bersama-sama. Karena Ayahku ada pekerjaan mendadak. Ternyata waktu kami mau berangkat, dan sedang memasukkan barang-barang ke belakang mobil Leni, Kami menemukan ada 1 butir telur yang menggelinding dari dalam mobil tersebut. Kata ayahku itu semacam teluh. Yang dikirim seseorang untuk mencelakakan Leni dan keluarganya "


" Kok bisa pakai telur? Memangnya efeknya apa?" tanya Apri.


" Jadi kalau telur itu pecah maka seluruh orang yang ada di dalam mobil itu akan celaka. Itu memang Pernah saya dengar, dan bahkan saya pun pernah melihat kejadian itu di depan mata saya sendiri. Salah satu warga desa sini pernah mendapatkan teluh telur ayam, dan berakhir dengan kematian," jelas Pak Wiryo.


" gila serem banget!" gumam Hana sambil menatap Leni iba.


" Len, kira-kira Siapa orang yang mau mencelakakan kamu? Jahat banget sih jadi orang!" timpal Blendoz.


"Iya, bener. Jahat. Manusia-manusia macam ini nih, yang menjadikan Iblis jadi lebih kuat!" tukas Hani.


Leni terdiam sambil berusaha memikirkan orang yang bisa tega melakukan hal itu kepada dirinya dan juga keluarganya. Dia merasa tidak punya musuh. Tapi tidak menutup kemungkinan kalau orang yang ingin mencelakakan nya memiliki dendam pribadi kepada dirinya atau keluarganya. Semua itu bisa saja terjadi, dan semua orang bisa menjadi tersangkanya.


" Tapi kira-kira siapa ya pak? Saya benar-benar nggak tahu kalau ada orang yang punya dendam pribadi kepada saya. Bapak bisa nggak tanya kok sosok di belakang saya ini. Mungkin Bapak bisa melihatnya?"


Pak Wiryo menatap kosong ke belakang tubuh Leni. " pelakunya sangat Mbak Leni kenal. Salah satu orang terdekat Mbak Leni. Sepertinya dia bukan orang lain."


"Maksudnya bukan orang lain apa, Pak?"


"Saudara mungkin? Tapi mungkin saya salah. Semoga orang itu segera mendapatkan hidayah, dan berhenti mengganggu Mbak Leni lagi dan keluarga."


Leni tampak diam. Dia masih merasa tidak nyaman dengan penuturan Pak Wiryo barusan. Leni juga merasa yakin kalau apa yang dikatakan Pak Wiryo adalah suatu kebenaran. Terutama mengenai pelaku yang telah berniat jahat kepada dirinya dan keluarganya.


"keluarga? siapa, ya?" tanya Leni pada dirinya sendiri dalam hati.

__ADS_1


" hanya saja ada sesuatu yang mengganggu pikiran saya sejak tadi."


"Apa itu, Pak?"


" sosok yang ada di belakang Mbak Leni sepertinya tidak asing."


" maksud Bapak tidak asing, Apakah Pak Wiryo  pernah melihatnya sebelum ini? Di mana, Pak?" tanya Leni dengan tidak sabaran.


Leni benar-benar penasaran terhadap sosok hitam yang disinyalir terus berada di belakang tubuhnya.


"Iya, Saya pernah melihatnya sebelum ini. Dan saya yakin ini adalah sosok yang sama. Yang jelas sosok yang ada di belakang tubuh Mbak Leni adalah salah satu penghuni hutan terlarang. Kata lain dia adalah makhluk yang juga memuja iblis yang berada di dalam sumur itu."


Tidak hanya Leni yang tampak sangat terkejut. Teman-teman yang lain pun merasakan hal yang sama. Mereka belum bisa mengerti Bagaimana bisa Ada sosok makhluk penghuni hutan terlarang itu justru berada terus di belakang Leni, dan disinyalir sosok yang disuruh oleh seorang manusia yang membenci Leni.


" Jujur Saja, kekuatan makhluk itu cukup kuat. Dia merupakan salah satu pengikut dari iblis dan memang tugasnya menyesatkan manusia. Dengan cara memberikan apapun kepada manusia yang pada akhirnya nanti akan dimintai tumbal. Untungnya selama ini ada 1 sosok putih, dia baik, yang juga mengimbangi kalian dan membuat makhluk di belakang Mbak Leni tidak berani melakukan hal-hal yang membahayakan Mbak Leni," jelas Pak Wiryo sambil menatap Rea.


"Maksud bapak sosok baik itu ada diantara kami? Dia juga makhluk tak kasat mata?"


"Tentu saja, dia makhluk tak kasat mata, yang sejak awal Kalian pergi selalu menemani perjalanan kalian hingga Sampai detik ini. Karena sosok itulah gangguan yang kalian alami selama di sini tidak terlalu banyak. Sosok itu ada di belakang Mbak Rea."


Semua orang kini beralih menatap Rea. Sementara Rea yang sedang ditatap oleh mereka , merasa sungkan dan hanya bisa menundukkan kepala.


" Mbak Rea banyak sekali yang melindungi, ya," ucap Pak Wiryo sambil mengangguk angguk, dan tetap memandang Rea lekat-lekat.


"Masa sih, Pak?" cetus Rea merasa tidak enak. Karena Rea sendiri pun merasa dirinya bukan seseorang yang penting yang harus dijaga oleh banyak sosok.


Tak lama obrolan itu terhenti tangan salah satu Kelurahan, bawahan Pak Wiryo. Mereka berdua saling berbisik sambil membawa sebuah buku tulis besar.


"Oh ya sudah," kata Pak Wiryo pada bawahannya. Setelah bawahannya pergi, Pak Wiryo membuka buku yang ada di tangannya. " Saya minta maaf sebelumnya, tapi saya perlu mencatat mengenai data diri kalian, karena harus saya laporkan nanti ke atasan saya. Ini hanya untuk formalitas saja, jadi jangan khawatir."


"Oh iya, Pak. Tidak apa-apa," sahut Dana.


"Baik, saya mulai mencatat, ya. Eum, sebenarnya akan lebih mudah kalau memakai kartu tanda pengenal saja. Apakah kalian membawanya?"


"Oh, tentu saja kami membawanya, Pak. Hei kumpulkan KTP kalian," pinta Dana, sambil meraih dompet dari dalam tasnya. Mereka semua mengeluarkan kartu tanda pengenal dan mengumpulkannya ke Pak Wiryo. Sementara Pak Wiryo mencatat mengenai data diri, mereka kembali mengobrol ringan. Hanya sekedar basa basi mengenai kegiatan kuliah mereka yang memang sudah mulai berlangsung. 


"Oh iya, lupa kabarin kampus! Udah ada sinyal, kan, di sini?"


"Ada kok. Buruan, Dan. Nanti dikira kita tersesat lagi. Bikin heboh satu kampus lagi."


"Nggak apa-apa. Biar kita jadi selebritis dadakan. "


Mereka saling bersenda gurau sambil menunggu keputusan selanjutnya. Satu hal yang ingin mereka lakukan sekarang adalah pulang dan tidur di rumah masing-masing. Hal yang tidak bisa digantikan dengan apa pun juga. 


"Amanda Rhea?" gumam Pak Wiryo dan berhasil membuat pemilik nama tersebut menoleh dan menatapnya heran. 


"Kenapa, Pak? Ada yang salah?" tanya Rea. 


"Ini benar nama lengkap Mba Rea?" tanya Pak Wiryo dengan ekspresi yang aneh. 


"Iya benar. Nama lengkap saya Amanda Rhea. Kenapa, Pak?"


Pak Wiryo lantas menatap Rea dengan tatapan terkejut. Dia bahkan terlihat serius, dan tidak tersenyum sedikitpun. Berbeda sekali dengan Pak Wiryo yang selama ini mereka kenal. 


" pantas saja," gumam Pak Wiryo sambil terus menatap Rea.


" Ada apa ya pak? Kenapa bapak terus menatap saya dengan tatapan aneh? Memangnya ada apa dengan nama saya?" tanya Rea mendetil.


"Mbak Rea sudah melihat sumur di hutan terlarang bukan?"


"Eum, iya. Saya sudah melihatnya. Emangnya kenapa Pak?"


"Mba Rea juga membaca tulisan di pinggir sumur itu kan? tulisan satu-satunya yang ada di sana?"


"Eum, iya. Saya sudah baca. Itu adalah nama saya. Saya juga heran Bagaimana bisa Nama saya ada di sana Sementara saya sendiri baru pertama kali datang ke Kalimantan kemarin bersama dengan teman-teman kampus."


"Nama itu memang sangat mirip dengan Mba Rea. Bahkan terkesan sama. Tapi pemilik nama itu sebenarnya adalah seseorang yang berkorban dan dialah yang memenjarakan iblis itu ke dalamnya. Nama orang itu Amanda Rea."

__ADS_1


__ADS_2