
"Jadi menurut kalian anggota pemuja dewa RA itu masih berkeliaran di kampus kita?" tanya Nayla saat kelas belum dimulai.
"Kemarin aku melihat ada bekas simbol ANHK di luar kampus, tembok keliling di belakang itu penuh simbol ini," tunjuk Wira menunjuk simbol ANHK yang baru saja digambar Nayla.
"Apa ada ciri khusus seperti apa mereka? Karena mahasiswa di kampus ini banyak sekali. Nggak mungkin kita interogasi mereka satu persatu," cetus Retno.
"Kita nggak perlu mencari semua anggotanya, yang kita butuhkan pemimpinnya!" sahut Wira, menatap mereka satu persatu.
"Kalung dengan liontin simbol ini. Itu yang aku baca di buku. Mungkin kita harus mulai mencari mahasiswa yang memiliki liontin seperti ini," tutur Nayla.
Seorang dosen wanita berumur 45 tahunan masuk. Ia bernama Rahayu. Seorang wanita dengan penampilan cukup mencolok. Dia terkenal sebagai dosen yang fashionable dan ramah. "Pagi semua ...," sapanya dengan wajah ceria dan menatap satu persatu mahasiswanya. Sahutan dari mahasiswa membuat senyumnya mengembang sempurna. Selama beberapa jam mereka menjalani materi dari Rahayu dengan bahagia. Caranya mengajar sungguh membuat anak didiknya sangat antusias. "Oke, kalau ada yang kalian tidak mengerti tentang tugas ini, kalian bisa bertanya langsung pada saya. Selamat siang," pamitnya diakhiri senyum tipis dan segera pergi meninggalkan ruangan dengan suara ketukan yang berasal dari sepatu high hellsnya.
"Kantin, yuk. Lapar," pinta Retno memegangi perutnya.
"Kalian dulu aja, ya. Aku mau ke perpus dulu." Nayla segera membereskan buku-buku nya dan segera beranjak dari kursinya. Ia menyempatkan melempar senyum khasnya, lalu segera keluar ruangan meninggalkan teman-temannya.
"Yuk, kantin." Kembali suara Retno membuyarkan lamunan dua pria di dekatnya. Ia segera menggandeng Wira dan Arya berjalan meninggalkan kelas. Tentu mereka berdua pasrah saja. Walau terlihat dari sorot mata keduanya lebih menginginkan ikut Nayla ke perpustakaan.
Suasana perpustakaan tidak begitu ramai. Tempat ini memang bukan salah satu tempat favorit mahasiswa, jadi tak heran jika tidak banyak menemukan mahasiswa ada di tempat ini. Mereka lebih suka berada di kantin atau taman kampus untuk mengisi waktu.
"Mau pinjam lagi?" tanya Ericca, penjaga perpustakaan. Nayla menoleh ke dalam lalu mengangguk. Belum ada ide buku apa yang ingin ia cari, karena ia yakin pasti akan ditemukan nanti. Dan semoga ketiga temannya tidak lelah menunggu Nayla sekarang. Karena jika Nayla sudah berada di depan rak buku, maka ia akan lupa waktu.
Nayla mulai menyusuri rak demi rak, sudah ada 3 buku yang berada di tangannya, namun ia belum juga puas dengan hasil buruannya. Ia masih mencari buku lain yang masih ada di pikirannya.
"Nayla?" panggil seorang wanita dengan tatapan heran. Saat Nayla menoleh ke belakang, rupanya Rahayu ada di dekatnya. Ia juga sedang memeluk beberapa buku di dekapannya. "Kamu suka baca juga?" tanyanya lagi sambil melihat buku yang Nayla pegang.
"Eh, Ibu. Iya, hehe. Bu Rahayu sedang mencari apa?" tanya Nayla heran.
Perpustakaan di kampus ini terbilang tempat penyimpanan buku paling banyak. Semua buku dengan berbagai genre ada di tempat ini. Fiksi non fiksi bahkan sampai ilmiah dengan semua pembahasan Archangel dan demon kesukaan Nayla juga tersaji di tempat ini. Rahayu mengernyitkan kening menatap sampul buku yang Nayla pegang. "Wah bacaan kamu berat, ya," ujarnya sambil mendekat ke gadis itu. Nayla tersenyum sambil memandang benda dengan bau khas yang ia sukai. "Sejak kecil saya sudah sering mendengar cerita seperti ini, Bu. Jadi semacam ketagihan."
"Sini," ajak Rahayu menarik tangan Nayla ke rak buku lain. Jari telunjuk wanita itu lantas menunjuk dan mencari sesuatu dari barisan tulisan di depan mereka. "Nah, ini! Sudah baca?" tanya Rahayu menunjukkan sebuah buku dengan sampul yang sudah hampir koyak namun sudah dilapisi sampul plastik agar lebih awet.
"The Klu Klux Klan?" gumam Nayla sambil memperhatikan blurb novel tersebut. Ia mengerutkan dahi sambil mengangguk dengan sorot mata berbinar. "Wah saya baru pernah melihat ini. Sekte sesat yang baru saya tau hanya beberapa. Dan ANHK itu yang paling sering saya dengar dan ... nyata," gumamnya dengan nada pelan saat kata terakhir.
"ANHK?" tanya Rahayu balik. "Oh iya tentu. Bahkan dulu kampus ini punya masa lalu tentang mereka. Pengikut aliran sekte sesat yang baru saja kamu sebutkan," bisik Rahayu, mendekat ke Gadis itu.
"Eum, benar, kah? Ibu tau?" tanya Nayla pura-pura terkejut. Sebenarnya dia memang benar-benar terkejut karena Rahayu mengetahui tentang hal ini, bukan karena kampus ini pernah punya masa lalu yang berkaitan dengan ANHK. Karena Nayla juga sudah mengetahuinya.
"Ibu yang dulu mengurus kasus itu, bahkan menangkap semua komplotan mereka. Dulu ada seorang dosen mudah dan tampan, Nay. Dan ternyata dia sering sekali membawa beberapa mahasiswi di kampus kita ke rumahnya. Dan ternyata semua gadis itu hilang, tidak ada yang kembali lagi. Dan saya yang melihat korban terakhir, saya sudah mencurigainya sejak lama. Karena wajahnya yang tampan maka banyak perempuan yang tertarik dengannya. Tetapi semua perempuan itu selalu menghilang setelah pergi bersama dia."
__ADS_1
"Lalu di mana Pak Erik sekarang, Bu? Apa mungkin dia masih menjalani ritual itu?"
"kenapa kamu bisa bicara seperti itu?"
"Kemarin teman saya, Retno hampir menjadi korban. Untung kami cepat datang."
"Benar, kah?" tanya Rahayu dengan rasa penasaran tinggi. "Eum kalau begitu kita harus ke rumahnya sekarang, untuk memeriksanya. Bagaimana?"
"Eum, tapi saya mau kasih kabar teman-temen saya dulu ya, Bu. Biar mereka menyusul nanti." Nayla lantas meraih ponselnya namun segera merutuki dirinya sendiri, karena ternyata ponselnya mati karena dia lupa mengisi baterainya. "Nanti saja pakai ponsel saya, kita harus cepat. Karena saya yakin kalau dia pasti sudah mendapatkan korban lagi, waktunya sempit, Nay." Nayla menatapnya nanar lalu mengangguk. Mereka akhirnya sepakat akan pergi ke rumah Erik.
"Ini semua?" tanya Erica memeriksa beberapa buku yang hendak Nayla pinjam dari perpustakaan.
"Iya, buruan, Mba," desak Nayla sambil menatap Rahayu yang ada di sampingnya. Erica hanya menatap kedua wanita itu tanpa ekspresi.
___________
"Jadi bagaimana? kita harus punya informasi yang lebih akurat tentang kasus itu. Aku yakin salah satu orang lama tersebut yang merekrut pengikut baru."
"Tenang. Aku punya kenalan yang bisa membantu kita," timpal Retno bangga.
"Siapa?" Wira dan Arya menyahut bersama-sama.
"Tunggu!" Putra mengambil laptop dari dalam tasnya. Ia mulai memainkan keyboard dengan lincah. Dan akhirnya apa yang ia cari segera ditemukan. " Kemarin aku sudah mencari semua informasi tentang apa yang kalian cari itu," bisiknya sambil memperhatikan sekitarnya.
"Terus?"
"Kasus terakhir tentang penculikan para gadis perawan yang ada di kampus ini baru terjadi sekitar 5 tahun lalu. Aku sudah mengumpulkan nama-nama korban yang sempat hilang pada tahun itu. Lalu semua kegiatan mereka sebelum mereka hilang dari kampus. Dan, ternyata mereka dibawa oleh salah satu dosen yang saat itu cukup terkenal. Dia ganteng dan pinter. Namanya Erik."
"Jadi dia tersangkanya?"
" Yah, memang Erik adalah tersangka kasus 5 tahun lalu. Tapi ada satu yang menarik asal kalian tau, dan ini baru aku temukan tadi pagi. Aku yakin kalian pasti kaget. "
" Oke, apa itu? " tanya Arya.
"Erik punya seorang ibu, tapi tidak ada orang yang tau. Bahkan semua dosen, rektor, mahasiswa di tempat ini. Mereka nggak tau kalau ternyata ibu Erik juga dosen di sini." Ia menatap tiga orag di depannya dengan semangat.
"Siapa?"
"Bu Rahayu!"
__ADS_1
_____________________
Rahayu dan Nayla sudah naik ke mobil Rahayu, karena mobil Nayla masih ada di bengkel. Gadis itu tak menaruh curiga apa pun pada wanita di sampingnya. Nayla masih memainkan jemarinya di gawai milik Rahayu untuk menghubungi teman-temannya. " Bu, nggak ada sinyal, kah? " tanya Nayla sambil menggoyang - goyangkan benda pipih itu.
"Masa sih? Padahal biasanya enggak, Nay, " sahut Rahayu dengan tampang kebingungan, tanpa di sadari Nayla, wanita itu menarik sebelah bibirnya, sinis.
Nayla yang frustrasi lantas mendengus sebal sambil menekan kepalanya sambil bersandar di jendela sampingnya. Ia meletakkan gawai Rahayu di dash board mobilnya karena tidak bisa menghubungi teman - temannya.
"Kamu sudah makan, Nay?" tanya Rahayu sambil memperhatikan sekitar. Mereka sedang berhenti di lampu merah jalan. Nayla melotot saat melihat benda mengkilap dari dalam dash board itu. Ia memperhatikan dengan seksama hingga akhirnya matanya membulat sempurna. Ia melirik ke Rahayu dengan berusaha bersikap sewajar mungkin.
Sebuah gantungan kunci dengan simbol ANHK ada di Dash board mobil Rahayu. Sikap Rahayu yang makin lama aneh menurut Nayla membuat gadis itu yakin kalau apa yang ada di pikirannya tidak meleset.
"Bu Rahayu, jadi dosen di kampus udah berapa lama?" tanya Nayla basa basi.
"Lama, Nayla. Hampir 20 tahun lebih." Ia terus mengukir senyum di bibirnya.
"Kamu tinggal di mana, Nay? Udah punya pacar?" tanyanya.
"Pacar? Belum, Bu."
"Tapi pernah pacaran?"
"Belum juga."
"Masa sih? Kamu cantik belum pernah pacaran. Berarti masih perawan dong, ya."
Nayla menelan ludah. Melirik ke Rahayu yang makin membuatnya ketakutan.
"Memangnya kenapa kalau saya masih perawan, Bu? Agar saya bisa menjadi tumbal selanjutnya?" tanya Nayla dingin. Rahayu melirik gadis itu lalu tertawa.
"Kamu ini ngomong apa sih?!"
Namun Nayla meliriknya sinis. Tangan kirinya mulai mengarah ke kunci yang ada di sampingnya. Ia berniat kabur. Rahayu yang melihat gerak gerik Nayla mulai waspada.
Dengan gerakan cepat, Nayla yang hendak membuka pintu sampingnya di tahan oleh Rahayu. Terjadilah pertempuran sengit dua wanita itu. Saling pukul dan serang. Wajah mereka berdua mulai terluka, memar dan sedikit ada darah segar di beberapa bagian wajah mereka.
Sampai akhirnya Rahayu meraih sebuah botol spray dari tas sampingnya dan menyemprotkan ke wajah Nayla. Hanya hitungan detik, Nayla tak sadarkan diri.
"Huh, merepotkan!" ujar Rahayu sambil merapikan penampilannya. Lampu kembali hijau dan ia kembali melakukan mobilnya.
__ADS_1