
Mobil Elang mulai keluar dari halaman rumah. Sementara itu, sebuah drone mengikutinya dari kejauhan. Di dalam mobil ada Ridwan, Rizal, Nabila dan Abimanyu. Mereka bertugas menjemput Maya yang ada di rumah tantenya. Jaraknya tidak begitu jauh, tetapi mereka harus tetap waspada. Kabar mengenai Hania. Apakah Andrew sudah menemukan gadis itu atau belum. Hasil apa pun tentang Hania, mereka tetap harus siap dengan target terakhir, Maya. Target terakhir yang sebenarnya masih ambigu. Karena tidak ada orang yang tau, apa alasan Maya menjadi salah satu korban yang diincar pelaku. Bahkan kini pelaku sebenarnya atas kasus pembunuhan tidak jelas siapa. Ini jelas bukan pembalasan dendam semata. Melainkan ada intrik rumit di dalamnya.
Mobil mulai masuk ke halaman tante Ridwan, Maya sudah menunggu di teras bersama tantenya. Bukan senyum sumringah dari keduanya yang terpancar, melainkan senyum getir. Ridwan mengawali turun sebagai orang terdekat mereka. Ia masuk dan mengajak tantenya membahas hal ini. Ridwan bertugas menjelaskan, kenapa Maya mereka bawa pergi sementara Nabila mereka tinggalkan di rumah ini, menggantikan Maya.
Ada gurat ketakutan dalam wajah tante Desi. Tapi Nabila yang memang pandai berbicara, ikut menjelaskan dan meyakinkan perempuan berumur 45 tahun itu. Masalah selesai. Tante Desi sudah mengerti dan mau bekerja sama. Kini Rizal mulai bergerak. Ia memasang CCTV di beberapa sudut ruangan. Baik di luar, maupun di dalam rumah. Drone milik Gio masih berputar di sekitar rumah. mengamati keadaan di jalanan, mencari tau apakah ada yang mencurigakan atau tidak.
Saat malam datang, mereka kembali ke rumah Elang. Nabila kini tinggal di rumah Tante Desi. Guntur mulai terdengar di hamparan langit hitam. Hujan akan turun beberapa saat lagi. Padahal mereka masih di jalan, dan belum sampai ke rumah. Rizal sedikit resah. Berkali-kali ia terlihat tidak tenang, meninggalkan Nabila di sana. Walau sebelumnya Nabila sudah berusaha meyakinkan Rizal kalau dia akan baik-baik saja. Terlebih beberapa petugas polisi yang diminta Rizal sudah berjaga di sekitar tempat tinggal Nabila.
"Zal, jangan khawatir. Nabila perempuan kuat," kata Abimanyu, meyakinkan pemuda di depannya. Ridwan yang fokus menyetir hanya melirik pada dua orang di samping dan di belakangnya. Menarik nafas panjang dan berharap yang terbaik. Ia juga bersyukur dan sangat berterima kasih, karena bagaimana pun juga, mereka telah berusaha menyelamatkan adiknya, Maya.
Nabila duduk di ranjang yang biasa dipakai Maya selama beberapa hari kemarin. Meratapi nasib dirinya yang bagai telur di ujung tanduk. Tetapi ia tidak menyesal dengan keputusannya sekarang. Baginya menyelamatkan seorang nyawa adalah termasuk pekerjaannya. Dan sesuai dengan hati nuraninya. Nabila melamun, teringat seseorang yang berarti di hatinya. Seseorang yang kini telah tiada. Tapi nama dan kenangannya tidak pernah mati walau sudah terjadi beberapa tahun lalu.
"Bil, baliknya gue anter, ya. Kita ke toko buku dulu," ajak Fendi dengan kepala menyembul dari jendela kelasnya. Mereka berdua sedang menjalani pendidikan polisi di satu-satunya di negara ini. Nabila yang saat itu rambutnya pendek hanya mengangguk, mencuri pandang takut ketahuan guru pembimbingnya. Fendi adalah seniornya di sekolah. Mereka cukup dekat bahkan banyak orang beranggapan mereka sudah menjalin hubungan spesial, layaknya sepasang kekasih.
Bel pulang berbunyi. Mereka tak lantas pulang ke asrama, melainkan pergi ke toko buku yang memang tidak jauh dari sekolah. Fendi meminjam motor Asep, dan akhirnya mereka berdua pergi ke toko buku itu. Sebuah buku berjudul sudut mati karangan Tsugaeda menjadi pilihan Nabila. Ia sudah lama ingin membeli buku ini. Sementara Fendi memilih novel terjemahan Knive out karya Agatha Christi. Fendi lebih menyukai novel terjemahan, sementara Nabila lebih suka Novel karya anak bangsa. kata Nabila, " Novel terjemahan bahasanya susah dingerti. Walau udah di ubah dalam bahasa Indonesia."
Setelah membayar novel itu, mereka berencana makan bakso dulu, sebelum pulang ke asrama. Nabila yang gemar makan bakso sangat cocok dengan Fendi yang suka mie ayam. Aneh? dan nggak nyambung? Kalian salah. Karena mereka saling menguntungkan satu sama lain, simbiosis mutualisme. Nabila memakan bakso Fendi, dan Fendi menerima mie dari Nabila. Begitulah cara mereka saling cocok.
"Pakai dulu helmnya," kata Fendi, mengambil helm yang ia sampirkan di spion, mengenakan pada kepala Nabila. Gadis itu tersenyum tipis, mendapat perlakuan dari Fendi yang selalu manis. Ia sangat tau cara memperlakukan wanita.
Mereka sampai di pertigaan dengan lampu merah. Tangan Nabila memeluk erat pinggang Fendi. Keduanya terus mengumbar senyum dan seolah bangga satu sama lain. Nabila cantik, Fendi juga tampan. Sangat cocok dan serasi. Lampu hijau menyala, Fendi segera melajukan motor perlahan. Tapi di ujung jalan yang berlawanan dengan mereka, ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Fendi yang melihat hal itu memberi klakson agar mobil itu berhenti. Namun, mobil yang melaju kencang itu tak terlihat sedikit pun mengurangi kecepatannya. Tabrakan pun tak dapat dielakan lagi. Fendi dan Nabila terpental, hingga terjatuh di jalan. Ia yang tergeletak di dekat ruas jalan, hanya bisa menatap pemandangan di depannya. Fendi terlindas lagi oleh mobil lain di belakang mobil yang tadi menabrak mereka. Tubuh Nabila tak mampu digerakkan, hanya beberapa titik air yang jatuh dari kelopak matanya saja. Ia menangis melihat pemandangan di depannya, melihat dengan mata kepala sendiri saat pria yang ia cintai, meninggal dengan tragis. Orang-orang berkerumun, dan menolong mereka berdua. Mobil itu sempat berhenti, tapi kemudian kembali melaju lebih cepat dari sebelumnya. tabrak lari. Karena kejadian itu, Fendi meninggal di tempat kejadian.
Kejadian itu masih terus terngiang di kepalanya. Bahkan ia kerap masih menangis jika teringat kejadian itu. Kehadiran Rizal mampu mengalihkan rasa sedih di hati Nabila. Tapi tetap saja, hanya ada nama Fendi di hatinya. Ia merasa menjadi seorang wanita yang jahat, karena mempermainkan perasaan Rizal. Tapi Rizal pernah berkata, "Nggak masalah, kalau kamu belum bisa melupakan Fendi. Paling nggak, ijinkan aku ada di dekat kamu."
Sampai sekarang, baik Nabila dan Rizal masih berusaha membangun perasaan satu sama lain, walau sulit, tapi Rizal yang sabar, selalu mampu mengikuti alur yang dibuat Nabila.
Nabila memakai pakaian Maya. Ia hanya menunggu sampai ada kabar, kalau Hania tewas. Karena di saat itulah, Maya akan menjadi incaran para pembunuh itu.
_______
Elang tengah menerima panggilan telepon saat rombongan Abi ssampai rumahnya. Adi yang menyambut mereka lalu penasaran. " Aman?" Tiga pria itu hanya mengangguk tanpa berkata apa pun.
"Abi ada juga di sini. Kenapa?" tanya Elang yang melirik pada pemuda berpakaian hitam polos itu. Merasa dibicarakan Abi justru penasaran. Ia menaikkan alisnya ke atas, meminta penjelasan.
"Oke, sayang. Take care, ya. Love you. Salam buat Ellea di sana."
Deg. Mendengar nama itu disebut, mendadak lutut Abi lemas. Elang yang mengerti apa yang ada di pikiran Abimanyu lantas tersenyum tipis. "Dapet salam dari Shanum."
"Oh." Abi diam beberapa detik, sampai rasa penasarannya kini mulai diambang batas, " Terus tadi kenapa sebut nama Ellea?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Shanum ketemu Ellea di Venesia. Elu nggak pernah komunikasi lagi sama Ellea, Bi?" Elang duduk di sofa ruang tengah, Ridwan mengajak Maya ke kamarnya. Adi ikut bergabung dengan Elang yang merassa pembicaraan ini menarik. Sementara Gio masih ada di kamarnya, mengawasi tiap pergerakan dan semua perihal orang-orang BD Coorporation. Dibantu Rizal.
Abimanyu menggeleng. Perhatian mereka teralih pada kedatangan Maya dengan nampan berisi kopi buatannya. "Makasih, May." Gadis itu hanya tersenyum lalu kembali ke belakang.
"Kok begitu, Bi?" tanya Elang, lagi.
"Nomor Ellea nggak aktif lagi, Paman." Abimanyu mulai meneguk kopi buatan Maya yang sebenarnya masih panas. Adi berdeham," Elu nggak tau, Lang. Bagaimana galaunya Abi kemarin-kemarin."
Abi hanya melirik kedua pamannya itu bergantian. Yah, ia rindu Ellea. Tapi rasanya Ellea tidak demikian. Abi sempat berfikir, kalau lebih baik gadis itu tidak dekat dengannya. Ia tidak mau Ellea terluka, lagi, karena Abi. Hal itu juga yang pernah di sampaikan ayahnya, saat membahas Nayla, Ibu Abimanyu, sekaligus istri Arya.
"Kamu nggak tau bagaimana rasanya jatuh cinta sama pacar sahabatmu sendiri, Bi. Kamu tau, kelemahan ayah apa?" tanya Arya saat itu Abi masih berumur 16 tahun. Abi yang memang belum pernah merasakan jatuh cinta tidak mengerti arah pembicaraan ayahnya.
"Ibumu. Dialah kelemahan ayah. Tapi, itu menjadi boomerang bagi ayah sendiri. Di satu sisi, ayah ingin terus berada di dekatnya, tapi saat dia ada di dekat ayah, ibumu pasti akan terluka. Ayah harap, kamu kelak akan menemukan wanita tangguh seperti ibumu. Karena dunia kita tidak akan pernah aman. Saat kamu jatuh cinta, maka hanya ada 2 pilihan. Kamu berani menyambut cinta itu, dengan resiko, kamu akan kehilangan dia sewaktu-waktu, atau kamu memilih melepasnya dari awal, dan kehilangan dia selamanya. Kalau saran ayah, saat kamu sudah besar nanti, dan kamu jatuh cinta, lindungi dia dari jauh. itu akan lebih baik, daripada dia harus ada di dekat kita."
Dan karena kalimat itulah, Abi tidak lagi mencari Ellea. Baginya saat Ellea jauh darinya itu jauh lebih baik.
"Biar aja, paman. Ellea lebih baik jauh dari Abi saja. Kalau dia dekat Abi, dia bakal sering ngalamin bahaya. Biar aja dia di sana. Hidup normal seperti orang-orang pada umumnya."
"What? Prinsip itu pasti kamu ambil dari ayahmu, kan?" tanya Adi.
"Kok tau?"
"Eh, bagaimana sih ceritanya? Gue kan belum tau yang pas Nayla pacaran sama Wira," Elang terlihat antusias sekali. Rupanya tidak hanya wanita saja yang suka bergosip, pria juga.
"Sebenernya Arya naksir Nayla dari pertama kali mereka ketemu. Tapi saat itu Wira masih lagi anget-angetnya sama Nayla. Terus Arya berjiwa besar dong, dia nggak berbuat apa pun. Karena Wira kan sahabatnya. Sejak lama. Nah, semua berubah pas Wira meninggal. Kasian juga, Arya kayak ditarik ulur. Emak lu kelewat cakep sih, Banyak yang naksir, Wisnu juga. Eh. Mana tu orang?" bisik Adi yang memelankan suaranya, mengamati sekitar mereka.
Rupanya orang yang sedang mereka bicarakan turun dari kamarnya. Membawa koper miliknya. Seperti hendak bepergian jauh. "Ke mana lu, Nu?"
"Duh, gue balik dulu, ya. Ayu masuk IGD." Wisnu terlihat terburu-buru sekali. Wajahnya panik.
"Elu mau ke bandara?" tanya Elang.
"Iya."
"Biar, aku antar, Om," kata Abimanyu.
"Nah, bener ini. Abi anter saja itu. Udah malem juga."
"Nggak apa-apa, Bi? Ah, jangan, biar naik taksi saja gue."
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Om. Ayok!"
_______
Dalam perjalanan ke Bandara, baik Abi atau Wisna saling membicarakan hal yang selama ini tidak saling mereka ketahui. Walau hanya obrolan ringan tapi mampu mencairkan suasana. Mereka memang lama sekali tidak bertemu. Apalagi setelah ayahnya meninggal.
"Take care, Om. Salam buat tante Ayu, semoga lekas sembuh."
'Kamu juga, hati-hati di jalan."
Mereka berpisah di bandara. Abi yang hendak kembali ke mobil, terkejut ssaat melihat seorang pria yang ia kenal. "Hara?!" ucap Abi, pelan. Ia lantas mengikuti ke mana Hara pergi. Hara dengan tenang berjalan, dan kini masuk ke dalam taksi. Abi segera mencari mobilnya yang memang tidak jauh dari tempat Hara tadi. Ia berhasil mengikuti Hara secara diam-diam.
Abi meraih ponselnya. menghubungi Gio.
" ...."
"Paman, Hara ada di bandara tadi. Aku lagi ngikutin dia sekarang. Hania bagaimana?"
" ...."
"Kalau begitu aku ke tempat Nabila, takutnya mereka bergerak malam ini. Kasih tau yang lain."
Mobil melesat kencang. Abi tidak mau tertinggal taksi yang Hara naiki. Tapi rupanya ia tidak menuju rumah Nabila. Abi bimbang, apakah ia harus terus mengikuti Hara, atau pergi ke tempat Nabila. Akhirnya ia memutuskan mengikuti Hara. Ia lantas menghubungi Rizal. "Zal, elu ke rumah Tante Desi sekarang!" Rizal yang belum sempat menjawab perkataan Abi, lantas segera mengikuti perintahnya. Ia segera naik mobil, menuju rumah Tante Desi.
_____
Abimanyu sampai di sebuah gedung bertingkat yang tinggi dan mewah. Tempat itu terlihat masih terang, sebuah gedung bertuliskan. "BD Coorporation"
Pemuda itu memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Ia kemudian meneruskan dengan berjalan kaki. Memasuki halaman gedung perkantoran itu yang sepertinya sudah sepi. Tidak ada lagi mobil yang parkir di tempat yang tertulis tulisan "Parking area." Hanya ada 2 mobil saja di sana. Abi masuk, begitu saja, karena tidak ada penjagaan apa pun di sana. Hara ia lihat sudah naik lift dan menuju lantai 35. Di tempat ini jumlah lantai tidak sama dengan penomoran di lift. Tidak ada angka 4 dan 13 di dalam lift. Sepertinya mereka masih mengikuti fengsui tentang tanggal yang baik dan buruk. Lantai 4, 14, 24, 34 dan seterusnya tidak ada di tombol lift. Abi memutuskan naik lift sebelahnya. Ia sudah tau ke mana Hara naik, merasa tidak masalah jika harus tertinggal beberapa menit.
Pintu lift terbuka. Abi masih tengak tengok memperhatikan sekitar. Sejak ia masuk ke dalam, ruangan lobi maupun lift terasa lenggang. Bahkan koridor lantai ini sunyi. Abi mulai mengendap-endap mencari keberadaan Hara dari satu ruangan ke ruangan lain. Sampai ia tiba di sebuah ruangan yang pintunya masih terbuka. Hanya di sana saja, suara orang berbincang masih terdengar jelas. Abi mengintip sedikit ke dalam.
"Bagus. Tinggal klien terakhir kita. Kapan kau akan menjalankan misi terakhir?" Suara seorang pria yang sepertinya berusia 60an seolah menunjukkan kalau dia pemimpin mereka. Mungkin.
"Maya? Besok malam saja, Ham. Aku baru sampai. Lelah. Bahkan kau belum membayarku," keluh Hara dengan suara kesal.
"Baiklah. Persiapkan dirimu, Har. Aku tidak menyangka, kalau dia ingin adiknya mati. Cih, munafik sekali bukan para manusia itu. Mereka terlihat baik di luar, tapi ternyata busuk di dalamnya. Tidak jauh berbeda dengan kita."
"Yah, begitulah. Itulah kenapa jangan terlalu percaya pada manusia. Mereka hanya kumpulan orang munafik yang berlomba mencari muka di depan manusia lain," sahut Hara.
__ADS_1
'Adiknya?!' batin Abimanyu bergejolak. Percakapan yang ia tangkap justru membuat ia terperanjat. Jika obrolan itu benar, berarti yang menyuruh mereka membunuh Maya adalah ... Ridwan?!