
"Kita harus turun ke bawah?" tanya Haga menatap lubang gelap yang cukup besar di bawah nya.
"Tunggu sini. Biar gue periksa," kata Habibi. Dia lantas mengambil sebuah tali yang sengaja dia bawa. Tali tersebut diikat di sebuah batang pohon besar. Melihat hal itu Haga sempat mencegahnya.
"Bib, lo yakin? Kita nggak tahu, seberapa dalam sumur ini. Perasaan gue nggak enak!"
"Kita harus coba. Lo jaga di sini. Awasi sekitar, dan siapa tahu ada hal lain yang muncul nanti. Gue periksa sumur ini dulu."
Tanpa menunggu jawaban Haga, Habibi segera melompat dan turun ke sumur tersebut. Sambil menunggu Habibie yang ada di dalam sumur gelap tersebut, Haga menuruti permintaan Habibie untuk berjaga di sekitar. Dia berdiri sambil sesekali tengak tengok. Lalu kembali melihat ke dalam sumur. Haga sudah tidak bisa lagi melihat keberadaan Habibie di kegelapan yang ditampilkan lubang sumur tersebut. Kedalamannya pun tidak bisa ditembus lagi oleh Indra penglihatannya.
"Bib, Bib," panggil Haga untuk memastikan kalau Habibi masih ada di sana.
"Ya! Gue masih di sini. Aman," sahut Habibi. Jawaban itu cukup melegakan bagi Haga yang menunggunya di atas.
Haga kembali fokus menatap sekitar. Suasana di sekitarnya terasa hampa. Sunyi tanpa suara apapun. Perasaannya mulai tidak nyaman. Ada sesuatu yang mengganjal di hati, sehingga dia sampai menekan dadanya, berharap perasaan tersebut bisa segera hilang.
Tapi nyatanya Haga justru makin tidak karuan. Perhatiannya pada Habibi kini sudah teralihkan pada rasa tidak nyaman yang mengendap dalam hati. Haga memutuskan berjalan mengelilingi sumur tersebut.
"Mungkin dengan begini, gue bisa lebih enakan. Huft!" Dia terus berjalan sambil menggerakkan kedua tangannya yang mulai kebas. Namun tiba tiba, langkahnya terhenti. Telinganya mulai waspada dengan suara aneh yang sempat dia dengar beberapa detik lalu.
Dia menoleh mencari sumber suara. Di salah satu sudut gelap goa itu, Haga merasakan ada pergerakan yang membuatnya cemas. Haga berdiri dan terus memperhatikan tempat itu. Merasa dirinya sedikit terancam, dia mulai memasang kuda kuda sambil mengambil sebilah pisau yang ia sembunyikan di balik tubuhnya. Biasanya Haga memakai benda tajam itu untuk memotong tanaman, ranting, atau makanan kaleng yang memang mereka jadikan menu utama di hutan tersebut.
Haga memegang erat pisau di tangannya. Dia mulai cemas hingga pijakannya terus berpindah tempat. Perlahan sebuah bayangan hitam mulai tampak jelas berjalan mendekat dan semakin mendekat ke arah Haga berdiri.
Haga tidak lantas mundur atau takut. Dia menunggu untuk memastikan siapa sosok yang ada di depannya itu. Apalagi Habibi sampai saat ini belum juga menampakan diri keluar dari sumur tersebut. Siapapun dan apa pun yang terjadi, Haga sudah siap dengan segala kemungkinan terburuk sekalipun.
Bayangan itu kian mendekat. Sosok yang terlihat besar pada awal kemunculannya, rupanya setelah dilihat dengan seksama merupakan seorang manusia. Walau Haga belum bisa melihat dengan jelas, tapi dia yakin kalau sosok itu adalah manusia sama seperti dirinya.
Haga yang bersih Amanda menyerang kini justru menurunkan pisau yang ada di tangannya tubuhnya seketika lemas saat melihat sosok di depan yang tidak lain adalah Amanda.
"Amanda!" panggil Haga.
Sosok yang dipanggil malah diam,
menatap Haga dengan tatapan kosong.
Hal ini membuat pemuda itu akhirnya mendekati gadis tersebut.
"Amanda? kamu baik-baik saja, kan?" tanya Haga.
Amanda justru diam tidak menanggapi pertanyaan tersebut. Melihat hal itu Haga berusaha meraih tangan Amanda.
Tapi tiba-tiba tubuhnya terpental jauh hingga menabrak dinding goa yang ada di samping mereka. Sementara Amanda malah tidak bereaksi apa pun.
Haga yang merasakan sakit di punggungnya menatap Amanda yang masih berdiri di tempat dengan tatapan kosong. Dia meringis menahan rasa sakit yang ia rasakan. Dia mulai takut akan keselamatan Amanda, sekalipun tubuh Amanda tampak baik baik saja, tapi Haga merasa kalau jiwa Amanda tidak berada di tempat. Raga itu seakan kosong tanpa jiwa.
"Kamu kenapa? Kamu baik-baik aja, kan?"
Haga tidak kapok untuk mendekati Amanda. Kini dia kembali berjalan menuju ke arah Amanda. Begitu sudah sampai di depan gadis itu, Haga terus menatap kedua bola mata Amanda.
Dia juga memperhatikan sekujur tubuh gadis itu.
Semuanya tampak normal. Amanda masih bernafas, bola matanya juga masih sama, tidak berubah sama sekali
__ADS_1
Menurut Haga, orang yang kerasukan akan memiliki bola matanya yang berbeda dari warna mata aslinya. Sementara Amanda masih tampak sama.
Saat hendak meraih tangan Amanda lagi, tiba-tiba Gadis itu menoleh, dan dalam beberapa detik setelahnya Amanda tersenyum.
"Haga?" sapa Amanda dengan suara yang lembut.
Haga terkejut melihat perubahan yang terjadi pada diri Amanda. Tapi dia tetap waspada. Bagi Haga, semuanya tampak aneh. Sekalipun dia berharap kalau sosok yang ada di depannya, memang Amanda yang asli.
"Apa yang terjadi? Kita di mana?" tanya Amanda sambil memperhatikan sekitar. Haga menatap Amanda dan seluruh gerak-geriknya. Rasanya aneh bagi Haga, jika saat muncul tadi, Amanda tampak dingin seperti seseorang yang sedang melamun, tapi dalam beberapa menit setelahnya dia justru seperti orang yang yang biasa seperti layaknya orang orang pada umumnya. Haga penasaran atas apa yang sebenarnya terjadi.
Amanda terus bertanya kepada Haga.
Karena Haga sejak tadi hanya diam, maka pertanyaan lain pun terus diucapkan oleh Amanda. Hingga akhirnya Haga pun menanggapi pertanyaan itu dengan jawaban yang memang semestinya.
"Kamu nggak ingat?" tanya Haga penasaran.
"Ingat? Ingat apa? Kita di mana sih? Tempat nya seram sekali. Aku takut, Haga," rengek Amanda yang kini malah melingkarkan tangannya ke pergelangan tangan Haga.
Haga kebingungan melihat tingkah Amanda yang menjadi manja, tapi di sisi lain, Haga memang merindukan sikap Amanda yang seperti ini. Setelah semua kejadian yang telah berlalu, Haga hanya ingin bisa memperbaiki semuanya dan memulai kembali dari awal bersama Amanda dan juga Hasya.
"Ya sudah. Yang penting kamu sekarang baik-baik aja. Kita tunggu Habibi nanti setelah ini kita pulang, ya," kata Haga meyakinkan.
"Kenapa harus nanti? kenapa kita nggak pulang sekarang aja? aku takut, Haga. Lihat! Semuanya gelap dan kita tidak tahu kita sedang ada di mana, kan? Ayo kita pulang sekarang saja," ajak Amanda sedikit memaksa.
Bahkan kini Amanda menarik tangan Haga agar mereka bisa segera pergi dari tempat tersebut. Berkali-kali Haga menoleh ke belakang, menatap ke sumur besar yang ada di tengah gua tersebut
Hati kecilnya ingin menahan tangan Amanda untuk tidak pergi dari tempat itu, tetapi mulutnya seolah terkunci sehingga dia tidak bisa mengatakan sepatah kata pun.
Sampai akhirnya suara Habibi mulai terdengar. Dia berteriak memanggil nama Haga dan menggema di sepanjang ruangan.
Seketika Haga berhenti berjalan sehingga membuat tangan Amanda terlepas dari dirinya. Amanda lantas menoleh karena menyadari pegangannya terlepas dari Haga.
"Kenapa?" tanya Amanda.
Haga menoleh ke sumur dan menunjuk tempat tersebut. "Kamu nggak dengar suara Habibi di sana?" tanya Haga lagi. Habibi nggak nggak dengar suara apapun Mungkin kamu salah dengar Ayo kita harus pergi dari tempat ini tempat ini menyeramkan dan juga berbahaya ucap Amanda kembali ingin meraih tangan Haga tapi tiba-tiba Haga justru mengelak dan malah mundur menjauhi gadis itu.
"Haga? Kenapa?"
"Kamu bukan Manda!" cetus Haga tegas. Tatapan yang tadinya meneduhkan, berubah menjadi dingin mencurigakan.
"Kenapa kamu bilang begitu? Aku Manda! Kurang percaya apa lagi sih?"
"Kalau kamu memang Manda, kamu nggak akan pernah meninggalkan Habibi yang sedang kesulitan di sana. Kamu bukan tipe orang yang seperti itu. Habibi bagi kamu salah satu orang penting, dan aku yakin, kalau kamu juga mendengar suara Habibi kan?"
Suara Habibi masih terdengar jelas. Karena tempat itu dikelilingi batu karang dan tertutup, maka suara itu menggema. Jadi sangat kecil kemungkinan kalau Amanda tidak mendengarnya.
Amanda diam. Dia terlihat salah tingkah dengan tuduhan Haga. Sementara Haga makin mundur teratur.
"Haga? Kenapa begitu? Ini aku, Manda. Percayalah!" Amanda mendekat sambil mengulurkan tangan nya berusaha meraih Haga.
Sikap Amanda tersebut justru makin terlihat aneh. Haga menggeleng pelan, sambil terus mundur berusaha menjauhi Amanda.
"Ga! Tolongin gue!" teriakan Habibi membuat perhatian Haga terbagi. Dia bimbang apa yang harus dilakukan.
__ADS_1
"Ga! Haga!" Tangan Habibi kini mulai tampak di pinggir sumur. Berusaha keluar dari tempat gelap itu. Tangannya terlihat kotor, basah dan lengket. Haga menoleh dan melotot saat melihat tangan temannya tampak tidak baik baik saja.
"Bib? Lo kenapa? Astaga!" pekik Haga yang segera ingin mendekat. Tapi tiba tiba tangannya di pegang oleh Amanda. Gadis itu menggeleng cepat.
"Jangan ke sana, Ga! Jangan!" cegah Manda dengan tampang ketakutan.
"Ga! Tolongin gue! Jangan mau sama dia! Dia bukan Amanda!" kata Habibi.
Akhirnya Haga pun makin bimbang. Siapa yang harus dia pilih. Dia hanya berdiri di tempat, dan menatap ke arah Manda dan Habibi berada.
Perlahan Habibi yang awalnya hanya terlihat bagian tangannya saja, kini mulai menampakkan diri. Wajahnya kotor dan basah. Dengan kesulitan, Habibi berusaha keluar dari sumur itu.
"Ga! Jangan terkecoh, dia bukan Manda! Menjauh dari dia!" jerit Habibi dengan wajah serius. Dia terus berusaha keluar walau terlihat kesulitan.
Haga mulai ragu, dia menatap Manda yang sejak tadi memegangi tangannya. Manda yang ada di hadapannya memang tampan lain. Haga pun merasakan kalau dia bukan Manda yang ia kenal biasanya. Kini Manda mulai menyeringai. Dia lantas tertawa. Cengkraman tangannya makin mengeras, dan kuku kuku tangannya mulai menancap kuat di pergelangan tangan Haga. Haga mengerang kesakitan. Dia berusaha melepaskan diri dari cengkraman Manda.
"Bib! Tolongin gue! Bib!" teriak Haga mulai panik. Habibi yang masih kesulitan keluar berusaha sekeras mungkin melepaskan diri dari sumur tersebut.
Haga terus berontak, namun cengkraman tangan Manda makin keras. Bahkan kini ada sensasi panas yang terasa di pergelangan tangannya.
Habibi menoleh ke belakang. "Man, Manda! Cepat tolong dulu Haga!" katanya pada seseorang yang tampak samar di belakangnya. Tapi sosok itu makin lama, makin jelas terlihat. Sosok itu adalah Amanda. Yah, dia adalah Amanda yang asli. Bahkan Haga juga mulai bisa melihat sosok di belakang Habibi sekarang.
Haga tampak terkejut sekaligus bingung. Dia melihat ada dua Amanda di hadapannya. Yang membuat dia makin heran, Amanda yang satu justru terlihat seperti hologram. Tembus pandang, tapi Haga yakin, kalau dia adalah Manda yang asli.
"Dia ... Dia Amon, Ga!" kata Habibi lantas. Dia akhirnya berhasil keluar dari dalam sumur, dan kini terkapar begitu saja di tanah. Tubuhnya sudah lemas, setelah pergulatan hebat yang terjadi di dalam sumur.
"Apa? Amon?" tanya Haga sambil menatap wanita yang masih memegangi tangannya erat. Manda yang disebut Habibi adalah Amon, lantas menyeringai.
"Hai, Haga sayang," ucapnya dengan mengubah suaranya seperti laki laki. Haga melotot dan benar benar yakin, kalau sosok di hadapannya bukan Amanda, melainkan Amon.
Habibi sudah tidak berdaya. Dia hanya bisa menatap Haga dan Amon yang berada beberapa meter di hadapannya. Tenaganya sudah terkuras habis.
"Manda ... Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Habibi pada sosok wanita di dekatnya.
Amanda diam, dia menatap Haga dari kejauhan. Amon sudah menguasai tubuhnya. Tapi jiwanya justru berada di luar tubuhnya.
"Bib ... Terima kasih untuk semua. Kamu adalah teman terbaik ku." Kalimat itu adalah kalimat terakhir sebelum Manda mendekat ke arah Amon dan Haga. Dia menjerit sambil menabrakkan diri ke tubuhnya sendiri. Amon yang sudah menguasai tubuhnya hanya tertawa. Karena merasa tidak ada yang bisa menghentikannya.
Jiwa Amanda asli, memeluk tubuhnya. Amon terus tertawa karena merasa kalau apa yang dilakukan Amanda tidak akan berdampak apa pun bagi dirinya. Tapi rupanya dia salah. Perlahan tubuh Amon merasakan panas. Bahkan tubuhnya mulai memancarkan cahaya merah, mirip api.
Tangan Haga terlepas dari Manda. Karena Amon yang menguasai tubuh Manda kini sedang merasakan kesakitan. Tubuhnya terbakar. Api mulai terlihat di sekujur tubuhnya. Jiwa Manda masih memeluk tubuhnya sendiri. Mereka kini berjalan menjauhi Haga tak tentu arah. Manda terus membuat Amon menjauhi teman temannya. Hingga akhirnya mereka mulai ada di dekat sumur gelap tadi.
Jiwa Amanda menatap Habibi. Dia mengangguk dengan tatapan nanar. Tapi Habibi justru menggeleng cepat sambil menangis. Manda membawa tubuhnya masuk ke dalam sumur. Tubuh itu terbakar. Dan kini hilang ke dalam tempat gelap itu.
Hening. Habibi diam sambil menahan tangis. Dadanya sakit. Hingga ia pukul pukul. Sementara Haga yang masih bingung lantas mendekati temannya.
"Bib? Lo nggak apa apa kan? Manda? Manda kenapa bisa begitu? Gimana cara kita menyelamatkan dia? Bib! Jawab! Jangan diem aja!" jerit Haga sambil mengguncangkan tubuh Habibi.
"Percuma, Ga. Manda ... Manda nggak akan bisa kembali lagi," sahut Habibi lemas.
"Apa? Maksudnya apa? Nggak bisa kembali lagi? Apa maksudnya! Kita ke sini untuk jemput dia, kan? Terus?"
"Yah, tapi kita nggak bisa jemput dia. Manda mengorbankan dirinya untuk menutup portal itu, agar Amon terkurung selamanya di sana."
__ADS_1
"Apa lo bilang?" tanya Haga dengan tubuh yang kini terjatuh ke tanah. Harapannya sudah sirna. Upayanya untuk menyelamatkan Amanda pupus sudah. Karena Manda kini telah pergi untuk selamanya. Manda telah tiada. Dia mengorbankan dirinya agar Amon kembali masuk ke penjara abadinya.
***