
"Kalau begitu biar saya antar pulang saja. Pak Andrew sudah saya hubungi dan dia akan segera sampai rumahmu juga. Biar Nike kembali ke sekolah naik taksi," kata Abimanyu melirik ke arah teman Eliza. Abi segera masuk ke mobil diikuti Eliza.
"Nike, kamu hati-hati, ya, di jalan. Kabarin aku lagi." Eliza melambaikan tangannya ke arah temannya yang masih bengong karena kisah yang baru saja ia dengar. gadis bernama Nike itu hanya tersenyum kecut menatap mobil Abimanyu yang mulai berjalan meninggalkannya.
Suasana di dalam mobil terasa kaku. mereka adalah orang yang sebenarnya tidak saling mengenal. pribadi Abi yang juga sulit berbaur dengan lingkungan dan orang baru, membuat Eliza tidak berani memulai pembicaraan remeh temeh. Lagipula ini buat waktu yang tepat untuk mengobrol ringan atau sekedar menanyakan kabar.
"Apakah saya akan mati?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Eliza dengan intonasi pelan, bahkan nyaris tidak terdengar oleh dirinya sendiri. Abi melirik ke gadis itu sambil terus menatap ke depan. "Entahlah. Kamu berdoa saja. Yang jelas polisi akan berusaha sebisa kami untuk menangkap pelakunya."
"Anda bukan polisi?"
"Bukan."
Mobil Abimanyu belok ke sebuah kantor dengan beberapa penjaga di depan. Eliza sempat bingung karena ia pikir akan dibawa pulang ke rumah, tapi justru ke kantor polisi. "Kok ke sini?" tanya Eliza.
"Sebentar." Abimanyu turun dari mobil dan menyuruh Eliza ikut ke dalam. Netranya liar mencari sosok Andrew, Jesika, atau Andika. Karena hanya mereka bertiga yang Abi kenal.
"Loh, Bi?!" pekik Andika yang baru saja keluar dari sebuah ruangan dengan map hitam di tangannya. "Kenapa?" tanya Andika lalu menatap gadis di belakang Abimanyu.
"Eliza. aku harus bagaimana?" tanya Abi sambil sedikit melirik ke belakang. Seolah ia sedang memberitahu Andika kalau gadis yang ada di belakangnya adalah Eliza yang mereka cari.
"Oh, dia? Oke. Eum, masuk dulu," Ajak Andika sedikit berteriak ke Eliza yang sedang resah memandang sekitarnya. Ada beberapa polisi yang tidak seperti polisi, alias memakai pakaian biasa -bukan seragam- sedang menanyai orang di depan mereka dengan berbagai cara. Dari yang bertanya dengan nada pelan, memukul, menjambak, bahkan menendang lawan bicaranya. Eliza tau kalau yang sedang diinterogasi adalah penjahat atau pelaku tindak kriminal.
Mereka bertiga masuk ke salah satu ruangan yang lebih privasi. Ada Andrew yang sedang duduk di balik laptop di depannya. Wajahnya menunjukan raut yang kaku dan pasti sedang berkonsentrasi tinggi. Ia segera mendongak, saat melihat ada tamu yang bertandang ke ruangannya. "Oh kalian! Silakan duduk," kata Andrew lalu beranjak. Mempersilakan para tamunya duduk di sofa yang memang disediakan untuk tamu.
"Ini Eliza, Pak Andrew. Saya pikir dia lebih aman jika ada di sini, makanya saya bawa dia," tutur Abimanyu yang segera menempatkan dirinya duduk di salah satu sofa panjang itu. Eliza yang ragu mengikuti Abi dan hanya terus saja diam. "Dia Pak Andrew, orang yang bertanggung jawab soal kasus ini."
Eliza mengangguk diiringi seulas senyum. Mereka mulai berdiskusi untuk menangkap pelaku.
"Gimana, Bi? Kamu mau bantu kami, kan? Kita bawa Eliza pulang, dan kamu jaga dia di rumah. Pasti pembunuh itu akan mendekati Eliza. Tugas Jesika, Andika, dan yang lain mengintai rumah itu dari jarak jauh," jelas Andrew.
Abi nampak diam. Seolah ragu atas rencana ini. "Eum, anda yakin kalau orang itu bakal mendekati Eliza sesuai perkiraan anda itu?"
"Memangnya kenapa?"
"Saya pikir ini terlalu mudah untuk ditebak, Pak. Dan dia bukan manusia dengan otak normal seperti kita. Dia seorang sosiopat."
_____
Abimanyu turun dari mobilnya bersama Eliza. Rumah Eliza terbilang cukup luas. Ia tinggal di kawasan perumahan elite. Di rumahnya memang ada seorang security yang berjaga di pintu gerbang. Kedua orang tuanya memang tidak ada di rumah karena pekerjaan mereka. Eliza tinggal seorang sir di rumah hanya dengan asisten rumah tangga saja.
"Masuk, Om," ajak Eliza. Mendengar panggilan itu terlontar dari gadis ABG di depannya, Abi sempat mengerutkan kening.
__ADS_1
'Setua itu, kah, gue? Dipanggil Om?'
Mereka masuk ke dalam rumah megah itu. "Silakan masuk, Om. Eum, aku ganti baju dulu, ya. Duduk dulu aja. Bi ...," jerit Eliza memanggil asisten rumah tangganya yang sepertinya selalu ada di singgasananya, dapur. "Bikinin minum buat Om Abi!" Lagi. Suara Eliza terdengar menggema di seluruh ruangan di rumah ini.
Abimanyu menyempatkan melihat-lihat lukisan dan beberapa patung yang menjadi pajangan di ruang tamu. Hingga akhirnya ia pun duduk di sofa empuk bahkan ia rasa sangat nyaman di duduki. Abi menepuk-nepuk bantalan di samping kanan kirinya.
Tak lama seorang wanita setengah baya tergopoh-gopoh keluar dengan nampan berisi minuman dan beberapa camilan. "Silakan diminum, Mas," katanya, berlutut sembari meletakan cangkir dan kudapan ringan.
"Terima kasih, Bu."
Wanita itu kembali ke dalam dan meninggalkan Abimanyu seorang diri. Pemuda itu menatap ke arah pintu. Ia memutuskan berjalan keluar, dan teras menjadi tujuannya. Halaman rumah Eliza luas. Ada beberapa pohon beringin mini dan aneka taman hias yang ditanam di sekitar halaman. Rumputnya rapi, sepertinya sehabis dipotong dengan alat pemotong rumput. Di tengah halaman samping kanan ada kolam ikan lengkap dengan patung anak kecil yang megang kendi, air mengalir dari kendi membuat suasana menjadi sedikit ramai. Tembok keliling cukup tinggi dan memutar sampai halaman belakang.
"Om?" panggil seorang gadis. Abi menoleh dan mendapati Eliza sudah berganti pakaian dengan baju yang lebih santai. "Diminum dulu."
"Iya." Abi akhirnya kembali ke dalam dan duduk di tempat semula. Eliza menempatkan dirinya di sofa yang berhadapan dengan Abimanyu.
"Tadi paman sedang apa di rumah sakit?" tanya Eliza sambil mencomot kudapan yang dibuat oleh Bi Minah.
"Ibu temen sakit. Jadi tadi anter dia ke kota."
"Temen apa temen?" tanya Eliza menyelidik.
"Teman, Eliza. Ngomong-ngomong kamu di rumah sendirian nggak takut?" tanya Abi sambil memperhatikan sekitarnya. Wajar pertanyaan itu terlontar dari mulut Abimanyu, karena mengingat posisi Eliza yang menjadi target pembunuhan selanjutnya.
Abimanyu menyeringai. Menegakan tubuhnya. "Kamu tau, kan, kalau banyak polisi yang berjaga di depan. Jadi jangan takut."
"Tapi, Om. Orang itu, sakit jiwa! Aku sering nonton film psikopat yang membunuh korbannya. Jadi aku tau, gimana kelanjutan kisah ini. Aku ... Aku pasti bakal mati," gumam Eliza lirih. Ada setitik air bening di sudut matanya.
"Liz, kamu jangan pernah menyerah. Kami pasti akan mengusahakan yang terbaik. Oke?"
Eliza yang belum menjawab perkataan Abi, terpotong oleh nada dering gawai milik pemuda itu. Abimanyu meraih benda pipih itu dari saku bajunya. Mengerutkan kening saat melihat na yang tertera di sana. "Nabila?"
Ia lantas menggeser layar dan meletakan telepon genggam di dekat telinganya.
"Bi ... Tolong. Dia ... Ke sini," kata Nabila di seberang sana. Kalimatnya pelan dan terbata-bata seolah sedang merasakan sakit.
Abimanyu lantas beranjak. "Kamu nggak apa-apa, Bil?" tanyanya setengah berteriak.
"Tolong aku."
Telepon terputus. Hal ini membuat Abi kalang kabut. Ia cemas. Kembali gawai ia dekatkan ke telinga.
__ADS_1
"Pak, saya mau balik ke rumah sakit. Tolong anda ke sini. Jaga Eliza."
"Loh, ada apa, Bi?" tanya Andrew yang memang sedang dalam perjalanan ke rumah itu.
"Nabila. Dia dalam bahaya sepertinya."
"Astaga. Kalau gitu aku juga kirim orang buat ke rumah sakit sekarang. Kamu hati-hati. Andika dan Jesika sudah ada di depan rumah Eliza sekarang, kan? Jadi kamu pergi aja sekarang."
Abi meraih kunci mobil yang ia letakan di meja. Mengambil cangkir kopi dan meneguknya hingga tandas.
"Kamu di rumah aja. Aku mau balik ke rumah sakit dulu. Nanti Pak Andrew ke sini. Di luar ada Andika sama Jesika. Jangan khawatir."
Eliza hanya mengangguk pelan. Ia mengerti posisi Abimanyu saat ini. Maka dia tidak berani menahannya lebih lama lagi. Walau sebenarnya ini sebuah jebakan.
_____
Mobil melacu kencang. Pikiran Abi diliputi kekhawatiran dan kalut. Ia bahkan beberapa kali hampir terserempet mobil yang berlawanan arah dengannya. Jarak dari rumah Eliza ke rumah sakit memang agak jauh. Terlebih ini jam makan siang, pasti jalanan ramai.
Dalam waktu 15 menit, Abi sampai di rumah sakit. Ia terus menerobos kerumunan orang yang ada di kasir. Segera masuk ke lift menuju tempat rawat inap mama Nabila.
Keringat membuat wajah Abi basah. Bahkan punggungnya sudah mandi keringat. Bajunya basah hingga ke jaketnya.
Pintu kamar ibu Nabila di buka. Wanita itu masih tertidur di tempatnya. Abi langsung cemas pada Nabila. Berkali kali ia memanggil Nabila namun kamar ini seperti kosong. Hingga tiba-tiba terdengar bunyi berisik di lemari pakaian. Abi segera mendatanginya dan rupanya Nabila yang ada di dalam sana. Kondisinya terikat tali di tangan dan kaki. Mulutnya disumpal kain tebal. Keadaannya sungguh kacau. Nabila menangis saat melihat Abimanyu.
"Astaga! Aku bantu keluar, ya." Abi memapah Nabila keluar dari lemari. Melepaskan ikatan yang membelenggu gadis itu. Sontak Nabila langsung memeluk Abimanyu dan menangis di pelukan nya.
Abi menelan ludah beberapa kali. Entah kenapa lututnya terasa lemas. Namun ia tidak mampu berkata apa-apa. Hanya pasrah atas perlakuan Nabila padanya.
"Ssst. Sudah. Nggak apa-apa, Bil. Yang tenang ya," bujuk Abimanyu. Kini tangannya mulai mengelus lembut punggung Nabila. Memberikan rasa nyaman pada gadis itu.
"Orang itu dateng. Aku nggak tau, Bi. Aku lengah. Tiba-tiba dia nutup mulut aku. Terus aku diiket."
"Tapi kamu nggak luka?"
"Iya aku baik-baik aja. Habis dia iket aku, dia ambil handphoneku terus nelpon kamu."
Abi merasa aneh dengan perkataan Nabila. "Gawat! Ini jebakan!" pekiknya.
"Jebakan gimana?"
"Dia mengincar Eliza. Dan sengaja bikin aku pergi dari rumah Eliza. Astaga! Bil, aku harus balik ke rumah Eliza. Kamu nggak apa apa kan aku tinggal dulu. Aku bakal nyuruh orang jagain kamu lebih ketat lagi."
__ADS_1
"Kamu hati-hati, ya."
.