
Arya tampak sedikit terpukul, akan pengakuan Jean dan Hans tadi. Ia tidak menyangka kalau ternyata orang tua yang selama ini ia percayai sebagai keluarganya, nyatanya hanya orang tua angkat. Arya bahkan tidak tau siapa orang tua kandungnya.
Semua tabir seolah sedikit demi sedikit mulai terbuka. Semua tato yang ada di tubuhnya, memang sama seperti apa yang dikatakan Nayla beberapa saat lalu. Semua tato itu, bukan hal yang tidak disengaja, tapi memang dengan diukir di atas tubuhnya. Dan, yang melakukan hal itu, adalah Hans.
Sejak dulu, Hans dan Jean adalah dua dari beberapa puluh orang di dunia, yang memang bertugas untuk membantu menumpas kejahatan. Siapa pun mereka berdua, yang jelas, mereka lebih mirip polisi dalam dunia tak kasat mata. Jean dan Hans memburu makhluk jahat di muka bumi ini. Mereka berada dalam satu organisasi yang tersebar di penjuru bumi. Apa pun jenisnya, jika mereka memberikan dampak buruk bagi kesejahteraan manusia, maka di situlah Jean dan Hans bertugas membereskan masalah itu. Black demon, merupakan salah satu dari sekian banyak jenis makhluk yang harus ditumpas.
Setelah black demon binasa, mereka berdua masih melanjutkan perjuangan, membunuh iblis dan monster lainnya. Dan kini, mereka berkumpul kembali. Tentu ini bukan reuni yang diinginkan terjadi, karena jika sampai mereka berkumpul, maka sebenarnya ada hal buruk, bahkan terburuk yang terjadi di sekitar mereka.
"Jadi kalian belum mengingat kami?" tanya Jean menunjuk Nayla dan Arya.
"Tentu saja, aku ingat kalian. Dan hal terakhir yang aku ingat, kalian itu saudara jauh ibu. Walau pada kenyataannya kalian penipu," kata Arya sinis.
Nayla justru diam. Sejak melihat sosok Jean dan Hans, gadis itu banyak bungkam. Jean menatap Nayla intens, ada sorot mata aneh yang tergambar jelas di sana. Jean menyeringai, "kamu ingat kami, kan, Nayla?" tanya Jean.
Nayla tetap diam, pikirannya terasa penuh sesak. Tapi semua rasanya kosong. Hanya saja hatinya berdesir tak karuan. Nayla menekan dadanya sambil berusaha mengambil nafas sebanyak banyaknya. "Entahlah, rasanya ada yang hilang, tapi aku nggak bisa inget apa pun," cetusnya dengan ekspresi sedih. Jean menoleh ke Hans, seolah meminta persetujuan dari pria tua itu. Tahun berganti tahun, namun mereka berdua memang tidak berubah sama sekali. Karena mereka tidak akan menua, dan hidup abadi. Karena mereka maid of archangel. Hans mengangguk.
Jean menempatkan diri duduk di depan Nayla, tatapannya lembut namun penuh dan tajam. "Mau aku bantu, mengingat semuanya?" tanya Jean, pelan. Nayla melotot, seolah tidak percaya pada perkataan Jean barusan. Ia lantas menoleh ke Hans, dan mendapat anggukan mantap dari pria tua tersebut.
"Memangnya kamu bisa?" tanya Nayla pada akhirnya. Jean tersenyum, lantas mengangguk.
"Kami punya kemampuan yang bisa dibilang hebat. Yaitu, membuang dan mengembalikan ingatan seseorang. Waktu itu, aku sudah menghilangkan ingatan seseorang karena memang belum waktunya dia tau, dan sekarang waktunya aku mengembalikan ingatan tersebut."
"Sebentar, siapa yang kamu maksud?" tanya Nayla curiga.
"Nanti juga kamu tau, kalau ingatanmu sudah aku kembalikan," terang Jean. "Bagaimana?"
Setelah menimbang beberapa menit, Nayla akhirnya mengangguk. Ia menatap semua orang di ruangan ini satu persatu. Semua tampak menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Arya pun demikian, ia terus menatap Nayla nanar. Saat Nayla mengalihkan pandangan ke Abimanyu, pria itu menatapnya penuh harap. Memang hal ini yang ia inginkan, bertemu lagi dengan kedua orang tuanya, beserta semua kenangan yang sudah mereka alami dulu. Bukan seperti sekarang, bagai orang asing yang makin lama terasa makin menyakitkan bagi Abimanyu.
"Tapi ... Apa kamu kuat? Karena rasanya akan menyakitkan."
"Menyakitkan?"
__ADS_1
"Hm, iya. Kamu akan merasakan sakit kepala yang sangat. Karena semua informasi yang seharusnya kamu lupakan, akan kembali bersamaan. Aku takut ... Kamu nggak akan kuat," jelas Jean mulai ragu.
"Biar aku dulu!" kata Arya menawarkan diri. Wira dan Gio mengalihkan pandangan pada pemuda itu. Tidak ada satu pun yang melarang, namun tetap saja mereka merasa cemas akan konsekuensi yang harus diterima Arya dan Nayla untuk mendapatkan kembali ingatan mereka. "Aku siap, ayo, Jean!" perintah Arya dengan keyakinan penuh. Jean menatap Hans yang tak lama menganggu kan kepalanya.
Jean lantas menyuruh Arya duduk di depannya. Semua orang yang akan menyaksikan hal itu, merasakan debaran di jantung mereka. Ikut cemas dan penasaran. Sampai akhirnya, Jean memulai ritualnya. "Pejamkan matamu, Ya." Jean ikut memejamkan mata setelah Arya. Arya yang duduk bersila seperti Jean, mulai fokus terhadap semua instruksi Jean. Kini tangan kanan Jean ada di dahi Arya, saat ia merapalkan mantra pembalik ingatan, kalung saphire yang ia kenakan juga bersinar terang. Bahkan sangat terang.
Dalam gelapnya pandangan Arya, ia mulai merasakan cahaya terang yang ada di pikirannya. Cahaya itu berwarna biru dan cukup terang. Kini beberapa siluet yang selama ini ia lihat, mulai tampak jelas. Bahkan semua kini terlihat jelas, ingatan ingatan yang terjadi selama beberapa kehidupan yang sudah ia jalani selama ini. Kehidupannya dulu, dari awal mula dirimu dikutuk oleh Tuhan, dan berakhir dalam hukuman di bumi. Menjalani kehidupan yang tak kunjung usai. Hidup, mati, dan terus seperti itu. Arya mulai mengingat semua hal, semuanya.
Cahaya terang yang berasal dari tangan Jean, kini mulai meredup. Wanita dengan rambut cokelat itu lantas melepaskan tangannya dari dahi Arya. Jean merasakan gemetaran di kedua tangannya. Apa yang sudah dia lakukan memang cukup menyita tenaganya. Jean menekan dadanya sambil terus menatap Arya yang masih memejamkan mata.
Pemuda itu mulai gelisah. Dalam kondisi kedua matanya yang terpejam, Arya seperti sedang mengalami mimpi buruk. Wajahnya berkeringat cukup banyak. Mulutnya terkunci, namun seolah ingin menjerit dan meminta pertolongan. Abimanyu yang awalnya ingin mendekat, ditahan oleh Hans yang berdiri di sampingnya. Hans menggeleng pelan, dan membuat Abimanyu berhenti. Mereka terus menunggu sampai akhirnya Arya membuka matanya kembali.
Nafasnya tersengal sengal, ia lantas menatap semua orang di ruangan ini bergantian. Nayla yang duduk tak jauh darinya terus menatap pemuda itu intens, menunggu reaksi dari Arya yang sejak tadi justru hanya diam saja. "Aku ... aku ingat semuanya." Tapi setelah mengatakan kalimat itu, Arya kemudian menekan kepalanya sambil menjerit kesakitan. Jean agak panik, namun pada akhirnya Hans yang mengambil alih. Hans mendekat, lalu menempelkan ujung jarinya pada kening Arya. Perlahan rasa sakit yang ia rasakan memudar. Dan kini saat kedua matanya terbuka, semua rasa sakit itu hilang. Tetapi wajah Arya cukup pucat. Penglihatannya berkunang kunang. Ia lantas mencari seseorang, dan matanya kini berhenti pada satu orang yang sedang berdiri di ujung, cukup jauh darinya.
Arya beranjak. Semua orang menatapnya, heran. Ia terus berjalan ke arah di mana Abimanyu berdiri. Saat keduanya sudah berdekatan, terlihat sangat jelas sekali kalau mata Arya berkaca kaca dan merah. Ia sedang menahan tangis yang sejak tadi ia bendung. "Abimanyu?" panggil Arya, pelan. Abi merasakan dadanya sesak. Ia tau kalau pemuda di hadapannya ini, sudah mengingat semuanya. Sorot mata Arya berbeda, dari pertama kali mereka bertemu kemarin.
Tiba tiba Arya langsung menarik tubuh Abimanyu ke dalam pelukannya. Abimanyu juga membalas pelukan Arya dengan erat. Rasa rindu yang sudah ia tahan selama ini kini mulai bisa ia tumpahkan pada ayahnya. Kini semua terasa sama. Tiap sorot mata Arya, sentuhannya bahkan deru nafasnya, memang sama seperti Arya yang dulu Abi kenal. Arya yang adalah ayahnya sendiri. Momen haru ini benar benar menguras emosi semua orang yang melihatnya. Bahkan Nayla yang belum sepenuhnya mengingat semuanya juga ikut menangis.
Keduanya lantas berpelukan erat, layaknya sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Arya melepaskan pelukannya, lalu menatap salah satu sahabatnya itu dengan nanar. "Gi, aku benar benar terima kasih buat semuanya. Kamu benar benar menjaga janjimu, buat menjaga Abi. Terima kasih banyak, kamu juga pasti mengorbankan semua kehidupanmu," kata Arya dengan derai air mata. Gio tak mampu lagi menahan air matanya juga. Apalagi di depannya kini sudah ada seseorang yang memang mereka rindukan sejak dulu. "Buat aku dan Adi, Abimanyu sudah kami anggap anak kami sendiri, Ya. Kamu nggak perlu berkata seperti itu."
"Tunggu! Mana Adi? Dari pertama kali kami datang, aku nggak melihat dia?" tanya Arya. Gio menatap Abimanyu dan keduanya sama sama menarik nafas panjang dan berat.
"Paman Adi ... sudah meninggal, Yah. Dia sudah banyak berkorban untuk kami selama ini," sahut Abimanyu menjawab pertanyaan ayahnya. Arya tampak sangat terpukul, tubuhnya terhuyung ke belakang. Dan berhasil dipapah oleh Wira. "Are you oke?' tanya Wira, cemas.
"Bagaimana Adi meninggal?" tanya Arya lagi. Abimanyu lantas menceritakan semua kejadian yang sudah menimpa Adi. Bahkan semua kehidupannya setelah Arya dan Nayla meninggal dulu. Arya seolah mengalami shock, dan kini hanya duduk diam sambil merasakan semua hal yang terlewat darinya selama bertahun tahun lamanya.
Kini giliran Nayla. Ia juga bersikeras ingin bisa mendapatkan kembali ingatannya. Rasanya tidak nyaman sekali dengan kondisinya yang bagai orang hilang ingatan. Apalagi melihat Arya yang kini seperti orang lain, dan bukan lagi Arya yang kemarin ia kenal.
Jean kembali melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada Arya tadi. Reaksi yang diberikan oleh Nayla hampir sama seperti Arya. Hanya saja, Nayla lebih histeris dan lebih sering menjerit. Arya yang tidak tega, lantas mendekat dan memeluk gadis itu, untuk memberikan ketenangan. Hingga saat Nayla sudah benar benar membuka matanya, ia benar benar terpukul atas semua yang sudah terjadi pada Abimanyu.
Malam ini adalah pertemuan keluarga yang tidak pernah terbayang kan oleh siapa pun juga yang ada di ruangan ini. Ingatan kedua orang itu sudah kembali. Dan misi mereka makin jelas terlihat di depan mata. Mencari 9 kunci lain yang harus segera mereka dapatkan untuk memusnahkan musuh terbesar mereka. Azazil. Karena kalau sampai Azazil lolos, maka mereka tidak akan memiliki kesempatan lain lagi untuk mengubah takdir. Karena saat Lucifer yang mulai turun tangan, maka mereka semua akan mati.
__ADS_1
****
Kamal, korban tenggelam yang sampai sekarang belum juga ditemukan tubuhnya, masih menyisakan tanda tanya besar. Jean dan Hans datang ke tempat ini karena mencium bau bau supranatural yang memang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat.
"Jadi menurut kalian apa yang sedang terjadi di sini?" tanya Wira antusias.
"Hm, kami belum tau. Dan tujuan kami datang ke sini untuk menyelidikinya."
"Lebih baik kita semua istirahat dulu. udah malam itu," tunjuk Gio pada jam dinding yang tertempel di atas tembok ruang tengah. Semua setuju, karena hari ini memang terasa begitu berat dan mereka butuh istirahat. Nayla dan Ellea tidur satu kamar. Sekali pun ingatan Arya dan Nayla sudah kembali, tetapi dalam kehidupan ini, mereka belum menikah. Dan sebaiknya mereka tetap menjaga prinsip itu.
Kamar di penginapan ini memang tidak muat untuk menampung semua orang. Abi dan Arya memilih tidur di sofa. Mereka merasa paling pantas, mengingat usia mereka berdua yang termuda di antara yang lain, dan juga karena Wira yang masih terluka. Semua orang tidak menyela saat pembagian kamar tadi. Karena mereka sadar, kalau ayah dan anak beda generasi itu ingin memiliki banyak waktu bersama.
Selimut sudah ada di atas tubuh keduanya. Mereka berada di sofa terpisah, namun berdekatan. Hanya dipisahkan oleh meja panjang yang masih penuh dengan camilan yang tadi mereka makan bersama, berikut sampah yang sengaja mereka biarkan dulu, dan akan dibuang saat keesokan harinya.
Hening. Suara percakapan sudah tidak lagi terdengar. Semua orang yang ada di kamar masing masing, sudah terlelap beberapa menit lalu. Mereka cukup lelah, dan lagi esok mereka juga harus pergi ke misi berikutnya.
"Bi, jadi kamu memiliki kemampuan itu juga?" tanya Arya tiba tiba, dan memecah kesunyian di antara mereka berdua. Abi yang hendak tidur, akhirnya kembali membuka matanya. Ia rasa hal ini memang perlu didiskusikan dengan sang ayah, yang merupakan pemilik kemampuan ini sebelumnya.
"Iya, Yah. Aku nggak tau, apakah aku harus bersyukur atau justru aku sedih. Beberapa kali aku lolos dari kematian. Tapi, aku juga takut. Takut kalau umurku akan terus panjang, sementara orang orang di sekitarku tidak mengalaminya. Hal yang paling aku takutkan, adalah kehilangan mereka semua. Tapi setelah aku tau tentang apa yang dialami ayah, ibu, dan Om Wira, aku rasa penderitaan kalian jauh lebih berat. Dan nggak seharusnya aku mengeluhkan hal ini. Aku harusnya bersyukur, karena aku bisa melakukan banyak kebaikan dengan kemampuanku ini," jelas Abimanyu panjang lebar.
Arya yang saat ini hanya merebahkan tubuhnya dan menatap langit langit jelas berfikir dan merasakan kesedihan putranya itu. Ia pernah merasakan semua apa yang dikatakan Abi barusan. Karena yang paling menyakitkan untuknya adalah ditinggalkan oleh orang orang terdekatnya.
"Aku yakin, semua hal yang sudah kamu alami, kita alami memang sudah takdir-NYA. Hidup itu perjuangan. Bukan tempat kita merengkuh kebahagiaan. Satu satunya kebahagiaan abadi hanya lah, surga," tukas Arya, lalu menoleh ke putranya.
"Yah, aku tau ayah. Dan untuk bisa sampai ke surga, maka aku harus bisa mati."
'Kamu ini sangat ingin mati atau bagaimana? Harusnya kamu nikmati hidup dan lakukan hal baik."
"Ayah, aku sudah merasakan semua hal di dunia ini. Dan sebenarnya aku hanya menunggu kematianku saja. Ayah, kau kan dulu malaikat, kalau suatu saat nanti ayah bertemu malaikat pencabut nyawa, tolong bilang sama dia, untuk memasukan namaku dalam daftar orang yang harus dia cabut nyawanya," kata Abi sambil tertawa. Seolah apa yang ia katakan adalah candaan yang bisa membuat ayahnya tertawa.
"Ya sudah, nanti kalau aku bertemu malaikat kematian, aku akan membicarakannya." Arya menanggapi dengan santai perkataan Abi. Mereka llau memutuskan untuk menyusul teman temannya untuk masuk ke alam mimpi dan mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah penat.
__ADS_1
Kedua pasang bola mata mereka sudah panas dan berat. Mereka saling mengucapkan selamat malam, dan kalimat penutup berpamitan tidur. Tapi baru beberapa detik mereka memejamkan mata, mereka mendengar bunyi jeritan lagi. Sontak mereka kembali membuka mata dan saling pandang. Mereka menajamkan pendengaran dan mencoba mencari tau asal jeritan itu. Hingga akhirnya Hans dan Jean keluar dari kamar mereka. "Kalian dengar?" tanya Jean sambil memakai jaketnya. Arya dan Abi mengangguk bersamaan. Hans membawa sebuah pistol di tangannya, lalu keluar dari rumah diikuti Jean. Abi dan Arya lantas saling pandang dan mengangguk setuju.