pancasona

pancasona
Part 11 Menjemput jiwa


__ADS_3

Aku dan Kak Rayi duduk bersila, Rachel akan membantu kami untuk lebih cepat sampai ke tempat itu. Tubuh Kak Sandi dan Aira juga dibaringkan di dalam lingkaran. Di sekitar kapur tersebut juga di kelilingi oleh lilin-lilin yang dibuat seperti pagar. Melingkar dengan nyala api yang membuat ruangan temaram. Lampu-lampu dimatikan, agar ritual ini dapat berjalan baik. Begitu kata Rachel.


Rachel mulai menginstruksikan kami berdua untuk memejamkan mata, dengan tangan saling berpegangan. Kami duduk berhadapan. Sementara dua orang yang jiwanya sudah dibawa pergi itu, ada di samping kanan dan kiri kami. Wanita yang biasa dia anggap cenayang oleh beberapa orang itu, mulai merapalkan kalimat-kalimat yang aku tidak paham. Bahasanya belum pernah kudengar sebelumnya.


Mendengar semua kalimat yang diucapkan Rachel membuat telingaku seperti terhipnotis. Walau sedang memejamkan mata, aku seperti terseret pada sebuah pusaran lingkaran yang terus berputar-putar. Makin lama terasa makin dalam dan memusingkan. Sampai akhirnya aku merasa hawa di sekitarku lebih dingin dari sebelumnya. Suasana yang awalnya senyap, kini terasa riuh oleh embusan angin.


Dan membuat aku penasaran lalu akhirnya membuka mata perlahan. Sedikit terkejut saat melihat keadaan di sekitarku berubah. Bukan lagi berada di rumah Kak Rayi, tapi sudah berada di sekolah kami. Tanganku dan tangan Kak Rayi masih dalam kondisi berpegangan tangan. Kak Rayi masih memejamkan matanya. Aku menggoyang-goyangkan tangannya agar dia segera membuka mata. Sambil terus memanggil namanya, berbisik. Jujur, aku takut dengan keadaan di sekitarku yang sudah gelap. Tidak ada penerangan sama sekali di sekitar kami.


Kak Rayi perlahan membuka matanya, dan terkejut saat mengetahui kalau kami berada di sekolah." Loh kok kita di sini?" tanyanya bingung, memperhatikan sekitar dengan tatapan cemas. Yah, reaksinya tentu wajar sebagai pemula. Aku pun juga akan bereaksi demikian.


"Iya, kita sudah berhasil masuk ke dunia lain. Dan Rachel langsung membawa kita ke sarang Djin itu, Kak. Ya di sini," jelasku.


"Terus gimana? Kita harus ngapain sekarang?"


"Eum, kita harus cari Kak Sandi dan Aira."


"Jadi maksud kamu kita harus keliling sekolah cari mereka?" tanyanya. "Oke, yuk."


Kami berdua berada di lantai tiga. Yang tepat berada di atas ruang kelasku. Dan kondisi ini adalah di masa sekarang, bukan seperti aku alami kemarin. Terlempar jauh ke masa lalu yang bahkan aku belum terlahir ke dunia ini. Semua ruangan di lantai tiga, sudah kami susuri, dan tidak menemukan apa pun di sini.


Kini kami berdua turun ke lantai di bawah, melewati ruang kelasku yang baru tadi siang kutinggalkan. Rupanya di sana ada Rio yang sedang duduk diam di meja paling belakang. Dia hanya diam, menunduk tanpa menoleh pada kami. "Itu siapa?" tanya Kak Rayi berbisik, saat kami mengintip dari depan pintu. Aku memang berhenti dan memutuskan mengintipnya dari luar. Bagaimana pun juga kami harus lebih hati-hati sekarang.


"Rio," kataku sambil berbisik.


"Oh, jadi dia Rio?"


Aku mengangguk lalu hendak masuk ke kelas, tapi Kak Rayi malah menahan tanganku dan membuat aku menoleh kepadanya dengan sebuah pertanyaan lewat tatapan mata. "Biar aku aja. Soalnya kok aneh, ya? "


"Aneh gimana, Kak?"


"Kamu perhatiin deh, dia kok nggak mirip sama Rio yang selama ini kamu ceritakan, Bil? Dia terlihat aneh. Iya, nggak sih?" tanyanya balik. Aku pun berpikiran hal yang sama. Tapi tidak menjawab apa pun pertanyaan dari Kak Rayi. Dia lantas mengangguk dan mulai masuk ke dalam kelas.


Suara deham Kak Rayi menggema ke seluruh ruangan. Kami mulai masuk dengan dia yang berada di depan. "Eum, Rio?" panggil Kak Rayi ragu.


Sosok yang dipanggil tersebut hanya diam, tidak menanggapi. Melihat sikap Rio yang makin aneh, membuatku ragu kalau dia memang Rio yang asli. Atau terjadi sesuatu dengannya. Sehingga membuat sikapnya aneh seperti itu. Aku menahan tangan Kak Rio yang hendak masuk lebih dalam. Kami yang masih berdiri di dekat pintu, hanya terpaku melihat gelagat aneh sosok di tengah ruangan itu. Aku menggeleng ke Kak Rayi, rasanya kini aku makin ragu kalau itu adalah Rio yang asli.


"Kalian ngapain di sini?" tanya seseorang yang berdiri di belakangku. Saat kami menoleh, betapa terkejutnya kami, karena mendapati Rio sedang berdiri di sana. Wajahnya cerah dan sikapnya sama seperti Rio yang selama ini aku kenal.


"Loh, kok kamu di sini?" tanyaku menunjuknya.


"Kalau ini Rio, terus yang itu ... siapa?" tanya Kak Rayi menoleh ke sosok Rio yang sejak tadi diam.


Otomatis aku dan Rio ikut melihat ke sudut yang ditunjuk oleh Kak Rayi. Aku pun juga penasaran, siapa sosok itu. Karena aku yakin Rio yang asli adalah sosok yang baru saja datang dan kini berdiri di belakangku.


"Mending kita cabut sekarang," ajak Rio lalu menarik tanganku. Bagai saling terhubung, aku juga menarik tangan Kak Rayi dan meninggalkan ruang kelas kami.


Dengan langkah cepat kami turun ke lantai bawah, Rio terlihat panik sambil terus menoleh ke belakang. "Eh, tunggu! Mending elu jelasin dulu, siapa orang yang tadi di sana?" tanya Kak Rayi, berdiri di hadapan Rio.


Rio menatap ke lantai dua, di mana kelas kami berada. Menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya cepat. "Itu adalah salah satu ciptaan Djin. Beberapa jiwa yang ditahan akan dibuatkan kembarannya. Untuk mengecoh dan mengejar jiwa tersebut."

__ADS_1


"Mengejar?"


"Yah, dia ditugaskan untuk mengejarku, dan membawaku ke Djin. Tapi aku berhasil lari."


"Tapi kenapa tadi dia cuma diam saja. Padahal kamu muncul, Ri?"


"Karena dia sedang tertidur. Tadi aku dan dia berkelahi. Aku punya cara untuk membuat mereka diam, seperti tertidur. "


"Serius?! Gimana caranya?"


"Serbuk sari bunga Baby breath! Itu ada di taman depan sekolah. Entahlah, mungkin mereka alergi serbuk sari atau semacamnya."


"Wow, manis sekali," gumam Kak Rayi dengan smirk di wajahnya.


"Tapi itu nggak bertahan lama. Jadi sebelum dia bangun kita harus segera pergi."


Suara gaduh terdengar dari lantai 2. Sontak kami menoleh ke atas, dan melihat kalau ternyata kembaran Rio sudah berdiri di sana, menatap kami tajam. "Nah, kan, bangun dia! Lari!" suruh Rio.


Kami berlari, menghindari sosok tersebut. Mencari jalan berliku yang sebisa mungkin Rio gadungan tadi tidak mudah untuk menemukan kami. Lingkungan sekolah kami memang cukup luas, juga banyak ruang lain selain kelas-kelas yang biasa menjadi tempat belajar siswa-siswi. Dan ini menguntungkan bagi kami sebagai tempat persembunyian sementara.


Kami bersembunyi di ruang laboratorium. Kebetulan ruangan ini tidak memiliki jendela yang jelas dan hanya dua buah pintu di bagian utara dan selatan saja. Jendela yang ada di sini tidak banyak, tetapi berbahan kaca tebal yang buram. Tidak bisa dipakai mengintip atau melihat ke dalam atau luar ruangan. Tapi jika ada yang lewat di dekat jendela, maka akan terlihat jelas, walau hanya warna pakaiannya saja.


Pintu kami kunci. Dan kini bersembunyi di bawah meja dekat jendela. Rasanya kami perlu istirahat, juga untuk menyusun rencana. Apa yang harus kami lakukan dan di mana kami bisa mencari jiwa Kak Sandi dan Aira.


Suara langkah kaki terdengar menggema di sepanjang koridor. Kami diam, berusaha untuk tidak membuat suara sekecil mungkin. Kak Rayi yang berada paling dekat dengan jendela, lantas berusaha mencari celah untuk mengintip. Dan sebuah lubang kecil yang ada di jendela menjadi sasaran empuk. Kak Rayi mengintip sambil berusaha agar tidak terlihat dari luar.


"Matanya menyipit, gerak wajahnya seperti melihat sesuatu yang aneh. Ia lantas menoleh ke arah kami. "Bukan Rio, tapi Sandi!" katanya tanpa mengeluarkan suara hanya gerak bibirnya saja yang dapat kubaca.


Pintu dibuka kasar. Langkah kaki berat itu mulai masuk ke dalam. Membuat nyali ku menciut. Entah nyali dua pria itu sama sepertiku atau tidak. Tapi aku melihat Kak Rayi hanya diam sambil memperhatikan arah suara tersebut. Tubuh kami tertutup meja yang cukup lebar.


Tiba-tiba ekspresi Kak Rayi berubah. Ia terlihat serius sekali. Dan sebuah hantaman keras membuat meja di atasku terbelah dua. Sontak aku menjerit dan beringsut mundur menjauh. Sosok yang mirip Kak Sandi menyeringai, dengan gerakan pelan, mendekati ku. Aku terus mundur-mundur, hingga sudah terpojok di antara lemari-lemari kaca di sekitarku.


Kepala jelmaan Kak Sandi dipukul dengan sebuah tabung kaca. Pecah dan berhamburan ke tubuh itu. "Bil, lari!" jerit Kak Rayi. Aku segera berdiri dan menjauh. Rio juga keluar dari lemari tadi, kami berdua berdiri bersebelahan sambil memanggil nama Kak Rayi. "Ayok, kak! Kita pergi!"


"Kalian duluan! Biar aku tahan dia di sini!" katanya.


"Apa?! Enggak! Kita pergi bareng!" sahutku histeris.


"Bil! Pergi! Rio, bawa Nabila keluar!" jerit Kak Rayi.


Rio yang awalnya terlihat ragu-ragu, kini menarik tanganku hingga keluar dari ruangan laboratorium itu. Aku meronta, menolak ajakannya. Tapi Rio terus membawaku pergi.


"Bil, kita harus temukan Djin itu, dan bunuh! Kalau kamu mau Rayi selamat, juga yang lain!" kata Rio. Berkali-kali aku menoleh ke belakang, berharap Kak Rayi kini juga menyusulku. Tapi sampai kami sudah jauh dari ruangan itu, dia tak juga muncul.


"Bil, itu," tunjuk Rio, berbisik.


Kami berada di ruang olah raga. Di sana ada pemandangan aneh, dan membuat kami bersembunyi di balik pintu. Aira sedang diikat di sebuah kursi dalam keadaan tidak sadar. Di dekatnya ada Aira lain yang sepertinya sama seperti sosok Rio yang tadi aku lihat pertama kali.


"Gimana cara membunuh Djin itu, Ri?" tanyaku.

__ADS_1


"Pisahkan kepala dari tubuhnya."


Terasa ada yang aneh dengan hawa sekitar kami. Anehnya, di genggaman tanganku terasa dingin, seperti ada sesuatu yang tiba-tiba ada di antara jemariku. Saat aku menoleh ke bawah, rupanya aku sedang menggenggam sebuah pedang. "Ri!" ucapku agar Rio melihat apa yang ada di tanganku sekarang.


"Wah, keren. Dari mana kamu dapat itu, Bil?"


"Aku juga nggak tau."


"Ugh!" Rio mengerang, dari perutnya ada sebuah benda tajam yang menembus dari punggungnya. Cairan merah merembes dari sana. Rupanya di belakang Rio ada sosok jelmaan dirinya. "Rio!" jeritku. Kulayangkan pedang di tanganku dan menyabetkan pada sosok itu. Dia menghindar dan mundur menjauh dari Rio. Pisau di punggung Rio masih tertancap di sana. Rupanya di dunia ini, jiwa pun memiliki nyawa. Mereka bahkan bisa berdarah dan merasakan sakit, begitulah yang ada yang di pikiranku.


Dia terlihat lebih kuat dari Rio asli. Baru beberapa menit aku sudah kewalahan dibuatnya. Perkelahian ini terlihat imbang, walau dia tidak memakai senjata, tapi dia jauh lebih kuat dariku. Bahkan berkali-kali kulukai tubuhnya, dia malah tidak merasakan sakit.


"Pisahkan kepala dari tubuhnya." Kalimat itu tiba-tiba terlintas di pikiranku. Saat dia lengah, aku menebas kepalanya hingga terlepas dari tubuhnya. Kepala itu menggelinding di lantai hingga menimbulkan genangan darah.


Nafasku terengah-engah, menunggu reaksi kembaran jahat dari Rio. Apakah dia akan bangun kembali atau tidak. Nyatanya dia benar-benar tewas sekarang. Yah, semua yang hidup pasti iakan mati. Walau berbeda caranya. Ciptaan Djin saja bisa mati, pasti yang menciptakan juga bisa mati.


Setelah memastikan Rio versi jahat tewas, aku segera menolong Rio asli. Dia sudah tergeletak di lantai sambil memegangi perutnya. "Astaga, Rio! Kamu bagaimana? Sakit? Duh, darahnya banyak banget!" Aku yang panik tidak tau harus berbuat apa.


"Bil, maaf, aku nggak bisa temani kamu lagi. Rasanya waktuku sudah habis sekarang," tuturnya dengan suara tertahan.


"Rio, Rio! Tahan dulu, ya. Kita cari pertolongan dulu. Kamu harus bertahan." Aku tengak tengok ke sekitar, mencari seseorang yang mungkin bisa menolong Rio sekarang. Walau dalam lubuk hati kecilku tau kalau kami di sini sendirian, dan mungkin Rio tidak akan selamat, mengingat lukanya cukup dalam. Wajahnya bahkan sudah pucat.


Kepala Rio sudah berada di pangkuanku, air mataku tidak bisa ku bendung lagi. Apalagi saat melihat luka di perutnya. "Bil ...," panggilnya lagi.


"Iya, kenapa? Kamu butuh apa?"


"Enggak. Aku cuma mau bilang, terima kasih untuk waktu kamu selama ini. Terima kasih sudah mau menerimaku menjadi salah satu temanmu."


"Rio, jangan bilang begitu. Kamu pasti bisa bertahan, kita tunggu Kak Rayi dulu, ya." Dengan cemas aku terus mencari Kak Rayi yang tak kunjung muncul.


Jeritan di dalam ruangan membuat perhatianku teralih. Kini pikiranku bercabang, tidak hanya memikirkan Rio saja, tetapi keselamatan Kak Rayi, dan juga jiwa Aira yang sedang diikat di dalam. Dan jiwa Kak Sandi yang entah di mana. Aku sungguh frustrasi sekarang.


"Papa ... aku harus bagaimana?" aku mulai terisak, menahan semua beban di pundak membuatku menjadi lemah.


"Bil, selamat tinggal," kata Rio.


Aku kembali menatap ke tubuh Rio yang masih ada di pangkuanku. Dia seolah mulai memudar, tubuhnya bagai bayangan yang akan segera hilang. "Ya ampun, Rio! Rio! Rio!" jeritku seiring dengan hilangnya tubuh itu dari hadapanku.


Aku menjerit, bahkan meraung. Memukul-mukul lantai di bawahku karena merasa gagal melindungi salah satu temanku. Namun, di ujung koridor aku mendengar suara langkah kaki pelan, mendekat. Aku mendongakkan kepala, di sana ada seseorang yang sangat ku kenal. Kak Rayi ... dan harimau penjaga rumahnya.


.


.


.


.


________

__ADS_1


[Ayo, semangat! kata ayang]


__ADS_2