
Rea terkejut, tapi dia putuskan untuk bungkam. Dia tidak ingin memberikan masalah baru bagi kelompoknya. Tapi bayangan tersebut sampai saat ini masih berdiri di sana. Rea berharap kalau dia hanya salah lihat saja. Tapi saat dia memalingkan wajah dari tempat itu, dan kembali menatap ke sumur itu, rupanya bayangan itu masih berada di sana. Menatap Rea tajam. Hingga berhasil membuat bulu kuduknya berdiri.
"Re! Rea!" panggil Dana.
"Eh, kenapa kenapa?" tanya Rea yang akhirnya tersadar dari lamunan.
"Kamu kenapa? Ayo, makan dulu," ajak Dana.
"Oh iya iya." Rea berusaha terlihat baik baik saja. Dia segera bergabung bersama yang lain. Tapi untuk terakhir kalinya, Rea menatap ke arah sumur tersebut yang memang terlihat jelas dari tempat mereka membuat api. Namun, saat ini justru tidak ditemukan apa pun di sana.
Rea yang merasa itu aneh, lantas menyapu pandang ke sekeliling, tapi dia tetap saja tidak menemukan sosok yang dicarinya. Sampai akhirnya Rea menganggap kalau dia salah lihat. Yah, dia salah lihat. Begitulah hal yang diterapkan Rea agar pikirannya tidak bercampur dengan pikiran negatif. Itu semua dilakukan agar hatinya juga tidak diliputi perasaan takut setelah melihat sosok bersayap hitam yang terlihat beberapa saat lalu.
Mereka akhirnya makan siang dengan menu terakhir. Sambil makan, mereka terus memikirkan berapa lama lagi mereka akan berada di tempat itu. Dengan persediaan makanan yang sudah habis, tentu masalah mereka bertambah.
"Gimana nih? Apa kita bangun tenda lagi di sini atau melanjutkan perjalanan?" tanya Hana sambil menikmati mie instan terakhirnya.
"Menurut kalian gimana?" tanya Dana meminta pendapat semua orang.
"Gue bingung. Takutnya udah jalan jauh jauh, eh kita balik lagi ke sini. Kan sama saja buang tenaga dan waktu," ucap Hani.
"Iya, tapi kalau kita di sini terus, kita juga sama aja buang waktu. Apalagi kita udah kehabisan makanan. Kita cari makan di mana lagi coba, kalau kita nggak terus jalan? Sementara di sini cuma ada dedaunan. Hewan hewan nggak ada di sini. Bener bener hutan yang aneh," tukas Blendoz menatap sekitar.
"Tapi bener sih, hutan ini aneh. Aku kok merasa kalau kita sengaja diputar putar kan, biar nggak bisa keluar dari sini," tambah Diah.
"Iya, lo bener, Di. Gue aja yang sering naik gunung, belum pernah nyasar sampai berkali kali begini. Kecuali memang ada campur tangan makhluk gaib."
"Maksudnya setan?" tanya Apri mulai over thinking.
"Lah, yang kemarin kesurupan siapa? Lo pikir itu bukan ulah setan?"
"Ya ampun. Jangan jangan setannya nggak ngizinin aku pergi dari sini. Apa dia mau aku di sini terus gitu kali ya, kayak cerita cerita horor di tv selama ini," tukas Apri sambil memeluk lengan Ita erat. Dia bersembunyi di samping tubuh Ita.
"Hust! Jangan ngawur kalau ngomong! Mana ada kayak gitu. Semua ini cuma kebetulan aja. Setelah makan, kita lanjutkan lagi perjalanan. Pokoknya hari ini juga, kita harus segera pulang! Kita pasti pulang," ucap Dana antusias.
Tidak ada lagi obrolan mengenai kemistisan hutan itu. Mereka semua mulai sibuk makan dan membicarakan hal lain yang mungkin lebih menyenangkan untuk dibahas. Rea pun sudah tidak terlalu memikirkan penampakan sosok yang tadi berada di atas sumur. Walau dia beberapa kali tampak gelisah dan terus memperhatikan ke tempat tersebut.
Sudah satu jam lamanya mereka beristirahat. Kini makanan sudah habis tak bersisa. Mereka mulai mengemasi sampah sampah yang tadi mereka bawa. Memasukkannya ke dalam kantung plastik besar, dan akan mereka bawa hingga keluar dari hutan. Membuang sampah sembarangan memang tidak dibenarkan. Apalagi tim mereka pernah ikut dalam kegiatan pencinta alam. Jadi rasanya segala bentuk kebersihan akan tetap terjaga, di mana pun dan kapan pun kondisinya.
"Yuk, kita lanjutkan lagi perjalanan," kata Dana sambil menatap mereka semua bergantian.
__ADS_1
"Kita ke arah mana nih, Dan? Sama seperti tadi atau lain arah?" tanya Apri.
Dana menarik nafas panjang sebelum menjawab. Dia memperhatikan sekitar. Menatap jalur yang sejak kemarin mereka lewati. Arah itu adalah arah yang sesuai dengan peta yang dibawa oleh Dana. Tapi rasanya peta di tangannya tidaklah menunjukkan arah yang tepat. Karena mereka sudah berkali-kali mencoba menuju ke arah yang sama, tapi nyatanya mereka tetap saja tidak bisa menemukan jalan keluar.
Dana meraih peta yang merupakan satu-satunya petunjuk untuk bisa pergi ke pos terakhir. Sementara di tangan kirinya juga memegang Kompas yang memang menjadi salah satu alat untuk bisa mengetahui arah mereka saat ini.
Dana membandingkan kompas dengan peta lalu menatap sekitar. Hal ini membuat teman-temannya penasaran tentang apa yang sedang dilakukan oleh Dana. Beberapa dari mereka pun mendekat untuk bertanya lebih lanjut.
"Gimana? Ada ide?" tanya Hana penasaran. Dia menatap Dana dan peta di tangannya bergantian.
"Dari kemarin kita selalu lewat arah yang sama terus, kan?"
"Iya. Kenapa emang?" tanya Hana antusias.
"Dan yang kita dapat cuma berputar putar di sini lagi, kan?"
"Iye. Terus. Apaan? Jangan dipotong potong kalau ngomong kenapa sih, Dan? Bikin penasaran aja tahu!" omel Hana.
"Ya sekarang, mungkin kita harus berganti arah. Kita coba arah lain. Gimana menurut kalian?" tanya Dana sambil menatap teman temannya.
"Tapi peta ini gimana? Apa kalau kita ganti arah, justru malah makin nyasar? Tujuan kita kan di sini?" tanya Diah sambil menunjuk titik yang di lingkari dengan spidol merah.
"Iya bener, Dan. Lihat nih, topografi di sekitarnya sepertinya sulit. Cuma jalur yang tadi kita lewati aja yang mudah. Apa nggak akan jadi masalah nanti?" tanya Leni menambahkan.
"Ide Dana masuk akal. Kenapa kita nggak coba jalur yang lain. Tapi sebaiknya, sebelum kita memulai perjalanan, kita berdoa dulu, supaya jalan kita dimudahkan dan bisa segera pulang," ujar Rea.
"Bener nih! Yuk, kita doa dulu, setelah ini kita lanjutkan perjalanan lagi," timpal Blendoz.
Mereka semua membentuk lingkaran, lalu menundukkan kepala sebagai bentuk perwujudan doa kepada sang pencipta. Setelah itu mereka pun bersiap untuk melanjutkan perjalanan dengan semangat dan harapan yang baru.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Mereka pun bergegas menuju ke arah lain yang berbeda dengan jalur yang tadi mereka melalui. Dana melipat peta yang sejak kemarin dia tatap untuk mencari jalan. Dana memasukkan benda tersebut ke dalam tas, ia yakin jika tanpa peta itu mereka pasti akan menemukan jalan keluar lain.
Mereka kembali berjalan dengan posisi berbaris memanjang. Dana sebagai ketua tim berada di urutan pertama. Di belakangnya ada Rea, diselingi lagi dengan Hana, di belakang Hana ada Apri, di belakang Apri ada Fauzan, di belakang Ozan ada Leni, di belakang Leni belakang ada Hani, lalu berlanjut dengan Diah, di belakang Diah ada Ita, lalu Blendoz. Rupanya benar, jalur yang mereka lewati sekarang tidak sama dengan jalur yang mereka lewati sebelumnya.
Medannya cukup sulit dengan kondisi rimbunnya tanaman liar yang memenuhi tempat tersebut. Seolah olah tempat itu tidak pernah dilewati oleh manusia. Namun sejauh ini perjalanan mereka cukup berjalan dengan lancar dan tidak ada hambatan berarti. Walau sesekali mereka harus berhenti untuk membuka jalan agar mereka bisa lewat dengan leluasa. Tapi itu semua hanya berlangsung sebentar, lalu kembali berjalan lagi.
Tanpa terasa mereka sudah berjalan selama 2 jam lamanya. Hari mulai beranjak petang, tapi ada sebuah perubahan yang bisa mereka rasakan yang menyatakan kalau mereka tidak lagi tersesat seperti sebelumnya. Suasana di sekitar kini sudah terlihat. Pohon di sekitar sudah renggang sehingga mereka bisa melihat langit yang berada di atas. Sebuah perubahan yang cukup berarti setelah mereka tersesat selama hampir 2 hari lamanya.
Tapi tiba-tiba mereka berhenti berjalan saat melihat ada banyak sekali manusia yang berada di hadapan mereka dengan kondisi tempat yang jauh dari ekspektasi mereka.
__ADS_1
"Hei, kita udah sampai?' tanya Hana sambil terpaku melihat aktivitas di depannya.
Ada sebuah kehidupan dengan ramainya orang-orang yang sedang beraktivitas layaknya seperti manusia pada umumnya. Hanya saja yang membedakan adalah ekspresi wajah mereka yang terlihat datar tanpa ekspresi. Mereka sedang melakukan kegiatan perdagangan yang biasa disebut sebagai pasar.
Fauzan terlihat senang, dia hendam mendekat, namun ditahan oleh Dana. "Kenapa?" tanyanya Ozan. "Kita bisa mendapatkan bantuan buat pulang, kan?" tambahnya lagi.
"Tunggu dulu, Zan. Perasaan gue gak enak. Lagian apa lo gak merasa aneh melihat mereka?" tanya Dana sambil tetap menatap semua orang yang ada di depan mereka.
"Aneh kenapa sih?" tanya Ozan yang sedikit ngeyel.
"Iya, Dana bener. Ini aneh. Masa di tengah hutan gini ada pasar?!" tukas Hana.
"Heh! Kalian pernah denger pasar setan nggak? Jangan jangan ... Ini ...." Kalimat Hani tidak kunjung dilanjutkan. Tetapi mereka semua sudah bisa menebak maksud dari perkataan Hani itu.
"Terus kalau memang mereka setan, apa yang harus kita lakukan sekarang? Mereka pasti menyadari kehadiran kita, kan?" tanya Leni.
"Eum, belum tentu. Bisa aja, dunia kita dan dunia mereka terpisah dan tidak saling terhubung. Mungkin aja mereka nggak bisa melihat kita.. Mungkin."
"Terus menurut lo gimana, Dan?" tanya Blendoz.
"Sebaiknya kita memutar. Jangan masuk ke kawasan mereka. Kita harus jaga jaga. Takut terjadi hal hal aneh lagi nanti."
Perkataan Dana memang ada benarnya, mereka memutuskan berjalan memutar. Menghindari lingkaran kehidupan orang orAng itu, karena mereka takut jika sampai terjebak dalam dunia mereka. Dunia tak kasat mata, dunia gaib. Apa pun sebutannya.
Sekalipun mereka berjalan memutar, tapi mereka masih dapat melihat dengan jelas segala aktifitas di tempat itu. Kegiatan jual beli terjadi dengan cukup singkat. Namun ternyata setelah diperhatikan dengan seksama, mereka justru menjual benda aneh yang tidak pernah dipikirkan di dalam otak mereka.
Potongan tangan, jari, gigi, mata, hidung, dan hal hal aneh lainnya. Mereka yang melihat hal itu langsung bergidik ngeri, sembari mempercepat langkahnya.
Mereka bersepuluh sadar kalau tempat itu memang lebih tepat disebut sebagai pasar setan. Mereka terus mempercepat langkah untuk bisa melewati tempat itu sesegera mungkin. Apalagi hari sebentar lagi akan malam. Mereka pun tidak mungkin mendirikan tenda di dekat pasar setan tersebut.
Apri yang mulai panik tak lama menangis. Langkahnya mulai tidak beraturan dengan rengekan tangis khasnya. Bahkan dia juga menabrak teman di depannya.
sampai akhirnya Apri pun terjatuh karena tersandung akar pohon yang menyembul ke atas. Tiba tiba semua mata tertuju pada mereka. Semua sosok yang sedang berada di lingkaran pasar tersebut menatap rombongan Dana tajam.
"Gaes, ini udah nggak bener," gumam Hana.
"Gimana nih?" rengek Ita.
"Jalan satu satunya ... Kita harus lariii!" perintah Dana. Sontak mereka semua berlari secepat mungkin, tapi tentu saja tetap saling menjaga satu sama lain. Apri di gandeng Blendoz dan terus di jaga olehnya. Semua orang berlari secepat yang mereka bisa. Panik? Tentu saja. Tapi mereka lebih memilih untuk terus menjaga laju langkah mereka agar bisa segera meninggalkan tempat itu. Tapi tiba-tiba Ita di tarik oleh sesuatu. Dia terjatuh dan tampak menjauh dari rombongan.
__ADS_1
"ITAAAA!" teriak mereka bersamaan.
Ita belum bisa diselamatkan, kini giliran Diah, Leni, Apri dan Rea. Semua orang terjatuh ke tanah, seperti ditarik oleh sesuatu. Mereka semua terpencar dengan jeritan meminta tolong. Para pria hanya bisa bengong, karena tidak tahu harus berbuat apa. Hingga akhirnya ada sebuah ledakan di sekitar mereka. Semua orang menatap sekitar. asap yang mengepul membuat mereka batuk batuk. Di balik asap itu ada sebuah bayangan, lebih tepatnya beberapa bayangan gelap yang kini mendekati mereka.