
"Dagon?" Nama tersebut terus terngiang di kepalaku sejak aku dan Zahra pulang dari sungai tadi sore. Matahari sebentar lagi akan kembali ke peraduannya. Aku yang sejak tadi duduk di ayunan halaman depan hanya diam mengikuti gerak benda yang sedang kududuki sejak tadi. Bukan ayunan seperti yang biasa ada di sekolah TK, tapi ayunan buatan ayah Zahra untuk para anak kecil di sini. Terbuat dari potongan ban bekas, dan diikat tali dan di sambungkan ke batang pohon dekat rumah. Sungguh suasana yang sangat nyaman. Bahkan jika di rumahku ada benda ini, aku akan duduk di halaman setiap sore.
Papa belum pulang, aku mulai cemas memikirkan keadaan mereka. Berkali-kali layar datar di genggaman selalu ku tatap. Berharap Papa memberi kabar, apa pun itu. Sementara semua pesanku belum juga sampai padanya. Mungkin Papa dan yang lain ada di tempat yang tidak ada sinyal ponsel.
Suasana sore hari memang saat yang tepat untuk anak-anak bermain di luar rumah. Hal yang jarang sekali kutemui di sekitar rumahku. Karena aku anak tunggal dan karena aku tinggal di kompleks perumahan dengan gerbang tinggi di tiap bangunannya. Tidak ada keramahan yang disajikan oleh tiap orang. Berbeda dengan di sini. Walau beberapa orang terkadang menatapku aneh, mungkin karena aku orang asing, dan jarang ada orang dari luar daerah ini berkunjung.
Dagon. Karena penasaran, aku surfing nama tersebut lewat daring. Dahi ku mengkerut membaca begitu banyak hal tentang Dagon. Makhluk ini entah hanya sebuah karangan atau memang nyata, di luar sana Dagon disebutkan merupakan Dewa.
"Dewa ikan?!" gumam ku setelah membaca kalimat yang panjang lebar tersebut.
"Tapi ... Nenek Sanja kenapa menyebutkan nama itu, ya? Kalau hal itu merujuk ke makhluk yang kemarin terbang di atas ku, penjelasan ini sama sekali nggak cocok untuk Dagon!" Kembali aku berdiskusi dengan diriku sendiri. Hal yang biasa terjadi jika sedang dilanda kebingungan. Apalagi nama Dagon itu sendiri baru pertama kali aku dengar. Berarti dia bukan makhluk aneh macam vampir atau wendigo. Mungkin dia memang salah satu dewa.
"Hm, dewa juga bisa jahat sih. Tapi, ini dewa ikan. Masa bisa terbang? Masa penjelmaan ikan Torani? Kan nggak masuk akal!" Aku menampik semua kemungkinan yang baru saja lewat di kepala. Sejauh yang aku tau, ikan Torani adalah satu-satunya ikan yang bisa terbang.
"Eh, suara itu, seperti kepakan sayap burung besar!" Fakta lain kembali mencuat. Membuatku benar-benar yakin kalau Dagon itu bukan dewa ikan. Tapi sejenis burung? Ah, mungkin saja.
Tante Jean keluar dari pintu rumah. Menyapu pandangan ke segala arah, dan berakhir tersenyum saat melihatku. Ia lantas mendekat sambil membawa sesuatu di tangannya. Sepertinya makanan.
Sebuah piring dengan ditutupi daun pisang kini tampak jelas di depanku. "Itu apa, tante?" tanyaku begitu dia duduk di kursi kayu, depanku.
"Nih, kamu harus cobain. Ini namanya Manday." Daun pisang itu dibuka dan menampilkan makanan yang terlihat asing buatku.
__ADS_1
"Wah, aku pikir manday itu senjata khas daerah sini, tante."
Tante Jean melirikku sebal. "Itu mandau!" katanya sambil melotot dan menaikkan nada bicaranya. Hal itu berhasil membuatku tertawa lepas setelah sekian lama berada di tempat ini. Tante Jean yang awalnya gemas pada sikapku, ikut tertawa sambil memencet hidungku. "Kamu ini! Pinter banget plesetinnya!"
"Ya enggak gitu, tante. Kan aku memang nggak tau tentang mandau itu, taunya mandau," jelas ku.
"Kamu itu memang aneh. Perempuan kok malah lebih suka dan tertarik sama senjata tajam, bela diri, ckckck. Sebenernya kamu ini dulu reinkarnasi siapa sih, Bil! Wonder women kali, ya." Kembali tawa kami berdua lepas begitu saja.
Manday di tangan Tante Jean mulai kami cicipi, rasanya cukup enak. Aku baru tau, kalau Manday adalah berasal dari kulit cempedak. Wah, sesuatu yang benar-benar baru. Sebenarnya kalau makanan jenis ini, aku pernah menikmatinya, gudeg Jogja. Tetapi rasanya manis dan lezat. Wah, ternyata aku suka manday. Malah aku belum melihat mandau sejak kemarin.
"Tante ... Memangnya apa yang sebenarnya terjadi dengan Om Dewa? Papa, Opa, sama Om Gio mau apa ke tempat itu?" tanyaku penasaran. Karena aku belum juga mendapat kabar dan informasi apa pun, apa dan sedang apa mereka di sana. Bahkan tempatnya juga aku tidak tau di mana.
"Hm. Tante juga kurang tau, Bil. Yang jelas, kematian Dewa bukan murni kecelakaan. Kamu mencurigai kalau dia sengaja dicelakai. Tetapi bagaimana dan oleh siapa, kami belum tau. Karena itu, mereka mencari jejak atau informasi apa pun yang mungkin tertinggal di tempat kejadian.
"Kalau Rani bilang, Dewa sama sekali nggak punya musuh, Bil. Dia orang baik, sering membantu orang, walau dia selalu berpindah tempat, tapi di semua tempat yang dia datangi, dia nggak pernah membuat masalah."
"Tante ... Terkadang orang jahat ke kita juga nggak selalu karena kita jahat juga, kan? Mungkin ada yang nggak suka atau dengki sama Om Dewa, bisa jadi, kan?"
Tante Jean mengangguk sambil melamun. "Kamu bener juga. Nggak sangka, Nabila sudah besar. Papa kamu pasti bangga punya anak seperti kamu."
"Ah, tante bisa saja!"
__ADS_1
________
Sampai malam, Papa belum juga pulang atau bahkan ada kabar. Sampai akhirnya adik om Dewa datang dengan tergopoh-gopoh. Dia adalah orang yang ikut mengantar Papa, Opa, dan Om Gio ke tempat itu. Tapi kenapa dia pulang seorang diri?
"Loh, kenapa kamu, Opon?" tanya seorang pria dengan uban di seluruh rambutnya, dia kakek dari Om Dewa.
"Kek, mereka ... Mereka hilang di hutan!" katanya dengan menunjuk ke arah luar. Semua orang lantas terperanjat dan memberondonginya dengan pertanyaan beruntun. Aku dan tante Jean berusaha menerobos kerumunan di depan.
"Om, kenapa? Papa saya kenapa?!" tanyaku serius.
"Pa ... Papa kamu, sama semua orang hilang di hutan," jelasnya sambil tergagap, dan berusaha menetralkan nafasnya yang hampir habis.
"Kok bisa sih, Om! Kenapa bisa hilang?!" pekikku.
"Sa ... Saya juga nggak tau. Saat kami sedang menelusuri jalan ke tebing itu, tiba-tiba ada asap. Saya pikir, mereka masih diam di tempat sambil menunggu asap hilang, tapi setelah satu jam, asap hilang, mereka juga hilang!"
Aku menatap tante Jean. "Kalau gitu, biar saya cari Papa saya!" kataku lalu pergi dari kerumunan. Tante Jean berteriak memanggilku bahkan sampai mengikutiku ke kamar.
"Bil, jangan nekat! Ini sudah malam. Lagian kamu mau cari ke mana?!" cegahnya.
"Aku nggak bisa diem aja, tante. Aku harus cari Papa. Perasaanku nggak enak. Aku takut terjadi sesuatu sama mereka."
__ADS_1
"Iya tante mengerti. Tapi nggak bisa kita pergi malam-malam begini. Kita pergi besok pagi, tante ikut! Oke?" tanya tante Jean sambil menatap kedua mataku dalam. Aku pun berfikir sejenak dan mengangguk pasrah.