pancasona

pancasona
36. Sosok di rumah Leni


__ADS_3

Mereka berdua saling tatap. Sotot mata yang menunjukkan sebuah dendam deras di kedua bola mata mereka.


"Apa kabarmu, Habibi?" tanya sosok tersebut.


"Rupanya kau masih setia pada tuanmu, Jakhar?"


" Memangnya kenapa? Bukannya kau juga sama sepertiku?" tanya Jakhar merendahkan.


"Untuk apa kau masih ada disini? Bukannya sudah jelas kalau dia tidak akan bisa  keluar lagi?"


"Siapa yang bilang? Tuanku pasti akan keluar sebentar lagi. Sebaiknya kau tidak usah mengurusi urusan kami. Yang seharusnya kau khawatirkan adalah dirimu sendiri dan kaum mu. Kau tahu kan Apa yang terjadi jika sampai bangkit?"


"Yang jelas hal seperti itu tidak akan pernah terjadi. Karena aku akan mencegahnya dan tidak akan membiarkan siapa pun membuka pintu itu sekalipun aku harus bertaruh nyawa!" tantang Habibi.


"Tapi kulihat putrimu sudah beranjak dewasa ya?" tanya Jakhar.


"Hei! Jangan pernah sentuh putriku!" kata Habibi tegas. Dia menarik tubuh Jakhar hanya dengan gerakan tangan. Lalu mencengkeram erat jubah hitam yang selalu dikenakan oleh anak buah Amon tersebut. Habibi menatap nyalang makhluk dengan jenis manusia yang sudah berkomplot dengan jin tersebut.


Jakhar adalah manusia yang sudah berkomplot dengan iblis yang bernama Amon. Dia telah memiliki ilmu hitam yang telah diberikan oleh Amon, tuannya. Jakhar menjadi salah satu makhluk abadi. Dia bergabung dengan Amon sekitar 50 tahun yang lalu. Dia adalah pengikut Setia yang akan selalu menemukan segala cara untuk bisa membawa Amon keluar kembali dari penjaranya. Melalui Jakhar, Amon bisa berkomunikasi dengan dunia manusia. Itulah alasan mengapa dia bisa menemukan Amanda dulu, serta membawa Gadis itu masuk ke dalam sumur tua tersebut.


Sosok Jakhar kini sudah menyerupai setan maupun iblis. Tubuhnya bisa dengan mudah menghilang saat dirinya menginginkannya. Dia tinggal di hutan tersebut. Menjaga kuburan dari Amon dan juga mencari tumbal manusia untuk dirinya sendiri. Umur Jakhar seharusnya sudah 100 tahun. Tetapi dia masih terlihat awet muda kuat bahkan tidak nampak sedikitpun sama kalau dia sebenarnya sudah tua renta. Itu semua karena tumbal pesugihan yang selalu ia korbankan setiap bulan purnama tiba. Tidak hanya itu saja Jakhar terlihat makin kuat dari sebelumnya.


Dengan cepat, dia mampu membalikkan keadaan. Habibi di hantam dengan satu tangan hingga dia terpental mundur. Merasa ditantang, Habibi lantas menyeringai. Pukulan yang dia terima tidak lantas membuatnya mundur. Justru Habibi merasa tertantang untuk menyerang lagi dan lagi. Apalagi pertemuan mereka yang sudah lama itu seperti sebuah nostalgia.


Keduanya cukup kuat untuk bertarung satu sama lain. Sekalipun umur Habibi tak lagi muda, tapi kemampuannya justru makin meningkat. Sama seperti Jakhar. Tiga puluh tahun, bukan waktu sebentar, tapi dia berhasil meningkatkan ilmunya.


"Berapa manusia yang sudah kau tumbalkan?" tanya Habibi disela sela pertarungan mereka.


"Hahaha. Kau tidak perlu tahu. Bagaimana? Kemampuan ku sudah meningkat pesat, bukan? Kau tidak lagi bisa mengalahkan ku apalagi dengan umurmu yang makin menua."


"Jangan pernah remehkan orang lain! Ayo, kita bertarung kembali!" kata Habibi tegas.

__ADS_1


Jakhar selama ini bertapa. Dia terus berada di atas sumur tua tersebut. Terkadang dia berubah wujud. Menjadi sosok lain. Dia akan mengecoh manusia untuk masuk ke dalam perangkapnya. Jakhar menjadikan manusia sebagai tumbal pesugihan ilmu hitamnya. Tubuhnya yang tidak menua didapat dari nyawa banyak orang. Dia menjadi makhluk abadi dengan menghirup jiwa jiwa manusia yang telah lengah dan bersedia menjadi pengikutnya sendiri.


                               ****


Eksistensi Jakhar tak lagi diragukan. Dia berkomplot dengan seorang dukun sakti yang bernama Ki Jodo. Ki Jodo merupakan dukun yang sakti, terkenal bisa mengabulkan semua permintaan pasien nya. Mulai dari kekayaan, jabatan, wanita, bahkan keabadian. Kebanyakan pasien yang datang lebih sering meminta kekayaan. Salah satunya adalah Wati.


Wati adalah seorang ibu dengan satu anak bernama Bayu. Mereka tinggal di Jogjakarta. Tepatnya berada di wilayah Sleman. Dia adalah janda, ditinggal pergi oleh suaminya tanpa alasan yang jelas. Kini Wati hidup dari berjualan souvernir di Malioboro. Bahkan usaha jualan tersebut bisa dikategorikan sebagai usaha bersama sama. Karena kebanyakan keluarganya juga pedagang di sana. Walau apa yang mereka jual tidak sama satu dengan yang lainnya. Tapi ruko yang mereka punya saling berdekatan.


"Leni gimana kabarnya, Mba? Sudah kembali dari Kalimantan? Kok nggak bawa oleh oleh ke rumah," ujar Wati menyindir kakaknya yang berada di duka samping kanannya.


Suasana Malioboro siang ini terasa sepi. Apalagi karena sekarang bukan waktunya liburan atau akhir pekan. Tetapi beberapa penjual tetap berjualan seperti biasanya. Tidak perduli apakah jualan mereka akan laku atau sebaliknya. Setidaknya mereka sudah bekerja keras, dan tinggal ketentuan Tuhan saja mengenai rejeki yang akan mereka terima.


Retno hanya tersenyum tanpa menoleh ke arah adik sepupunya itu. Dia sedang sibuk merapikan daster daster yang tadi dipilih oleh pembeli, walau pada akhirnya mereka hanya membeli satu pasang saja. Tapi Retno tidak mengeluh sama sekali.


"Jauh jauh dari Kalimantan masa nggak beli apa-apa to, Mba?" Kembali Wati menyindir Retno karena tak kunjung mendapatkan reaksi apa pun.


Akhirnya Retno pun tidak tahan pagi untuk menanggapi perkataan dari Wati. Dia menyudahi acara beres-beres lalu menatap Wati sambil menarik nafas dalam.


Sikap Wati yang memang sering tidak memahami kondisi dan situasi orang lain, kerap membuat Retno kesal. Hanya saja Retno selalu berusaha sabar. Dia tidak pernah berusaha untuk membalas apa yang Wati perbuat. Dan selalu berusaha untuk bersikap lemah lembut kepada adik sepupunya tersebut.


"Halah, Leni itu tersesat karena ulahnya sendiri toh? Itu Karma karena dia sering bersikap kurang ajar sama aku!" Sindir Wati dengan logat bahasa Jawa yang kental.


Retno tidak lagi menanggapi perkataan Wati. Apalagi suaminya datang untuk menjemputnya pulang. Hari ini tokonya akan tutup lebih awal.


Keluarganya berencana untuk mengadakan syukuran atas kepulangan putrinya, Leni. Apalagi setelah semua yang terjadi dan dialami oleh Leni di Kalimantan, tentu membuat Retno sangat cemas. Tidak bisa dibayangkan jika terjadi hal buruk pada Putri semata wayangnya itu.


"Udah tutup aja, Mbak?"  tanya Wati tampak sinis saat memperhatikan Retno yang membereskan dagangannya, dan dimasukkan ke dalam ruko.


"Iya, Wat. Aku mau siapkan makanan. Nanti mau ada pengajian di rumah. Kamu datang, ya."


"Pengajian? Acara apa, Mba?"

__ADS_1


"Syukuran kepulangan Leni. Ya sudah, aku pulang duluan, Wat."


Wati Menatap penuh dengan sinis dan kalimat yang terus mengutuk keluarga Retno.


Malam harinya, acara pengajian dalam rangka syukuran kembalinya Leni ke pelukan keluarganya berjalan dengan lancar. Ratna sudah meminta bantuan sanak saudara yang lain untuk membantu memasak hidangan, bahkan dia juga turut andil dalam kesibukan di dapur demi kelancaran acara malam itu.


Sejak kembali dari Kalimantan, Leni lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar. Tidak dapat dipungkiri kalau apa yang sudah dia alami sebelumnya cukup membuat mentalnya tidak baik-baik saja.


Dia lebih banyak diam melamun, dan menghabiskan waktu di kamarnya saja. Tentu saja itu membuat Retno menjadi khawatir. Dia takut terjadi hal buruk dengan putrinya. Apalagi dengan berita-berita yang selama ini beredar mengenai bagaimana mistisnya tanah Borneo.


"Leni, makan dulu, yuk. Ibu masak sayur asem tuh. Kamu belum makan malam, kan?"


"Belum, Bu. Nanti aja deh. Belum lapar. Tadi aku makan camilan banyak soalnya."


Rumah Mereka terlihat berantakan. Gelas bekas teh hangat bertebaran dimana-mana di pojok ruang tamu ada di tengah ruangan bahkan ada juga Teh yang tumpah dan membasahi tikar. Kini tugas Leni dan juga ibunya untuk membereskan rumah tersebut sebelum istirahat malam ini.


Ayah Leni sedang pergi ke rumah neneknya untuk mengantar makanan.  Tinggal di desa membuat jarak rumah antar saudara saling berdekatan. Bahkan rumah Leni seakan-akan dikelilingi oleh rumah-rumah saudaranya yang lain. Begitulah tradisi yang ada di desa-desa. Orang tua mereka Saya memiliki tanah yang cukup luas nantinya tanah tanah tersebut akan dibagi bagi untuk tiap anak-anak mereka yang sudah menikah.


Salah satu ciri khas masyarakat desa adalah gotong royong. Hampir seluruh pekerjaan dikerjakan secara kolektif. Seperti menanam atau memanen, serta mendirikan rumah.


Dalam praktiknya, seseorang yang memiliki hajat seperti hendak mendirikan rumah, biasanya mendatangi rumah warga sekitar untuk minta tolong. Tindakan orang tersebut lebih kepada penghormatan terhadap tetangga. Sebab andai tidak dimintai tolong, masyarakat sekitar dipastikan tetap hadir membantu. Tanpa komando, masyarakat akan berduyun-duyun membantu dari pagi hingga sore. Bahkan rela meninggalkan pekerjaan, demi memenuhi hajat saudaranya. Sementara itu, kelompok istri juga mendatangi rumah tersebut sambil membawa beras dan gula.


Sebenarnya, semangat gotong royong adalah bawaan bangsa Indonesia. Tidak mengherankan, semangat ini disebut sebagai intisari Pancasila. Karena dapat merepresentasikan wajah bangsa sesungguhnya. Dalam urusan membantu, ada kesepakatan tak tertulis setiap orang berkewajiban membantu orang yang membutuhkan. Meskipun tradisi ini bisa ada dan terjadi pada masyarakat perkotaan, tetapi harus diakui bahwa masyarakat pedesaan lebih mahir mempraktikkannya.


Selain hal itu, toleransi menjadi ciri khas penduduk desa. Keakraban, tegur-sapa, komunikasi yang hangat, dan saling menghormati adalah sikap keseharian masyarakat desa. Karakter ini tertanam kuat sehingga konflik dapat ditekan. Masyarakat desa diuntungkan dengan keadaan geografis. Konflik yang kerap terjadi di kota besar tidak tertransmisikan secara masif kepada penduduk desa.


Letak rumah Leni berada di sisi Utara rumah neneknya. Di sebelah Timur adalah rumah dari sepupunya Wati di sebelah barat rumah yang bernama Darman lalu di Selatan rumah adiknya Retno yang bernama Nilam.


Menurut silsilah keluarga, nenek Reni memiliki 4 orang anak yang masih hidup. Dan 3 orang anak yang sudah meninggal cukup lama. Retno adalah anak ke-2 dari 4 bersaudara. Sementara Wati adalah anak terakhir yang memiliki umur yang masih terbilang muda. Di umurnya yang masih muda Wati sudah hidup menjanda dengan seorang anak yang diberi nama Bayu. Sejak dahulu Wati memang kurang menyukai keluarga Retno. Bahkan tak jarang Wati dan Leni terlibat pertengkaran.


Malam itu Leni sudah masuk ke dalam kamar. Dia mudah lelah bahkan untuk kegiatan yang terbilang mudah. Jam baru menunjukkan pukul 10 malam. Leni yang baru saja menyelesaikan tugas tugas kuliahnya Kini ingin segera naik ke ranjang dan tidur. Baru saja ia naik ke atas kasur sambil memejamkan mata dan memeluk guling, Leni dikejutkan dengan suara garukan di tembok. Dia Menajamkan pendengarannya untuk bisa mengetahui sumber dari suara tersebut berasal. Hanya saja Leni yang penasaran lantas mencari sumber suara tersebut. Anehnya saat Leni terus mencari suara tersebut suara itu Justru malah lenyap. Leni mengintip dari balik horden kamarnya. Di depan jendela kamarnya terdapat kebun kebun singkong yang tidak terawat.

__ADS_1


Akhirnya Leni terkejut saat melihat ke kebun singkong di depannya, samar-samar Leni melihat ada bayangan putih berdiri diantara pohon pisang


__ADS_2