pancasona

pancasona
Part 86 Riki kembali


__ADS_3

"Kamu yakin, tau sesuatu?" tanya Abimanyu yang terus mengikuti langkah Nabila. Gadis itu berjalan cukup cepat, bahkan sebenarnya ia terlihat tengah berlari kecil.


"Iya, aku yakin. Soalnya aku pernah lihat mereka keluar dari tempat itu."


"Di mana?"


"Rumah kosong yang ada di ujung sana. Deket rumah dinasku."


"Rumah kosong yang mana sih?"


"Astaga. Yang cat nya warna abu abu. Kata warga desa setempat itu rumah Siska. Korban bullying 7 tahun lalu yang akhirnya masuk Rumah sakit jiwa karena depresi."


"Tunggu sebentar! Siska masih hidup?"


"Enggak. Katanya udah meninggal. Rumor yang beredar gitu. Nggak lama setelah masuk rumah sakit jiwa, anak itu bunuh diri. Katanya sih. Cuma aneh aja, aku belum pernah lihat arwahnya di rumah itu."


Mereka berdua sampai pelataran parkir, di sana sudah ada Adi dan Gio yang menunggu.


"Ke mana kita?" tanya Gio lalu masuk ke dalam mobil disusul Adi di sampingnya. Sementara Abimanyu dan Nabila duduk di kursi belakang.


Di perjalanan Nabila menceritakan semua hal yang ia tau. Walau kedatangan dirinya dan dua temannya itu baru, tapi Nabila termasuk orang yang pandai bergaul dan cukup dekat dengan warga desa. Ia kerap mengobrol dan berusaha berbaur dengan mereka, menelusuri hal hal yang ada di desa ini agar makin akrab.


Rupanya ada kejadian memilukan di desa ini 7 tahun lalu. Bahkan Nabila tau detilnya. Ia menceritakan dengan gamblang semua hal yang ia dengar selama tinggal di desa ini.


"Dulu Siska dibully, sampai-sampai ia depresi. Akhirnya orang tua Siska masukin dia ke Rumah sakit jiwa di kota. Dia sering teriak, bahkan nyakitin dirinya sendiri. Terus beberapa minggu setelah itu, dia ditemukan dengan tangan bersimbah darah. Dia bunuh diri."


"Astaga. Terus?"


"Siska punya temen. Riki namanya. Mereka berdua deket banget. 3 orang anak pelaku bullying itu ditemukan meninggal. Katanya Riki yang bunuh."


"Tunggu sebentar. Pelaku pembully itu nggak ada yang diusut polisi? Sampai bikin Siska meninggal, kan?" tanya Adi penasaran.


"Enggaklah. Mereka saat itu masih kecil. Dan nggak ada bukti atau saksi. Orang tua pelaku bully pakai bawa pengacara segala. Buat nyelamatin anaknya."


"Berapa orang pelakunya?"


"Katanya 10 orang. Tiga orang sudah meninggal. Menurut gue sih, Cindy sama Clarinta ini juga termasuk dari 10 orang itu. Mengingat mereka satu angkatan sama Siska."


"Dari 10 orang, udah 5 orang meninggal? Jadi masih ada 5 orang lagi, ya?"


"Siapa sisanya?"


"Nggak ada yang tau. Pihak sekolah tutup mulut atas kasus ini. Gue juga nyari tau, tapi guru yang lain bilang nggak tau. Entahlah."


"Kalau kita tau siapa 5 orang ini, pasti kita bisa cegah pembunuhan lain yang mungkin akan terjadi," kata Abimanyu dengan tatapan dingin, ke arah jendela.


"Iya, kamu bener. Hm, mungkin nanti aku coba cari tau siapa 5 anak lainnya."


"Tunggu! Maya? Apakah termasuk?"


"Gue juga nggak tau sih. Ada kemungkinan iya, ada kemungkinan nggak."


"Kenapa gitu?" tanya Gio.


"Karena Gibran ini baik banget ke Maya. Sejauh yang gue lihat. Gibran seolah melindungi Maya. Jadi gue ragu kalau Maya termasuk pelaku bullying 7 tahun lalu."


"Semoga Maya bukan korban selanjutnya. Dia anak baik," gumam Abimanyu yang mampu didengar semua orang di dalam mobil.


Mobil melesat lebih cepat. Gaya mengemudi Gio tidak dapat diragukan lagi. Mereka mulai masuki daerah tempat tinggal Nabila. Bahkan rumah dinas Nabila sudah dilewati sejak tadi. Rumah Siska ada paling ujung jalan. Rumah paling besar di lingkungan ini.


"Ini?" tanya Gio, menetralkan mobilnya. Memarkirkan nya ditempat yang rindang agak jauh dari rumah.


"Iya, ini!"


Mereka semua turun. Menatap sekitar dan rumah di depan mereka. Sunyi. Letak rumah ini memang agak jauh dari rumah lain. Desa ini masih banyak didominasi pohon pohon akasia dan pinus. Jadi topografi di sekitar rumah Siska adalah hutan kecil. Untuk menemukan rumah terdekat, berjarak sekitar 1 KM jauhnya. Dan ini adalah bagian jalan terdalam. Jadi aspal sudah habis sampai depan rumah Siska. Sisanya hanya tanah dan hutan.


"Ini rumah Siska? Gede juga, ya!" kata Gio sedikit terpukau.

__ADS_1


"Iya. Malah ini rumah mirip homestay Pak Hermawan," timpal Adi.


"Ngomong ngomong Siska dibully karena apa? Gue pikir dia anak orang kaya? Lihat aja rumahnya." Pertanyaan Gio tadi mang beralasan.


Seseorang mendapat perlakuan bullying biasanya karena status sosialnya. Sementara Siska bukan termasuk orang tidak mampu.


"Karena dia anak sempurna. Justru karena itu. Temen-temennya iri sama kehidupan Siska. Siska pinter, berbakat dalam kesenian. Suaranya bagus. Dia juga pinter bermain alat musik. Tapi dia anak yang gampang down. Sedikit aja dia ditekan, dia jadi sedih. Nggak punya kepercayaan diri lah intinya."


"Jadi gara-gara anak anak itu sirik ke Siska? Mereka berlaku semena mena. Brengsek! Anak kecil padahal, ya. Otaknya udah jahat! Kalau gue jadi Siska gue hajar mereka!" umpat Gio, kesal.


"Siska bukan elu, kunyuk! Elu mah emosian!" timpal Adi.


"Ayo masuk!" ajak Abimanyu berjalan lebih dulu.


Rumah ini masih terlihat rapi dan bersih walau berpredikat "rumah kosong". Beberapa hari sekali akan ada orang yang membersihkannya. Atas suruhan orang tua Siska. Orang tua Siska tinggal di kota. Karena kejadian itu, mereka tidak lagi ingin menginjakan kaki di desa ini lagi. Karena ibu Siska kini sakit keras, mendengar kabar tentang anak semata wayangnya. Bahkan Nabila tau di mana rumah orang tua Siska sekarang. Karena ternyata rumahnya dekat dengan tempat tinggal orang tua Siska.


Gerbang tinggi ini tidak dikunci. Sehingga memudahkan mereka masuk ke dalam. Sekalipun demikian, mereka bak pencuri yang sedang menyatroni rumah korbannya. Mengendap-endap sambil tengak tengok ke sekitar. Takut jika ada orang lain yang melihat mereka.


"Hei! Pelan-pelan. Siapa tau mereka ada di dalam!" cetus Adi.


Sementara Abimanyu justru bertindak lebih cepat. Ia benar-benar mengkhawatirkan Maya. Abimanyu segera masuk ke dalam rumah, karena pintu rumah ini juga tidak dikunci.


"Bi! Sial! Anak siapa sih itu? Main ngeloyor gitu aja!" tukas Gio sebal melihat Abi yang begitu santai masuk ke sarang musuh.


Nabila terkekeh pelan melihat sikap Abimanyu dan reaksi Gio. Dia baru mengenal trio gila itu.


"Anak Arya, ya, begitu dah kelakuannya. Sompral!" kata Gio yang menjawab pertanyaannya sendiri.


"Lah elu pikir elu kagak begitu? Lah kan sama aja lu berdua!" sahut Adi santai. Menyusul Abimanyu yang sudah ada di dalam.


"Heh! Elu juga, ****!"


Pintu ditutup. Rumah ini cukup luas dengan perabotan yang masih komplit dan bersih. Bahkan tidak ada debu yang menempel saat jari menempel pada pajangan di sana. Ada lantai dua juga di sana. Hal itu membuat Abimanyu menyuruh mereka berpencar.


"Gue sama Adi aja yang nyari di bawah. Kalian berdua ke atas," suruh Gio menatap Abi dan Nabila bergantian.


Adi dan Gio mulai mengendap menelusuri tiap sudut ruangan di bawah. Ada ruang tamu, ruang tengah, ruang makan, dapur, kamar mandi, bahkan gudang. Bahkan sejauh ini rumah ini tidak layak disebut rumah kosong.


"Astaga! Maya!" jerit Nabila saat membuka satu kamar. Abi yang mendengar hal itu langsung berlari mendekat. Nabila sudah masuk dan mendekat ke Maya. Abi yang melihat Maya baik-baik saja, lantas baru bisa bernafas lega. Darahnya seolah berdesir saat melihat Maya sedang duduk dengan buku-buku di depannya.


"Kamu ngapain, May?" tanya Nabila.


Maya yang sedang memegang alat tulis, bengong melihat kedatangan Abimanyu. Tak lama Adi dan Gio juga menyusul mereka.


"Loh pada ngapain?" tanya Maya tanpa beban.


"Harusnya kita yang tanya, kamu ngapain di sini?" tanya Abimanyu balik.


"Lagi belajar." Maya masih bereaksi polos tanpa dosa.


"Sendirian? Riki mana?"


"Sekarang sih iya. Tapi tadi sama Kak Gibran juga Kak Risna. Tapi mereka pergi dulu sebentar."


Mereka berempat saling pandang. Sepertinya mereka salah menafsirkan kalau Maya adalah korban selanjutnya. Bukan Maya, Tapi Risna.


"Risna? Risna siapa?"


"Temen sekelas Kak Gibran. Eh kok Bang Abi tau nama Kak Gibran?"


"Nggak penting. Eum, kamu kita anter pulang aja, ya."


"Tapi, Bang. Maya masih nunggu Kak Gibran. Maya mau diajarin PR ini. Susah banget soalnya."


"Nanti Bang Abi ajarin. Kita pulang aja, ya," bujuk Abi yang kini jongkok di depan Maya. Maya diam sejenak, menatap wajah mereka berempat bergantian lalu mengangguk. Ia membereskan buku-buku yang berserakan di lantai. Sementara Abi menyuruh Nabila membantu Maya.


Gio dan Adi keluar dari kamar itu karena ajakan Abi. "Paman punya nomor hape Pak Andrew?" tanya Abi pada kedua paman nya.

__ADS_1


Namun dua pria itu hanya menggeleng. Karena Abimanyu juga tidak memiliki nomor ponsel Pak Andrew. "Gimana, ya."


"Ya sudah. Kita cari aja sendiri dulu. Tapi gimana Maya? Kita bawa pulang dulu apa gimana?" tanya Adi bingung.


"Biar kami pulang jalan kaki aja. Kalian pergi cari Riki sama Risna," sahut Nabila yang baru saja keluar dari kamar. Maya sudah siap dengan tas punggungnya.


"Tapi ...." Abimanyu merasa sedikit keberatan dengan ide itu. Bagaimana pun juga ia tetap khawatir dan tidak tega membiarkan dua wanita itu pulang sendirian. Semua tidak tau di mana Riki berada.


"Nggak apa-apa kok. Aku bisa jaga diri," tukas Nabila.


Abi masih bergeming seolah tidak setuju atas perkataan itu.


"Gini aja, gue telpon Ridwan. Biar dia bawa mobil yang di cafe buat jemput kalian."


Abi masih diam berfikir sejenak. Tapi tak lama ia setuju dengan ide itu.


Mereka menunggu di depan gerbang. Nabila terus menyuruh mereka pergi, karena ia yakin Riki tidak akan ada di sekitar sini karena Risna adalah korban selanjutnya. Walau Abi ragu, tapi akhirnya mereka bertiga pergi juga. Meninggalkan dua wanita di rumah kosong itu.


______


"Kira-kira mereka ke mana, ya?" tanya Adi sambil terus menatap jendela di sampingnya.


"Iya. Desa ini luas banget. Kita harus cari ke mana?!" Gio mulai kesal karena kini mereka kebingungan lagi.


"Sekarang gini, coba kalian fikir. Kalau kalian jadi Riki, kalian mau bunuh Risna di mana?" tanya Abimanyu pada kedua pamannya.


Semua nampak diam. Berfikir keras mencari kemungkinan terbaik yang ada di kepala Riki. Riki bukan orang sembarangan. Otak psikopatnya sudah ada sejak ia kecil. Jadi apa yang ada di fikiran nya tidak akan sama dengan manusia normal lainnya.


"Kalau di rumahnya nggak mungkin, ya," cetus Adi, mengelus dagunya sambil berfikir.


"Lagian Pak Andrew juga sekarang ke sana, kan?"


"Jangan pikirkan kemungkinan termudah. Tapi coba otak kalian berfikir yang melenceng dari otak normal biasanya," pinta Abimanyu.


"Hm, sial! Susah banget sih!" jerit Gio frustasi.


"Kamu nggak ada ide, Bi?" tanya Adi.


"Hm. Ada beberapa kemungkinan sih. Tempat yang sepi. Kalau hutan di sekitar sini rasanya nggak mungkin. Riki pasti ngajak Risna ke tempat yang memang penting buat mereka. Maksudnya entah Riki mau anter Risna ambil sesuatu yang tertinggal atau cari sesuatu buat keperluannya."


"Bener juga. Mereka itu anak kesenian katanya. Bukannya sebentar lagi ada lomba kejuaraan nasional?"


"Aku tau mereka ke mana!" cetus Abi


"Ke mana?" tanya Gio dan Adi bersamaan.


"Ruang kesenian!"


"Bener juga!"


Mereka memutar mobil lalu menuju sekolah, lagi. Gio memacu mobil lebih cepat. Gerimis mulai terlihat di depan mata. Langit terlihat agak mendung. Hati Abi mulai cemas, ia mengirimkan pesan ke Ridwan. Memastikan apakah dia sudah menjemput Nabila dan Maya atau belum.


[Maya dan Bu Nabila sudah pulang sama aku, Bang]


Pesan Ridwan barusan membuat Abi lega. Kini ia bisa fokus menemukan Riki dan menyelamatkan Risna.


Suasana halaman sekolah sudah sunyi. Bahkan makin sunyi dari biasanya. Hari menjelang petang. Otomatis sudah tidak ada orang yang ada di sekolah. Tiga pemuda itu segera turun dari mobil dan berlari menuju ruang kesenian. Pikiran mereka berkecamuk. Takut jika mereka sudah terlambat. Sampai di depan ruang kesenian, mereka diam sejenak. Saling lempar pandang, dan akhirnya Gio dengan tenaga penuh menendang pintu itu hingga terbuka kasar.


Benar saja, Risna ditemukan dalam kondisi terikat di kursi. Ia sedang menangis dengan mulut yang ditutup. Adi segera mendekat dan melepas ikatan itu. Sementara Gio dan Abi langsung mencari keberadaan Riki.


"Riki di mana?" tanya Adi ke Risna yang masih menangis.


"Baru aja pergi. Dia tau kalian datang." Risna masih menangis sambil mencoba menceritakan apa yang ia alami. "Aku takut, Om. Riki ternyata muncul lagi. Aku nggak tau kalau Gibran itu Riki."


"Ya sudah. Kamu aman sekarang," ujar Adi. Risna lantas memeluk Adi seolah mencari ketenangan di sana. Tubuhnya bergetar, ketakutan, sangat. Beberapa luka terlihat di bagian tubuhnya. Kaki Risna terluka bahkan sepertinya retak. Kareja ia tidak bisa menggerakan kakinya sendiri. Otomatis Adi membopongnya turun dan mereka mengantar Risna ke rumah sakit.


Kabar Risna yang menjadi sasaran Riki dengan cepat menyebar. Kini Andrew dan tim nya menyusul mereka ke rumah sakit.

__ADS_1


Risna harus di rawat agar kondisinya pulih. Selain tubuhnya, mentalnya juga terguncang. Akhirnya Andrew menyuruh beberapa orang berjaga di kamar Risna.


"Anda harus cepat, Pak. Riki sudah kembali, segera temukan anak itu!" kata Abimanyu saat Andrew sampai di rumah sakit.


__ADS_2