
Ellea sampai di apartmentnya. Telapak kakinya lecet karena berjalan tanpa alas kaki. Sementara jarak tempuhnya cukup jauh dari tempatnya di sekap. Ia lantas masuk ke kamar mandi dan segera membasuh tubuhnya yang lengket dan bau. Entah sudah berapa lama ia tidak mandi, bahkan ia baru kali ini dapat menghirup udara bebas, bersih dan tidak pengap. Pintu di tutup, ia mulai menanggalkan semua pakaian yang menempel pada tubuhnya. Air mengguyur tubuh mungil Ellea. Ia meringis saat luka yang berada di beberapa titik sudut tubuhnya terguyur air.
Kembali memori ingatan terlintas saat kedua netranya terpejam, di bawah guyuran air yang keluar dari showwer atasnya, Ellea kembali mengingat beberapa kejadian di masa lalu. Ia tiba ke Venesia bersama Ronal, orang yang baru saja ia jumpai tapi sudah banyak menolongnya. Ellea teringat saat ia teritdur di ruang atas rumahnya, di California, gadis itu menemukan sebuah kotak, yang tersimpan di bawah kolong lemari yang menyimpan buku-buku bekas milik Adrian. Ellea tidak sengaja melihat kotak itu saat tertidur di lantai kayu di sana.
Penasaran ia mengambil kotak itu yang sebenarnya sulit di jangkau, Ellea bahkan harus menggunakan sebatang rotan yang ia temukan di dekat lemari buku, Ellea dengan susah payang mendorong kotak itu agar perlahan keluar dari ruang gelap sana, saat kotak itu berhasil keluar ia tersenyum bahagia, entah apa alasannya tapi ia seolah menemukan harta karun rahasia di sana. Ellea membuka kotak itu, dahinya berkerut saat menemukan selongsong pistol, dengan foto dua anak bayi yang berpakaian sama. Ia menatap lekat-lekat foto itu, merasa kalau bayi di foto adalah dirinya, ia membalik foto itu dan melihat sebuah alamat. "Venesia?"
Karena alasan itulah Ellea memutuskan mengikuti Ronal pergi ke Venesia. Setidaknya dia tidak sendirian jika orang-orang jahat itu mencarinya lagi. Bahkan Ronal yang membantunya menemukan Apartment ini.
Tubuh Ellea sudah kembali segar, ia membalut tubuhnya dengan handuk dan keluar mencari kotak obat. Kini luka-luka yang ia terima terlihat jelas, sudah bersih dan bisa ia obati sendiri. Masih dengan tubuh terbalut handuk, ia mulai mengoleskan gel penghilang rasa sakit yang ia dapatkan dari Ronal.
"Kenapa Austin mau bunuh aku?" gumamnya dengan sebuah pertanyaan yang mengganjal, saat teringat penyekapan yang ia alami kemarin. Ia bahkan tidak mengenal siapa Austin. "Terus siapa Alan Cha?" Ia segera memakai bajunya. Koper masih utuh, tidak satupun barang yang ia taruh di lemari. Entahlah, rasanya mungkin ia harus secepat itu kabur sewaktu-waktu. Ellea memakai jaket tebal dan penutup kepala. Berusaha menyamarkan penampilannya agar tidak dikenali orang lain, terutama kelompok Asia Boyz, kawanan Austin, yang pasti kini menyadari kalau Ellea sudah tidak ada di markas mereka lagi. buronannya kabur. Dan San Paz pasti geger.
Ellea keluar dari kamarnya, menoleh ke sekitar memeriksa keadaan. Pistol yang ia temukan di rumahnya, di California, ia simpan di belakang tubuh. Berjaga-jaga jika ada hal buruk terjadi lagi padanya.
Dengan berbekal alamat yang ia temukan di belakang foto bayi ini, ia lantas pergi ke alamat tersebut. Ia ingin mengetahui siapa yang ada di alamat ini. Sejak ia datang ke Venesia, Ellea belum sempat mencari alamat ini. Satu-persatu anak buah Austin membuatnya terus disibukkan dengan aksi melarikan diri.
Malam ini, ia bertekad, untuk menemukan alamat tersebut. Walau ini sudah tengah malam, Ellea nekat pergi. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali bisa tidur nyenyak. Tidak ada bedanya siang atau malam. Baginya semua sama. Semua hal yang ia alami tidak bisa membuat tidurnya nyenyak, bahkan di malam hari sekalipun. Sejak kematian ibunya, ia tidak pernah merasakan lagi tidur yang cukup. Rasa sedih itu masih menggerogoti hati Ellea, kala teringat Ruth. Harapannya sirna sekejap, saat tau Ruth menghembuskan nafas terakhirnya. sejam saat itu, ia tidak bisa terlelap seperti biasanya. Ia bahkan kerap tertidur sendiri karena saking lelahnya. Dan terbangun karena terkejut, bisa karena mimpi buruk atau hal lain, seperti teror Austin.
Ellea mencari taksi. Jalanan yang sudah sepi membuatnya kesulitan mencari transportasi umum tersebut. Hingga ia melihat Ronal di kejauhan. Matanya berbinar, tangannya mulai menjulur ke atas, dan memanggil nama pemuda itu." Ron?!" jerit Ellea dengan senyum sumringah khas dirinya.
Ronal tengak tengok mencari sumber suara yang memanggil namanya. Ia baru keluar dari toko kelontong yang jika di Indonesia mirip minimarket yang berjejer di tiap jalanan kota. Di sini toko kelontong seperti ini adalah milik pribadi, perorangan, bukan franchiseer perusahaan besar.
Tidak terlalu sulit mencari sosok yang memanggilnya, Ronal tersenyum lalu berlari kecil ke arah Ellea. Ia sempat terkejut karena melihat gadis itu lagi. Padahal seingatnya, Ia melihat Ellea di bawa gerombolan orang beberapa waktu lalu. dan yang di rumahnya ada Allea.
"Kamu mau ke mana?" tanya Ronal heran melihat penampilan Ellea yang tertutup, bahkan ia sempat tak mengenali saat pertama kali melihat. Ia mirip seorang pria dengan setelan seperti itu. apalagi kepalanya tertutup jaket hodie hitam.
"Ke sini." Ellea menunjukkan foto di tangannya dengan sebuah alamat yang membuat Ronal menarik nafas panjang. "Aku penasaran sama alamat ini. Ini ada di dalam fotoku waktu bayi. Dan siapa dia?" tanya Ellea menunjuk bayi yang ada di sampingnya. Ronal menatap gadis di depannya beberapa saat. Ia tak tahan lagi untuk menceritakan hal ini. hal yang mungkin bisa menjadi berguna untuk mereka nanti.
"Kamu ikut aku dulu. Ada yang pengen ketemu kamu," ajak Ronal, langsung menarik tangan Ellea. Gadis itu bingung, tapi ia tetap menurut saja. Ia yakin Ronal bukan salah satu orang yang menginginkan kematiannya. Rumahnya dengan toko kelontong itu tidaklah jauh. Ronal memang pergi ke sana untuk membeli beberapa kebutuhan untuk makan malam. Allea berencana memasak di rumahnya. ia yang tidak pernah kedatangan tamu lantas kebingungan karena lemari pendinginnya hanya terisi botol air mineral saja.
Hanya beberapa blok kini mereka sampai di rumah Ronal. Ellea memang pernah ke sini sebelumnya. Saat pertama kali ia sampai di Venesia, tempat ini yang ia datangi bersama Ronal. Rumah Ronal. Tapi ia tidak masuk ke dalam. Karena saat itu, Ronal berjanji akan mengajaknya mencari tempat penginapan.
" Tunggu! Siapa yang mau ketemu aku? "tanya Ellea menahan tangan Ronal saat mereka hendak masuk ke dalam. Ia baru sadar kalau di tempat ini, dirinya tidak mengenal siapa pun.
"Yang jelas bukan salah satu dari mereka. Dan aku yakin kamu bakal seneng liat mereka." Pernyataan yang membuat tanda tanya besar di kepala Ellea. Ia tidak terpikiran satu nama pun di sana. Siapa orang yang akan membuatnya bahagia jika bertemu dengannya? Tidak ada satupun, pikirnya.
Pintu dibuka. Jantung Ellea berdetak makin cepat. Penasaran juga takut.
" Aku pulang," seru Ronal dengan logat bahasia Indonesia yang sedikit lucu. Ellea terus mengekor pada pemilik rumah ini, namun saat ia mulai masuk ke ruang tengah, gadis itu terkejut melihat seorang pemuda yang ia kenal. Wajahnya, postur tubuhnya dan tatapan matanya. ia masih hapal betul semua gestur tubuhnya itu.
__ADS_1
"Biyu?!" jerit Ellea dengan panggilannya dulu, lututnya lemas. Ia tak sanggup berjalan kala melihat sosok Abimanyu yang berdiri di depannya. Abi yang saat ini menatapnya nanar lantas berjalan perlahan mendekati Ellea. "Ell?" panggil Abi. Mereka sudah saling berhadapan. Tangan Ellea mendarat di pipi Abimanyu. Pemuda itu langsung menarik tubuh mungil Ellea ke dalam pelukannya. Ellea juga membalas pelukan Abi lebih erat. Entah sudah berapa lama mereka tidak berjumpa. Rasa rindu kini membuncah tak lagi tertahankan. Masing-masing saling melepas kerinduan.
"Kamu nggak apa-apa, Ell?" tanya Abi cemas. Tentu ia cemas. bagaimana tidak? Abi sudah banyak mendengar kejadian dan bahkan mengajaknya sendiri. Pasti Ellea juga sudah merasakan banyak hal buruk selama ini.
"Kamu kenapa di sini, Bi?"
Keduanya memiliki banyak pertanyaan yang ingin segera ditumpahkan dengan menuntut semua jawaban dari mulut masing-masing. Pelukan dilepaskan, memberi ruang untuk dua pasang netra itu bertemu dan saling memeriksa keadaan pasangannya. Senyum merekah di bibir keduanya. Air mata mengalir, bahkan Abi berkaca- kaca melihat gadis itu kini ada di depannya. Ia lega kalau Ellea baik-baik saja. Yah, dia Ellea. karena hanya Ellea yang memanggilnya "Biyu."
"Ell?" suara Vin membuat sepasang sejoli itu melepaskan tatapan mereka yang terikat satu sama lain. Ellea tersenyum melihat Vin dan mereka juga saling berpelukan. "Sorry Vin, gue belum sempat main ke rumah lo."
"Its oke, Ell. Gue tau elu udah ngalamin hal berat. Untung kita masih bisa ketemu lagi. Gue sama Abi nyari elu ke mana-mana selama ini."
"Abi sejak kapan di sini?" tanya Ellea pada Vin tapi juga menoleh ke Abimanyu.
"Udah beberapa hari. Hampir seminggu. Dia ke sini nyari lu."
"Ell," panggil Abi saat seorang wanita yang mirip dengannya keluar dengan nampan berisi teh dan kopi. Ellea terkejut, begitu juga dengan Allea.
"Loh dia?" tanya Ellea, menunjuk sosok kembarannya.
"Itu Allea. Kalian kembar, ya? Bisa mirip gitu? )" tanya Vin, memperkenalkan gadis yang kini sedang Ellea tatap.
"Tunggu! Jangan-jangan kamu .... " Ellea mengambil foto di saku jaketnya. Vin dan Abi melihat kertas yang ada di tangannya, dan ikut melotot kaget. "Kalian beneran kembar?" seru mereka bersamaan.
"Mereka memang saudara kembar," kata Ronal dan otomatis membuat semua orang kini beralih menatapnya.
-------
Lima orang itu kini duduk di sofa ruang tengah rumah Ronal. Ronal terus ditatap tajam oleh keempat orang tamu yang kini menuduhnya pengkhianat.
"Kenapa lu nggak bilang dari awal?"
"Lu siapa sih, Ron? Pantes aja lu mau nolongin gue dan bawa gue ke sini."
"Lu pasti salah satu dari orang-orang itu, kan?"
Ronal menarik nafas panjang. Wajar jika mereka memberondongnya dengan banyak pertanyaan seperti ini. Dan tidak membiarkannya menjawab satu persatu pertanyaan itu.
"Tunggu. biar gue jelasin." Kalimatnya berubah. Dari panggilan aku kamu menjadi elu gue.
__ADS_1
....
"Gue nggak tau sebelumnya kalau kejadiannya bakal serumit ini. Waaktu di California, gue di suruh orang buat bawa Ellea," jelas Ronal, menunjuk gadis yang baru saja datang bersamanya, dan diyakini kalau dia adalah Ellea, "Gue dibayar orang untuk bawa elu balik ke sini dengan selamat. Setelah itu bukan urusan gue lagi. *
"...." Semua diam menunggu penjelasan selanjutnya.
"Tapi saat elu," lanjut Ronal, kini menunjuk Allea, "Sering dateng ke coffe shop gue, gue merasa aneh. Karena elu sama sekali nggak inget gue. Itu aneh. Kalian berdua bagai satu orang dengan dua kepribadian ganda menurut gue waktu itu. Tapi perlahan gue tau kalau ternyata kalian dua orang yang berbeda dengan wajah satu. Alias kembar. Cuma itu," jelas Ronal, mengerdikan kedua bahunya, mengakhiri informasi yang ia sembunyikan selama ini.
"Siapa yang bayar lu?" tanya Abi, dengan tatapan dingin yang perlahan terus merasuk hingga sendi-sendi tulang Ronal terasa ngilu.
"Sorry gue nggak tau. Karena dia hubungin gue lewat telepon, dan pembayaran juga langsung masuk ke rekening gue. Jadi gue nggak pernah ketemu atau lihat wajahnya."
"Kok elu bisa sih ngelakuin kerjaan kayak gini?" tanya Vin, penasaran. Memang aneh, seorang pekerja di coffe shop merangkap orang bayaran dengan pekerjaan berbahaya
"Gue kuliah, bro. Gue butuh duit banyak buat biaya kuliah dan hidup gue di sini. Jadi kerjaan apa aja gue lakuin."
"Jadi kami kembar?" tanya Allea yang kini membuka suara, tatapannya tertuju pada Ronal.
"Iya, kalian kembar. Karena beberapa hari lalu, ada orang yang hubungin gue dan minta gue jagain lu juga. Gue disuruh nyari elu, dan kalau misal udah ketemu, dia mau ke sini, buat jemput lu," katanya ke Allea.
"Siapa?"
"Enggak tau." Ronal menggeleng, "Tapi yang jelas, dia bukan orang yang mengincar nyawa kalian berdua. Mungkin ada dua pihak yang menginginkan sesuatu dari kalian."
Hening.
Semua disibukkan dengan pikiran masing-masing. Allea menggenggam tangan Ellea yang kini duduk di sampingnya. "Gue nggak nyangka kalau gue nggak sendirian di dunia ini. Coba aja kalau ingatan ini pulih, mungkin gue bisa tau ada apa sebenarnya," runtuk Allea.
Ellea tersenyum lalu memeluk saudaranya. "Perlahan kita pasti tau alasannya. Yang jelas, gue juga lega. Karena gue nggak sendirian menghadapi masalah ini. Sekarang ada kalian."
"Kalau kalian kembar, berarti bokap lu sama nyokap lu, orang tua Allea juga dong, ya?" tebak Vin.
"Mereka di mana? Gue pengen ketemu orang tua gue," pinta Allea.
"Udah meninggal." Raut wajah Ellea berubah sendu. Ia menarik nafas panjang, sambil kembali mengingat peristiwa naas yang merenggut kedua orang tuanya, dan memporak porandakan hidupnya.
"Kenapa kamu nggak pulang aja ke Indonesia, Ell?" tanya Abi.
"Aku bingung, Biyu. Rasanya aku ingin mati saja kala itu. Semua orang pengen aku mati. Daan aku nggak tau apa alasannya."
__ADS_1
Kalimat itu terdengar miris. Mereka paham apa yang dialami Ellea sangat berat." Aku janji, bakal terus di sini nemenin kamu. Maaf kalau aku nggak ada di saat kamu membutuhkan aku, Ell. "
Ellea tersenyum. Ia bahagia karena bisa melihat Abimanyu lagi.