pancasona

pancasona
Part 79 Peperangan di mulai


__ADS_3

"Apa? Tidak mungkin, paman," elak Abimanyu yang seolah menolak takdir.


"Bos, apa alasanmu berkata demikian?" tanya Lian penasaran.


"Karena sejak awal kami tidak bisa mengendus keberadaannya. Sementara Kallandra biasa masih bisa menunjukan ciri khas Kalla. Tapi Nayaka?" tanya Lian lagi, memastikan.


"Kalian yakin? Kalau sejak awal tidak merasakan hal aneh saat di dekat Nayaka?"


Elang dan Abimanyu saling pandang. Mencoba mencari hal yang mungkin terlewat dari ingatan mereka. Tiba-tiba, Abimanyu melotot.


"Astaga!" pekiknya.


"Apa? Kau ingat sesuatu?" tanya Elang. Lian juga terlihat penasaran.


"Eum, entahlah, aku juga tidak begitu yakin akan hal ini. Tapi aku teringat sesuatu."


"Apa itu?"


"Saat itu, cafe sedang tidak begitu ramai pengunjung. Lalu ada seorang wanita yang masuk ke cafe. Aku dan Nayaka sedang ada di meja barista. Nayaka ada di depanku. Anehnya, saat wanita itu memesan minuman, dan pergi, Nayaka menghirup udara dengan ekspresi sangat menikmatinya. Ia berkata,"Hm, baunya sungguh menggiurkan. Santapan yang lezat sepertinya." Saat itu aku hanya tersenyum menanggapi perkataannya. Aku fikir dia hanya sedang bergurau saja."


"Gila! Kalimatnya saja sungguh mengerikan. Ah, Bi? Bagaimana cara dia mengucapakannya saat itu? Ekspresi dan cara bicaranya."


"Maksudmu seperti apa, Lian?"


"Nada bicaranya. Apakah dia mengatakan hal itu seperti biasa saja. Seperti mengobrol biasa denganmu. Atau ada penekanan. Atau apa pun itu. Ekspresi nya, Bi!" jelas Lian agak jengkel.


Abimanyu kembali mengingat peristiwa itu. "Eum, sebenarnya jika diingat lagi, saat itu dia seperti bukan Nayaka yang biasanya ku kenal. Dia mirip psikopat di film. Cara dia mengucapkan seolah benar-benar menikmati aroma tubuh wanita itu."


"Bukan aura tubuh. Tapi hawa kehidupannya!" potong Elang.


"Astaga! Rupanya orang yang kita cari sungguh dekat." Lian kembali panik. "Jadi bagaimana dengan Gio, Adi, dan Vin?"


"Bi, sepertinya ini saatnya," kata Elang serius.


"Tapi ... Pedang itu ...."


"Pasti sudah jadi. Tinggal kita ambil!" ucap Elang mantap. Ia beranjak lalu meraih jaketnya. "Kalian tunggu sini! Aku pergi sebentar."


"Paman?"


"Sebentar saja."


______


Nayaka masuk ke ruang kerjanya. Melepas kancing bajunya sebagian. Duduk di kursi kebangsaannya. "Hm, terima kasih santapan malamnya, Lyd. Aku pasti akan sangat merindukanmu."


Alicia makin beringsut mundur, sangat ketakutan. Ia menutupi mulut dengan kedua telapak tangannya. Khawatir akan suara cemas yang keluar dari mulutnya sendiri.


Nayaka menoleh ke monitor samping. Menonton kegiatan semua orang, eum lebih tepatnya semua Kalla di gedung ini. Netranya tertuju pada satu orang yang masih menjadi satu-satunya manusia di gedung ini. Chris.


"Wah, aku melupakanmu, Chris." Pria yang kini ada di layar monitor itu tengah duduk di meja bertuliskan security di depannya. Chris sudah menjadi penjaga gedung ini bertahun-tahun lamanya. Dia sosok yang tegas dan supel. Mudah akrab dengan orang lain. Karena ia memang harus mengamati perilaku setiap orang di gedung ini. Dengan kemampuannya itu, Chris sering menangkap pencuri atau kejadian penyekapan yang memang beberapa kali kerap terjadi di sini. Ia sangat mudah menangkap gerak-gerik mencurigakan dari lawan bicaranya.


"Baiklah. Mungkin ini juga akan menjadi malam terakhir untukmu. Tunggu aku sebentar. Aku akan turun," kata Nayaka dengan nada pelan di tiap katanya.


Ia mengambil kantung plastik yang berisi sampah yang ada di depan meja kerjanya. Alicia terus berusaha menutup tubuhnya dan berdoa agar persembunyiannya tidak diketahui Nayaka.


Nayaka keluar dari ruang kerjanya sambil bersiul. Langkahnya dibuat pelan sekali. Pintu terdengar ditutup dari luar. Hal itu membuat Alicia bisa bernafas lega. Ia terus menangis karena panik. Alicia segera keluar dari kamar Nayaka.


Nayaka yang sudah turun dari lift, hendak melewati Chris yang masih duduk di tempatnya. "Sampahmu sudah banyak, ya."

__ADS_1


"Yah, aku lupa membuangnya kemarin malam, Chris," kata Nayaka yang berjalan menuju pintu keluar.


"Oh iya, temanmu akan menginap di sini?" Pertanyaan Chris membuat langkah Nayaka terhenti. Ia menoleh.


"Teman? Teman yang mana?" tanya Nayaka bingung.


"Alicia. Bukan, kah, tadi dia naik ke atas?" tanya Chris.


Nayaka menatap ke arah lift dengan smirk khasnya. "Ah, kau benar. Aku lupa. Maaf, Chris. Sepertinya Alicia akan menginap."


Lift menutup. Nayaka tersenyum penuh arti sepanjang jalan. Ia mengurungkan niat menghabisi Chris malam ini. Karena rupanya ada tikus kecil yang sedang bersembunyi di dalam kamarnya.


Nayaka sampai di lantai kamarnya. Ia bermain-main dengan jari telunjuknya. Menempelkannya di tembok sepanjang ia berjalan. Ia terus bersiul. Sampai di depan pintu kamar, Nayaka membukanya. Memanggil nama Alicia berkali-kali.


Sunyi. Ia berjalan ke ruang kerjanya. Memeriksa monitor di sana. Ingin tau ke mana tikus kecilnya pergi. Nayaka meraih telepon genggamnya. Menghubungi Chris.


"Chris kunci pintu keluar. Alicia baru saja mencuri beberapa barang berhargaku. Sekarang dia pasti akan pergi dari gedung ini. Aku tengah mencarinya Alicia di tiap tempat. Sepertinya dia sedang bersembunyi." Nada bicara Nayaka dibuat seolah sedang cemas dan gugup.


Chris segera melakukan seperti yang diperintahkan Nayaka. Mengunci pintu keluar dan berjaga. Karena hanya ini pintu keluar yang ada, maka Alicia pasti akan datang ke tempat ini. Jadi Chris tidak akan pergi ke mana-mana.


Nayaka memeriksa semua monitor di gedung ini. Dia memutar ulang saat beberapa menit Alicia datang. Nampak wanita itu yang masuk ke kamarnya. Lalu ke ruang kerjanya. Ia juga melihat Alicia yang sedang menatap monitor di depan. Alicia ketakutan. Dan berakhir saat wanita itu bersembunyi di bawah meja kerjanya. "Ah, dasar tikus kecil. Rupanya kau melihat semuanya?!" gumam Nayaka. Ia bahkan melongok ke bawah meja yang sudah kosong.


"Mari kita lihat tikus kecil ini pergi ke mana." Nayaka melanjutkan pencarian. Ia terus melihat Alicia yang ketakutan dan berlari keluar kamarnya. "Ternyata di situ kau, Alicia?" Nayaka yang sudah menemukan tempat persembunyian Alicia segera keluar dari kamarnya.


_____


Di sisi lain, mobil Gio terus melesat memasuki kota. Jalanan kota benar benar sudah sunyi. "Gila! Baru beberapa hari saja aku merasa kota ini adalah kota mati!"


"Kau benar, Gi. Sepertinya populasi Kalla lebih mondominasi. Sebaiknya Elang dan Abimanyu segera bertindak."


"Vin, kau hubungi Elang. Beri tau keadaan di sini."


"Bi? Mana Elang?" tanya Vin.


"Dia sedang menyetir di sampingku."


"Memangnya kalian akan ke mana?"


"Kami menyusul kalian. Berhati-hatilah dengan Nayaka."


"Nayaka? Memangnya kenapa?"


"Dia adalah Arkie!"


"Apa?! Kau serius?!" pekik Vin yang duduk di jok belakang. Gio dan Adi otomatis menoleh ke belakang.


"Kenapa?" tanya Adi pada Vin.


Vin tidak menjawab lalu menutup panggilan teleponnya. "Nayaka adalah Arkie! Elang dan Abimanyu sedang menyusul kita. Lebih baik kita waspada."


"Astaga! Nayaka?!"


"Eum, apakah kita bisa menghadapinya? Sementara menghadapi Kallandra saja ... Kita tidak sanggup." Kalimat Adi membuat semangat mereka meredup.


"Sekalipun aku harus mati, aku rela. Asal makhluk keji itu musnah dari muka bumi ini," kata Gio yang terus mengemudi.


Mobil mereka mulai dekat apartment Nayaka.


_______

__ADS_1


Nayaka mulai berjalan di sepanjang koridor. Memanggil nama Alicia. Karena bosan, ia memanggil seluruh penghuni apartment. Ia hanya memanggil dengan memusatkan pikiran pada jawabannya di gedung ini. Satu persatu Kalla muncul dengan wujud asli mereka tentunya. Karena di gedung ini hanya tinggal Chris saja yang masih manusia. Mereka berjejer di sepanjang koridor. Kepala menunduk sebagai bentuk rasa hormat pada pimpinan mereka. Nayaka berjalan di tengah-tengah. Kedua tangannya dimasukan ke dalam saku celananya.


"Malam ini sepertinya akan menjadi malam yang panjang untuk kita. Aku memiliki penyusup di gedung ini. Hanya saja, dia pintar sekali bersembunyi. Jadi tugas kalian untuk menemukannya, dan bawa padaku."


"Baik, tuan," jawab mereka serempak sambil mengangguk. Semua Kalla bubar dan mulai pencarian.


Tanpa diduga Alicia sudah sampai di lobi. Ia melewati tangga darurat dengan tubuh yang sudah lemah. Ia melihat Chris dari kejauhan. Alicia ragu untuk mendekat. Karena ia tidak tau apakah Chris adalah bagian dari Nayaka atau manusia.


Alicia mengirim pesan pada Abimanyu, agar memeriksa Chris. Abimanyu segera melakukan panggilan video ke Alicia. Tanpa banyak bicara, Alicia mengarahkan layar ponselnya ke arah Chris.


Abimanyu memincingkan matanya. Menatap Chris lekat-lekat. "Dia masih manusia." Kalimat Abimanyu membuat Alicia lega. Lalu ia segera berlari ke arah Chris yang sedang berdiri di depan pintu.


Chris yang melihat Alicia mendekat, lantas mengeluarkan pentungan yang ada di ikat pinggangnya. "Berhenti!" ancam Chris dengan bersikap waspada.


Alicia menghentikan langkahnya. Ia tengak tengok khawatir jika Nayaka juga ada di dekat mereka.


"Chris, kita harus pergi dari sini!" kata Alicia dengan wajah ketakutan.


"Tunggu! Keluarkan hasil curianmu dulu. Aku yakin Nayaka akan memaafkanmu. Atau kita pergi ke kantor polisi saja? Kau pilih yang mana?" tanya Chris yang membuat Alicia bingung.


"Mencuri? Aku? Tidak! Dengar Chris ini tidak seperti apa yant kau pikir! Akan aku jelaskan. Tapi kita harus pergi dulu. Terserah kalau kau mau membawaku ke kantor polisi atau ke pengadilan sekalipun. Asal kita pergi dulu dari tempat terkutuk ini!" rengek Alicia.


Chris yang terbiasa memperhatikan perilaku orang lain, menangkap kejujuran di mata Alicia. Entah mengapa ia merasa Alicia tidak bersalah. Dan tuduhan Nayaka tidak benar. "Apa maksudmu, Alicia?"


"Chris kumohon buka dulu pintu ini! Setelah itu kau boleh melakukan apa saja. Asal kita pergi dari tempat ini. Kumohon ...." Alicia makin histeris menangis. Terlebih saat Lift tiba-tiba saja terbuka.


Mereka berdua menoleh ke arah lift. Suara langkah kaki menggema. Alicia makin gusar, sementara Chris makin bingung. Alicia mendekat ke Chris.


"Oh, Nayaka. Alicia ada di sini. Apakah kau yakin dia mencuri sesuatu di kamarmu?" tanya Chris begitu melihat Nayaka yang keluar dari pintu lift.


Nayaka berjalan santai ke arah mereka. Sementara Alicia beringsut mundur. Bersembunyi di balik tubuh Chris. Ia bahkan memegang tangan Chris dengan gemeteran. Chris yang menyadari ada yang tidak beres mencoba melihat sikap Nayaka yang tetap santai sejak keluar dari lift.


"Dia bukan manusia," bisik Alicia tepat di telinga Chris.


"Apa maksudmu?" tanya Chris dengan berbisik juga. Tapi Nayaka tentu mendengar pembicaraan mereka. Di belakangnya, tepat saat lift berhenti keluar beberapa orang.


Melihat pemandangan itu, Chris baru menyadari kalau perkataan Alicia memang benar. "Apa itu?" tanya Chris.


"Chris ayo buka pintu ini. Kita harus pergi. Jika tidak kita akan mati!" tangis Alicia makin menjadi. Terlebih kini dari arah tangga darurat juga muncul makhluk dengan bentuk yang sama. Jika Nayaka bukan bagian dari mereka pasti dia akan ketakutan sama seperti dirinya dan Alicia sekarang.


Chris mengambil kunci dari saku celananya. Dengan tergesa-gesa ia membuka pintu di belakangnya. Di saat itu, salah seorang Kalla berlari mendekat dan menarik kepala Chris dan membantingnya ke lantai. Alicia histeris. Menutupi telinganya dengan ketakutan. Chris diserang oleh Kalla dengan brutal. Ia dicabik, digigit hingga darahnya muncrat ke mana- mana. Alicia lari berusaha menyelamatkan dirimu sendiri. Di saat yang bersamaan, kaca pintu pecah karena lemparan seseorang. Tempat sampah berserakan di dalam. Di luar nampak tiga pria yang baru saja sampai.


_____


Mobil sampai di trotoar jalan. Gio memarkiran dengan asal. Dari kejauhan gedung yang menjadi tempat tujuan mereka nampak riuh. "Wow, gila. Kita harus menghadapi sekelompok makhluk penghisap di sana," cetus Gio bersemangat.


Mereka bergegas turun dari mobil. Melihat keadaan di dalam membuat hati kesal. "Brengsek!" umpat Vin yang melihat seorang wanita dikejar-kejar makhluk mengerikan di dalam. Ia meraih tempat sampah terdekat lalu melemparnya ke dalam.


Bunyi kaca pecah terdengar nyaring di sepanjang jalan. Makhluk di dalam menoleh ke arah mereka.


Mereka sudah bersiap dengan senjata masing-masing. "Ready?" tanya Adi mengeluarkan samurai andalannya.


"Of course! Kau tidak lihat, pedangku sudah mengkilap dan sangat tajam?" sahut Gio memamerkan benda mengkilap di tangannya.


Vin mengeluarkan dua buah belati. Tidak hanya dua, bahkan ia memakai sepatu yang dilengkapi pisau kecil di bawahnya.


Kalla mulai berjalan mendekati ketiga pria itu. Melupakan keberadaan Alicia yang sudah tidak dianggap penting lagi.


Peperangan dimulai.

__ADS_1


__ADS_2