
Hari ini mereka pulang ke Indonesia. Kasus tentang Kartel Ransford akhirnya naik ke permukaan. Semua media, baik cetak, dan elektronik mengangkat kasus ini. Heru adalah salah satu orang yang banyak andil dari pemberitaan ini. Ia orang pertama yang mengangkat berita ini ke media. Heru yang sudah melihat situasi dengan baik, yakin kalau artikelnya akan naik ke permukaan dan menyelamatkan nyawa serta kariernya.
Nicholas diberhentikan dengan tidak hormat. Rupanya Yuri tidak main-main atas ucapannya. Ia benar-benar memegang janjinya. Tidak pandang bulu, walau Nicholas adalah keluarganya sendiri. Ia juga harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Yang pasti ia akan meringkuk penjara untuk waktu yang lama. Kartel Ransford dipastikan bubar. Polisi dipastikan akan terus mengawasi kegiatan dari masing-masing Gangster. San Paz akan sering kedatangan patroli dari polisi setempat. Tapi kegiatan mereka tidak akan berhenti dan akan terus berjalan, hanya akan lebih terorganisir dan terus mendapat perhatian pihak berwajib. Kartel jahanam itu sudah musnah.
Allea dan Ellea sementara pergi ke rumah sanak saudara. Mereka harus menjelaskan beberapa masalah yang kemarin di alami. Juga tentang status mereka yang sebenarnya. Di sini hanya ada keluarga dari Adrian dan Ruth. Tapi ternyata Andrie Wongso dan Lin, selaku orang tua kandung Ellea dan Allea, kerap datang ke rumah Adrian dan Ruth. Seluruh keluarga besar Adrian dan Ruth tau tentang status Ellea selama ini, tapi demi keselamatan Ellea, mereka merahasiakan semuanya. Kini saudara kembar yang terpisah 25 tahun lamanya itu sudah berkumpul bersama. Mereka sepakat tinggal beberapa hari di rumah kakak dari Adrian. Mereka juga cemas tentang keadaan Ellea setelah tau Adrian dan Ruth meninggal. Karena Ellea juga tidak pernah lagi pulang setelah kejadian itu. Kakak Adrian juga menyusul bahkan mencari Ellea selama ini. Akhirnya mereka berkumpul bersama lagi.
Abimanyu mengajak Vin menginap di rumahnya untuk sementara waktu, Vin juga menyetujuinya karena untuk pulang ke rumah kenangan itu pasti cukup berat bagi mereka berdua, Abimanyu dan Gio. Tanpa Adi. Maka Vin berniat membuat keadaan mereka sedikit lebih ramai. Mereka mulai memasuki rumah kayu itu. Rumah yang sudah lama ditinggalkan sejak kejadian penculikan kala itu. Dan suasana duka kini kembali menyelimuti setiap orang. Terutama Gio dan Abimanyu. Mereka hanya duduk di sofa dan memperhatikan tiap detil rumah yang tidak banyak berubah. Gio beranjak lalu duduk di kursi meja makan, ia mengingat saat Adi memasak di dapur membuatkannya sarapan dan mie instant saat mereka begadang tiap malam.
"Vin kalau elu mau istirahat ke atas saja. Ada kamar kosong," kata Abimanyu dengan tampang lesu. Ia berjalan gontai ke tangga menuju kamarnya. Vin hanya menatap dua orang itu nanar. Ia tau, pasti berat bagi mereka telah kehilangan salah satu orang terdekat mereka.
"Om Gio, warung paling dekat mana, ya?" tanya Vin.
"Ujung jalan sana, yang belokan tadi kita lewatin. Emangnya mau beli apa?"
"Beli cemilan sama buat kita makan malam nanti. Nggak ada apa-apa, kan, di kulkas?"
"Hm, iya juga. Lupa tadi nggak mampir sekalian, ya. Ya udah yuk, gue anterin."
"Eh, nggak usah, Om. Vin sendirian saja. Om istirahat aja di rumah," elak Vin. Ia lantas memakai kembali jaketnya dan pergi keluar rumah.
Saat ia di luar rumah, hawa segar menyeruak ke dalam hidung. Ia cukup menikmati suasana di pedesaan seperti ini. Vin memang suka tempat dengan nuansa alam seperti Desa Amethys. Hari sudah menjelang malam, senja mulai menampilkan semburat merah terlihat di ujung langit. Vin berjalan melewati barisan pohon yang ada di sekitarnya. Rumah Abi memang ada di tengah hutan. Walau bisa dilewati oleh kendaraan, tapi tetap saja di sekitar rumah ini hanya didominasi pepohonan. Dan dia memutuskan berjalan kaki.
Vin terus mengikuti jalan setapak yang akan menuju ke jalan utama. Suasana tampak khas hutan sepi. Jarang dilewati manusia. Mungkin karena rumah Abi terletak paling ujung dari desa ini, maka warga memang jarang datang sampai ke daerah ini. Langkah Vin terkesan santai. Di tangannya ada kamera digital yang sengaja ia bawa. Tampaknya ia sengaja ingin mengabadikan beberapa obyek yang menarik. Beberapa bunga yang baru mekar, Vin abadikan. Juga hewan-hewan yang terlihat masih ada di beberapa sudut hutan. Bukan macan atau sejenisnya, tapi hanya kelinci dan **** hutan.
Vin berhenti, saat mendengar suara ranting pohon yang terinjak seseorang atau sesuatu. Ia menoleh karena merasa di belakangnya ada orang yang sedang mengintip. Tapi saat ia menoleh ia tidak menemukan apa pun dan siapa pun. Perasaan Vin mulai tidak enak, akhirnya ia memutuskan segera pergi dari tempat ini dan melanjutkan perjalanannya ke warung. Tetapi langkah Vin kembali tertahan karena mencium bau busuk yang cukup menyengat. Ia juga mendengar suara riuh lalat yang ada di sebuah semak-semak. Dengan ragu, Vin mendekat. Ia sedikit gentar karena tidak tau apa yang ada di balik semak itu. Tapi rasa penasarannya lebih unggul saat ini. Ia lantas menyibak semak-semak, namun apa yang ia temui sungguh di luar dugaannya.
Vin bahkan sampai jatuh terjungkal ke belakang, saat yang ia temui ternyata adalah mayat. Mayat manusia yang mengerikan. Tubuhnya sudah dipenuhi lalat yang cukup banyak. Baunya juga sudah menyengat, dan kondisinya sangat memprihatinkan. Vin lantas mendekat untuk memeriksa apa yang terjadi pada orang itu. Rupanya beberapa bagian tubuhnya seperti terkoyak, bahkan tulangnya sampai terlihat. Darahnya sudah mengering yang menandakan kalau dia meninggal sudah agak lama. Belatung juga mulai menggerogoti tubuh itu.
Makin lama perut Vin terasa penuh. Ia mual, dan akhirnya muntah. Vin sudah tidak tahan melihat hal menjijikkan di depannya. Wajah orang itu pun sudah tidak dikenali lagi. Vin lalu tengak tengok ke sekitarnya. Suara geraman terdengar samar di tempat ia berdiri. Dan hal itulah yang membuatnya berlari kembali ke rumah Abimanyu.
"Bi! Om Gio!" jeritnya di tiap langkah seribu yang ia ciptakan. Teriakkan Vin membuat Gio yang masih duduk di kursi meja makan lantas buru-buru keluar, dan Abi yang masih ada di kamarnya segera turun ke bawah.
"Vin kenapa, Paman?" tanya Abimanyu heran. Gio yang juga sedang menunggu pemuda itu sampai ke depan rumah hanya bisa menggeleng.
"Ketemu ular kali," jawab Gio sekenanya. Abi melirik pria di sampingnya sambil geleng-geleng kepala. Karena Abi tau kalau Vin tidak takut ular.
Vin akhirnya sampai di teras dengan nafas yang ngos-ngosan. Ia menekan dadanya sambil menunjuk ke arah tadi. "Itu ... di sana."
"Itu apa?"
"Abis liat setan lu?" tanya Abimanyu cuek.
__ADS_1
Vin melambaikan tangannya, pertanda tebakan itu salah. "Bukan! Tapi ... Mayat!" katanya dengan wajah ketakutan.
Abimanyu dan Gio saling lempar pandang. Dahi mereka serempak berkerut. Kalimat dari Vin barusan, rasanya sangat tidak mungkin terjadi.
"Mending lu duduk dulu, ceritain pelan-pelan," ajak Gio lalu menggandeng tangannya duduk di kursi yang ada di teras. Abimanyu lantas kembali masuk ke dalam untuk mengambil segelas air minum. "Minum dulu, baru ngomong."
Vin menerima gelas berisi air sejuk yang Abi ambil dari lemari pendingin. Setidaknya air itu awet sejak ia tinggalkan. Tidak beracun atau kadaluwarsa. Abi memutuskan berdiri di depan Vin, sementara Gio duduk di sampingnya. "Nah, cerita deh. Liat mayat di mana? Bukannya elu biasa liat mayat? Napa heboh banget begitu?" tanya Abimanyu dengan gaya mengintimidasi Vin. Kedua tangannya berada di pinggang seperti sedang marah-marah. Tapi memang ini gayanya.
"Ini beda, Bi. Ngeri banget. Hancur pokoknya!"
"Hancur? Kena bom?"
"Ya mirip gitu, Om. Tapi pas Vin cek, dia kayak diserang binatang buas begitu, Om."
"Binatang buas? Masa sih? Kami sudah bertahun-tahun di sini nggak pernah ketemu binatang buas apa pun. Paling cuma ular python."
"Ya maupun beneran, Om. Kalau nggak percaya, ayok kita lihat ke sana!" tantang Vin. Gio menatap ke Abi meminta persetujuannya. "Gimana, Bi?"
"Ya udah ayok. Abi juga penasaran."
Akhirnya mereka bertiga kembali ke tempat tadi guna membayar rasa penasaran masing-masing. Abi masuk ke dalam sambil membawa senapan yang memang mereka punya. Ia memberikan juga ke Gio dan Vin. Pintu dikunci. Kini mereka mulai masuk kembali ke hutan, bersamaan dengan tenggelamnya matahari di ufuk barat. Memang bukan ide bagus, memasuki hutan dengan berjalan kaki dan menempuh bahaya untuk hal yang belum mereka ketahui. Jika apa yang dikatakan Vin benar, berarti memang ada sesuatu yang buas di dalam hutan itu.
Vin kemudian berhenti berjalan. Ia menunjuk ke sebuah sudut. "Itu!" katanya. Gio dan Abi lekas mendekat dan mengarahkan senter ke tempat yang Vin tunjuk. Sontak Abimanyu dan Gio terkejut. Gio bahkan langsung muntah-muntah begitu melihat mayat di depan mereka. Baunya makin menyengat dan kondisinya benar-benar mengerikan.
"Lihat, kan? Dia kenapa coba kalau bukan karena hewan buas?" tanya Vin yang meminta jawaban atas pertanyaannya. Gio terus menutup mulutnya sambil berusaha melihat ke arah lain. Sementara Abimanyu menutup hidung dengan lengannya, sambil mendekat ke mayat itu. Ia mengamati secara rinci kondisi mayat di depan mereka. Hingga akhirnya ia mundur menjauh.
"Bagaimana? elu tau siapa dia?" tanya Vin.
"Kalau dari pakaiannya, kayaknya itu Pak Rahmat. Yang biasa cari kayu bakar di sekitar sini. Dan kalau dilihat dari lukanya ... yah, itu mirip bekas cakaran dan gigitan. Tapi kayaknya bukan macan!" kata Abimanyu smabil mengarahkan senter ke tanah sekitarnya.
"Kenapa bis alu seyakin itu?"
"Nggak ada bekas jejak kaki hewan di sekitar sini. Lihat di sekitar kita kemungkinan bekas lumpur karena hujan. Rumput nggak tumbuh lebat, dan nggak ada jejak kaki macan atau hewan lain, kan? Cuma ada jejak kaki kita." Analisis Abimanyu memang masuk akal. Gio lantas menghubungi kepala desa setempat atas penemuan mayat itu.
"Apa? Dibiarkan saja dulu? Loh kenapa, Pak?" tanya Gio dengan menaikkan nada bicaranya.
"..."
"Maksudnya? Desa kita benar-benar ada binatang buas, Pak?"
"..."
__ADS_1
Abi kembali memeriksa sekitar, bahkan sampai ke batang pohon yang mengelilingi mereka. Vin hanya melihat Gio, Abi dan memeriksa sekeliling.
"Gila! Ini mayat nggak bakal diurus malam ini sama warga, katanya paling besok baru bisa diurus."
"Kenapa gitu, Om? Kan kasihan. Dan kayaknya ini mayat sudah cukup lama di sini, kan? Memangnya keluarga korban nggak nyariin?" tanya Vin tak habis pikir.
"Katanya memang ada binatang buas yang menyerang desa beberapa hari ini!" Gio memasukkan kembali gawainya ke dalam saku. Abimanyu kembali mendekat pada dua orang itu. "Kita balik aja, yuk!" ajaknya.
"Iya, yuk. Memang terlalu berbahaya kalau malam gini. Takutnya itu hewan buas datang!"
_______________
Sampai di rumah, Abimanyu langsung mengunci pintu dan jendela. Ia juga memastikan semua pintu dan jendela di seluruh ruangan terkunci. Vin bertugas memeriksa lantai atas.
Mereka duduk di sofa ruang tamu. Dengan tv yang sengaja dinyalakan sejak tadi, guna mengusir sepi. Ini adalah malam pertama mereka pulang, dan justru tidur mereka tidak senyenyak yang diharapkan.
"Dulu gue pernah mergokin paman Adi keluyuran di hutan juga. Dia bilang dia denger suara geraman, semacam hewan. Kupikir dia cuma salah denger, jadi nggak berlanjut lagi obralan kami soal itu," ujar Abi kembali mengingat peristiwa beberapa waktu silam.
"Suara geraman?" tanya Vin. Abi mengangguk sambil meneguk kopi panas yang baru saja ia buat.
"Yah, jadi Paman Adi keluar rumah, saat itu gue liat dia keluar rumah, jadi gue ikutin. Nggak taunya dia kelihatan kebingungan begitu, terus bilang kalau dengar suara menggeram. Apa mungkin 'sesuatu' ini sudah saja sejak Paman Adi saat itu?" tanya Abimanyu kepada dua orang itu.
"Kok Adi nggak cerita sama gue, ya?" sahut Gio dengan pertanyaan yang ditujukan untuk dirinya sendiri.
"Lupa kali, Om." Vin mulai merapatkan selimut yang sengaja ia bawa ke mana-mana. Ia masih menimbang dan memikirkan akan tidur di mana malam ini.
"Nggak mungkin. Biasanya dia selalu cerita apa pun ke gue. Rusa yang biasanya dateng aja dia sampai hafal dan pasti bilang ke gue, coraknya, ngapain saja dia. Pokoknya hal nggak penting begitu pasti dia kasih tau gue!"
"Tapi, tadi di pohon Abi liat dari semacam bekas cakaran dengan noda darahnya, Paman. Dan posisinya tinggi! Kurang lebih ...," Abimanyu berdiri dan mulai membayangkan letak goresan yang ia lihat tadi, "Segini!" ujarnya sambil menunjuk setara telinganya. "Masa macan? Nggak mungkin!"
"Iya, lagian macan mana lagi yang masih berkeliaran di sini sih, Bi? Kan udah nggak ada? Dan tetangga kita nggak ada yang pelihara macan atau beruang dan hewan buas lainnya."
"Hm, entah lah," ujar Abi lalu beranjak ke jendela dekat pintu. Ia menyibak korden dan memeriksa keadaan di luar sana. Gelap dan mencekam. Melihat kondisi mayat tadi, membuatnya beranggapan kalau hutan tak lagi bersahabat. Ia merasa tak lagi aman sekarang jika berada di luar rumah jika matahari sudah tenggelam.
Abi menatap ke langit yang terang, sinar bulan terlihat indah di tempatnya melihat. Tapi tiba-tiba dia teringat akan sesuatu. "Om, ayah pernah cerita dongeng soal manusia serigala. Katanya mereka datang pas bulan penuh, ya? Itu bener?" tanya Abimanyu sambil menatap bulan yang terlihat dari tempatnya berdiri sekarang. Gio lantas mendekat ke jendela, diikuti Vin.
"Hm, iya sih."
"Gila bokap lu, Bi. Masa dongengin anaknya manusia serigala?!"
"Ini bulan purnama. Apa mungkin yang membunuh Pak Rahmat tadi ... manusia serigala?"
__ADS_1