
Rumah Yudistira terbilang cukup luas dan nyaman. Dilihat dari luar maupun di dalamnya. Ia tipe pria yang rajin dan bersih. Terbukti di dalam rumahnya tidak ada debu yang menempel sedikit pun di semua perabotannya. Ia tinggal sendirian, dan asisten rumah tangga hanya datang setiap seminggu dua kali untuk membereskan rumah dan mencuci pakaian. Sisanya untuk hal lain seperti memasak ia bisa lakukan sendiri. Yudistira cukup mandiri, karena tuntutan hidupnya sejak dulu.
Menjadi hunter memang bukan pilihan hidupnya, tapi sudah menjadi garis hidupnya dan keluarga. Hunter di sini dimaksudkan bukan sebagai pemburu hewan buas atau hewan lainnya di hutan. Tetapi lebih dimaksudkan memburu hal-hal aneh dan janggal seperti werewolf, vampire, dan makhluk-makhluk aneh lainnya. Makhluk yang sebagian orang anggap mitos dan legenda belaka, dan sebenarnya memang ada di dunia nyata.
Tapi sejak ia menikah 20 tahun lalu, Yudis mulai meninggalkan kehidupannya menjadi seorang hunter. Ia menikah dengan seorang hunter juga. Dan kini mulai berusaha hidup normal, layaknya manusia lainnya. Hanya saja, seberapa jauh ia pergi, di mana pun ia tinggal, masalah dan hal aneh seolah terus mengikuti. Dan di desa ini, ia kembali harus berurusan dengan salah satu dari musuh lamanya.
Mereka sudah berada di rumah Yudistira. Saat baru memasuki depan rumah, Abi baru menyadari kalau ada simbol aneh di pintu rumah Yudistira. Pemuda itu menatap simbol yang dibuat dengan tinta warna merah. Dari tatapan mata Abi, ia merasa pernah melihat simbol ini sebelumnya.
"Kenapa?" tanya Yudis yang melihat perhatian Abi tertuju pada pintu rumahnya.
"Aku pernah lihat ini sebelumnya. Tapi di mana, ya?' gumamnya sambil terus mencoba mengingat.
"Sebentar. Kalian tau ini apa?" tanya Yudis menunjuk simbol itu. Tentu mereka semua menggeleng, kecuali Rendra. Ia yang sudah tau sejak awal, hanya diam, dan itulah alasannya tidak pernah sekali pun masuk ke rumah Yudistira, sebaik apa pun hubungan mereka selama ini. "Ren? Kamu tau, kan?" tanya Yudis. menatap netra Rendra yang tidak mau menatap pintu itu dalam waktu lama.
"Penangkal werewolf!"
"Hah?" pekik Vin yang wajahnya sangat polos dengan keterkejutannya.
"Itu, kan ...," gumam Maya dengan menunjuk obyek yang sedang mereka bicarakan.
"Astaga! Itu juga ada di rumah Maya! Iya, kan, May?" tanya Abi yang baru saja teringat hal ini. Maya mengangguk cepat dengan dahi berkerut, meminta penjelasan pada Yudistira.
"Ini memang penangkal werewolf. Tidak ada satu pun werewolf yang bisa masuk ke dalam rumah ini, kecuali ... mereka diizinkan masuk oleh pemilik rumah," jelas Yudistira.
"Tapi ... di rumah Maya ...." Kalimat Allea terhenti, dan semua pikiran menjurus ke pertanyaan yang sama.
"Kenapa rumah Maya juga berhasil dimasuki oleh mereka maksudmu?" tanya Yudis. Allea mengangguk cepat.
"Karena orang tua Maya mempersilahkan tamunya masuk ke dalam!" timpal Rendra. Maya sontak menatap Rendra yang memang berdiri di sampingnya. "Jadi orang tuaku nggak tau kalau tamu malam itu werewolf, gitu?"
"Justru karena orang tuamu tau, kalau tamunya werewolf!" tukas Yudistira mantap.
"Apa?!"
"Lebih baik kita masuk dulu. Dan ini juga berlaku untuk kalian, Rendra dan Maya," tunjuk Yudis ke mereka berdua. Pintu dibuka lebar-lebar, dan satu persatu dari mereka masuk, hingga saat terakhir giliran Maya dan Rendra.
Rendra berhenti sejenak. " Jadi Anda tau sejak awal siapa saya sebenarnya, kan?" bisik Rendra dengan pertanyaan yang hanya di dengar Yudistira. Sang pemilik rumah mengangguk. "Oh, damn!" umpat Rendra. Yudis hanya tersenyum sambil menutup pintu rumahnya. Mereka digiring ke ruang tengah, tempat di mana sebuah sofa panjang diletakkan. Mereka duduk dan bersiap mendengarkan sebuah dongeng panjang.
"Sebenarnya ... orang tua Maya juga salah satu hunter di desa ini."
"Nggak mungkin!" gumam Maya. Pernyataan Yudis barusan juga mendapat respons yang sama dari yang lain. Tidak ada yang menyangka kalau orang tua Maya dulunya seorang hunter. Mereka berdua bahkan terlihat seperti pria dan wanita desa pada umumnya. Tidak ada yang menonjol bahkan kehidupan mereka yang sederhana, membuat mereka seperti manusia normal lainnya. Ibu Maya seorang pedagang yang menjual aneka sayur mayur segar. Abi bahkan sering mendapat stok bahan makanan dari ibunya Maya. Ayah Maya seorang perajin kayu. Tidak ada yang menonjol dari mereka berdua dan jika Yudis mengatakan kalau dulunya mereka adalah hunter, jujur saja siapa pun yang mendengar tidak akan percaya. Tetapi jika yang mendengar sesama hunter atau mantan pemburu juga, mereka pasti mempercayainya.
"Kenapa Anda bisa berkata demikian, Pak?" tanya Abimanyu.
"Karena tiap hunter, pasti akan memasang simbol seperti tadi di pintu rumah mereka. Dan tidak akan ada satu werewolf sekalipun yang bisa masuk, sekalipun pintu tidak terkunci. Karena jika ada simbol itu, jangankan mendekat, menatap pun 'mereka' tidak akan suka. Kecuali, pemilik rumah mempersilahkan 'mereka' untuk masuk. Seperti yang aku lakukan tadi ke Rendra dan Maya."
"Hanya itu ciri-cirinya?" tanya Vin, penasaran.
"No! Masih ada lagi tentunya. Rumah para hunter pasti akan memiliki banyak jebakan dan perangkap atau pun simbol untuk makhluk-makhluk buruan mereka. Kalian lihat ada karpet di depan pintu, kan?" Semua orang menoleh ke benda yang disebutkan Yudistira. Karpet bulu berbentuk lingkaran memang terpajang di depan pintu. Yudis menyibak sedikit, rupanya dibalik karpet itu, ada simbol lain. Berbeda dari simbol yang ada di pintu rumahnya.
"Simbol untuk apa lagi?"
__ADS_1
"Menjebak iblis."
"Wow."
"Jika iblis berhasil masuk ke dalam rumahku, mereka akan berdiri diam di atas karpet itu. Karena simbol ini untuk memenjarakan mereka. Asal tiap garisnya tidak putus. Maka setan mana pun tidak akan bisa lolos dari perangkap ini."
"Daebak!" decak Ellea.
"Semua pajangan di rumah ini terbuat dari perak murni. Pisau, belati, anak panah, bahkan patung. Dan kalian tau, kan, kalau itu bahan utama untuk membunuh beberapa jenis dari 'mereka'. Lalu tiap malam, aku selalu meletakkan garam di tiap pintu dan jendela." Begitulah cara Yudistira memperkenalkan rumahnya pada tamu.
"Anda ini guru biologi atau guru spiritual, Pak?" tanya Gio dengan nada menyindir.
"Jujur saja, guru biologi hanya kedok. Supaya terlihat normal dan tidak diendus musuh-musuh lama. Seperti apa yang dilakukan orang tua Maya."
"Tunggu! Jadi maksud anda, malam itu rumah Maya kedatangan werewolf? Dan kalau memang makhluk itu diizinkan masuk, berarti orang tua Maya mengenal mereka, bukan?" tanya Abimanyu.
"Yah, orang tua Maya mengenal mereka, dan ku pikir mereka pasti cukup dekat. Pertanyaannya, siapa yang datang!" lirik Yudis.
"Mungkin Ares?" timpal Rendra dengan memberikan satu nama yang cukup ia kenal.
"Bukan! Pack Ares itu baru beberapa bulan datang, dan mereka bukan pack angkatan lama. Kalian pasti belum lama berburu di tanah ini, bukan?" tanya Yudis ke Rendra, "Jefri dan Diana tidak sebodoh itu. Aku yakin mereka berdua tau siapa saja werewolf asli yang berwujud manusia. Dan yang datang malam itu, adalah 'kawan lama' mereka," terang Yudis
"Kawan lama?"
"Yah, secara harfiah," jelasnya lagi.
"Maksud anda, orang tua saya juga berteman dengan werewolf?!"
"Jadi siapa 'mereka'?"
"Entahlah. Itu yang harus kita cari tau, kan? Tapi sementara waktu kita harus menjalankan rencana awal. Cari Lycanoid muda, dan kumpulkan mereka menjadi satu, sebelum gelap," pesan Yudis," Ingat. Cari tanda cakaran itu yang ada di dekat rumah-rumah penduduk. Bahkan pastikan juga kalau jejak itu ada di dalam rumah juga. Dan alangkah baiknya kalian mulai bergerak sekarang."
"Yah, anda benar. Untuk menjadi pegawai sensus penduduk desa ini memang harus dimulai sekarang, mengingat banyaknya penduduk di desa ini," Pamit Vin. Ia mengajak Gio dan Abi serta. Rendra juga bersiap beranjak dan melakukan tugasnya, mencari Ares dan pengikutnya.
"Tentu. Silakan bekerja. Dan, Rendra! Tunggu, aku harus ikut denganmu, kan?" Kilah Yudis.
Rendra menatapnya jengah, karena ia memang termasuk pribadi tertutup dan tidak suka dekat dengan orang lain. Apalagi harus bekerja sama dengan pria tua seperti Yudistira. Terlebih ia tau kalau dulunya pria tua itu adalah salah satu manusia yang sangat menginginkan kematiannya. Rendra tidak menanggapi banyak, hanya menoleh sedikit lalu pergi keluar rumah Yudistira.
"Eum, ada ruang besi di bawah tangga. Jadi saat matahari sudah tenggelam, sebaiknya Maya masuk ke sana, untuk keselamatan Ellea dan Allea. Bisa?" Maya mengangguk paham. "Dan, usahakan jangan makan manusia, karena sekali kamu mencicipi darah kami, maka akan sulit bagi saya untuk mengendalikanmu. Mengerti?" Anggukan kedua berhasil membuat Yudistira tersenyum. Ia mengambil sebuah tas yang ada di lemari dekat jendela. Semua peralatan berburunya ada di dalam sana.
"Eum, anggap saja rumah sendiri," pesan Yudistira sebelum akhirnya benar-benar pergi.
"Gue tunggu di luar, ya," cetus Gio kemudian berjalan menyusul arah perginya dua pria sebelumnya. Ia sengaja ingin memberikan privasi untuk 2 pasangan yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan mereka.
"Kak, aku ke atas, ya," tunjuk Maya ke sebuah ruangan yang diduga adalah perpustakaan milik Yudis. Tinggal Ellea, Abimanyu, Allea dan Vin.
"Kamu baik-baik di rumah. Hati-hati, ya, sayang. Sudah tau, kan, harus gimana kalau mereka berhasil masuk ke dalam?" tanya Abimanyu dengan banyak nasehat sebelum pergi. Keduanya berjalan menjauh dari Vin dan Allea, lebih dekat ke pintu. Tentu sambil berdiri di atas karpet ajaib itu. Tangan Abi membelai kepala Ellea. Ellea segera memeluk pemuda di hadapannya, dengan perasaan yang campur aduk.
Ini memang bukan momen mendebarkan pertama yang mereka alami sejak mereka dekat. Bahkan cara mereka berkenalan cukup unik dengan melibatkan makhluk mengerikan lain. Kalla. Hanya saja berapa kali pun mereka menjalani keadaan sulit, tetap ada rasa takut jika salah satu dari mereka terluka. Abi tidak begitu memikirkan keselamatan dirinya, karena ia tau tidak mudah bagi orang lain untuk membunuhnya. Tapi Ellea? Dia tidak sekuat itu. Pelukan menjadi salam perpisahan sekaligus penguat bagi mereka.
Abi keluar rumah ditemani Ellea. Sementara Vin dan Allea masih saling berpelukan melepas kepergian Vin tentunya. Bagaimana pun juga, posisi Allea juga tidak aman. Maya memang mereka kenal baik, tapi jika ia sudah berubah menjadi makhluk itu, tentu dia bukan lagi dirinya yang biasanya. Segala nasehat dan petuah diucapkan Vin sebelum dirinya melepas Allea di rumah itu dengan Maya. Untung ada Ellea, setidaknya dua wanita itu pasti akan bekerja sama saling melindungi satu sama lain. Seperti yang sudah mereka lakukan sebelumnya.
__ADS_1
_____________
Rumah terasa sunyi. Semua orang sudah pergi dengan tanggung jawab masing-masing. Ellea dan Allea menyusul Maya ke lantai atas. Tentu setelah memastikan pintu dan jendela tertutup rapat dan terkunci. Setelah melewati tangga, terdapat rak buku besar di koridor yang hendak menghubungkan dengan kamar lain. Maya terlihat sibuk membaca sebuah buku kuno yang berjudul all about werewolf. Umurnya memang masih terbilang muda, tapi rasa keingintahuannya sungguh patut diacungi jempol. Maya memang cerdas dan berwawasan luas. Ia sering mendapat juara saat masih bersekolah dulu. Ia juga sering mengikuti lomba kecerdasan di beberapa kesempatan.
Hidupnya sudah kacau sejak kakaknya memberontak dan menjadi salah satu musuh yang ingin menghancurkan Abimanyu. Walau Abimanyu bukan kakak kandungnya, tapi Maya tau kalau pria itu adalah orang yang baik. Ia juga aman dan nyaman jika berada di dekat Abi selama ini.
"Eh, kalian baca-baca saja dulu. Aku mau ke dapur, siapa tau ada yang bisa kita makan. Lapar," ujar Allea sembari mengelus perutnya yang mulai berdemo minta diisi.
"Oke, All. Aku temenin?" tawar Ellea. Namun Allea malah menggeleng, "sini saja temenin Maya, sambil baca buku. Kamu suka baca, kan? Ya sudah. Tunggu, ya," pamit Allea lalu turun ke bawah. Maya masih fokus dengan buku ditangannya. Ia duduk di sebuah kursi dengan meja panjang yang mirip perpustakaan kota.
"May, kamu baik-baik saja?" tanya Ellea basa basi. Ia duduk di samping Maya yang masih bergelung dalam buku bersampul cokelat itu. Maya tersenyum, "Aku baik, Kak. Kakak tenang aja, sekarang masih siang, jadi aku belum menjadi salah satu dari 'mereka'."
"Bukan itu yang kakak pikirkan, tapi kamunya. Kamu sudah nggak apa-apa?"
Maya diam beberapa saat, lalu mengangguk, "eh, Kak, di buku ini banyak informasi yang aku dapat. Katanya untuk kembali menjadi manusia normal memang sulit, tapi untuk tetap mempertahankan bentuk manusia ini, ada caranya." Mata Maya berbinar.
"Maksud kamu, cara untuk menahan perasaan berubah wujud menjadi werewolf?"
"Iya. Asal aku nggak sekali pun minum darah manusia. Kalau sekali aja minum darah manusia, tamatlah aku. Bener apa yang dibilang Pak Yudistira tadi!" Maya terlihat sangat bersemangat sekali kali ini. Wajahnya kembali ceria karena menemukan solusi atas masalah ini, dan satu yang pasti, Maya menerima keadaannya. Tidak terus menerus terpuruk karena telah menjadi werewolf. Itu yang penting.
Ellea beranjak, karena tidak ingin mengganggu Maya. Ia berjalan melihat-lihat rak buku di dekatnya. Banyak buku-buku aneh yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Satu buku menarik perhatiannya. Ia menatap sampul buku usang itu, sambil memegang liontin kalung yang sedang ia kenakan. Ia ambil buku itu lalu mencocokkan dengan kalung yang ia pakai. "Kok sama?!" gumamnya dan akhirnya ia mulai membaca buku tebal itu dengan judul a Maid of Archangel.
Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa kini senja mulai nampak di langit. Tiga gadis itu kini sedang duduk di meja makan dan menyantap hidangan yang dibuat oleh Allea. Canda tawa mengisi kekosongan rumah ini. Mereka tampak baik-baik saja. Hingga saat malam mulai tiba. Ketiganya kini mulai diam dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Kak, baiknya aku mulai masuk ke ruang besi itu, kan?" tanya Maya meminta persetujuan mereka berdua.
"...."
"Oke. aku ke sana. Kalian hati-hati, ya. Jangan buka pintu apa pun yang terjadi nanti," pinta Maya. Ia beranjak dan mulai mendekat ke ruangan yang dimaksud. Ellea dan Allea menyusul, untuk sekedar menguatkan gadis itu dan memberikan pelukan padanya. Pintu ditutup dari luar, dan Maya sudah mulai di dalam ruangan itu. Ada sebuah kaca yang sengaja dibuat di pintu untuk melihat keadaan di dalam ruangan besi itu. Maya melambaikan tangan, menyuruh dua gadis kembar itu menyingkir. Ia tidak ingin mereka melihat keadaannya yang telah berubah wujud menjadi makhluk mengerikan.
Allea lantas menarik tangan Ellea dan mereka duduk di ruang tengah. Keduanya diam, sambil mendengar raungan suara Maya di dalam sana. Mengerikan dan memilukan. Beberapa kali suara dentuman keras membuat kedua gadis itu menutup telinganya. Mereka tau kalau Maya sedang berusaha keluar dari pintu itu. Setidaknya mereka merasa aman, karena tempat itu benar-benar akan mengurung Maya semalaman.
Tok!
Beberapa kali suara ketukan terdengar di luar rumah. Ellea dan Allea saling melempar pandang. Sadar ada hal aneh di luar rumah ini, mereka mulai bergerak untuk memeriksa. Korden jendela disingkap, mereka mulai mengintip keadaan di luar rumah. Rupanya ada seseorang yang sedang berdiri di dekat sebuah pohon tak jauh dari rumah.
"Ell, siapa dia?"
"Entah." Tapi saat dilihat kembali, orang tadi sudah menghilang. Sekuat apa pun mereka mencari, sosok pria yang tadi berdiri di sana sudah hilang. Akhirnya mereka kembali duduk. Belum ada 10 menit mereka duduk, ada suara lain yang membuat mereka berdua langsung kembali ke jendela. Mereka melihat ada seorang wanita yang sedang dikejar makhluk mengerikan di luar, ia terus menjerit meminta pertolongan.
Naluri mereka tergerak untuk menolong wanita di luar. Melupakan nasihat semua orang untuk tidak membuka pintu, dan kini pintu rumah itu terbuka lebar. Allea berada di ujung pintu sambil melambaikan tangan ke wanita tadi. Mendapat izin memasuki rumah itu, wanita tadi lalu berubah menjadi wanita bergigi taring. Gerakannya cepat dan kini kedua saudara kembar itu menyadari kebodohan mereka.
"All! Tutup pintunya!" jerit Ellea yang masih berdiri di jendela. Allea segera menutup pintu, namun terlambat. Karena makhluk itu kini sedang berusaha membuka paksa pintu itu, tanpa merasa kesakitan terkena simbol di pintu. Ia sudah mendapat izin, maka simbol itu tidak lagi berguna. Ellea membantu Allea, mendorong pintu agar dapat tertutup sempurna. Tetapi dua wanita itu justru terpental. Hingga menghantam beberapa perabot di belakang mereka.
Wanita bertaring tadi meraih Allea, mencekik dan mengangkat tubuh Allea tinggi-tinggi hingga Allea meronta kesakitan. Ellea panik. Tapi ia teringat buku yang baru saja ia baca tadi. Sambil memegang kalung di lehernya, tangan kanan Ellea menjulur ke makhluk di depan yang sedang mencelakai saudaranya. "Aferetur ab eo!" gumamnya.
Tiba-tiba wanita bertaring tadi melepaskan cengkeramnya dari Allea. Allea tergeletak di lantai dengan tubuh lemas, ia batuk-batuk karena hampir mati kehabisan udara. "Sacrificastic!" Lagi sebuah mantra yang entah dari mana diucapkan Ellea, dan dalam hitungan detik. Wanita bertaring tadi hangus terbakar.
Ellea melongo, tidak percaya atas apa yang baru saja ia lakukan. Allea juga melotot dengan terus memegangi lehernya. "Ell?! Kamu apain dia?"
"Aku ... aku juga nggak tau!" gumamnya. Keduanya kebingungan karena makhluk tadi benar-benar gosong. Hanya menyisakan bekas terbakar di lantai itu.
__ADS_1
Ellea segera menutup pintu rumah itu, ia juga melihat sosok pria tadi masih berdiri di sana. Hanya diam menatap. Tak berani mendekat. Karena tentu tidak ada gang mengundang.