pancasona

pancasona
Part 47 Dilema


__ADS_3

" nayla... Aku kembali.."


Aku berjalan mendekati wira , bahkan saat arya menghalangiku pun kutepis tangan nya. Aku seperti terhipnotis dan tidak peduli lagi sekitarku. Yg ku tau ,hanyalah aku ingin segera memeluk wira saat ini juga.


Aku sangat merindukan nya.


Sangat..


"Nayla..." suara ini..


Suara yg selalu kurindukan selama ini. Walaupun wajah wisnu sangat mirip wira, bahkan bisa dibilang mereka bagai kembar, tapi suara mereka tidak sama. Sangat berbeda. Dan cara wira menatapku juga tidak sama seperti wisnu. Wira dan wisnu memang berbeda.


Aku tidak sanggup lagi,berkata - kata. Dan aku pun langsung memeluk wira saat itu juga.


Dia juga memelukku erat.


"Kamu kemana aja?? Kenapa baru sekarang nemuin aku?? Kamu jahat.. Kamu jahat...!!!" suaraku makin serak karena tangisan yg kutahan sedari tadi. Bahkan aku juga memukul - mukul dada wira karena perasaan yg campur aduk sekarang. Aku bahagia, sedih, kesal dan rindu campur jadi satu.


Wira makin mengeratkan pelukan nya padaku.


"Maafin aku.. Maaf ,nay. Aku baru bisa kesini. Aku baru bisa nemuin kamu sekarang. Saat itu, aku gak bisa dateng ke kamu. Kondisiku gak memungkin kan. Jadi aku pikir, lebih baik aku urungkan niat ku. Walau aku kangen sama kamu. Aku tersiksa gak bisa ada dideket kamu . aku juga tersiksa nay..


dan selama ini, aku cuma bisa melihat kamu dari kejauhan.. Maafin aku.. Maaf " ucap wira dengan mengiba.


Aku tidak sanggup lagi berkata apapun. Rasanya aku tidak butuh apa- apa lagi. Yg ku mau hanya wira saja. Aku tidak peduli lagi alasan dia atau pun kemarahan ku karena dia menghilang selama ini.


Dia sudah ada didepanku sekarang saja, itu sudah cukup buatku.


"Wira..." panggil arya yg masih berdiri dibelakangku.


Wira melepaskan pelukan nya dan tersenyum ke arya. Mereka kemudian berpelukan . arya memang yg paling dekat dengan wira selama ini . jadi tidak heran jika arya pun sama kehilangan nya sepertiku.


" ya udah.. Kita pulang. Kayaknya mau hujan lagi nih.. " saranku.


"Eum.. Mereka??"tanyaku lagi sambil menunjuk orang- orang yg bersama wira barusan.


Wira menoleh ke mereka," oh-- Iya, mereka teman- teman ku. Kalian balik aja dulu. Nanti aku kabarin lagi kalau ada apa - apa." ucap wira ke mereka.


Mereka hanya mengangguk pada wira lalu pergi naik mobil meninggalkan kami.


Aku, wira dan arya pulang ke rumah. Saat sampai dihalaman rumah, sudah ada dewa disana dengan rani diiringi raut wajah keheranan melihat kami. Aku tau, mereka juga sama terkejutnya karena melihat wira ada bersama kami sekarang.


" wiraaaaaaaaa!!!" teriak rani histeris. Bahkan dia sampai berlari ke wira dan memeluk wira saking senangnya.


Dewa pun ikut mendekat dan juga senang melihat wira kembali.


"Wah.. Gak nyangka bakal liat kamu lagi ,ra." seru dewa sambil bersalaman dengan wira.


Wira malah menyambut nya dengan pelukan.


"Iya. Aku juga gak nyangka bisa ketemu kalian lagi." kata wira sambil menatap kami satu persatu.


" eh.. Mending kita masuk aja yuk. Keburu ujan nih" saran rani.


Kami lalu masuk ke rumah. Dan berkumpul diruang tengah.


Aku duduk disamping wira. Dia selalu menggengam tanganku ,seperti tidak ingin melepaskan ku lagi.

__ADS_1


"Kok kamu bisa selamet ,ra. Kirain kamu beneran udah mati. Gimana ceritanya?" tanya dewa penasaran.


"Iya. Bener tuh. Kamu kemana aja ,ra? Kamu gak tau, nayla galau banget kamu pergi. Jahat banget baru dateng sekarang!" gerutu rani.


Wira menoleh padaku sambil tersenyum,dia juga mengecup punggung tanganku lembut.


Hmm, dia tidak berubah sama sekali. Dia memang wiraku.


" maaf ya. Saat itu ,keadaanku memang benar benar kacau. Aku juga gak tau ada dimana bahkan aku sempet hilang ingatan. Seluruh tubuhku bagai lumpuh. Tapi, beruntung aku ketemu mereka. Mereka yg merawatku sampai aku pulih. Dan ,butuh waktu yg lumayan lama, sampai keadaanku pulih seperti sekarang. " terang wira.


"Bukan nya tubuh kamu dibawa black demon?" arya menanggapi dengan dingin.


" iya, itu bener. Tapi, saat mereka akan membakar tubuhku, kelompok erez,yg tadi itu... Lalu menolongku. Mereka membantuku dan akhirnya aku terlepas dari black demon."


"Kelompok erez?" tanyaku.


"Iya,nay. Erez, mereka baik kok. Buktinya,mereka merawatku sampai aku benar- benar pulih sekarang."


Aku mengangguk paham.


" oh iya. Kamu udah makan?" tanyaku ke wira.


"Mmm..." dia menggeleng pelan.


"Aku bikinin masakan kesukaan kamu ya. Sebentar." aku segera berlari ke dapur dan mulai berkutat dengan masakan spesial untuk wira.


Biasanya dia yg memasak untukku , tapi kali ini, aku ingin memanjakan nya. Aku ingin melakukan hal- hal yg belum sempat kulakukan dulu dan sangat ingin kulakukan bersama wira.


Setelah masakanku matang, ku ajak wira ke ruang makan.


Kubuka tudung saji yg ada di meja makan," taraaaaaaaa....."


Wira tersenyum tipis namun aku merasa dia tidak begitu menyukai makanan yg ku buat.


"Kamu kenapa? Gak suka ya?" tanyaku.


"Oh-- suka kok ,nay. Kebetulan aku laper." dia lalu menarik kursi dan segera makan.


Aku duduk disampingnya sambil terus melihat nya makan suap demi suap.


"Kamu mau?" tawar wira.


Aku menggeleng masih sambil tersenyum. Dipikir - pikir ,aku agak mirip orang sekarang. Senyum- senyum gak jelas gini.


Saat makanan sudah tinggal separuh, tiba tiba wira menutup mulut nya seperti hendak muntah.


"Kamu kenapa? Masakan nya gak enak ya?" tanyaku bingung.


"Enak kok ,nay. Enak. Cuma aku eneq kalau makan udang." ucap nya ,dan saat itu juga dia berlari ke wastafel dapur dan memuntahkan semua yg barusan dia makan.


Aku menyendokan makanan yg ku masak barusan, saat aku mengunyahnya sepertinya tidak ada yg aneh pada masakan ku. Bahkan udang yg wira bilang pemicu dia muntah ,tidak begitu terasa karena kupotong kecil kecil. Bahkan tidak ada bau amis sedikitpun.


Aku mendekat ke wira dan membantunya memijat tengkuknya.


Kulihat wajahnya pucat.


" ya ampun. Kamu gak papa? Aku pikir kamu gak alergi udang dan makanan laut lain nya deh. Dan itu ,salah satu makanan kesukaan kamu" sambil ku tunjuk piring yg masih tergeletak dimeja.

__ADS_1


"Maaf ,nay. Memang banyak kebiasaanku yg berubah sejak kejadian dulu. Ya udah, aku makan lagi ya." dia hendak kembali duduk namun ku tahan.


Aku menggeleng padanya." gak usah dipaksain. Aku gak mau kamu makan masakan ku dan malah kamu jadi sakit gini. Mendingan kamu istirahat aja ya."  ku gandeng tangan wira.


Dan kuajak dia ke kamar arya. Karena dirumah ini hanya ada 3 kamar saja.


Namun saat kami berbalik, seseorang ternyata tengah berdiri di pintu ruang makan sambil menatap aku dan wira dengan raut wajah sedih.


" wisnu???" pekik ku .


Wisnu hanya tersenyum kecut lalu pergi begitu saja.


Wira tersenyum padaku ," kamu temuin dia gih. Aku disini aja."


Aku memandangi wira. Kali ini aku benar benar dilema. Aku tidak tau lagi harus berbuat apa.


Aku tau wisnu sakit hati melihatku bersama wira. Aku tidak tega menyakit perasaan nya. Tapi, aku juga tidak bisa meninggalkan wira lagi.


Akhirnya karena paksaan wira, aku pun mengejar wisnu yg sudah masuk ke mobilnya.


"Wisnu!!!!!" teriakku dari dalam sambil terus berlari keluar.


Dewa, arya, dan rani yg ada diruang tengah pun sampai bingung melihat kami.


Sampai diluar ,wisnu sudah mulai menjalankan mesin mobilnya dan mulai pergi meninggalkan halaman rumah kami. Aku menghadangnya dan berdiri ditengah tengah jalan yg akan di lewati wisnu.


"Wisnu,please. Aku bisa jelasin. Jangan pergi gitu aja. Maafin aku ,nu. Maaf..." teriakku sambil menangis.


Wisnu terdiam ,lalu tak lama dia turun dari mobilnya. Dan berjalan mendekatiku.


Ku raih tangan nya dan terus menatap wajahnya yg sudah sangat kecewa sekali.


"Maafin aku ,nu. Ini diluar kendali ku. Tiba- tiba wira muncul. Aku... Aku juga gak tau kenapa bisa gini. Aku.. Aku bingung aku harus gimana sekarang." kutekan kepalaku karena aku benar - benar kacau sekarang ini.


Wisnu tersenyum getir, dia lalu membelai wajahku lembut. Tatapan matanya sendu.


"Aku gak papa ,nay. Aku sadar posisiku disini sebagai apa. Dan aku tau,perasaan kamu ke wira itu gak akan pernah pudar sampai kapanpun. Sekuat apapun aku berusaha menggantikan posisi dia dihati kamu pun, aku gak akan pernah bisa. Dan sekarang, wira sudah kembali. Dan sudah waktunya aku yg pergi . aku bahagia ngeliat kamu bahagia ,nay. Kamu gak usah khawatirin aku. Aku gak papa. Asal aku masih bisa liat kamu,ketemu kamu ... Itu udah lebih dari cukup. " dia menghapus air mataku yg entah sudah sebanyak apa jatuh seharian ini.


Aku sakit melihat wisnu sedih seperti ini. Tapi aku juga dilema atas semua keadaan ini. Ini benar- benar diluar kuasaku.


"Sampai kapan pun ,aku akan tetap sayang sama kamu. Mungkin aku butuh waktu lama,untuk bisa membuka hatiku untuk wanita lain.. "


Cup.


Wisnu mencium keningku agak lama, kurasakan airmata wisnu jatuh mengenai pipiku.


"Aku pulang ya. Ohiya.. Aku tadi bawain kamu ramen. Nih... Dimakan nanti." katanya sambil memberikan kantung plastik padaku.


Dadaku malah makin sesak.


Wisnu pun naik kembali ke mobilnya dan pergi dari rumah ku.


Maafin aku nu.aku juga bingung ,tidak tau apa yg harus kulakukan. Mungkin aku adalah wanita terjahat ,karena sudah memberikan harapan padanya lalu kini aku menghempaskan lagi begitu saja.


Aku memang jahat...


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2