pancasona

pancasona
5. Benci tapi rindu


__ADS_3

...Kita tidak pernah saling membenci, hanya saling merindu....


Manda mulai membuka mata perlahan. Keadaan sekitarnya berbeda dari saat dia memejamkan mata tadi. Semua berwarna abu abu. Lalu beranjak dari duduknya. Semua orang terdiam bagai manekin di sebuah toserba. Dia berhasil masuk ke alam lain. Sosok tadi masih berdiri di sudut sana.


Dalam sekejap, sosok tadi sudah ada di belakang Manda. Manda terkejut lalu menoleh hingga terduduk.


"Kamu berani juga mendatangiku kesini?" ujar sosok tadi sambil berjalan mengelilingi Manda.


Nyali Manda sedikit ciut mendengar suaranya yang begitu berat dan mengerikan. Belum lagi wajahnya yang makin jelas terlihat dari jarak sedekat ini. Satu tanduk ada di kepala makhluk itu, wajahnya berwarna merah darah, dengan banyak tonjolan di sana sini. Tidak hanya itu, cairan hitam keluar dari beberapa titik di wajahnya. Diiringi bau busuk yang menyengat. Makhluk itu mendekat. Dan anehnya Manda tidak bisa bergerak sedikitpun.


"Bagus lah kamu mengantarkan sendiri nyawamu! Aku tidak perlu lagi mencarimu disana!" tangan nya mencengkram kuat lengan Manda hingga terlihat mengeluarkan asap.


"Aaaaakkkkkkhhhh"


Manda berteriak kesakitan, sekujur tubuhnya berkeringat, wajahnya makin lama makin pucat. Darah mengucur dari lengannya. Kuku makhluk tadi menusuk dalam hingga terasa sampai tulang. Dia makin lemas.


lalu tak lama ada sosok bersorban putih datang, samar samar Manda melihat sosok tadi dan makhluk itu berbincang. Namun pendengaran nya sedikit terganggu, Manda tidak tau apa yang mereka bicarakan. lalu sosok bersorban putih tadi menarik Manda menjauh dan pergi. Pandangan mata Manda gelap seketika.


Manda terbangun seperti habis tenggelam dari air. Semua orang di sekitarnya panik.


"Man ... Nggak apa apa? Manda?"


Manda mulai mengerjap ngerjapkan matanya dan membiasakan Netra coklatnya terkena cahaya matahari dari jendela samping.


"Syukur deh elo balik, Man. Gue pikir nggak bakal ketemu elo lagi," ujar Kevin cemas.


"Sshhhh ... Aww !" Manda mengerang sambil memegangi lengan kanannya.


Saat dibuka, ternyata ada bekas luka cakaran yang sudah agak busuk. Manda diam sejenak. Beberapa orang mulai penasaran dan mendekat.


Haga menarik tangan Manda.


"Kita ke dokter!"


"Enggak mau!" tolak Manda.


Kini semua mata menatap mereka berdua. Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi kepala mereka. Ada perasaan heran, bingung dan aneh melihat sikap Haga yang demikian khawatir ke Manda.


"Kamu luka! Harus ke dokter, Ai!"


"Luka ini nggak seberapa. Kamu nggak usah sok sok'an peduli sama aku deh!"


Dari obrolan itu, Kevin dan yang lainnya hanya melongo. Semua diam melihat percakapan Manda dan Haga.


Mereka berkumpul jadi satu dan hanya menonton Manda dan Haga berdebat. Desas desus pun mulai terdengar. Beruntung suasana restouran tidak begitu ramai.


"Ta ... Kok gue curiga yah?"bisik Kevin ke Vita.


"Apaan, Vin?"


"Mereka kok kayak udah akrab?"

__ADS_1


"Bener tuh! Jangan jangan ... Haga itu cowok medan yang tadi dibahas Bang Kevin lagi?" timpal Ridho.


"Bisa jadi tuh!" sahut Kevin.


"Pantesan Manda rada lain dari tadi. Karena Haga ternyata," tutur Vita manggut manggut paham.


"Wah ... Pertemuan yang tidak disengaja dong ini judulnya," sahut Ian cekikikan.


Tiba tiba, muncul Andre bersama seorang pria berumur 30 tahun-an. Dengan memakai baju koko, berpenampilan rapi dan berjenggot tipis.


"Lho lho ... Lagi pada ngapain nih?"


tanya Andre sambil menatap mereka satu persatu.


"Bang Arifin!!" pekik Manda senang.


"Manda? Di sini juga?" sahut Arifin.


"Naaaaaah. Kebetulan nih ada Arifin! Sini dah!" Kevin beranjak lalu menarik tangan Arifin dan mendekat ke Manda.


"Eh ada apaan sih?" tanya Arifin kebingungan, namun menurut saja ditarik oleh Kevin.


"Liat tuh!" tunjuk Kevin ke lengan Manda yang terluka.


Arifin mengamati luka itu dengan seksama. Dahinya berkerut, matanya melotot tajam dan wajahnya serius sekali.


" Hmm ... Harus di obatin, Man!" kata Arifin serius.


"Lakuin aja, Bang," kata Manda serius.


"Kamu yakin?"


Manda mengangguk. Arifin menatap orang disekitarnya.


"Tolong bantu ya. Karena reaksinya akan ... Hmm ... Luar biasa!"


Semua saling pandang bergantian.


"Eh gimana bantu nya?"tanya Kevin bingung.


"Pegangin Manda, jangan sampai di lepas karena sakit banget. Aku takut dia melukai dirinya sendiri, tapi ... Hati hati juga, mungkin juga dia bisa melukai kalian!" Arifin menatap merek tajam.


Mereka mengangguk paham.


Arifin menggumam doa sambil tangan kanannya menutup luka di lengan Manda. Kevin bersiap menggenggam tangan Manda, langsung dicengkeram kuat oleh Manda. Manda berteriak. Arifin pun makin kuat membacakan doa doa. Badan Manda mulai menggeliat, dia kesakitan. Bahkan tangan Kevin terluka karena cengkeraman kuku Manda yang sampai menusuk kulit. Akhirnya Kevin melepaskannya. Vita mendekat lalu memeluk Manda erat.


"Tahan Man ... Tahan!"


"Aaaarrrrggghhhh ... Sakiiiit ... Sakiiit Vittt!!" erangnya makin tak terkendali.


Bahkan Vita ikut mengerang kesakitan karena Manda mulai mencakar bahunya.

__ADS_1


"Awas Vit!! Nggak usaaaah!"teriak Manda sambil mendorong Vita menjauh. Vita terjungkal, Kevin membantunya berdiri.


Arifin makin kuat mengenggam lengan Manda. Dan Manda pun makin kesakitan. Lengannya memerah, panas seperti terbakar.


Andre berusaha mendekat tapi Manda melarangnya.


"Jangan! Kalian bakal terluka!"


"Tapi Man ...."


"Aku bilang nggak usaaaah!!"


Kini Haga yang mendekat. Tanpa bertanya apa pun lagi langsung memeluk Manda erat erat.


Hangat.


Selama beberapa detik Manda diam. Sebelum akhirnya sadar dan mendorong Haga.


"kamu ngapain?!"


"Biar aku aja!"


"NGGAK USAH! PERGI KAMU!!" tolak Manda.


"ENGGAK AKAN. AKU NGGAK AKAN PERGI LAGI DARI KAMU!"


Semua orang, kini makin yakin, bahwa diantara mereka ada sesuatu. Manda kembali berteriak, dan pelukan Haga pun makin erat. Manda juga mencengkeram bahu Haga kuat kuat. Rasa sakit itu benar benar membuatnya tidak terkendali. Haga terus menahan, walau dia juga terluka karena kuku Manda mampu menembus kulitnya. Baju Haga sedikit terkoyak.


"Sakit ya, Ai? Tahan ya. Bentar lagi. Ada aku disini," bisik nya tepat di telinga Manda.


Tak lama tubuh Manda melemas dan Manda pingsan dipelukan Haga.


"Gimana ini? Kok dia diem aja gini? Dia kenapa?" teriak Haga panik sambil menatap Arifin.


Arifin membuka tangannya dan luka itu hilang. Dia tersenyum tipis.


"Nggak apa apa kok. Memang ini resikonya. Manda cuma lelah. Besok pagi pasti udah baik baik aja,"


"Serius, Fin?" Kevin ikut mendekat.


"Iya, aku jamin. Tapi ... Malam ini, dia nggak boleh sendirian. Aku khawatir, nanti malem ... " Arifin tengak tengok, "Makhluk itu nyari Manda lagi!" bisik Arifin.


"Sebentar! Makhluk apa sih? Dia kenapa?" tanya Haga bingung.


"Udah. Mendingan bawa balik deh Mandanya. Dan jagain terus. Kalian bertiga jagain dia!" tunjuk Andre ke Kevin, Vita dan Haga.


"Tapi kerjaan, Bos?"


"Buat besok!"


Mereka berempat akhirnya pulang ke rumah yang akan di tempati Kevin dkk selama di sini. Letaknya tidak jauh dari kantor.

__ADS_1


__ADS_2