pancasona

pancasona
24. Fauzan kesurupan


__ADS_3

Rea membeku. Nama yang tertera diatas batu tersebut memang benar nama lengkapnya. Amanda Rea. Tapi dia bingung bagaimana bisa namanya berada di tempat tersebut, sementara ini adalah pertama kalinya Rea menginjakkan kaki di Kalimantan.


Dana yang melihat Rea melamun, lantas berusaha untuk menyadarkannya. Dana terus memanggil nama Rea sampai akhirnya Rea kembali kepada kesadarannya.


"Eh, Kenapa, Dan?" tanya Rea agak kebingungan.


"Kamu kenapa?"


"Nggak apa-apa. Cuma bingung aja. kok namaku bisa ada di sini ya? Padahal aku belum pernah ke tempat ini," ucap Rea berhasil membuat Dana juga ikut memikirkan alasan kenapa nama temannya berada di tengah hutan belantara Kalimantan.


"Ah, sudah. Enggak usah dipikirkan. Nama Amanda Rea, kan, bukan cuman kamu aja. Pasti ada orang lain yang bernama sama, dan pernah datang ke sini. Ya sudah. Ayo, kita lanjutkan lagi mencari kayu bakar. Sebentar lagi malam."


Mereka berdua kembali melanjutkan kegiatan mencari kayu bakar. Hingga akhirnya setelah beberapa menit kemudian, semua kayu bakar kering sudah terkumpul. Mereka bersepuluh pun kembali ke dekat api unggun.


Hari sudah menunjukkan pukul 7 malam. Sekalipun hari sudah malam, suasana sekitar yang memang sejak awal sudah sedikit gelap, makin terlihat gelap. Untungnya api unggun sudah berhasil dinyalakan sehingga mereka tidak perlu merasakan kegelapan di hutan belantara itu.


Masing-masing dari mereka mulai menyiapkan berbagai makanan dan minuman. Mulai dari kopi teh dan membuat mie instan.


Berjalan selama beberapa jam lamanya tentu membuat tenaga mereka terkuras.


Mereka butuh asupan untuk mengisi tenaga sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Yang entah sampai kapan akan terlaksana. Karena mereka sudah mendeklarasikan diri jika mereka tersesat.


Makan malam pun telah siap. Mereka makan sambil berdiskusi untuk menentukan langkah selanjutnya. Tentunya malam ini mereka akan tidur di dalam tenda, daripada harus berkeliaran di tengah hutan yang tidak ada satupun mengetahui bagaimana bahayanya di alam liar.


"Terus gimana rencana kita selanjutnya? Terus menunggu ada tim atau regu penyelamat, atau bagaimana?"


"...."


Semua diam, hanya serentak melirik ke arah Diah yang terus berkata lantang dan lugas.


"Kalian sadar kan, kalau kita tersesat?"


"Hm, iya sih. Terus gimana dong," rengek Apri.


"Ya lebih baik kita istirahat dulu di sini malam ini. Besok kita lanjutkan lagi perjalanan. Pasti teman teman yang lain bakal mencari kita kok. Kita pasti ketemu mereka," sahut Rea.


"Yakin, Re? kalau misalkan kita nggak ketemu sama teman-teman yang lain atau tim penyelamat? Gimana dong? Masa kita terus-terusan ada di hutan ini? Sampai kapan?" rengek Ita.


"Udah. Jangan berpikir yang enggak enggak. Kita berdoa aja. Semoga besok kita bisa ketemu sama teman-teman yang lain, kalau pun kita belum bisa pulang pasti mereka akan mencari kita. Gue yakin kita semua bakalan masuk ke daftar orang hilang. Karena seharusnya sebelum jam 9 malam, semua tim itu sudah balik ke pos terakhir. Tapi ternyata kita masih ada di sini, yang bahkan gue enggak tahu ini ada di mana. Semuanya kelihatan sama," cetus Dana. Dia merasa bersalah karena dia adalah satu-satunya orang yang harusnya bertanggung jawab pada keselamatan tim yang ia bawa.


"Dana benar. Kita nggak perlu negatif thinking dulu deh, karena apa yang kita pikirkan bisa jadi kenyataan. Kan ada prinsipnya, perkataan adalah sebagian dari doa. Makanya hati-hati kalau mikir. Jangan mikir jelek dulu, kita harus optimis kalau besok kita bisa balik. Pembina dan juga tim penyelamat pasti ada banyak di luar sana, dan semuanya akan menyisir hutan sampai kita ketemu. Jadi kita perlu bertahan dulu di sini sambil mengisi tenaga," ucap Hana optimis.


"Ya udah. Setelah semua makan, mendingan yang cewek-cewek pada langsung masuk tenda deh. Kalian istirahat aja, biar kita yang cowok-cowok bergantian jaga. Kita nggak tau juga kan hutan ini seperti apa? Sekalipun mungkin sudah nggak ada macan, singa, atau hewan buas lain, tapi kita perlu jaga-jaga," ucap Hani menimpali.


"Iya, Hani benar. Hutan ini dulunya masih hutan liar, bahkan masih belum terjamah manusia. Baru beberapa tahun belakang aja sudah mulai ada aktifitasnya. Takutnya hewan buas masih ada di sini."


"Tapi kalian yakin? kita bakalan aman di sini? Apa api unggun nya nggak akan berbahaya dan memancing hewan buas ya? Tanya Diah.


"Jangan salah! Api unggun justru sebagai salah satu cara agar kita bisa terhindar dari serangan beberapa binatang buas. Selain sebagai penghangat badan untuk kita malam nanti. Ya udah sana, kalian tidur. Udah selesai makan kan," usir Dana tegas.

__ADS_1


Blendoz yang sedang makan tidak begitu peduli dengan obrolan teman-temannya.


Dia memang hobi sekali makan, sehingga postur tubuhnya berbeda dari yang lain. Tapi jangan salah, karena dia memiliki rasa kesetiakawanan yang cukup tinggi. Bahkan dia tidak segan-segan untuk menolong teman-temannya di saat mereka kesulitan. Seperti yang pernah terjadi pada Hani, saat mereka masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Blendoz tidak segan-segan menggendong Hani saat mereka sedang naik gunung Slamet. Karena Hani saat itu sedang cedera. Sekalipun sepanjang jalan Blendoz terus mengumpat pada Hani, Tetapi dia tidak akan pernah melepaskan temannya dan meninggalkannya begitu saja sendirian di hutan. Hanya saja ada yang aneh pada Fauzan. Pemuda itu lebih banyak diam sejak mereka tiba di tempat tersebut.


Biasanya Fauzan terkenal sebagai sosok yang suka berdebat dan kerap bertengkar adu mulut dengan Diah atau pun Apri, tapi untuk kali ini dia justru menjadi orang pendiam. Dana yang menyadari hal itu lantas mendekat sambil memberikan secangkir kopi, karena sejak tadi Fauzan tidak makan dan minum sama sekali.


"Lo kenapa?" tanya Dana sambil menyodorkan secangkir kopi ke depan Fauzan. Dia hanya menatap api unggun yang ada di hadapan. Tatapan matanya kosong. Seperti ada yang tidak beres.


"Lo sakit?" tanya Dana lagi karena Fauzan tidak memberikan tanggapan apa pun.


Fauzan menggeleng, tapi jawaban itu tentu tidak cukup bagi Dana. Dia tidak segera beranjak dari tempat itu dan hanya menatap sekitar sambil memperhatikan teman-teman mereka yang ada di seberang. Hana, Hani dan Blendoz terlihat asyik menikmati kacang rebus yang masih panas.


"Lo masih marah sama Fitria gara-gara dia enggak mau ikut tim kita?" Tanya Dana sedikit menyindir sosok wanita yang menjadi Pujaan Fauzan.


"Udah ah. Jangan bahas dia, sebel gue. Lagian gue mah bukan siapa-siapa. Ya wajar aja dia milih timnya si Yudis. Kan dia lagi suka sama Yudis."


"Ya tapi kan kalau lo suka sama Fitria, seharusnya lo perjuangin dong. Masa diem aja, dan malah nyerah gitu aja sih."


"Susah, Dan. Lo nggak paham gimana perasaan gue. Coba aja kalau si Rea nggak ada di tim kita, dan lebih milih timnya Rendra. Gimana perasaan lo?"


Dana hanya melirik Fauzan sambil mendengus sebal. Sepertinya pemuda di sampingnya ini sedang merasakan patah hati. Jadi apa pun yang Dana katakan tidak akan mempan padanya.


"Nanti ada giliran jaga. Lo sama gue." Dana beranjak sambil menepuk bahu Fauzan. Dia lantas berjalan mendekati teman temannya yang lain.


"Gimana? Kenapa tu anak?" tanya Blendoz menunjuk Fauzan dengan dagunya.


"Biasa. Patah hati mungkin. Udahlah, biar aja. Terus gimana? Siapa yang bertugas jaga pertama? Tapi biar Fauzan nanti sama gue aja. Kalian bertiga. Kita bagi dua shif."


"Iya. Mumpung mata kita masih on. Lagian lo pasti capek, Dan. Istirahat gih. Ajak tuh, Fauzan. Jangan ngelamun aja. Nanti kesambet baru tahu rasa!" timpal Blendoz.


"Hust! Jangan ngomong sembarangan lo!" tukas Hani menyenggol Blendoz yang duduk di sampingnya.


"Ya habisnya. Lihat aja tuh, Si Fauzan. Ngelamun gitu. Nggak lihat apa kita lagi di mana. Mikirin kok cewek! Bukannya mikir, gimana cara kita balik! Ckckck."


Dana hanya tersenyum, dia lantas pamit untuk masuk tenda. Karena kini giliran jaga Hana, Hani, dan Blendoz.


Setelah dibujuk, Fauzan akhirnya mau masuk ke tenda dan tidur. Kini hanya tinggal tiga pemuda yang sedang berjaga di depan api unggun.


"Menurut kalian, di hutan ini ada hewan apa aja? Masih ada macan nggak sih di hutan Kalimantan?" tanya Hani.


"Kalau menurut vlognya Andrew Kalaweit, masih ada tahu! Cuma menurut dia, kalau kita ketemu macan, jangan pernah kabur! Mending kita samperin aja tuh macan!" Blendoz menanggapi.


"Dih, lo aja kali sana. Ada macan malah disamperin! Gue mah mending ngumpet!"


Sementara Hana hanya terkekeh sambil menghabiskan kacang rebus sisa tadi. Menyaksikan perdebatan dua orang di depannya cukup menghibur. Setidaknya menjadikan suasana tidak sepi.


Di sisi lain, tenda yang berisi para gadis sudah mulai sunyi. Empat dari lima orang yang berada di dalamnya sudah tertidur lelap. Hanya tinggal Rea saja yang masih terjaga. Walau tubuhnya sangat lelah, tapi matanya tidak bisa terpejam. Ada sesuatu hal yang membuat pikirannya terganggu. Tidak lain dan tidak bukan adalah nama yang tertera di atas batu besar penutup sumur tua yang tadi ia temui.


Rea sudah berada di dalam kantung tidurnya. Tidak hanya nama yang tertera di sana, yang membuat dia gelisah. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya sejak dia melihat sumur itu. "Kenapa perasaanku nggak nyaman banget, ya?" ucap Rea bertanya pada diri sendiri sambil menekan dadanya yang terkadang nyeri.

__ADS_1


"Ah, lebih baik aku tidur aja." Rea berusaha melanjutkan tidur. Apalagi dengkuran halus dari teman temannya membuat dia benar benar harus tidur sekarang. Untungnya suara teman teman di luar terdengar sampai tenda. Sehingga Rea tidak perlu merasa cemas. Justru jeritan serta tawa tiga pria di luar mampu membuat hatinya lebih tenang.


Rea akhirnya tertidur. Cukup nyenyak hingga beberapa jam ke depan. Tapi mendadak matanya kini mulai mengerjap, kala Apri membangunkannya.


"Re ... Bangun dong, Re." Suara Apri yang khas dengan rengekan membuat Rea mulai kesal. Padahal dia sedang menikmati mimpi indah yang baru saja dimulai.


"Kenapa sih, Pri?" tanya Rea agak kesal karena dibangunkan mendadak.


"Temenin aku dong, Re. Aku kebelet pipis nih," rengek Apri yang terus mengguncangkan tubuh Rea.


"Enggak berani sendiri apa, Pri! Diah aja dibangunin tuh," tunjuk Rea ke wanita yang tidur di antara dirinya dan Apri.


"Boro boro dibangunin, Re. Dia ngorok keras banget. Dari tadi udah aku bangunin, malah disangutin sama ngorok nya terus! Aku udah di ujung, Re. Please, tolongin aku."


Mendengar Apri sudah panik, akhirnya Rea pun terpaksa bangun, dan menemani Apri keluar tenda.


Suara cekikikan teman teman mereka sudah hilang. Hanya ada nuansa hening begitu mereka membuka tenda. Tapi rupanya di depan tenda kini sudah ada Dana yang sedang menambah jumlah kayu bakar agar api tetap menyala. Dia tentu menoleh ke arah tenda Rea.


"Loh, kenapa? Kalian kok keluar?" tanya Dana heran.


"Nih si Apri, kebelet! Kamu jaga sendirian?"


"Oh enggak. Sama Fauzan. Tapi dia juga lagi kebelet. Di sana tadi sih perginya," tunjuk Dana ke arah belakangnya.


"Oh ya udah, kita ke arah agak jauhan sama Fauzan, Pri."


"Oke. Yuk, temenin!" Apri masih saja merengek pada Rea sambil menarik tangan temannya itu. Rea menata Dana dengan tatapan jengah karena perlakuan Apri. Sementara Dana hanya tersenyum pada Rea, karena tidak bisa membantunya.


Mereka berdua berjalan ke arah yang berjauhan dari Fauzan. Namun saat masuk ke dalam sisi hutan lain, Rea dan Apri dapat melihat Fauzan yang sedang berdiri membelakangi mereka berdua.


"Sini aja, jangan kejauhan," kata Rea.


Apri pun menurut, setelah tengak tengok sekitar, dia pun jongkok. Rea yang menemani Apri hanya bisa menunggu sambil menghilangkan kedua tangan di depan. Dia merapatkan jaketnya karena suasana terasa lebih dingin dari sebelumnya. Rea juga memperhatikan Fauzan yang sejak tadi tidak berubah posisi.


"Minum berapa liter dia itu, kok nggak selesai juga," gumam Rea bermaksud menyindir Fauzan.


Tapi tiba tiba pemuda itu langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam. Rea terkejut. Lalu berusaha menarik kedua sudut bibirnya. Tapi Fauzan tidak menanggapi apa pun. Dia hanya menatap Rea tajam, tanpa berkedip. Hal ini membuat Rea risih.


"Pri, cepet! Jangan kelamaan!" kata Rea yang mulai panik, tapi berusaha bersikap sewajarnya.


"Iya, sabar! Ini udah selesai." Apri kembali berdiri sambil merapikan pakaiannya. Dia kembali ke tempat Rea berada. "Kenapa sih? Lihat apa?" tanya Apri lalu mengikuti arah yang Rea tatap.


"Re ... Fauzan kenapa ngelihatin kita begitu. Serem ih," bisik Apri.


"Jangan terlalu diambil pusing ah. Kamu tahu kan Fauzan gimana? Ya biasalah. Paling cuma mau ngerjain kita," ucap Rea berusaha menenangkan dirimu sendiri juga Apri.


Fauzan yang awalnya menoleh ke arah mereka berdua, Kini justru berbalik badan. Masih tetap menatap Rea dan Apri. Tiba tiba Fauzan berlari ke arah mereka. Sontak Rea dan Apri terkejut. Mereka menjerit lalu berlari kembali ke tenda.


Suara jeritan mereka tentu terdengar jelas oleh Dana. Begitu mereka sampai di dekat api unggun, Dana menghentikan mereka. "Kenapa? Kalian kenapa?" tanya Dana ikut panik.

__ADS_1


"Fauzan! Kesurupan!" jerit Apri sambil menunjuk belakang mereka. Dana menoleh, dan bertepatan dengan Fauzan yang muncul dan langsung menyerangnya.


__ADS_2