pancasona

pancasona
2. Masa Lalu


__ADS_3

...Orang bilang pertemuan pertama selalu kebetulan, tapi bagaimana caramu menjelaskan pertemuan pertemuan selanjutnya? ...


...Apakah ada Tuhan campur tangan di dalamnya? ...


...~Orizuka~...


Pagi ini, Manda sudah siap dengan segala bawaannya. Mulai dari beberapa potong pakaian, sendal, sepatu, laptop, dan beberapa buku yang selalu dia baca di waktu luang.


"Udah semua kayaknya. Apalagi, ya, yang kurang," gumamnya sambil menatap koper yang akan dia bawa ke Medan.


Suara klakson mobil terdengar nyaring. Hingga akhirnya berhasil membuat Manda beralih menatap ke jendela kamarnya. Di luar sana, Kevin sudah menunggu dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya.


"MANDAAAA ... BURUAAAAAN! TELAT NANTI KITAAA! " teriaknya sambil berlagak melirik jam tangan.


Manda mendengus sebal lalu segera menutup koper dan menariknya keluar kamar. Kedatangan Kevin memang cukup mengejutkan, apalagi dengan sikapnya yang terburu buru, membuat Manda menjadi tergesa gesa.


"Bawel deh ya. Baru juga jam segini. Udah teriak - teriak. Nggak bakal telat kali, Vin!" gerutunya kesal.


"Lapar gue, Man. Sarapan dulu loh. Lo masak nggak? Numpang makan deh," rengeknya sambil terus memegangi perut dengan tatapan memelas.


"Nggak masak gue. Makan di Bandara aja deh. Apa warteg nanti di jalan," ucap Manda sambil memasukan kopernya ke mobil Kevin.


Tak lama Pak Budi turun dari kursi kemudi dan membantu Manda. Pak Budi adalah supir Kevin.


"Biar saja, Mbak," sergah Pak Budi sambil mengambil alih koper yang di bawa Manda.


"Eh, Pak Budi, Makasih ya ...." ucap Manda sungkan.


"Tidak apa-apa. Mbak Manda masuk saja," suruh Pak Budi.


Manda pun masuk ke dalam mobil tidak peduli Kevin yang masih merengek kelaparan di luar.


Sampai di Bandara, mereka segera mencari cafe terdekat, dan segera sarapan sambil menunggu Vita yang tak kunjung datang.


"Hai ...," sapa Vita begitu sampai Cafe tempat Manda dan Kevin berada.


"Sarapan dulu, Vit," tawar Manda.


"Udah dong tadi di rumah. Eh, jam berapa kita berangkat?"


"Satu jam lagi."


"Oh, oke deh."

__ADS_1


Setelah selesai sarapan, mereka segera boarding, karena sebentar lagi pesawat akan segera berangkat menuju Medan.


Di dalam pesawat, hati Manda sedikit gundah. Medan mengingatkannya pada seseorang di masa lalunya.


HAGANA


Seorang pria yang dikenalnya dulu. Pria yang dicintainya dari awal mereka bertemu hingga sampai detik ini. Mereka bertemu lewat udara, dengan hobi Manda yang suka menulis, membuat mereka bertemu di sebuah forum dunia maya, yang merupakan salah satu forum terbesar di Indonesia. Haga seorang pria yang umurnya jauh lebih muda dari Manda. Tapi Manda selalu merasa nyaman jika didekatnya. Mereka menjalani hubungan LDR cukup lama.


Awalnya Haga selalu setia membaca tulisan Manda. Karena hobi Manda yang sering menulis cerita. Hingga mereka saling bertukar nomer telpon dan makin akrab.


Akhirnya keakraban mereka makin erat. Sering curhat, ngobrol, chatting, bahkan telponan sepanjang malam kerap mereka lakukan. Hingga Haga mengungkapkan perasaan nya ke Manda. Dan Manda pun menyambutnya dengan tangan terbuka. Sejak Manda berpisah dengan mantan suaminya, dia memang tidak mudah membuka hatinya untuk laki laki lain. Namun kehadiran Haga mampu melebur semua pikiran negatif terhadap pria. Manda nyaman dengan Haga. Dan selama beberapa bulan mereka menjalin hubungan jarak jauh, hubungan mereka pun makin erat. Namun, setahun setelahnya, mereka terpaksa berpisah karena Haga di jodohkan dengan wanita pilihan orang tuanya. Padahal mereka sudah serius terhadap hubungan ini, tidak peduli perbedaan umur, status, bahkan jarak sekalipun. Haga mampu menerima keadaan Manda dengan tulus dan apa adanya. Bahkan Haga berniat menemui Manda saat itu. Tapi rupanya takdir berkata lain. Cinta mereka harus kandas di tengah jalan. Seperti layaknya kisah kisah remaja lain yang menjalani hubungan jarak jauh. Sepertinya hubungan jarak jauh, memiliki banyak kekurangan.


Sampai sekarang perasaan Manda tidak pernah berubah sedikitpun. Dia masih mencintai Haga seperti dulu. Sekalipun mereka sudah tidak lagi bersama, dan tidak berkomunikasi seperti biasanya, namun semua kenangan yang ditinggalkan Haga, masih tersimpan rapi di memori otak, hati dan ponselnya. Entah sudah berapa banyak rekaman suara Haga yang masih ada di ponsel Manda. Foto foto bahkan semua puisi yang mereka buat bersama masih ada di akun milik Manda yang dipakai bersama oleh mereka berdua sampai sekarang. Dan jika rasa rindu melanda, Manda selalu membaca kembali tulisan tulisan mereka berdua. Haga juga seorang penulis namun tulisan nya hanya dia tujukan untuk Manda seorang. Entah sudah berapa banyak puisi yang dia berikan untuk Manda.


Dan kini, Manda akan menginjakkan kakinya di kota itu. Kota kelahiran Haga. Ada sedikit terbesit dalam pikiran Manda untuk bisa mencari Haga. Dia sangat rindu, benar benar rindu. Tapi, Manda tidak tau alamat Haga. Akhirnya dia kubur dalam dalam harapan untuk bertemu Haga. Medan kota yang sangat luas. Apa mungkin mereka dapat bertemu dengan tanpa sengaja?


Tak lama pesawat pun landing di Bandara Kuala Namu. Saat turun dari pesawat, Manda berhenti sejenak sambil menarik nafas dalam dalam.


Hmm.. Medan. Akhirnya aku bisa ke sini juga. Batinnya diringi senyum tipis di wajahnya.


Ternyata seseorang telah menunggu mereka sejak tadi.


ANDRE!


Dia melambaikan tangan ke Manda, Kevin dan Vita dengan senyum tipis.


"Gimana? Lancar, kan? penerbangan nya?" tanya Andre sambil berpelukan dengan mereka satu persatu.


"Alhamdulillah, Bos. Aman terkendali."


"Kamu sendirian, Ndre?" tanya Manda sambil celingukan.


"Ya iyalah ... Sama sopir doang sih. Yuk buruan ke mobil, udah siang nih. Langsung ke Kantor baru," ajak Andre.


Selama beberapa menit mereka di dalam mobil, Andre menjelaskan bagaimana kondisi kantor baru itu, dan apa saja yang harus mereka lakukan selama di sini.


"Nah itu. Kita udah sampai," tunjuk Andre ke sebuah bangunan bertingkat di depan.


Setelah mereka turun, Manda segera meraih ponselnya karena ada beberapa pesan yang masuk. Walau matanya fokus pada layar ponsel itu, tapi kakinya terus mengikuti teman temanya berjalan.


Hingga saat mereka masuk ke bangunan tadi, sudah ada beberapa orang yang menyambut mereka.


"Selamat datang Pak Andre dan kawan kawan," sapa seorang pria tua berkepala botak.

__ADS_1


Manda hanya sekilas menatap ke mereka yang ada di sana, karena dia masih fokus pada beberapa pesan WA dari teman dan saudara.


Pria tua tadi adalah manager yang bertanggung jawab di kantor ini. Dia lalu mengenalkan karyawan yang ada di sini satu persatu. Manda tidak terlalu memperhatikan, karena dia rasa itu tidak penting baginya.


Hingga, saat orang terakhir memperkenalkan diri ...


"Saya, Hagana Putra Siregar, panggil saja Haga," ucap seseorang yang suaranya familiar di telinga Manda.


Alhasil, Manda yang awalnya cuek pada orang orang di hadapannya itu, akhirnya beralih menatap pemilik suara barusan.


Matanya terbelalak, jantungnya berdegup kencang, tangan nya gemetar dan sedikit basah oleh keringat yang tiba tiba saja muncul. Badannya bahkan panas dingin tidak karuan.


Wajah ini ... Dia masih sangat hafal. Suara ini, dia masih sangat mengenal nya. Bahkan baru saja dia dengar saat masih di pesawat tadi. Rekaman suara Haga selalu dia dengarkan berulang ulang tanpa bosan saat dia merasa rindu sosok pria itu. Dan kini, pria yang dia rindukan justru sudah ada di depan matanya.


Haga pun menatap Manda dalam dalam. Matanya berkaca kaca dan bibirnya bergetar menahan luapan perasaan yang selama ini tertahan.


Ponsel telah lepas dari genggaman Manda saat dia benar benar yakin, bahwa itu adalah Haga-nya. Haga yang di kenal nya dulu. Haga yang dia cintai sampai saat ini, Haga yang selalu dia rindukan bahkan sampai membuat tangisnya pecah seketika jika mengingatnya.


Pria itu kini ada di hadapannya.


"Loh? Man? Kenapa?"tanya Kevin sambil terus menatap Manda dengan keheranan.


Manda kembali ke kesadarannya yang sempat hilang sesaat karena Haga, lalu dengan segera mengambil ponsel yang dia jatuhkan tadi.


"Nggak apa apa kok. Aku cuma laper aja kali yah, hehe" elak Manda.


Semua orang menatap mereka berdua, Andre melanjutkan kalimatnya.


"Dan mereka bertiga adalah orang kepercayaan saya, Kevin Pratama, ini Vita Azkia dan yang itu," tunjuk Andre pada Manda yang ada di ujung, "Amanda Rhea."


Ai, apa benar itu kamu? Aku kangen kamu, Ai. Kangen banget. Batin Haga sambil terus menatap Manda tanpa kedip.


Ai adalah panggilan sayang Haga untuk Manda, di ambil dari bahasa jepang. Yang artinya sayang.


Di sisi lain, Manda pun merasakan hal yang sama.


Bee, itu kamu? Beneran kamu? Akhirnya ketemu juga. Aku kangen.


Bee juga panggilan sayang Manda untuk Haga.


Setelah perkenalan singkat itu, semua kembali ke lantai atas, berkutat dengan pekerjaan masing masing. Masih dengan perasaan tidak karuan di antara dua sejoli tadi. Tapi mereka tetap harus bersikap profesional, dan sama sama melanjutkan pekerjaan mereka masing masing.


Manda tidak menyangka kalau hal yang sejak tadi dia bayangkan, ada di depan mata. Dia benar benar bertemu dengan Haga. Seseorang yang sangat ingin dia temui lebih dari siapa pun juga. Tapi dia sadar kalau kondisi mereka tidak lagi sama seperti dulu. Jadi Manda pun berusaha menjaga sikap. Dia akan bersikap wajar, berusaha untuk meredam perasaannya sendiri. Yah, seharusnya dia sudah melakukan hal itu sejak lama. Sejak Haga meninggalkan dia dan menikah dengan wanita lain pilihan orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2