pancasona

pancasona
46. Cahaya Harapan


__ADS_3

"Hani, kan itu, ya?" tanya Apri sambil menatap teman-temannya satu persatu. 


Mereka semua justru diam, namun telinga mereka terus mencoba mengenali suara tersebut dan memastikan lebih dulu sebelum melakukan tindakan. 


"Iya bener. Itu Hani. Kenapa ya?" tanya Hana yang mulai cemas dengan apa yang sedang terjadi pada saudara kembarnya itu. 


Tak lama tidak hanya suara Hani saja yang terdengar, karena suara Blendoz yang khas mulai menggelegar dengan jeritan yang menyayat hati. Mereka yang mulai sadar jika ada hal buruk pada teman-temannya lantas bergegas pergi dari sungai dan mencari Blendoz dan Hani. 


"Hani! Blendoz!" jerit mereka bergantian saling bersahutan. 


Suara yang mereka dengar berasal dari arah selatan hutan, hingga saat mereka menoleh, tampaklah dua orang yang sedang mereka panggil muncul sambil berlari ketakutan. 


"Balik!" kata Blendoz sambil menyuruh mereka berbalik arah.


Tentu saja mereka justru bingung dengan sikap Blendoz yang tampak aneh. Tapi tiba-tiba saja di belakang Blendoz dan Hani muncul Fauzan yang terlihat sedang mengejar mereka berdua. Otomatis semua orang ikut berlari dan mulai paham alasan Blendoz dan Hani tampak panik seperti tadi.


" Kenapa sih ini?" tanya Hana yang berlari berdampingan dengan hani.


"Ozan hidup lagi! Serem banget! Kayaknya dia kerasukan iblis deh," ujar Hani terus berlari menghindari semak belukar dan juga akar pohon yang menonjol.


"Gila! Larinya cepet banget!" tukas Ita yang berada di belakang Hana dan Hani.


Sementara yang lain justru heboh dengan jeritan yang bersahutan karena sikap Fauzan kali ini lebih mengerikan dibandingkan sebelumnya. Rimbunan pepohonan yang menjulang tinggi sudah mulai terlihat jarang.


Sampai akhirnya mereka justru melihat pemandangan yang membuat dahi berkerut. Beberapa meter di depan sudah tidak lagi ada hutan lebat seperti apa yang sedang mereka lalui sekarang. Pemandangan yang terlihat justru sebuah padang rumput yang luas. Mereka tidak menghentikan berlari, justru makin melajukan langkah agar bisa segera keluar dari hutan tersebut. Rasanya berlari di dalam hutan lebat seperti ini justru membuat ruang gerak mereka terbatas. Beberapa kali di antara mereka tersandung dan untungnya tidak sampai terjatuh.


Apri, Diah, dan Dana berlari lebih dulu memimpin paling depan. Di belakangnya diikuti teman-teman yang lain. Mereka bertiga lebih dulu sampai dan berhasil keluar dari hutan. Lalu mulai masuk ke padang rumput yang luas itu bersama sama. Blendoz, Hani, Hana, dan Leni menyusul kemudian. Namun saat Ita dan Rea hendak menyusul, tiba-tiba rambut Rea dijambak dari belakang oleh Fauzan. Otomatis Hal itu membuat gadis tersebut jatuh tersungkur ke tanah diikuti suara jeritan dari mulutnya. Rea terkejut karena dia justru tertangkap oleh Fauzan.


Mendengar mendengar suara Rea di belakang, Teman-teman yang berada di depan sontak berhenti berlari dan menoleh kebelakang. Mereka ikut terkejut karena melihat apa yang terjadi kepada Rea.


"Astaga! Reaaa!" jerit Apri yang sangat mencemaskan kondisi Rea.

__ADS_1


"Dan, gimana dong itu?" tanya Diah memukul bahu Dana karena panik.


Dana yang melihat Rea jatuh, langsung berlari kembali untuk menolong gadis itu. Sementara Rea terus menjerit kesakitan akibat rambutnya yang dijambak oleh Fauzan dengan cukup kuat. Dia terus memegangi kepalanya juga tangan Fauzan berusaha agar bisa terlepas dari cengkraman temannya itu. Rea mendengar Fauzan tertawa. Dia menoleh ke arah Fauzan yang kini sedang menatapnya dengan tatapan yang mengerikan.


Fauzan melepaskan cengkraman tangannya dari kepala Rea. Dia kini ikut jongkok mensejajarkan posisi Rea yang sedang duduk di atas tanah. Tangan Fauzan memegang Dagu Rea dan mencengkeramnya cukup kuat.


"Akhirnya kita bertemu juga," kata Fauzan dengan berbisik. Matanya melotot tajam dengan seringai yang mengerikan.


Rea tentu heran dengan perkataan Fauzan yang terdengar aneh baginya. " Apa maksudmu?" tanya Rea.


" kau lupa padaku? Ah, seharusnya kau langsung ingat saat kita pertama kali bertemu, seperti dulu."


"Ozan! Sadar! Kamu jangan terpengaruh sama iblis di dalam tubuh kamu, Zan," pinta Rea dengan tatapan penuh harap.


" Tentu saja aku sadar sepenuhnya. Amanda Rea."


Dana datang dan langsung menendang Fauzan sehingga dia berguling menjauhi Rea. Keduanya terjatuh di atas tanah. Dana kini berada di depan Rea, dia terus menatap Fauzan yang sedang tertawa sambil berusaha bangkit.


"Aku baik-baik aja, Dan."


Fauzan kini sudah kembali berdiri. Dia menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Namun Hana dan Hani menyusul Dana dan Rea.


" kita pergi aja! Percuma! Kita kan bisa melawan dia!" kata Hana.


Sementara Hani berusaha membantu Rea untuk bisa berdiri. Lalu mengajak Gadis itu pergi menyusul yang lain. Dan aku pun akhirnya menuruti perkataan teman-temannya. Mereka pun kini kembali berlari untuk bisa menghindari Fauzan.


Akhirnya mereka semua bisa keluar dari hutan tersebut. Mereka semua kembali berlari sambil sesekali menoleh ke belakang. Tentu saja mereka juga harus bisa melihat di mana posisi Fauzan sekarang. Harapan mereka Fauzan tidak lagi belajar mereka. Ternyata harapan itu pun terwujud. Karena kini Fauzan hanya berdiri di bawah pohon sambil menatap teman-temannya yang makin menjauhinya. Dia menyeringai tanpa melakukan apapun


Tentu saja hal ini menjadi tanda tanya besar bagi mereka semua. Bahkan mereka sempat berhenti untuk memperhatikan Fauzan yang sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Padahal sejak tadi Fauzan selalu bertindak membabi buta untuk bisa mengejar teman-temannya.


" kenapa dia? Kok udah gak ngejar kita lagi ya?" tanya Hani sambil mengatur nafasnya yang kembang kempis.

__ADS_1


"Capek kali?" sahut Ita.


"Nggak mungkin capek sih. Fauzan yang ini nggak ada capeknya lho! Gue aja kewalahan tadi," tambah Blendoz.


Padahal mereka semua sudah kelelahan karena diteror oleh Fauzan sejak tadi.


Malam semakin larut. Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Mereka tidak menyangka jika sudah berlari selama itu. Rasa kantuk seakan hilang berganti dengan rasa takut. Kini mereka tidak lagi berlari. Mereka sudah bisa berjalan santai menikmati pemandangan malam yang bertabur ribuan bintang di langit yang sangat jelas terlihat dari tempat mereka sekarang.


"Kita bangun tenda di sini gimana?" tanya Apri yang tampak sudah sangat kelelahan.


"Jangan. Takutnya Fauzan tiba-tiba nyusul kita ke sini pas kita udah tidur. Kita jalan sedikit lagi, ya. Cari tempat yang lebih aman," jelas Dana.


" Iya bener. Kita harus waspada sama Fauzan. Takutnya ini cuma strategi dia agar kita lengah. Kalian lihat, kan, tadi? Gimana menyeramkan dia?" tambah Hani yang sependapat dengan Dana.


"Gila itu anak. Kesurupan, kah? Kok bisa sih dia begitu?"


"Kesurupan apa sih dia. Padahal dia hampir mati tadi loh. Nadinya aja lemah banget!" tukas Blendoz.


"Yang jelas itu sesuatu yang berbahaya. Tapi ... Gimana nasib Ozan, ya? Apa dia baik-baik aja sendirian di hutan itu?" Rea ikut menyampaikan pendapat serta kecemasannya.


"Re, dia aja hampir membunuh kamu tadi! Masih aja mencemaskan kondisi si Ozan itu!" kata Diah kesal.


"" Eh tapi bener loh kata Rea. Kasihan Ozan. Kalau terjadi hal buruk sama dia di hutan, Apa yang harus kita katakan sama keluarganya?" tanya Leni pada teman-temannya.


" kan dia nggak ikut rombongan kita. Itu salah dia sendiri kok," cetus Hani.


" sudah sudah. Tak perlu berdebat. Lihat di sana ada lampu. Mungkin itu pemukiman penduduk, jadi kita bisa minta bantuan mereka di sana. Gimana?" tanya dana sambil menunjuk ke arah sebuah lampu berwarna kuning terang, tak jauh dari mereka.


" Oh iya bener. Mungkin itu salah satu desa terdekat dari hutan ini," pekik Ita semangat.


Melihat ada sebuah lampu bohlam yang dari ujung kegelapan sana, seakan-akan menambah energi mereka yang sempat terkuras habis tadi. Mereka mulai berjalan dengan semangat. Berharap bisa menemukan manusia dan mendapatkan bantuan secepatnya.

__ADS_1


__ADS_2