
...Musuh terbesar manusia adalah emosi nya sendiri. ...
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Suara adzan subuh membuat mata Manda terbuka, diraihnya ponsel di bawah bantal nya untuk melihat pukul berapa sekarang.
"Jam 5", gumamnya sambil menggeliat di atas ranjang.
Tiba tiba mata nya melotot karena dia baru menyadari ada sebuah tangan kokoh sedang memeluk erat pinggangnya dari belakang. Manda melirik ke belakang nya dan ternyata Haga yang sedang memeluk nya. Nafas Haga teratur dan lembut melewati daun telinga nya. Dia masih tertidur nyenyak rupanya.
Hmm.. Nyaman. Namun Manda segera menyadarkan diri nya sendiri dari kondisi saat ini. Keluar dari zona nyaman yang tidak seharusnya dia rasakan.
"Ga.. Haga..." panggil Manda sambil mendorong tubuh Haga agar menjauh. Namun bukan nya Haga menjauh atau terbangun, justru Haga malah makin merapatkan pelukan nya ke Manda.
"Dasar, kebo!"runtuknya.
Perlahan tangan Haga diangkat nya lalu diraihnya guling disampingnya lalu di berikan ke Haga sebagai pengganti tubuhnya.
Manda duduk di tepi ranjang sambil memandangi Haga yang masih terlelap, sambil mengingat kejadian semalam.
Sekalipun kamar ini sudah di beri pagar gaib, namun suara yang di hasil kan makhluk di luar tetap saja membuat Manda tidak bisa memejam kan matanya. Bahkan dia sampai sampai menutup kedua telinganya. Namun suara itu bukan menghilang malah menggema di seluruh ruangan. Isak tangis mulai terdengar dari mulut Manda, Haga yang tidak tega melihat Manda seperti itu, lalu dengan sigap memeluk nya dari belakang. Manda tidak menolak hanya sedikit tersentak kaget. Haga mendekatkan mulutnya ke telinga Manda. "Jangan takut. Ada aku disini" bisik nya lembut.
Isakkan Manda mulai mereda, gemetar tubuhnya mulai berkurang, Manda mulai tenang dan perlahan matanya terpejam dalam pelukan Haga. Manda terlelap dalam pelukan Haga hingga pagi.
Senyum tersungging di mulut Manda, di belai nya kepala Haga. Tak lama Haga menggeliat, Manda kaget lalu segera melepaskan tangan nya dan berdiri menjauh. Raut wajahnya menegang. Haga makin mengeratkan pelukan nya ke guling didepannya sambil menggumam. "Ai.. Kamu jangan takut ya. Ada aku sekarang"
Wajah Manda merona merah, namun lamunan nya buyar saat ponselnya bergetar.
Kevin : "Man, gue udah balik ke rumah. Kacau banget deh didalem. Buruan balik"
Di raih nya jaket yang tergeletak di sudut ranjang, Manda lalu keluar dari rumah Haga dan pulang.
\=\=\=\=
Jalanan masih sepi, langit pun masih gelap, kabut tipis terlihat di sepanjang mata memandang, Manda berjalan kaki pulang. Karena jarak rumah Haga dan rumah yang dia tinggali sekarang tidak begitu jauh. Dan lagi, hitung hitung olahraga. Hanya butuh sekitar 20 menit, Manda sampai juga di rumah. Pintu depan terbuka lebar. Vita yang melihat Manda pulang segera menghampirinya dan menarik tangan Manda.
"Buruan liat deh, Man" seru Vita dengan semangat berkobar kobar.
Sampai di dapur, ada Kevin yang sedang membersihkan pecahan kaca yang cukup banyak. Kevin menatap Manda sambil menaikkan sebelah bibirnya.
"Tenang, Man. Bentar lagi bersih lagi kok ni dapur", ucapnya santai.
Manda mengedarkan pandangan ke tiap sudut dapur. Keadaan dapur benar benar kacau. Seluruh piring dan gelas pecah dilantai. Manda berjalan mendekat ke meja makan, makanan di atas meja pun berserakan. Dan ada butiran pasir yang cukup banyak berserakan di atas meja. Manda menyentuh nya lalu meniup pasir itu. "Amon", gumamnya. Manda menatap Kevin dan Vita bergantian. "Kalian nggak apa apa kan tadi malem?"
"Aman, Man. Loe sendiri gimana? Tidur di hotel mana? Gue sama Vita kepikiran terus tau."
"Iya, mana di telponin nggak diangkat", cecar Vita.
Manda terkekeh, "aku silent, maaf ya"
"Nginep dimana emang, Man. Hotel sekitar sini kan cuma satu" tanya Kevin penuh selidik.
"Eum, mendingan kita beresin dulu yuk. Nanti telat ngantor lagi" elak Manda.
Kevin dan Vita hanya mendengus karena tidak mendapat jawaban atas pertanyaan mereka. Mereka curiga jika Manda pergi dengan Haga semalam.
Di tempat lain, Haga mulai mengerjap ngerjapkan matanya sambil menggeliat. Semalam adalah tidurnya yang paling nyenyak. Dia menjulurkan tangan ke samping dan mulai meraba sprei. Spontan dia terduduk sambil menengok ke sampingnya. Dia melewatkan sesuatu.
Seseorang yang semalaman ada di pelukannya tiba tiba lenyap begitu saja.
"Ai.. Aiiiii.. Kamu kemana?" panggil Haga sambil tengak tengok ke segala arah. Dia segera keluar dari kamar lalu mencari Manda ke seluruh ruangan di rumahnya. "Kemana lagi ni orang? Huh.." gumamnya. "Jangan jangan udah balik. Nggak pamit lagi. Ah, dasar emang" gerutunya.
Segera saja dia meraih ponselnya.
__ADS_1
Haga : "Kemana?"
Lama tak dibalas oleh Manda. Akhirnya Haga menyerah dan segera sholat subuh.
Manda yang mendapat pesan dari Haga tersenyum tipis.
Manda :"Pulang"
Diletakan kembali ponsel nya, lalu Manda segera membereskan kekacauan di rumah bersama Kevin dan Vita. Lalu segera mandi.
\=\=\=\=
Pukul 7.30 tepat Manda, Vita dan Kevin sampai di kantor. Mereka memutuskan berjalan kaki menuju kantor yang memang letaknya tidak begitu jauh. Sampai kantor sudah banyak karyawan yang datang, begitu juga Haga yang langsung menatap Manda saat mereka bertiga masuk ke kantor.
Suara tawa dan celotehan mereka bertiga mampu menarik perhatian yang lain. Tiba tiba Kevin berdehem sambil menyikut Manda. Rupanya Haga sedari tadi sedang memandangi Manda tanpa kedip.
"Man.." bisik Kevin.
Manda yang sedang fokus dengan ponselnya terpaksa menoleh, lalu melihat Kevin yang sedang menunjuk Haga dengan kepalanya. Haga sedang berdiri di tangga sambil memasukan kedua tangan nya ke saku celana sesekali melihat ke bawah, seolah mereka tau kalau Haga sedang menunggu Manda, Kevin mengajak Vita naik ke atas lebih dulu.
"Yuk, Vit.. Ada kerjaan yang gue nggak ngerti. Lupa kemaren mau tanya elo" seru Kevin sambil menarik tangan Vita pergi. Vita yang paham dengan maksud Kevin segera mengiyakan sambil mengerdipkan sebelah matanya ke Manda sambil berbisik, "sukses, Man"
Manda hanya memandang kedua sahabat nya dengan tatapan aneh. Saat mulai dekat tangga, Haga memanggilnya.
"Kok nggak bangunin aku tadi?" tanya Haga tanpa merubah posisi nya.
"Eum... Habisnya kamu nyenyak banget tidurnya. NGEBO banget" sindir Manda sambil berjalan menaiki anak tangga diikuti Haga.
Haga tersenyum tipis dan berjalan berdampingan bersama Manda.
"Semalem, aku nyenyak banget deh tidurnya. Padahal biasanya suka kebangun terus malem malem. Kamu gimana?" terang Haga dengan senyum terus terukir di bibirnya.
Manda meliriknya sekilas lalu bergumam, "aku juga" sahutnya pelan.
"Hah? Apa? Kamu bilang apa?" Haga pura pura tidak mendengar kata kata Manda barusan.
Siang ini perwakilan dari mereka harus survey ke lapangan, Andre memerintahkan Manda, Kevin, Vita dan Haga ke tempat itu. Kenapa Haga yang dipilih? Karena Haga yang lebih tau seluk beluk daerah itu, karena daerah yang akan mereka survey adalah dekat dengan rumah orang tua Haga. Jadilah mereka pergi berempat kesana.
Pukul 11.00 siang, mereka berangkat. Haga yang menyetir, disebelahnya Kevin. Manda dan Vita di kursi penumpang. Butuh satu jam perjalanan ke daerah itu. Hujan lebat sedang mengguyur kota sejak beberapa jam lalu. Jalanan pun macet. Alhasil mereka memutuskan makan siang terlebih dahulu di salah satu resto.
"Huh... Deres banget. Gila. Badai ini mah" celoteh Kevin begitu mereka turun dari mobil dan mulai masuk ke resto. Mereka memilih tempat untuk duduk, dan tepat di ujung belakang ada meja yang kosong. "Nah.. Itu tuh" tunjuk Vita.
"Untung masih ada tempat" kata Haga.
Namun, seketika langkah Manda terhenti. Tak jauh dari meja yang akan mereka pakai, ada Beni bersama beberapa teman nya.
'Masih disini tuh kampret!' Maki Manda dalam hati.
"Manda.. Is.. Malah ngelamun" Vita lalu mengggandeng Manda untuk segera duduk.
Mata Manda terus tertuju pada Beni yang sedang menatap nya juga. Teman teman Beni pun ikut melihat ke arah Manda dengan tatapan sinis. Manda tau, Beni pasti dendam padanya karena pertunangan nya dengan Lili batal. Lili memutuskan membatalkan pertunangannya karena sikap Beni yang tidak pernah bisa berubah. Dan ternyata Beni pun punya maksud tersembunyi kepada Lili. Yang tidak lain karena harta. Beni hanya ingin menumpang hidup pada Lili karena Lili memang dari keluarga yang kaya.
Vita berdehem, lalu mengisyaratkan yang lain melihat Beni yang berada tidak jauh dari mereka.
"Jiah.. Itu kutu kupret masih disini aja" umpat Kevin.
"Ngeselin banget ya gayanya" tambah Vita.
Haga hanya menatap Manda yang masih beradu pandang dengan Beni. Sangat terlihat sekali aura kebencian dari mata Manda sekarang. Tatapan matanya tajam dan dingin terus tersorot ke Beni yang hanya berjarak tidak lebih dari 1 meter.
"Man... Udah ah. Inget, jaga emosi" nasehat Kevin.
"Iya, Man. Terakhir kamu emosi kan tu setan masih berkeliaran disekitar kamu. Kalo kamu ampe emosi lagi, bakal lebih bahaya lagi kan" tambah Vita.
__ADS_1
Manda yang mulai menyadari hal itu akhirnya melepaskan pandangannya dari Beni, lalu beralih ke arah lain. Dan entah kenapa malah kini Manda melihat ke arah Haga. Yang ternyata juga sedang menatapnya tanpa kedip.
Alhasil Manda menjadi salah tingkah.
Makanan pun datang, tanpa basa basi lagi mereka menyantap hidangan siang ini. Karena perut sudah keroncongan minta diisi. Disaat mereka makan, entah ada maksud apa Beni tiba tiba mendekat, berdiri disamping Manda yang sedang sibuk makan. Manda hanya melirik sekilas lalu berusaha tak memperdulikan kehadirannya. Manda sadar, dia harus menahan emosinya kali ini. Jika tidak, Amon akan makin bisa menjangkau Manda. Yah, hanya jika emosi Manda tinggi saja, Amon akan mudah mendekat bahkan mencelakai Manda dengan mudahnya.
"Heh! Puas loe, bikin gue pisah sama Lili?" Bentaknya sambil memukul meja.
"Weeeesss... Santai bos. Jangan pake emosi donk!" Kevin beranjak dari duduk nya lalu menahan Beni yang sudah tersulut emosi.
"Loe nggak usah ikut campur ya!!"
Manda mengisyaratkan Kevin untuk kembali duduk. Di teguknya air minum miliknya, Manda menyilangkan kedua telapak tangan nya di depan mulut nya lalu melirik ke Beni. "Terus? Loe mau apa?" tanya Manda datar tanpa menoleh sedikitpun ke Beni.
"Loe harus tanggung jawab!"
"Gue? Huh.. Nggak salah?" dengus Manda sinis.
"Pokoknya, elo harus bayar ganti rugi! Balikin Lili ke gue, kalau nggak gue bakal bikin perhitungan sama loe!" Ancam Beni.
Haga berdiri, "Jangan sentuh dia!" bentaknya.
"Wow.. Udah punya bodyguard baru, Man?"
"Bukan urusan loe!" jawab Manda sinis.
"Jangan jangan Manda udah mulai buka hati buat cowok ya? Gitu donk Man, jangan sendiri terus.. Cari pasangan. Kalau dia nggak mau... "tunjuk Beni ke Haga, "gue juga mau kok sama elo. Apalagi coba liat deh, tubuh elo.... " kalimat Beni tertahan sambil memandangi Manda dari atas sampai bawah. Tatapan nya sungguh menjijikan. Bagai hewan buas yang siap menerkam mangsanya.
Buuuggg!
Satu pukulan mendarat di pipi Beni. Haga langsung mendekat dan memukul Beni dengan brutal. Teman teman Beni tidak terima dan ikut mendekat. Alhasil Kevin ikut menghalau mereka yang akan mengeroyok Haga. Keadaan kacau.
"Vit... Menjauh" pinta Manda. Vita mengangguk lalu agak menjauh. Suasana resto menjadi makin kacau karena perkelahian ini. Tidak ada yang berani mendekat. Dan membuat hal ini seperti tontonan. Sementara di sisi lain, Haga dan Kevin sepertinya sanggup menghadapi kawanan Beni.
Buuug!
Haga terpental karena dipukul dari belakang oleh salah satu dari mereka. Dia meringis kesakitan dan sempat terhenti menahan sakit. Di sisi lain, Beni mulai mendekat dengan menyeret pemukul bola kasti yang entah dia dapat dari mana. Manda tidak bisa tinggal diam. Di raihnya kursi yang dia duduki lalu dengan cepat mendekat ke Beni yang tidak melihat kedatangannya. Lalu...
Braaak!
Kursi itu di hantamkan ke punggung Beni. Beni terkapar tak berdaya, badannya pasti sakit semua. Namun, dia masih dalam kondisi sadar.
Manda mendekat. "Jangan pernah berani sentuh orang orang terdekat gue! Loe bakal terima akibatnya! Inget itu!" ancam Manda.
Manda lalu berjalan mendekat ke Haga. "Kamu nggak apa apa? Sakit ya?" tanya Manda cemas.
Darah sedikit mengalir di pelipis Haga. "Ayok aku obatin" Manda menarik tangan Haga keluar dari resto.
Sementara Kevin membayar kerugian akibat perkelahian itu dengan beberapa lembar uang. "Maaf ya, Bang" mereka pun kembali ke mobil.
"Aku nggak apa apa kok. Kamu nggak usah khawatir gitu" pinta Haga saat Manda mengobati luka nya dengan obat obatan yang ada di kotak P3K yang selalu ada di mobil Haga. Wajah Haga memang agak kacau, darah mengalir di pelipis kanan nya, pipi dan sudut bibirnya lebam. Sesekali dia pun meringia kesakitan saat Manda mengoleskan obat merah di lukanya.
"Udah ah, bawel. Diem aja napa. Kayak gitu di bilang nggak apa apa? Robek loh, darahnya ngalir terus. Enak aja kamu bilang gitu!" omel Manda
Kevin dan Vita hanya senyum senyum sambil batuk batuk.
"Minum obat kalo batuk" sindir Manda.
"Obat nyamuk, Vin" tambah Vita.
"Abang mati donk Neng" gurau Kevin
lalu mereka berdua tos karena berhasil meledek Manda.
__ADS_1
"Dasar gila" maki Manda.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan lagi, namun kali ini Kevin yang menyetir.