pancasona

pancasona
Part 179 Penculikan


__ADS_3

Anjas dan Niko pergi meninggalkan taman. Berjalan beriringan berdua, dan terus bersama. Nayla yang memperhatikan hal itu sejak hari ini, lantas beberapa kali bergidik ngeri. Bayangannya sudah ke mana mana. Melihat dua pria yang sebenarnya memiliki wajah tampan tetapi tidak normal. Nayla dan Wira menjaga jarak dalam mengikuti Anjas dan Niko. Langkah mereka mulai menuju sebuah gedung aula bekas yang memang lama tidak dipakai.


Wira merentangkan tangan ke samping, mengisyaratkan Nayla untuk berhenti berjalan. "Kenapa? Mereka mau ke mana?" tanya gadis itu sambil berbisik. Wira tak menyahut, hanya memperhatikan sekitar mereka. "Aneh. Mereka sepertinya tau kalau kita ikuti."


"Kamu bener juga. Vampire itu mampu mendengar detak jantung manusia, dan aroma darah kita. Apakah Dhampire juga seperti itu?" tanya Nayla.


"Yang jelas, Dhampire itu jauh lebih kuat."


Wira mengajak Nayla berjalan memutar, mencari tempat lain untuk mengintai. Atau lebih tepatnya mencari jalur lain agar keberadaan mereka tidak terendus oleh dua pemuda tadi. Keadaan sekitar mereka sunyi, karena bagian kampus ini memang jarang terjadi aktivitas mahasiswa pada umumnya. Langkah mereka pelan, dan mencoba untuk sangat berhati- hati sekali. Sampai menemukan ujung koridor, Nayla dan Wira yang hendak berbelok kemudian menghentikan langkah mereka. Keduanya lantas berjalan mundur pelan. Saat ternyata di depan mereka sudah ada Anjas dan Niko. Mereka berdua menyeringai. Nayla yang hendak kabur ke arah belakangnya, kembali terpaku, rupanya musuh tidak hanya dua orang saja. Karena mereka sudah di hadang 3 orang lainnya.


Dalam hati Nayla, ia sudah yakin, kalau mereka sudah bertemu dhampire yang sedang mereka cari. Tapi masalahnya kini dirinya dan Wira terjebak. Terjebak dalam situasi tidak menyenangkan.


****


Arya lelah menelusuri sepanjang koridor kampus. Ia tidak menemukan di mana Nayla berada. Bahkan tidak hanya Nayla, Wira juga hilang. Retno dan Putra juga sudah kewalahan dengan pencarian mereka. Bukan lagi dhampire yang menjadi prioritas, tapi dua orang teman mereka yang tiba-tiba bagai hilang ditelan bumi.


"Duh, bagaimana dong, Ya! Nayla sama Wira ke mana?! Jangan- jangan terjadi sesuatu sama mereka!" rengek Retno panik.


"..." Arya yang dari tadi diam, hanya bisa mondar mandir sambil menjambak rambutnya sendiri. Perpustakaan seolah menjadi markas mereka sekarang. Dan anggota mereka hanya tinggal tiga orang itu saja.


"Rian masih ada di kantin sama teman-temannya tadi, jadi pasti bukan dia," cetus Putra.


"Bukannya, tadi Nayla ngikutin Rian, ya? Terus Wira mengikuti Anjas dan Niko, kan?"

__ADS_1


"Iya."


"Kalau memang bukan Rian, mungkin Anjas sama Niko? Put, cari tau semua informasi tentang mereka berdua," perintah Arya, tegas. Putra langsung menjelajah ke dalam laptopnya untuk mencari apa yang Arya minta.


"Mereka anak kesenian, punya band bersama dan sering manggung sejak SMU." Informasi pertama yang di dapat Putra mampu membuat Arya tau, ke mana ia harus mencari mereka. Tapi saat hendak pergi, ia kembali lagi. Seolah melupakan sesuatu, saat dirinya menatap ke sudut perpustakaan.


"Put, kamu bisa mengakses CCTV kampus?"


Mata Putra berbinar, seolah mendapat angin segar di tengah ruang hampa. Ia kembali mengetik dengan sepuluh jari, cepat dan tanpa jeda. Arya lantas menempatkan diri duduk di samping kanan Putra, sementara Retno duduk di samping kiri Putra. Dalam hitungan detik, layar laptop Putra sudah seperti sistem keamanan kampus. Semau aktivitas CCTV di tiap sudut terpantau dari kedua mata mereka.


"Putar ulang, sekitar satu jam lalu!" pinta Arya. Putra mengangguk dan kini rekaman satu jam yang lalu sudah terpampang di depan. Mereka berbagi tugas suntuk menyeleksi rekaman mana yang ada Nayla dan Wira.


"Itu Nayla! Di kantin!"


"Itu Wira, terus mengikuti Anjas dan Niko!"


Menit demi menit terus mereka perhatikan, dan hanya dua video itu saja yang menjadi prioritas mereka berdua. Hingga sampai Nayla pergi meninggalkan kantin saat Rian duduk di mejanya. Mereka lantas terus mengikuti ke mana Nayla pergi. Semua tak luput dari pengawasan CCTV hingga, saat Wira dan Nayla yang mengikuti Anjas dan Niko yang meninggalkan taman kampus beberapa saat lalu.


"Nggak ada lagi?"


"Daerah itu nggak ada CCTV nya, Dude," cetus Putra. Dan pelacakan tersebut berhenti. Tapi setidaknya Arya sudah tau ke mana dirinya harus mencari dua temannya itu. "Sampai gue nggak balik dalam satu jam, kalian cari Bang Ucok. Kasih tau soal ini!" kata Arya tegas. Retno menatap Arya nanar, lantas mengangguk.


"Arya!" panggil Putra. Arya menoleh. Putra melempar sebuah pisau dengan ukiran aneh. Dan berhasil Arya tangkap tanpa terluka. Ia menatap heran ke Putra. "Tusuk jantungnya, atau penggal kepalanya."

__ADS_1


Arya lantas mengangguk. Ia lalu meninggalkan perpustakaan dengan langkah pasti. Kaca mata Erica diturunkan hingga ujung hidungnya, menatap kepergian Arya yang baru saja lewat. Beberapa kali mereka terlihat sibuk ke sana ke mari, hingga membuat Erica menggelengkan kepala. Ia kembali pada buku- buku di depannya yang harus dibereskan, dan dikembalikan ke raknya masing - masing.


Langkah Arya sedikit dipercepat. Ia harus segera sampai di sana, walau sebenarnya ia juga belum tau di mana Nayla dan Wira berada. Karena daerah itu termasuk banyak sekali ruangan kosong yang memang jarang dipakai. Arya harus siap mencari satu demi satu ruangan guna menemukan dua orang itu.


****


Wira dan Nayla kini sudah berada di sebuah ruangan kotor, dengan kondisi kedua tangan dan kakinya yang terikat pada sebuah kursi yang juga sedang mereka duduki. Mulut mereka disumpal kain hingga tidak bisa berteriak kencang. Lima orang pemuda yang beberapa kali mereka temui selama kuliah di kampus ini, tampak mengerikan. Terlebih setelah mereka semua menunjukkan taring yang tersembunyi di atas gusi atas mereka. Runcing dan tajam. Leher mereka bisa dikoyak dengan mudah jika sampai gigi itu hinggap ke kulit mereka. Hanya ada dua kemungkinan yang akan terjadi pada nasib mereka. Mati atau berubah menjadi salah satu seperti mereka. Tentu keduanya adalah pilihan buruk.


"Kenapa kalian bisa mengikuti kami?!" tanya Anjas dengan wajah mengerikan. Wajah aslinya. Anjas mendekat ke Nayla, mencoba meneror gadis itu agar sedikit getar dengan nasibnya sendiri, dan merengek minta dilepaskan. Tapi sayangnya itu bukan gaya Nayla. Dua tawanan mereka itu justru tampak santai dengan situasi hidup mati ini. Nayla beberapa kali terlihat menatap jengah pada mereka berlima, dan membuat Anjas tertarik untuk melepas kain yang menyumpal mulutnya.


"Kamu! Kenapa kamu seolah nggak takut. hah?! Padahal kamu tau siapa kamu, kan?"


"Untuk apa aku takut? Pada segerombolan pengecut seperti kalian!" tantang Nayla.


Wira yang masih diam di tempatnya melirik gadis ini sambil geleng- geleng kepala. Keberanian Nayla memang patut diacungi jempol, tapi cukup membahayakan juga. Wira sebenarnya mampu melepaskan diri dari ikatan yang membelenggunya ini, dan dalam hitungan detik mampu membunuh semua makhluk menjijikan itu. Bagi Wira, ah tidak, Samael, semua makhluk itu menjijikan. Kecuali para Malaikat dan semua penghuni langit.


Dhampire, Vampire, werewolf, Nephilim adalah makhluk yang menyalahi kodrat. Menjijikan dan pantas dibumi hanguskan. Wira sering turun ke bumi untuk menumpas makhluk itu. Menyamar sebagai manusia dan berbaur dengan mereka. Mulai membunuh siapa saja yang pantas di bunuh. Hingga sampai akhirnya, berita tentang reinkarnasi Nayla dan Arya. Dia mulai berhenti dan justru mencari dua orang itu.


Arya dan Nayla merupakan tombak penting dalam masalah ini. Mereka berdua sedang dicari oleh banyak golongan, untuk menjadi sekutu mereka dan jika menolak, tentu tak segan segan akan dibunuhnya. Tugas Wira adalah melindungi mereka berdua dari serangan luar. Terutama para iblis suruhan Raja neraka. Kalau sampai kekuatan Raja neraka bergabung dengan Arya dan Nayla, maka bumi akan gonjang ganjing. Pertumpahan darah akan terjadi di mana mana. Dan akhirnya langit akan terkena imbasnya juga.


Arya dan Nayla merupakan fallen angel yang memang cukup berpengaruh. Kekuatan mereka memang tidak seberapa sekarang. Tapi jika sampai ingatan mereka kembali, maka neraka akan bergetar, langit akan goyah. Dan malaikat pencabut nyawa akan mengerahkan semua pasukannya untuk membunuh mereka berdua. Kutukan itu akan terus terjadi sampai kiamat. Namun, saat ingatan mereka akan asal usul mereka dulu kembali, maka itu akan menjadi awal buruk dari yang terburuk.


Perlawanan dua pasangan kekasih itu, mampu membuat langit porak poranda jika mereka mau. Mereka cukup kuat jika bersama. Lucifer sedang membuat pasukan untuk menantang langit. Dan para fallen angel yang telah mati dihidupkan lagi. Tentu Lucifer sedang mencari semua fallen angel itu. Terutama Arya dan Nayla. Arya yang sebenarnya adalah Samyaza adalah panglima perang yang hebat. Kesayangan Lucifer dan sangat di anda kan oleh para iblis itu.

__ADS_1


Semua keputusan ada ditangan Arya. Apakah dia akan menjadi pengikut iblis dan memberontak atau ikut Samael untuk mempertahankan langit.


__ADS_2