
Memang buka ide bagus, membiarkan Abimanyu mendekati wanita. Dia memang unggul dalam teknik bela diri dan jago menggunakan senjata api. Tapi untuk yang satu itu, Abi adalah seorang pecundang. Wanita. Jangankan untuk menjadi kekasih seorang Abimanyu, menjadi temannya saja itu adalah hal yang sulit. Abi yang kaku dan tertutup pada lawan jenis sempat dianggap seorang penyuka sesama jenis. Entah kenapa dia begitu sulit dekat dengan wanita. Wanita pertama yang berhasil dekat dengannya, ya Nayla. Ibunya sendiri. Mewarisi sifat dan karakter Arya, membuat Nayla mampu mengerti bagaimana cara mendekati putranya. Mengerti apa yang seharusnya, dan yang tidak seharusnya ia lakukan pada Abimanyu. Walau status mereka ibu dan anak, Nayla tetap memiliki strategi untuk bisa dekat dengan Abi. Karena tidak semua anak akan dekat dengan ibunya, bukan? Bahkan banyak anak muda yang merasa orang tua dan ibu terutama adalah orang yang cerewet, bawel, dan suka mengatur. Namun Nayla berhasil membuat Abimanyu bertekuk lutut atas semua perkataannya.
Wanita kedua yang bisa dekat dengan Abimanyu adalah Ellea. Walau mereka belum begitu lama saling mengenal, pesona Ellea mampu meruntuhkan hati Abimanyu, bahkan pada pertama kali mereka bertemu. Abi belum pernah bisa sedekat itu dengan wanita lain sebelum Ellea. Saat masih bersekolah dulu, ia tidak pernah sekali pun dekat dan berbicara dengan wanita secara intens. Itulah mengapa dia terkenal sebagai seorang penyuka sesama jenis di kalangan teman-temannya. Apalagi karena ia sering bersama dengan Heru dan Zikal.
Maka dari itu, mengirim Abimanyu untuk mendekati Adelia Betharista, adalah ide terburuk yang mereka lakukan.
Vin memang belum sepenuhnya sembuh dari sakit yang ia dapatkan. Punggungnya masih sering nyeri karena luka tembak itu tidak ia dapatkan satu kali. Ada beberapa lubang di punggungnya yang kini sudah tertutupi bekas jahitan. Tapi kalau hanya untuk melakukan pekerjaan ringan seperti mendekati Adelia, maka itu bukan perkara sulit. Ia adalah termasuk wanita yang beruntung di dunia. Lahir sebagai anak orang konglomerat, membuat pesonanya sudah ada sejak dulu. Hidupnya tercukupi bahkan sangat berlebih. Apa pun yang ia mau bisa dengan mudah ia dapatkan. Dan hal inilah yang membuatnya bisa menikah dengan Mathias Fernanda. Seorang pengusaha muda yang baru merintis kariernya. Ia juga berasal dari keturunan anak orang kaya, tapi perusahaan orang tuanya mendadak bangkrut karena persaingan bisnis. Ia mau tidak mau menikah dengan Adelia karena perjodohan yang kerap terjadi pada golongan pengusaha. Berdasar pada azas persahabatan dan rekan bisnis, dan tentu untuk menstabilkan perusahaan masing-masing tentunya.
Keluarga Adelia tentu tidak begitu membutuhkan Mathias, karena untuk mendapatkan anak orang kaya dengan harta yang melimpah sangat mudah bagi mereka. Dalam hal ini, Adelia yang merengek untuk dijodohkan dengan Mathias. Ia jatuh cinta pada Mathias sejak mereka bertemu di salah satu Badan amal nasional. Mathias sebagai salah satu investor saat dirinya masih sukses, mampu menarik perhatian Adelia yang notabennya sangat menyukai hal yang sensitif. Baginya, orang yang memiliki dedikasi besar pada orang-orang miskin sangat menggugah hatinya. Ia berfikir kalau Mathias adalah orang yang baik dan berhati mulia. Nyatanya Mathias memang sengaja melakukan hal itu, karena sejak awal sudah mengincar Adelia.
Perusahaan Mathias yang hampir gulung tikar, memaksanya menerima ide dari orang tuanya untuk mendekati Adelia. Ia melakukan segala cara agar menarik simpati Adelia. yah, sebuah awal yang baik. Dan akhirnya Adelia terjebak dalam pusaran cinta dan menikah dengan Mathias. Kehidupan pernikahan mereka berjalan mulus. Perusahaan Mathias akhirnya berhasil naik ke permukaan setelah menikah dengan Adelia. Semua bahagia. Hingga suatu hari, Adelia melihat ada bekas lipstik pada kemeja Mathias. Adelia bukan tipe wanita yang berkobar-kobar dalam meluapkan emosinya. Ia tetap berusaha tenang saat hatinya sudah dirundung emosi. Ingin rasanya saat itu juga ia bertanya, lipstik siapa yang menempel di kemeja suaminya. Tapi ia tau, kalau Mathias pasti akan mengelek dan mencari alibi apa pun untuk membuat Adelia tidak mencurigainya. Tidak hanya sekali ada tanda lipstik yang ia temukan pada tubuh Mathias. Kini sudah hampir tiap malam, saat Mathias pulang kerja, ia selalu melihat ada noda merah yang menempel di tubuhnya, atau pakaiannya.
Akhirnya secara diam-diam Adelia membuntuti Mathias, menyewa orang untuk memata-matai suaminya sendiri. Semua yang dilakukan Mathias tak luput dari pengawasan Adelia. Dan akhirnya rahasia itu terbongkar. Mathias terpergok tengah berduaan dengan seorang wanita di hotel. Adelia melabrak mereka berdua. Tentu Mathias berdalih dan bahkan membuat pernyataan kalau dirinya dijebak. Ia terus memohon ampun dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Dan Adelia selalu percaya semua ucapan Mathias tentunya.
Setelah kejadian itu, Mathias makin pintar bersandiwara. Tapi hati wanita itu sangat peka. Adelia lambat laun merasa, ada yang Mathias sembunyikan darinya. Adelia berlagak polos dan tidak tau apa apa. Berusaha bersikap wajar selayaknya istri yang sangat mencintai suaminya. Tapi di balik itu semua, Adelia selalu bertindak di belakang Mathias. Menyingkirkan semua wanita yang kedapatan tidur dengan suaminya. Membuat mereka menyesal karena merampas suaminya, walau itu hanya untuk bersenang-senang.
Tapi saat Mathias menjalin hubungan dengan Joana, Adelia tidak bisa menyentuh wanita itu. Berkali-kali ia selalu gagal. Dan ia hanya bisa memendam perasaan kecewa dan marah di hatinya saja. Ia tidak bisa menceraikan Mathias, bukan hanya karena perasaannya yang begitu besar ke pria itu, tapi juga karena separuh dari harta kekayaannya sudah di serahkan pada Mathias. Beberapa aset, seperti rumah, perusahaan, hotel, dan semua kekayaan Adelia sudah dibalik nama atas nama Mathias. Mereka sudah menandatangani perjanjian pra nikah. Dan Adelia baru menyadari kebodohannya. Joanna seorang wanita yang kejam dan licik. Ia pintar dan tak semudah itu dikalahkan.
Melalui serikat amal anak yatim piatu, Adelia mulai mengalihkan rasa sakit hatinya. Ia mulai disibukkan dengan berbagai acara penggalangan dana dan sosialisasi bagi anak yatim piatu di berbagai kota, bahkan negara di seluruh dunia. Lucunya, Joanna juga melakukan hal yang sama. Ia juga salah satu anggota badan amal sosial yang ada di seluruh Asia. Bukan tanpa alasan Joanna melakukan hal ini. Ia bukan bermaksud untuk menyaingi Adelia, ia punya tujuan lain menjadi salah satu anggota badan amal itu. Salah satunya adalah untuk menjaga image nya yang terlanjur buruk di mata masyarakat, melalui badan amal itu, ia juga bisa memanipulasi dana yang sudah terkumpul, sebagian uang sosial itu akan masuk ke rekening pribadinya. Ia serakah. Bahkan uang dari Mathias tidak mampu membuatnya cukup. Joanna ingin bisa menguasai seluruh kekayaan Mathias.
Sebuah hotel berbintang lima kini sudah tampak ramai dari pinggir jalan, tempat Vin memantau dari dalam mobilnya. Ia mencoba memeriksa kondisi di tempat itu. Memantau siapa saja yang datang, dan bagaimana cara agar ia bisa masuk. Karena tujuan acara ini digelar adalah untuk mengumpulkan amal dan donasi dari orang-orang kaya, yang nantinya akan ia berikan untuk Serikat amal yang ada di berbagai daerah. Guna menyantuni anak yatim piatu agar mendapat kehidupan yang jauh lebih layak. Adelia membuka acara lelang barang-barang antik koleksinya dan beberapa donatur. Jiwa sosialnya memang tinggi. Ia sangat suka anak-anak. Tapi sampai sekarang ia belum dikaruniai anak.
Gawai Vin berdering.
"Ya, Om?"
"Vin, satu-satunya cara biar bisa deket sama Adelia, adalah jadi salah satu pembeli barang lelangnya. Jadi kau harus ambil terus penawaran sampai akhir," suruh Elang.
"Tapi, Om. Vin nggak punya duit sebanyak itu," gumamnya sambil garuk-garuk kepala.
"Masalah itu tenang saja. Pakai duit gue dulu."
"Wah, siap, Bos!" Setelah mendapat lampu hijau dan cara penyelesaian masalah, Vin akhirnya melajukan mobil dan masuk ke pelataran parkir hotel itu.
Suasana dalam ballrom hotel sungguh riuh, namun tetap terkordinir dengan baik. Vin menempatkan diri duduk di kursi paling depan. Netranya liar mencari keberadaan Adelia. Ia sudah mendapat informasi bagaimana wajah targetnya itu. Hingga saat acara akan dimulai, wajah yang sedang ia cari mulai menampakkan diri. Cantik dan elegan. Benar kata Elang, Adelia memiliki kharisma tinggi dan mampu membius mata lelaki untuk terus menatapnya. Kalau saja tidak ingat Allea, pasti Vin akan benar-benar mendekati wanita itu." Laki-laki ****, bisa nyia-nyiain perempuan sempurna kayak begitu. Astaga Allea, maaf aku khilaf sejenak," gumam Vin merutuki dirinya sendiri,
Acara dimulai, Banyak barang lelang yang memang memiliki arsitektur tinggi. Sejarah maupun proses pembuatan yang memiliki nilai sejarah, membuat barang-barang itu laku terjual dengan harga yang cukup fantastis. Pesona Vin memang segera mendapat perhatian dari Adelia. Beberapa kali ia memenangkan lelang dan telah membawa 3 barang lelang dengan total harga yang cukup menguras kantung tentunya. Tapi bukan kantungnya, melainkan kantung Elang, yang memiliki banyak simpanan uang. "Sorry, Om. Tapi kau bilang aku harus menarik perhatian Adelia, kan? Yah beginilah caranya."
Selesai acara, para pembeli barang lelang akan berkumpul guna menyelesaikan biaya administrasi dan pembungkusan barang lelang itu sendiri. Di saat seperti inilah, Vin mulai mendekati Adelia. Mereka mulai terlibat obrolan basa basi tentang acara tadi, hingga tanpa terasa Vin mulai memasuki ranah pribadi Adelia. Hal itu membuat Adelia risih, karena merasa sedang di interogasi.
"Siapa kamu sebenarnya?!" tanya Adelia dengan tatapan tajam. Ia sebenarnya cerdas, dan orang yang aling tidak suka dibohongi. Sikap Vin membuatnya merasa kalau pria di depannya memiliki maksud lain terhadap dirinya. Bukan semata-mata ingin melakukan amal dengan membeli barang lelang miliknya.
"Eum, begini ... biar saya jelaskan dulu. Tolong jangan salah sangka terhadap saya," tukas Vin dengan berhati-hati. Semua percakapan Vin didengar oleh mereka semua. Abimanyu, Gio, Zikal, Iqbal dan Elang.
"Kurang ajar si Vin, kesempatan dia ngabisin duit gue rupanya!" gerutu Elang. Gio lantas tertawa puas. Dan merutuki kebodohan Elang. "Salah elu sendiri, harusnya elu kasih jatah, berapa duit yang boleh dia abisin, Elang yang dermawan," ucapnya dengan nada menyindir.
"Itu, kan, harusnya Aku saja yang ke sana," kata Abimanyu santai.
"No!" seru Elang dan Gio serempak.
"Kenapa sih?!" Abimanyu mulai tidak terima dianggap pecundang dalam hal ini.
"Mending duit gue abis sama Vin buat ginian. Daripada nyuruh elu ke sana, nggak bakal jadi diskusinya nanti," tukas Elang, yakin.
Zikal menepuk bahu Abimanyu, "Mereka bener, Bi. Elu nggak bakal dalam diskusi sama cewek. Sudah terima beres aja di sini," katanya dengan menggigit bibir menahan tawa. Abimanyu meliriknya sinis.
Ia lantas menatap Elang yang sedang ada di balik layar, mereka masih saling terhubung karena ingin tau bagaimana kelanjutan pergerakan Vin untuk mendekati Adelia.
__ADS_1
"Eum, paman, boleh Abi nanya sesuatu?" tanyanya ragu. Elang menaikkan sebelah alisnya lalu mengangguk. "Apa?"
"Katanya Zikal, paman yang kasih tau di mana letak posisi aku diculik kemarin?"
"Iya, kenapa?"
"Kok bisa? Paman tau dari mana? tanya Abi penasaran.
"Oh, itu gue pasang GPS di badan elu!"
Sontak semua orang melotot tajam, menatap Elang dan Abi secara bergantian. Sebuah pertanyaan yang sama terbesit dalam pikiran mereka. "Di mana GPS yang Elang maksud, dan kapan dia memasukkannya?"
"Hah?! Maksud, paman?"
"Inget kalung perak yang gue kasih dulu, Bi?"
Abimanyu memegang benda yang dimaksud, sambil berpikir sejenak. Mengingat momen di mana Elang memberikan padanya. "Jadi ... kalung ini?"
"Iya, gue pasang GPS di situ, dan cuma gue yang bisa akses. Jadi kalau lu pergi ke mana aja, gue bisa tau!"
"Wow, keren!" puji Vin di sana, sambil bergumam pelan.
"Maaf?" Adelia justru malah mendengar gumamannya. Ia mengernyitkan kening dan menatap heran pada Vin.
"Sudah, elu mah kerja, kerja saja. Nggak usah ikut nyaut!" kelakar Gio.
"Eum, Nggak apa-apa. Jadi begini, ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan Anda, Bu Adelia," kata Vin memulai aksinya. Kalimat tadi juga membuat Elang dan yang lain diam. Menyimak apa yang akan dikatakan Vin. "Tapi bisa, kah, kita ngobrol di tempat lain. Karena ini hal yang ... pribadi."
Adelia menarik salah satu sudut bibirnya, " Oh maaf saya sibuk." Vin bisa menebak kalau Adelia pasti berpikir yang tidak-tidak terhadap maksud Vin yang sebenarnya.
_________
Mereka kini ada di atap hotel, lantai teratas yang memang sengaja kosong, hanya ada beberapa tangki air dan tempat untuk menempatkan generator listrik. Tempat yang akan sangat jarang dilewati orang lain.
"Jadi bagaimana kamu mengenal Joanna?" tanya Adelia tanpa tendeng aling-aling.
"Ada satu rahasia dari Joanna yang saya yakin Anda belum mengetahuinya. Rahasia yang pasti akan membuat anda melongo tak percaya," kata Vin dengan sikap tenang.
"Rahasia apa? Dia seorang wanita yang suka menjual diri demi uang? Wanita yang serakah dan akan melakukan apa pun untuk bisa memenuhi tujuannya? Bahkan jika harus menghancurkan pernikahan seseorang?" Adelia terpancing emosinya. Terlihat sangat jelas, kalau dia benar-benar sangat membenci Joanna. Hal ini membuat Vin yakin akan informasi yang ia punya. Ia yakin kalau wanita di depannya pasti akan banyak membantu mereka.
"Anda pernah mendengar kartel Ransford?"
"Kartel Ransford?" tanya Adelia sambil mengingat nama itu.
"Yah, sebuah perkumpulan orang-orang kaya dengan otak psikopat. Mereka menculik orang-orang lemah, gelandangan, dan orang-orang yang tidak mereka sukai untuk diburu."
"...."
"Mereka ada dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Menurunkan kebiasaan dan adat yang sudah secara turun temurun ada sejak pendiri terdahulu."
"Jangan bilang kalau Joanna adalah salah satu anggota dari kartel itu?"
"Ya, tepat sekali, Nyonya. Joanna adalah salah satu anggota dari kartel itu. Dan Anda juga tau, kan, kalau dia memiliki badan amal juga seperti yang Anda lakukan?" tanya Vin dan Adelia hanya mengangguk pelan. "Beberapa orang yang ada di bawah naungan badan amal miliknya, menghilang secara misterius. Dan saya yakin Anda pasti bisa menebaknya. "
"Mereka menjadi target perburuan kartel itu?" tanyanya memastikan dugaannya. Vin mengangguk mantap. "Tidak mungkin. Kau tidak punya bukti atas perkataanmu itu. Walau aku membenci dia, tapi aku tidak suka jika ada orang yang berkata omong kosong padaku tentang dia."
"Baiklah. Tapi lebih baik anda ikut saya, karena saya memiliki bukti penting di mana perkataan saya bisa Anda pegang nantinya."
__ADS_1
"Ke mana?"
"Anda tidak perlu takut, karena saya tidak punya niat buruk terhadap Anda. Karena kita saling membutuhkan, dan lebih baik kita bekerja sama untuk menyingkirkan Joanna."
"Baiklah."
_____________
Adelia akhirnya berhasil di bawa Vin ke kampung Ambon. Markas sementara mereka. Ia merasa cemas saat masuk ke kawasan ini. Tempat yang kumuh, dan banyak sekali pria-pria yang menatapnya dengan tatapan mengerikan. "Jangan takut. Mereka tidak akan menyakiti anda, Nyonya Adelia."
"Panggil Adel saja!"
"Oke."
Mereka sampai di basement yang memang dijadikan mata bagi mereka semua. Dari tempat itu, mereka bisa melihat dunia hanya dari tempat mereka duduk. Pintu dibuka, Vin muncul dengan senyum lebar, ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya dengan membawa Adelia ke sini. Adelia merasa sungkan dan masih takut, ia tidak mau masuk ke dalam karena hanya diisi oleh para lelaki yang kini terus menatapnya intens.
"Jangan khawatir, Del. Mereka teman-temanku. Sini, biar kutunjukkan bukti soal Joanna. Kamu mau lihat, kan?" tanya Vin mengulurkan tangan pada Adel, dan mengajaknya mendekat ke komputer yang sudah menampilkan video dan foto-foto tentang Kartel Ransford. Suara Joanna sangat familiar di telinga Adel. Ia kemudian mendekat untuk benar-benar melihat dengan jelas apa yang sudah dilakukan Joanna di dalam video itu.
Menit demi menit, Adel benar-benar hanyut dalam video gila di depannya. Semua hal yang tadi dikatakan Vin benar-benar terbukti. Ia bahkan melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana Joanna melakukan hal keji macam itu. Joanna melakukan banyak hal gila bukan hanya menculik para anak asuh dan lansia yang ada di bawah naungan badan amal miliknya, tapi juga beberapa orang yang Adel kenal juga masuk dalam jebakan itu. Mereka dibunuh dengan keji oleh mereka, orang-orang itu benar-benar memburu mereka layaknya hewan buruan. Sungguh keji. Tidak berperikemanusiaan.
"Jadi apa yang bisa saya bantu?" tanya Adelia.
Vin, Abimanyu dan Gio tersenyum. "Begini, kita harus menjebak Joanna. Culik dia. Jadi kamu harus bisa memancingnya, dan sisanya akan kami lanjutkan," tukas Vin. Adelia tersenyum lalu mengangguk.
____________
Joanna juga menggelar badan amal di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di pusat kota. Ia mulai bersikap layaknya bidadari untuk menarik simpati orang-orang. Ia mengajak orang-orang yang tidak mampu untuk bisa mendapat santunan darinya. Ia juga mengambil para anak jalanan untuk tinggal di asrama miliknya. Dan sikap dermawannya membuat banyak kalangan kelas atas yang simpati dan memberikan donasi yang cukup banyak.
Hari ini, Joanna akan merealisasikan panti asuhan baru yang segera ia buka. Tentu dengan cara ini, ia juga meminta bantuan investor untuk menjadi donatur di panti asuhan miliknya. Joanna sangat pandai berbicara, pandai memanipulasi pikiran orang lain untuk mengikuti keinginannya. Apalagi dengan parasnya yang cantik dan tubuhnya yang indah. Tidak ada satu pun lelaki yang akan menolak apa pun yang ia inginkan.
Adelia masuk ke tempat itu dan seketika menarik perhatian Joanna. Ini adalah kali pertamanya, Adelia benar-benar bertemu langsung dengan Joanna. Joanna yang melihat istri sah Mathias datang, segera mendekat dan menyambut wanita itu. Ia tidak menyangka kalau Adelia akan seberani ini menemuinya secara langsung.
"Suatu kehormatan bagi saya kedatangan Anda di acara ini," kata Joanna, mengulurkan tangan menyambut Adelia. Adel tentu membalas sambutannya, namun saat tangan mereka saling menjabat, Adelia mencengkeram secara kencang. Membuat Joanna meringis kesakitan. Yah, persaingan sengit di antara mereka memang sudah dimulai lama, Adel sudah tau kalau suaminya berselingkuh dengan wanita di depannya ini. Joanna juga tau kalau Adel sering menyuruh orang untuk menyingkirkan dirinya, tapi tidak pernah berhasil tentunya.
"Wah, penggalangan dana untuk panti asuhan yang baru rupanya? Eum, kau ini sangat pandai bersandiwara, ya? Dasar rubah licik!" umpat Adel berbisik di telinga Joanna. "Aku yakin kau sedang mencari suamiku, kan? Sudah beberapa hari ini dia tidak menghubungimu, kan?"
Joanna tidak menggubris perkataan Adel, hanya menatapnya sinis.
"Asal kau tau, dia sudah kubuat tidak berdaya. Dan akan segera kubuang dari kehidupanku. Jadi kau ambil pria itu segera! Sebelum tubuhnya kucincang dan kuberikan pada anjing peliharanku!" Adel memberikan sebuah kartu nama, alamat di mana Mathias yang menurut penuturannya sedang ia siksa. Adel tau kalau Joanna tidak akan membiarkan Mathias mati begitu saja. Karena jika dia harus mati, maka Mathias tentu harus mati saat menjadi suaminya, agar semua uang asuransi akan jatuh ke tangannya. Adel segera meninggalkan tempat itu. Joanna menatap kartu nama yang alamatnya tidak asing baginya. Itu adalah Vila di mana ia pernah menghabiskan beberapa malam dengan Mathias.
Dalam waktu 20 menit dari saat Adelia keluar dari gedung itu, Joanna terlihat tergesa-gesa keluar menuju mobilnya.
"Buruan masuk ke perangkapnya," gumam Adel yang bersembunyi di mobil Vin bersama Abimanyu. Ia sangat yakin kalau Joanna akan masuk dalam perangkapnya, karena sifatnya yang tamak tidak akan membiarkan Mathias mati begitu saja. Sementara Mathias memang sedang ia jebak, Adel memasukkan obat penenang dalam minuman Mathias, dan ia akan dipastikan tidak sadarkan diri dalam beberapa hari ke depan. Hal itu tent yang membuat Mathias tidak bisa menghubungi Joanna dalam beberapa hari terakhir ini. Tidak ada cinta dalam hati Joanna untuk Mathias. Yang ada hanyalah uang dan uang.
Kini mobil mewah milik Joanna sudah masuk ke halaman vila itu. Ia segera masuk ke dalam dan mencari Mathias ke seluruh ruangan. Vin juga sudah sampai tempat itu dan kini pintu sudah ia kunci. Mereka berhasil menjebak wanita itu ke dalam perangkap mereka.
"Math!" panggil Joanna terus menyusuri ruangan demi ruangan.
"Hey! Brisik sekali kau di vila ku?! Dasar wanita bar bar!" kata Adelia yang membuat Joanna terkejut.
"Kau?! Kenapa kau di sini? Mana Mathias?"
"Tenang saja, Mathias aman. Sebentar lagi dia akan menjadi gelandangan dan aku tendang dari rumahku. Seharusnya kau yang mencemaskan dirimu sendiri. Di mana kau sekarang wanita biadab?!"
Joanna tengak tengok dan mulai gusar. Apalagi saat melihat Abimanyu dan Vin muncul dari berbagai pintu keluar. Ia sadar dirinya dijebak. "Kalian mau apa?" tanya Joanna sedikit menjerit, panik.
Adelia mendekat dengan perlahan, "Kau, wanita licik dan jahat, seharusnya kau membusuk di neraka!" ujarnya sambil menghantam kepala Joanna dengan vas bunga yang ada di dekatnya. Joanna mengerang karena rasa sakit yang dahsyat di kepalanya. Kepalanya berdenyut hebat, dan pandangannya perlahan memburam. "Mati saja kau!" Sebelum ia memejamkan mata sepenuhnya, Adelia ada di hadapannya dengan vas bunga lain, dan kembali menghantam kepala Joanna dengan benda itu. Yah, dia adalah anggota yang paling lemah di antara yang lain. Kasihan sekali nasibmu, Joanna.
__ADS_1