
Begitu semua orang hancur, suasana sekitar mendadak senyap. Teman-temanku menatap sekitar dengan keheranan. Lalu Kak Rayi dan Kak Bintang segera turun dari atas dan menghampiriku.
"Bil, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Kak Rayi terus menatapku lekat-lekat.
Entah kenapa, aku tidak bisa meresponnya, hanya bisa diam dengan mata berkedip. Seolah-olah seluruh tubuhku terasa kaku.
"Bila! Bila! Kamu berhasil! Kamu berhasil, Bil!" pekik Kak Bryan dengan mata berkaca-kaca dan senyum yang mengembang sempurna.
"A-apa yang kulakukan tadi? Ap-apa yang terjadi, Kak?"
"Kamu berhasil mengucapkan mantra itu, Bil. Mereka semua akhirnya mati!" pekik Kak Bryan.
"Bagaimana bisa? Kenapa aku tiba-tiba bisa mengingat semuanya? Padahal aku tidak tahu kata-kata apa yang baru saja aku ucapkan tadi, semuanya spontan keluar dari mulutku."
"Iya, begitulah cara kerjanya. Kamu pasti bisa mengingat mantra itu saat benar-benar merasa butuh bantuan. Dan tadi adalah momen yang benar-benar pas."
"Waw, gila! Gue nggak sangka kalau Nabila benar-benar sehebat itu," tukas Kak Bintang.
"Jadi artinya sekarang aku bisa menghadapi mereka?"
"Yah, aku yakin kamu siap, Bil."
Tidak ada yang menyangka jika kejadian tadi berakhir dengan kemenangan di pihak kami. Kamu sendiri pun tidak tahu kalau ternyata aku memiliki kekuatan yang sangat besar dan mampu membunuh mereka semua hanya dengan sekali tiup. Tiupan ini tentu bukan sesuatu yang sembarangan. Kali ini aku sudah lebih percaya diri dalam menghadapi musuh-musuh kami.
"Di mana Dagon berada, Kak?"
"Hm, aku tahu tempatnya. Apa kita akan ke sana sekarang?" tanya Kak Bryan.
"Yah, sebaiknya kita ke sana saja sekarang. Aku sudah tidak ingin menunggu lebih lama lagi, Kak. Aku ingin mengakhiri semua sampai di sini!"
"Baiklah. Tapi perjalanan kita tidak dekat. Setidaknya akan butuh waktu beberapa jam agar bisa sampai di sana."
"Tidak masalah."
"Ya sudah, kalau begitu kita mempersiapkan diri, dan segera berangkat ke sana malam ini juga!" kata Kak Rayi.
Semua telah kembali ke rumah untuk mengambil beberapa persediaan yang akan kami bawa dalam perjalanan. Pukul 20.00, kami semua sudah kembali ke rumah Kak Bryan. Barang-barang dimuat ke dalam bagasi mobil. Kami menggunakan satu mobil dalam perjalanan kali ini. Setelah semua barang diperiksa, kami masuk ke dalam mobil dan siap untuk melanjutkan perjalanan.
Kak Bryan mengatakan bahwa perjalanan kali ini akan memakan waktu yang cukup lama. Tubuhku merasa lelah, dan kini aku dan teman-teman hanya bisa diam memperhatikan jalan sekitar. Beberapa orang memilih untuk memejamkan mata, karena aku yakin mereka semua sangat lelah. Tanpa sadar, aku pun turut terlelap dalam mimpi indah.
Tiba-tiba ketika mataku terpejam, muncul bayangan yang aneh. Aku melihat sebuah malam yang gelap, dan ... Ayahku? Ya, ada ayahku dan beberapa orang di sampingnya, serta seorang anak kecil, sepertinya itu aku. Tapi aku tidak ingat apa yang terjadi.
Tiba-tiba air mataku mengalir ketika dua orang di samping ayahku meninggal dunia. Terus terang, aku sangat kaget saat mendengar nama Azazil disebut. Jadi, makhluk yang dikurung tadi adalah azazil?
Sontak aku membuka mataku dengan nafas tersengal-sengal.
"Sayang, kenapa? Kamu bermimpi buruk?" tanya Kak Rayi.
__ADS_1
"Aku... Aku bermimpi buruk."
"Tenang, Bil. Ini hanya efek dari makhluk itu yang sengaja mengusik keyakinanmu. Aku yakin kamu hanya bercerita mengenai mimpi burukmu. Jadi, siapa orang yang ada dalam mimpimu?" tanya Kak Bryan.
"Azazil!"
"Azazil? Wow, rupanya dia penguasa besar."
"Tapi, aku merasa pernah berada dalam situasi itu. Aku bahkan melihat diriku waktu kecil. Ayah, Paman Gio, dan teman-teman ayahku semuanya ada di sana."
"Oh ya? Jadi kamu pernah bertemu Azazil sebelumnya?" tanya Kak Bryan lagi.
"Saya tidak yakin, Kak. Entahlah."
"Hm, ini sangat aneh. Namun jika memang benar kamu pernah bertemu dengannya, maka kamu sudah diincar sejak awal."
"Ngomong-ngomong, masih jauh, Yan?" tanya Kak Roger.
"Di depan sana. Sebentar lagi."
Mobil melaju cepat karena sekitar tempat itu sepi. Kami merasa seperti di negeri antah berantah. Hingga akhirnya, kami tiba di sebuah pemakaman tua.
"Ini serem banget," ujar Kak Bintang.
"Yan, kok ini mirip pemakaman di film horor sih," kataku.
"Ini adalah makam tua, dan di sinilah undead berada. Karena Azazil dulu dipenjarakan di salah satu tempat di sekitar sini."
"Tunggu! Ini... Ini mirip yang ada di mimpiku tadi!" pekikku.
"Makam ini?"
"Iya, Kak."
"Ayo, sebaiknya kita bergegas masuk," ajak Kak Bryan.
Pemakaman ini persis seperti yang kulihat dalam mimpi. Bedanya, aku datang bersama teman-temanku sementara dalam mimpi, aku bersama beberapa orang dewasa, termasuk ayah dan Paman Gio.
Kami tiba di sebuah ruangan tua. Kurasa tempat ini digunakan untuk menyimpan peralatan pemakaman karena kulihat ada peti mati di dalam. Jendela di sana terbuka dengan jeruji besi sehingga membuatnya sulit untuk masuk.
"Eh, kalian merasakan sesuatu?" tanya Kak Rayi.
"Apa?"
"Seperti ada sesuatu di sekitar kita, sedang mengawasi. Lihatlah sekitar," bisik Kak Rayi.
"Sial. Mereka adalah Dagon. Mereka sudah menunggu kita rupanya."
__ADS_1
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Kak Bintang.
"Kita harus cepat masuk ke dalam dan menutup segel agar undead tidak bangkit."
"Tapi ini terkunci!" ujar Kak Rayi sambil memegangi gembok besar dengan rantai yang mengelilingi pintu kayu itu.
"Terlalu lama! Minggir kalian!" tiba-tiba Kak Bintang membawa sebuah palu yang entah didapatinya dari mana. Dengan sekejap ia memukul gembok itu dan membuat kuncinya terlepas.
Tindakan itu tampaknya memicu serangan Dagon pada kami. Kami harus bertarung dan pertempuran kali ini terasa tidak seimbang. Untungnya kami mengenakan senjata yang didapatkan dari Kak Bryan dan itu berhasil.
"Bil, kamu masuk dulu!" jerit Kak Rayi sambil menghalangi salah satu Dagon yang hendak mengejarku.
Akhirnya, aku menuruti permintaannya dan masuk ke dalam tempat itu. Kini aku sendirian di dalam sementara teman-temanku berada di luar. Aku harus segera mencari lokasi tempat undead berada dan menyegelnya agar makhluk itu tidak dapat keluar lagi. Sekilas bayangan di dalam mimpi ku kembali muncul dan aku melihat sebuah sumur yang ditutup kayu. Entah mengapa aku merasa ada sesuatu di dalamnya. Begitu aku mendekat, tiba-tiba sesosok dari dalam sumur itu terus memukul-mukul dan menjerit. Mereka seolah-olah ingin aku membuka penutupnya.
"Jangan-jangan inilah lokasinya!" gumamku.
Namun, pikiranku bergelombang. Suara bising di sekelilingku membuatku tidak dapat berpikir dengan jelas.
"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana cara menyegelnya? Astaga! Ayolah, Nabila! Lakukan sesuatu! Atau Angelina Demitri! Di mana kalian? Keluarlah dan segel tempat ini!"
"Tidak, tidak. Aku harus tenang dan fokus. Siapa tahu, aku bisa menemukannya nanti. Seperti kekuatan kemarin!"
Tanpa ragu, aku mendekati sumur itu meskipun dalam keadaan cemas. Saat tanganku menyentuh bagian atas sumur, tiba-tiba sinar terang keluar dari tempat yang kurasakan. Lalu, ada rangkaian kata yang membentuk kalimat.
"Omnibus Octopus!"
Tiba-tiba tempat itu bergetar seperti saat terjadi gempa bumi. Beberapa batu yang ada di atasku jatuh.
"Bila, ayo kita pergi!" seru Kak Rayi yang berlari mendekatiku.
"Tapi Kak, ini kok bisa?"
Tapi, Kak Rayi tidak menjawab apapun dan terus menarikku keluar dari tempat itu. Di luar, hanya ada teman-temanku saja. "Mereka ke mana?" tanyaku bingung.
"Mereka tiba-tiba hilang. Aku yakin kamu membaca mantra lagi, Bil." ucap Kak Bryan.
Kata-kata Kak Bryan membuatku teringat sumur tadi. Apa mungkin kalimat yang aku baca di sumur adalah mantra yang aku cari sejak tadi?
Bangunan di depan kami tiba-tiba runtuh. Sumur yang sebelumnya kami gali sama sekali tertutup oleh longsoran bebatuan. Setelah semuanya merata dengan tanah, suasana kembali tenang.
"Akhirnya selesai juga," tanya Kak Bintang.
"Ya, sepertinya begitu," sahut Kak Bryan.
"Ternyata lokasi ini tidak terlalu buruk. Lihat ke sana," kata Kak Bintang.
Matahari pagi mulai terbit di ufuk timur. Meski kami dikelilingi oleh makam tua yang mengerikan, kami semua duduk menikmati pemandangan ini. Semua perjuangan menyapu habis makhluk-makhluk itu akhirnya terbayar dengan kelegaan. Saya berharap tidak akan ada kebangkitan iblis lain yang mengikuti. Saya ingin hidup normal seperti manusia biasa.
__ADS_1
TAMAT