
"Tolong! Teman-teman! Tolongin aku, Hei! Siapa aja! Toloooong!"
Pintu terus didorong paksa oleh Fauzan. Dia terus-menerus memaksa untuk masuk ke kamar Diah. Sementara Diah, terus berusaha mempertahankan pintu agar tidak terbuka. Sekalipun tenaganya tidak cukup kuat untuk menandingi Fauzan, tapi sejauh ini Diah masih bisa bertahan. Di kamar lain, Rea mulai terusik dengan suara berisik dari luar. Masih sambil memejamkan mata, dia sudah terbangun dari tidur, walau Dengan Hati yang kesal. Karena dia baru beberapa menit tertidur dan kini dia masih mengantuk sekali. Hanya saja suara berisik yang mengganggu tidurnya itu, mulai meresahkan. Jeritan minta tolong terus terdengar dan membuat Rea segera membuka mata. Dia tidak langsung beranjak dari tidur, diam beberapa saat sambil menajamkan pendengarannya.
Rea sedang berusaha memastikan kalau suara yang ia dengar Bukanlah efek dari mimpinya. Dan benar saja Kini dia benar-benar sudah sadar, kalau suara itu adalah jeritan minta tolong dari Diah. Rea langsung duduk. Dia memperhatikan sekitar dan langsung melihat ke arah Leni yang masih tidur lelap. Rea segera membangunkan Leni. Ia mengguncangkan tubuh Leni agar segera bangun. Leni mulai menggeliat dan mulai protes akan tindakan Rea.
"Kenapa sih, Re! Aku masih ngantuk tahu!" omelnya. Namun Rea justru menarik tangan Leni agar segera bangun. Alhasil Leni makin kesal dan akhirnya membuka mata.
"Dengerin tuh. Itu Diah, kan? Dia kenapa sih itu teriak-teriak begitu!"
Leni yang mulai sadar dari alam bawah sadar, kini diam dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rea. "Iya juga. Yuk, kita lihat. Jangan jangan terjadi sesuatu sama Diah!" ajak Leni dan mereka berdua pun segera membuka pintu kamar.
Namun begitu mereka berada di luar kamar, mereka terkejut saat melihat ada Fauzan di depan kamar Diah, sedang berusaha merangsek masuk ke dalam.
"Ozan, lo kenapa sih?!" tanya Leni dengan suara lantang.
Alhasil Diah mampu mendengar suara Leni tersebut dan mulai merasa tenang, walau tidak sepenuhnya tenang. "Hati-hati, Len! Ozan ngamuk lagi! Mending bangunin teman-teman cowok!" ucap Diah ikut berteriak agar suaranya dapat terdengar oleh Leni di luar.
Fauzan kini menoleh ke arah Leni dan juga Rea yang berada hanya beberapa meter darinya. Kini dia menyeringai sambil menggerakkan kepalanya ke miring ke kanan dan kiri. Fauzan mulai berjalan mendekati mereka perlahan.
"Len, perasaanku nggak enak deh,"bisik Rea tanpa memalingkan wajah dari Fauzan di hadapan mereka.
"Sama. Ozan kayaknya belum sembuh. Mana yang lain masih pada molor lagi," sahut Leni.
Kedua gadis itu berjalan mundur, lalu dengan gerakan mendadak, Fauzan justru berlari ke arah mereka. Mereka terkejut dengan gerakan Fauzan yang tiba-tiba sekali. Sontak mereka berdua berlari menghindari Fauzan yang kini mulai mengejar mereka. Jeritan minta tolong mulai terdengar sampai ke kamar Diah.
Tentu saja Diah mulai cemas dengan apa yang terjadi pada teman-temannya di luar. Apalagi ditambah dengan keributan suara kursi yang berjatuhan. Rea dan Leni berusaha menghindari Fauzan sekeras mungkin. Mereka bersembunyi di balik kursi yang ada di ruang tengah atau meja, dan sudut manapun di ruang tengah dan ruang tamu agar Fauzan tidak bisa mendekati mereka.
Melihat pintu kamar yang terbuka, Rea menyuruh Leni untuk kembali masuk ke kamar. Karena kini posisi Leni berada paling dekat dengan kamar mereka tadi.
"Tapi kamu gimana, Re?" tanya Leni yang justru mencemaskan temannya.
Fauzan kini berada di dekat Rea. Mereka sedang kejar-kejaran sambil memutari meja dan kursi di ruang tamu tersebut.
"Kamu masuk duluan! nanti aku susulin kamu!" cetus Rea. Yang masih berlarian menghindari Fauzan.
Leni yang awalnya ragu akhirnya menuruti perkataan Rea. Namun tiba-tiba Fauzan yang awalnya sedang mengejar Rea, berbalik dan kini mengincar Leni.
"Leni, buruan!" jerit Rea yang juga tegang melihat pemandangan di depannya. Rea ikut berlari ke ruang tengah, berusaha untuk membantu Leni.
Tapi dengan langkah seribu, Leni berlari kembali masuk ke kamar dan Mengunci pintu dari dalam. Rea berhenti, setelah melihat Leni aman kini giliran dia harus memikirkan keselamatannya sendiri.
Sebuah pintu kamar dibuka secara tiba tiba. "Re! Sini!" ajak Diah yang posisi kamarnya memang tidak jauh dari Rea. Melihat kesempatan emas itu, Rea segera masuk ke kamar Diah, mereka berdua pun menutup pintu dan menguncinya seperti semula. "Gimana nih?" tanya Rea saat mendengar bahwa Fauzan kembali berusaha mendobrak pintu kamar Leni.
"Hape! telepon teman teman yang lain!" Diah memberikan ide cemerlang yang baru saja terpikirkan di saat genting seperti sekarang. Mereka berdua lantas membuka ponsel masing-masing. Untungnya Rea selalu meletakkan ponselnya aku di saku celana depan. Mereka berdua menghubungi semua teman-teman. Dan alhasil dering telepon terdengar di penjuru ruangan. Beberapa detik berlalu tidak ada yang menyahut panggilan telepon dari Rea, Diah, dan juga Leni. Komunikasi yang terjadi di antara mereka bertiga saja yang berbeda ruangan. Tujuan mereka saat ini hanyalah untuk membangunkan teman-teman yang lain. Tiba-tiba suara dobrakan pintu yang Fauzan timbulkan hilang. Suasana mendadak hening. Di saat inilah mereka merasa kalau ini bukan hal yang baik. Karena tidak mungkin Fauzan berhenti begitu saja.
"Kok diem, ya?" tanya Rea berbisik pada Diah.
"Bener juga. ke mana itu anak?" Diah pun turut penasaran.
Telepon genggam milik Rea masih terhubung dengan Leni. "Len, Ozan kok berhenti? Coba intip. Dia lagi ngapain."
"Bentar." Leni tetap menggenggam ponsel di tangan kanannya, berusaha agar tetap terhubung dengan Rea di kamar seberang.
Mengintip dari lubang kunci. Sayangnya sepanjang dia melihat, tidak ditemukan adanya Fauzan. "Kok Ozan nggak ada, ya?" tanya Leni kebingungan.
Walau Leni bisa melihat keadaan di luar dari lubang pintu kamarnya, tapi dia tidak bisa melihat keseluruhan ruang tengah dari tempat dia mengintip. Ini membuat mereka semua menjadi penasaran. Ke mana perginya Fauzan.
"Kita harus cek keluar. Tapi harus cari senjata dulu, buat antisipasi kalau Fauzan tiba-tiba muncul," kata Rea sambil tengak tengok sekitar.
"Ini aja, Re? kalau kena kepala pasti mantap rasanya," tunjuk Diah ke sebuah patung di tembok yang berukuran kecil. Ah, bukan patung. Tapi lebih tepatnya tanduk rusa yang diawetkan. Rea pun setuju dengan ide Diah. Mereka mengambil benda tersebut yang memang posisinya cukup tinggi dan sulit digapai oleh mereka. Tidak kehilangan akal, Rea mengambil kursi dan memanjatnya agar bisa mengambil tanduk rusa tadi.
Setelah tanduk rusa itu berhasil di dapat, mereka berdua mulai menyusun rencana selanjutnya. Tentu sebuah kenekatan yang mengharuskan mereka keluar dari kamar dan membantu yang lain. Pintu kamar dibuka perlahan, kedua gadis itu mengintip keadaan sekitar. Namun tidak juga menemukan adanya Fauzan di ruang tengah.
Rea dan Diah saling tatap, lalu menggeleng. "Ke mana dia?" tanya Diah sambil berbisik. Mereka belum jauh dari posisi pintu kamar, karena target yang sedang dicari belum juga terlihat.
Keduanya lantas menyapu pandang sekitar. "Kita cari, yuk. Ajak juga Leni," kata Rea. Dengan langkah pelan, mereka menuju kamar di mana ada Leni di dalamnya. "Len, buka. "
Leni lantas keluar sambil membawa sebuah vas bunga yang ada di meja samping ranjang. "Mana Ozan?" tanya Leni sambil tengak tengok.
"Nggak tahu. Kita cari!"
"Eh, itu pintu kebuka, Re," tunjuk Diah ke sebuah kamar yang merupakan kamar yang didiami oleh Hana dan Hani.
"Jangan-jangan Ozan di sana!"
"Ayo, cepat ke sana!" Mereka bertiga lantas bergegas mengitari ruang tengah agar sampai di kamar Hana dan Hani. Mereka tentu tetap harus berjaga-jaga jika sampai benar Fauzan ada di sana. Walau mereka bertiga dan Fauzan sendirian, tapi tentu saja mereka akan kewalahan jika menghadapi Fauzan. Karena mengingat kalau Fauzan saat ini bisa saja sedang dirasuki roh jahat seperti sebelumnya.
Rea mengintip bersama Diah di kanan kiri kamar tersebut. Kedua nya lantas melotot karena sesuai dugaan mereka, Fauzan benar-benar ada di kamar tersebut. Rea dan Diah saling memberikan instruksi, untuk melakukan penyerangan. Untungnya saat ini Fauzan sedang tidak fokus pada mereka bertiga, hanya saja nyawa Hana dan Hani sedang terancam. Fauzan terlihat sedang berdiri di antara anak kembar itu dan menatap mereka bergantian.
__ADS_1
Rea mengangguk begitu pula dengan Diah, di saat mereka hendak menyerang, tiba-tiba pintu kamar Dana terbuka. "Re, kalian pada ngapain?" tanya Dana. Rea, Leni, dan Diah melotot dan langsung menoleh ke Dana sambil menyuruhnya diam. "Loh kenapa?" tanya Dana dan membuat mereka bertiga makin kesal.
Fauzan menoleh sedikit ke belakang, namun tiba tiba dia langsung menghampiri Hana dan berusaha mencekiknya. Hana terkejut dan menahan tangan Fauzan yang mencengkeram lehernya kuat-kuat. Rea dan Diah lantas mendekat, dan segera menyerang Fauzan seperti yang sudah mereka rencana kan sebelumnya. Rea memukul punggung Fauzan dengan tanduk rusa, sementara Diah memukul kepala Fauzan dengan vas bunga hingga pecah.
Tapi sayangnya, Fauzan tidak bereaksi apa-apa. Dia bahkan tidak tumbang sedikitpun. Malah menoleh sambil menarik salah satu sudut bibirnya. Dana yang menyadari hal itu segera berlari mendekat.
"Kalian menjauh! Pergi! Cari bantuan ke warga, atau Pak Wiryo!" suruh Dana tegas. Blendoz yang mulai terganggu dengan suara berisik ikut keluar kamar dan melihat situasi yang sedang genting sekarang. Dia bergegas mendekat dan memberikan bantuan.
Kini Dana sudah mulai bergulat dengan Fauzan. Dia berusaha menarik Fauzan dari leher Hana, dibantu Blendoz. Melihat kondisi sudah mulai teratasi, Rea, Diah, dan Leni lantas mundur. Sesuai dengan perkataan Dana, mereka akan segera mencari bantuan warga. Suasana di luar sudah sangat sepi. Karena semua orang tentu sudah terlelap dalam tidur di rumah masing-masing.
"Ada yang tahu di mana rumah Pak Wiryo?" tanya Rea pada kedua teman yang kini berjalan beriringan.
"Kalau nggak salah di ujung jalan ini, terus belok kanan, halaman rumahnya agak besar, dan ada semacam tempat duduk di depan yang dari bambu itu," jelas Leni.
"kamu kata siapa, Len?"
"Tadi Pak Wiryo sendiri yang bilang. Aku masih ingat kok. Semoga kita cepat ketemu rumah beliau."
Mereka bergegas menuju ke arah yang disebutkan oleh Leni. Langkah dipercepat. Rasanya mereka sudah lelah dengan semua drama dari apa yang Fauzan lakukan.
"Asli! Aku benar benar capek ngadepin Fauzan yang tiba tiba suka kumat kayak gini! Kita ini belum dalam perjalanan pulang loh. Tapi Fauzan masih aja kayak gitu! Gimana kalau nanti kita pulang. Apa dia nggak bakalan mencelakakan kita semua dan bikin kita semua mati?" cetus Diah dengan penuh emosional.
"Iya, bener nih kata kamu. Gimana dong? Apa besok kita minta pisah aja sama Fauzan? Gawat banget tahu, kalau tiba-tiba dia menyerang kita dalam perjalanan pulang. Lagian kenapa sih, dia itu kenapa. Kayaknya benci banget sama kita!" tambah Leni.
"Aku pikir, Ozan udah sembuh dan nggak bakal ngamuk lagi. Ternyata dia masih begitu."
"Kok aku malah nggak yakin kalau dia itu kesurupan ya? Masa kesurupan nggak berhenti berhenti. Terus terusan gitu!" sahut Rea memberikan pendapat.
"Ini harusnya mah Ayah kamu, Re, yang ngecek. Kalau perlu di ruqyah, tenggelemin sekalian di sumur biar nggak kesurupan terus!" omel Diah yang sangat kesal.
"Sabar atuh, Di."
" Sabar mah sabar. Tapi capek tahu. Aku tuh tadi udah ngebayangin bisa tidur nyenyak malam ini, dari kemarin kan kita nggak bisa tidur badan udah capek, pikiran semrawut, bisa apa dia bikin kita Tenang Walau cuman satu malam. Besok kalau mau bertingkah lagi juga silakan!"
Diah benar-benar kesal. Tubuhnya yang sudah sangat lelah membuat emosinya memuncak. Hal ini wajar, mengingat semua hal yang sudah mereka alami selama beberapa hari terakhir. Mereka sudah sampai di titik jenuh dan titik lelah. Impian untuk bisa tidur nyenyak malam ini pun pupus sudah.
Beberapa rumah penduduk sudah tampak gelap. Untungnya ada penerangan jalan yang membuat langkah mereka tanpa hambatan. Jalanan di desa itu sudah diaspal, hanya saja aspal jalan yang mulai terkikis membuat beberapa lubang di tengah maupun pinggir jalanan. Sepertinya Desa itu sudah lama aspal jalan dan belum memperbaiki nya lagi.
"Eh, itu ada orang?" tanya Leni menunjuk ke sebuah rumah yang terlihat gelap di teras depan.
"Oh iya bener!"
" apa kita minta tolong dia dulu ya? Biar bapak itu bisa sampaikan ke warga yang lain kalau kita butuh pertolongan?"
Mereka bertiga lantas mendekat ke rumah tersebut. Namun saat sudah hampir dekat, bulu Kuduk Rea berdiri. Sontak dia menghentikan langkah sambil memegang tengkuknya.
"Kenapa, Re?" tanya Diah.
Rea memperhatikan sekitar. Dia merasa seperti sedang diawasi oleh seseorang. "Eum, enggak kok. Perasaanku nggak enak."
" nggak enak kenapa?"
" Nggak papa kok. Yuk, jalan lagi!"
Tapi begitu mereka hendak Melangkah Lagi, tiba-tiba sosok pria yang mereka lihat sebelumnya tidak ada. Dia seolah-olah menghilang tanpa jejak. Ketiga gadis itu lantas saling tatap dan menyapu pandang ke sekitar.
" ke mana orang tadi?"
" Iya Kok cepet banget hilang ya."
" masuk ke dalam rumah kali?"
Mereka lantas memperhatikan rumah tersebut. Tapi tiba-tiba mereka sadar kalau rumah di hadapan mereka seperti rumah tidak berpenghuni. Halaman rumahnya kotor. Bahkan rusak di beberapa bagian. Ada bekas terbakar di samping rumah dan juga bagian depan.
" kok gini sih? Rumah kosong ini kan?"
" Kayaknya sih gitu."
" terus orang yang tadi ...."
Mereka bertiga saling tatap lalu segera berlari meninggalkan halaman rumah tersebut. Saat menoleh ke belakang, mereka kembali melihat ada sosok pria yang berdiri di halaman rumah itu, namun kali ini pakaiannya berbeda.
"Astaga! Pocong!" pekik Diah. Yang membuat mereka makin mempercepat langkah.
Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan dan berusaha untuk tidak tergoda lagi saat bertemu dengan lain di sekitar. Saat ini orang yang bisa mereka percaya hanyalah Pak Wiryo saja.
"Eh, itu rumahnya ya?" tanya Leni sambil menunjuk sebuah rumah yang cukup luas halamannya, dan ada bambu yang dibuat sebagai tempat duduk di tengah tengah halaman. Halaman rumah itu bersih dan rapi. Ada beberapa bunga-bunga di sekitar yang terawat dengan baik. Wajar saja jika Pak Wiryo adalah kepala desa di tempat tersebut. Sikapnya yang sederhana, berwibawa dan bertanggung jawab pada warga membuatnya dipilih menjadi kepala desa sejak 2 tahun yang lalu. Bahkan untuk periode selanjutnya, nama beliau masih menjadi urutan teratas. Karena Desa Tabuk Hulu menjadi desa yang lebih maju Setelah Pak Wiryo menjadi kepala desa.
Ketiga Gadis itu segera masuk ke halaman rumah menuju ke pintu. Tanpa ragu mereka mengetuk pintu tersebut sambil mengucapkan salam berulang kali. Memang rasanya tidak pantas jika mereka bertamu tengah malam begini. Hanya saja mengingat nyawa teman-temannya dalam bahaya, membuat mereka terpaksa membangunkan Pak Wiryo dan merepotkan dia lagi.
__ADS_1
Ketukan pintu berubah menjadi gedoran yang cukup keras. Mereka sudah tidak sabar menunggu pemilik rumah membukakan pintu tersebut. Akhirnya lampu di ruang tamu. Menandakan kalau pemilik rumah sudah terbangun dari tidurnya. Pintu rumah itu pun akhirnya dibuka. Hingga muncullah wajah Pak Wiryo yang masih tampak kusut khas orang bangun tidur.
" loh ada apa, Mbak? Ada yang terjadi?" tanya Pak Wiryo heran sambil melihat 3 Gadis di hadapannya yang tampak kacau.
"Pak, Ozan ngamuk lagi! Dia lagi berantem sama temen-temen! Tolong Pak!" kata Rea panik.
"Astaga! Ya sudah saya ganti pakaian dulu nanti saya menyusul. Kalian pulang duluan saja."
" nggak mau, Pak, kami takut."
" Takut kenapa?"
" tadi kami ketemu pocong di rumah kosong sana. Kami takut kalau kami balik lagi, pocong itu muncul lagi Pak," tutur Leni dengan muka memelas.
" pocong? Di mana?"
" itu Pak rumah kosong yang ada di ujung sana. Sepertinya cuma itu satu-satunya rumah kosong di desa ini."
Pak Wiryo tampak berpikir keras, wajahnya menyiratkan sesuatu yang tidak bisa ditebak oleh tiga gadis itu. " Ya sudah tunggu sebentar. Kita ke sana sama-sama."
Pak Wiryo hanya memakai jaket dan peci saja. Istrinya yang juga ikut terbangun kebingungan melihat keributan yang ditimbulkan oleh anak-anak Ibukota itu.
"Bapak pergi dulu, Bu. Anak yang tadi kumat lagi."
" Ya ampun. Kok bisa kumat lagi sih, pak."
" Bapak juga bingung. Kalau dibilang kesurupan Masa dia kesurupan berulang kali. Saat kemarin sama sekali tidak melihat ada setan ataupun Jin yang masuk ke dalam tubuhnya."
"Kalau begitu, dia bukan kesurupan?"
"Entahlah, Bu. Makanya Bapak mau memeriksa lagi. Mungkin Bapak salah."
" Ya sudah hati-hati ya pak."
Pak Wiryo pun bergegas keluar. Tak lupa Dia memegang tasbih di tangan kanannya. "Ayo, kita pergi."
Akhirnya mereka berempat pun segera pergi kembali ke Homestay. "tunggu sebentar. Kita lewat jalan lain. Saya ingin memberi kabar warga lain, siapa tahu ada yang bisa membantu kita nanti."
"Iya, Pak."
Mereka akhirnya melewati jalan lain. Ada sebuah pos ronda di salah satu sudut desa. Untungnya ada beberapa orang yang sedang bertugas di sana, dan membuat Pak Wiryo sedikit merasa lega.
"Jon, ayo, kalian ikut saya!"
"loh, mau ke mana, Pak?"
"Anak kota yang tadi kumat lagi!"
"Astaga! Baik, Pak!"
Bantuan pun sudah mereka dapatkan. Mereka segera menuju ke Homestay, berharap di sana masih sama seperti saat mereka meninggalkannya tadi. Yang mereka harapkan adalah keselamatan teman-teman yang lain. Karena untuk Fauzan sendiri, benar benar sudah dibenci oleh teman temannya, karena semua hal yang sudah terjadi selama ini.
Mereka pun sampai di halaman home stay, dan mendapati pintu rumah yang tidak ditutup.
"Memangnya tadi kita biarin pintunya kebuka, ya?" tanya Rea.
"Hm, lupa, Re. Kupikir udah ditutup deh. Apa memang kita buka ya tadi?"
"Nggak penting, buruan!"
"Mari, Pak!"
Mereka bergegas masuk ke dalam. Suara ribut terdengar dari dalam dan membuat mereka semua panik. Saat sudah sampai di ruang tengah, kondisi saat itu benar benar kacau. Hana, Hani, Blendoz, dan Dana dalam kondisi tergeletak di lantai tidak sadarkan diri. Fauzan sedang berdiri di atas meja sambil tertawa menyaksikan semua itu.
"Astaga!" Rea, Diah, dan Leni segera mendekati teman teman mereka dan memeriksa kondisi mereka. Sementara Pak Wiryo mulai melantunkan doa. Warga desa yang tadi berjaga di pos ronda juga bersiap dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.
"Untung mereka masih hidup," gumam Diah saat memeriksa mereka. Rea dan Leni juga sependapat dengan Diah.
Karena teman-temannya memang masih hidup, hanya saja dalam kondisi tidak sadar. Setidaknya haL ini membuat mereka sedikit merasa lega. Kini hanya tinggal melumpuhkan Fauzan saja. Karena sumber dari segala kekacauan di rumah itu adalah Fauzan.
Pak Wiryo menggumamkan doa sambil memutar tasbihnya seperti seseorang yang sedang berdzikir.
" kamu itu nggak kesurupan kan?" tanya Pak Wiryo menunjuk Fauzan.
Fauzan yang sejak tadi tertawa seketika berhenti. Dia menyeringai sambil menganggukkan kepalanya. " Kamu tidak usah ikut campur orang tua!"
" saya heran dengan kamu. Kamu itu punya teman teman yang baik, tapi kenapa kamu sangat jahat? Apakah dengan membunuh mereka bisa membuat kamu bahagia? Seharusnya kamu sadar, kalau iblis yang kamu sembah itu, hanya akan membuat kamu tersesat di dunia yang fana ini."
" itu urusan saya. Jika kamu ingin masuk ke surga, silakan pergi sendiri. Karena saya tidak tertarik!"
__ADS_1
" ingatlah, azab Allah sangat pedih. Untuk orang-orang yang menyekutukan diri-NYA!"
Fauzan kembali tertawa, seakan-akan meremehkan perkataan Pak Wiryo. " ingin pergi ke surga ya? Baiklah akan saya kabulkan!" kata Fauzan lantas turun dari meja dan menghampiri Pak Wiryo.