pancasona

pancasona
Part 155 Akhir yg baik


__ADS_3

Suara lolongan serigala itu seolah sebagai pertanda. Pertanda malam mencekam yang selama ini meneror desa akan dimulai. Semua orang sudah diberikan ramuan buatan Yudistira, dan semua warga sudah berkumpul di tempat ini. Tempat ini sangat cukup menampung mereka semua. Tentu tidak semua warga yang berada di tempat ini. Mereka yang ada di sini adalah warga yang tersisa. Karena sisanya, sudah berubah dan menghilang atau bahkan mati terbunuh.


Ellea terus memperhatikan Jefri, anak kepala desa. Ia sangat yakin kalau Jefri adalah Watcher yang tadi ia lukai lengannya. Hanya saja, keadaan kali ini memang tidak tepat untuk memperdebatkan masalah ini. Para warga yang diindikasi terinfeksi, sudah diisolasi di ruangan tertutup lain. Mereka Lycanoid yang belum pernah meminum dan memakan manusia. Rendra yang selama ini selalu patroli tiap malam, dapat memastikan hal itu. Karena Lycanoid yang sudah meminum darah manusia, sudah ia bunuh semua. Dia memang dingin dan tegas dalam hal ini. Semua dilakukan demi kebaikan bersama.


Salah satu orang berteriak histeris. Ia bersikap aneh. Seperti kepanasan dengan terus merobek pakaiannya. Anehnya itu terjadi di dalam kelompok yang seharusnya bersih dan tidak terinfeksi.


"Duh, kita kecolongan satu, gaes!" ucap Vin.


Abimanyu segera mendekat diikuti Rendra. Mereka membawa senjata juga botol ramuan yang masih tersisa. Abi mengangguk ke Rendra, seolah saling memberikan isyarat. Rendra langsung memegang pria itu kuat-kuat, sementara Abi menuangkan ramuan itu ke dalam mulutnya. Ia terus berontak, bahkan beberapa bagian tubuhnya akan segera berubah. Ramuan yang sudah masuk ke dalam mulut hendak ia muntahkan, tapi Abi tidak kehabisan akal, ia menutup mulut pria itu dengan tangan kanannya, Rendra membuatnya segera menelan habis ramuan itu.


Saat yakin kalau ramuan itu sudah habis tertelan, Rendra melepaskan orang itu dan mereka berdua menjauh. Ia terus mengerang kesakitan, namun beberapa detik kemudian ia langsung muntah-muntah, mengeluarkan cairan hitam pekat yang cukup banyak.


"Apakah hanya segini saja warga desa yang tersisa?" tanya Gio pada Ronal. Pria itu menarik napasnya kemudian mengangguk. Dalam hatinya ia juga merasa miris melihat keadaan warganya yang hanya tinggal separuhnya saja. "Berapa orang yang sudah kalian bunuh?" tanya Ronal ke Gio.


Gio menelan ludah karena bingung menjawab pertanyaan itu. Ia khawatir jawabannya akan memperkeruh suasana. "Ayo, bilang saja. Aku hanya ingin tau. Jadi kita bisa menyimpulkan ke mana warga desa yang lain," jelas Ronal.


"Sebenarnya kalau dibandingkan dengan sisa warga yang tidak ada di sini, jumlah yang kami bunuh tidak begitu banyak, Ron."


"Itu yang aku khawatirkan. Aku takut sebagian warga yang sudah terinfeksi di luar sana, akan menyerang kita cepat atau lambat!"


Perkataan Ronal ada benarnya. Gio juga sependapat dengannya. "Tapi kita sudah membuat simbol penangkal di luar, jadi mereka tidak akan bisa masuk ke dalam sini."


"Kalian yakin itu akan bekerja?"

__ADS_1


"Tentu saja. Kecuali ada yang sengaja merusak simbol itu seperti yang terjadi di rumah Pak Yudistira!" sahut Ellea sambil melirik Jefri yang memang berdiri tak jauh dari Ronal. Jefri yang merasa disindir, lantas hanya melotot tanpa berkomentar banyak.


"Tapi apa salahnya kita cek keluar. Iya, kan, Jef?" tanya Gio dengan ide yang cemerlang. Gio juga merasa kalau Jefri aneh. Ia terlihat gugup saat Ellea menarik tangannya tadi. Dan juga siapa pun orang yang ada di ruangan ini memang patut untuk dicurigai sebagai kaki tangan werewolf.


Gio langsung berjalan menuju pintu keluar. Semua orang yang sudah meminum ramuan dari Yudistira, tampak lebih segar setelah muntah-muntah tadi. Maya sudah tampak lebih baik dari pada yang lain, karena ia lebih dulu meminum ramuan itu. Bahkan kini Maya malah membantu pria yang tadi hampir berubah wujud.


Belum sampai Gio sampai ke pintu. Tiba-tiba atap gedung ini bergetar. Bagai di serang gempa, mereka yang ada di dalam panik. Dan tak lama setelah itu, semua pintu dan jendela terhempas begitu saja. Seperti ada dorongan kuat dari luar yang membuat benda itu terbuka kasar. Semua orang terdiam. Saling pandang dengan tatapan heran bercampur ngeri. Akhirnya, muncul beberapa orang dari pintu. Bukan manusia seperti kebanyakan. Tapi mereka adalah manusia dengan wujud werewolf. Sontak semua orang menjerit dan berlari menjauhi jendela dan pintu.


Abimanyu, Rendra, Vin, Gio mulai bersiap dengan mengeluarkan senjata masing-masing. Ellea melirik sinis ke arah Jefri, "Perbuatanmu, kan?!" raungnya tanpa memperdulikan ada Ronal selaku kepala desa di sini. Ronal menatap putranya dengan menggelengkan kepala pelan.


"Wah, semua orang berkumpul di sini rupanya!" kata Ares, Alpha dari pack ini. "Untung aku sudah mendapat informasi darimu, ya, Jefri. Dan terima kasih karena kamu mengizinkan kami masuk. Padahal mereka sudah susah payah membuat pola pola aneh di luar sana," tambahnya lagi. Tentu Jefri menjadi sorotan saat ini. Ronal menggenggam tangannya, menahan emosi, melihat putranya sendiri menjadi pengkhianat desanya sendiri. "Jefri? Tega-teganya kamu!" cetus Ronal dengan mengatupkan rahangnya. "Apa salah kami? Apa salah bapak? Hah!" bentak Ronal.


"Jefri muak dengan desa ini, Pak. Kalian munafik. Dan mereka menjanjikan Jefri hidup kekal dan awet muda! Lagi pula salah satu warga Bapak juga bagian dari mereka," kata Jefri melirik ke Rendra.


Sejak awal Ares mengincar desa ini karena ada Rendra. Ia menaruh dendam kepada Rendra karena ia meninggalkan mereka begitu saja. Rendra yang sudah tidak ingin menjalani kehidupan seperti werewolf pada umumnya membuat posisinya bagai makhluk yang harus diburu agar tidak membuat werewolf lain mengikuti jejaknya.


"Rendra ... Bagaimana? Ucapanku saat itu? Aku benar-benar akan menghancurkan tiap desa yang kau tinggali, bukan? Dan sekarang aku sudah membuat separuh dari desa ini menjadi seperti kita. Sebanyak apa pun yang kamu bunuh, dan kalian kembalikan ke wujud asal mereka, kami punya cara untuk membuat pasukan kami bertambah banyak terus. Dan Malam ini, adalah malam terakhir untuk kalian! " Kedua jari telunjuk Ares terangkat ke atas, ia memberikan isyarat, dan kemudian beberapa orang di belakang mereka mulai memasuki gedung ini. Rupanya mereka sebagian warga desa yang tetap menjadi werewolf. Tampang mereka mengerikan, mulut mereka penuh darah dan becak hitam menjijikkan. Menetes dari mulut yang terus menganga karena gigi taring mereka yang menyembul keluar. Kepala mereka membentuk serigala, bahkan sekujur tubuh mereka. Namun mereka berjalan seperti manusia pada umumnya.


Ares melolong dan langsung merubah wujudnya seperti mereka, diikuti Ax dan pack mereka yang lain. Ini sebuah pertanda kalau peperangan dimulai. Allea dan Maya menggiring warga untuk segera keluar dari pintu belakang. Gedung ini memang harus dikosongkan, agar warga yang lain tidak menjadi korban lagi.


"Ell, kamu nggak apa-apa di sini?" tanya Abi dengan berbisik ke Ellea yang berdiri di sampingnya. "Aku harus bantu, Biyu. Mereka terlalu banyak!"


"Kalian nunggu apa sih?! Ayo kita tembak!" Vin gemas, ia lantas menarik pelatuknya dan letusan pertama keluar dari pistol miliknya dan tepat mengenai salah satu dari makhluk di dean mereka. Kini suara tembakan seolah bersahutan dan menggema dari dalam gedung ini. Tak hanya tembakan, pedang dan pisau juga mereka gunakan. Kepala werewolf itu menggelinding dengan darah yang hampir ada di beberapa sudut ruangan. Ronal juga ikut bertarung membantu yang lain, begitu juga warga yang merasa mampu, mereka tak segan-segan menjadi pasukan berani mati. Sabetan demi sabetan membuat beberapa tubuh terpisah dari anggota badannya yang lain. Peluru perak yang mereka miliki ternyata tidak cukup lagi.

__ADS_1


Ellea juga sejak tadi sudah menggunakan kekuatannya, tak hanya menghempaskan makhluk itu, tapi langsung mencabiknya hingga tercerai berai. Rupanya ia sudah mulai terbiasa menggunakan kemampuannya. Tetapi tiba-tiba Jefri merebut kalung di leher Ellea. Pemuda itu menaruh dendam pada Ellea. Karena sikap gadis itu yang sangat menyudutkannya tadi. Ia terus memperhatikan saat Ellea membuat kawanan werewolf mati dengan mengenaskan. Ia merasa kalau sumber kekuatannya ada pada kalung di leher Ellea. Ellea terkejut. Ia lantas hendak merebut lagi kalung miliknya, namun dihalangi oleh beberapa werewolf lain. Jefri menginjak kalung miliknya hingga rusak. Ia bahkan memukulnya dengan besi yang ada di dekatnya hingga liontin nya remuk tak berbentuk lagi.


Tubuh Ellea lemas. Ia merasa semua kekuatannya hilang sekejap. "Ell!" panggil Abimanyu yang sedang kewalahan dengan pasangan duelnya. Ia mencemaskan Ellea yang sedang dikerumuni oleh para Lycanoid. "Ellea!" jerit Abi.


Abi yang tidak bisa berbuat banyak, merasa kehilangan semangat. Vin sudah terluka di bagian perutnya. Allea yang membantu juga sedang terpojok dengan beberapa Lycanoid juga. Gio malah sedang tergantung di atas karena cekikan Ax. Ia terus meronta sambil berusaha melukai Ax dengan pisau di tangannya. Sementara Rendra masih bergelut dengan Ares tanpa henti. Ronal sudah hampir kehabisan nafas karena musuh yang mereka hadapi sangat banyak dan seolah tidak ada habisnya.


Keadaan makin kacau. Mereka merasa hampir menyerah pada keadaan. Tapi tiba-tiba ada sebuah sinar terang dari kerumunan tempat Ellea. Semua Lycanoid terpental dan langsung tercabik dan mati saat itu juga. Ellea bangkit dengan lingkaran sinar terang yang membuat semua orang di tempat ini terpukau. Dan membuat semua Lycanoid tercabik begitu saja. Hanya dalam hitungan detik, semua Lycanoid tewas dengan kondisi mengerikan. Seakan-akan cahaya terang itu membuat mereka terbakar dan merobek tubuh mereka dengan begitu mengerikan. Tanpa ampun dan tanpa belas kasihan.


Ellea berdiri, matanya memancarkan sinar terang. Ia mendekat ke Ax lalu menyentuh dada Ax dan yang terjadi kemudian, di sekujur tubuh Ax memancarkan sinar terang dan perlahan membakar tubuhnya hingga hangus. Ellea kembali mendekati Lycans yang lain. Ia terus melakukan hal yang sama dan semua Lycans akhirnya kocar kacir, pergi meninggalkan gedung itu. Karena takut mati. Rendra juga merasakan perubahan dalam dirinya, tubuhnya yang semula menjadi werewolf, kini kembali menjadi wujud manusia. Ia luruh ke lantai seperti kehilangan semua tenaganya. Ellea mendekat ke Ares, ia menekan dada Ares. Seluruh rongga mata, hidung, mulut , dan telinga Ares memancarkan sinar terang. Lalu tanpa belas kasih, Ellea mencabut jantung Ares begitu saja.


Ares tewas, Ellea langsung terjauh ke lantai begitu saja. Abimanyu berlari mendekati Ellea dan berusaha membangunkan gadis itu. "Bagaimana Ellea?!" tanya Allea yang ikut panik melihat saudaranya terkapar setelah melakukan aksi heroik barusan.


"Masih nafas!" ujar Abi sedikit lega. Yudis dan yang lainnya juga mendekat, "Mungkin dia kelelahan aja," terang Yudis, tentu agar mereka tenang sejenak.


Para Lycanoid yang tewas berubah kembali menjadi wujud manusia. Ronal merasakan nyeri di dadanya saat melihat hampir sebagian warganya tewas dengan cara mengerikan. Dan satu jasad yang membuat tangis Ronal pecah, adalah jasad Jefri, putra semata wayangnya. Sesalah apa pun anaknya, ia tetap menganggap Jefri putranya yang terbaik. Ronal hanya menyangka kalau Jefri meninggal dengan cara seperti ini. Ia memeluk putranya dengan raungan kesedihan mendalam, yang membuat mereka iba. Gio mendekat lalu menepuk bahu Ronal memberikan sedikit kekuatan untuknya.


Tragedi kali ini benar-benar merenggut semua orang terkasih mereka. Tiap anggota keluarga menjadi korban, bahkan ada yang tidak tersisa sama sekali. Malam yang cukup berat dan menyedihkan. Mereka juga harus menggali makam untuk saudara-saudara mereka. Makam massal karena tidak mungkin menyatukan tiap potongan tubuh mereka yang sudah tercerai berai. Sebuah lubang luas sudah mereka gali, beberapa anggota keluarga yang masih hidup masih berusaha mencari dan mengenali sanak saudara yang menjadi korban malam ini. Semua berduka, semua orang menangis. Ini tragedi paling memilukan di desa Amethys. Yang telah mengurangi hampir separuh lebih warganya.


Abi membopong Ellea masuk ke mobil, sementara Vin dan yang lain masih akan menunggu hingga acara pemakaman selesai. Tenaga mereka juga masih dibutuhkan di sini. Abi memutuskan pulang terlebih dahulu ke rumah. Ia sangat khawatir dengan keselamatan Ellea. Wajah Ellea pucat dan berkeringat dingin. Ia juga demam. Mobil melaju cepat. Menembus gelapnya malam desa Amethys yang sangat sunyi. Dalam benak Abi, ia harus sampai di rumah secepat mungkin.


Rumah ini seperti sudah sangat lama mereka tinggalkan. Abi segera membuka pintu mobil samping Ellea, membopong gadis itu dengan segera masuk ke dalam. IA segera ke kamar Ellea, membaringkan gadis itu dan mengganti pakaian Ellea yang basah karena bercak darah dan bahkan hampir setengah basah. Dengan telaten, Abi membasuh tubuh Ellea yang terkena noda darah. Terutama jemarinya. Ia bahkan ingat, bagaimana gadis itu merebut jantung Ares begitu saja. Sungguh mengerikan.


Abi bahkan tidak melihat jiwa Ellea dalam tubuhnya saat itu. Tapi setidaknya semua masalah selesai. Walau tidak dengan akhir yang bahagia, tetapi setidaknya berakhir dengan baik. Ellea sudah berganti baju. Abi mengompres dahinya karena demam yang tak kunjung turun. Pemuda itu terus menemani Ellea semalaman. Mencoba terus memastikan kalau Ellea pasti akan baik-baik saja.

__ADS_1


"Semoga apa pun yang tadi terjadi sama kamu, nggak akan berdampak buruk, Ell. Jangan sampai kenapa-napa," gumam Abi dengan menggenggam tangan gadis itu.


__ADS_2