
Allea dibopong oleh Gio memasuki ruangan IGD. Ia sudah dibaringkan dan tengah diperiksa dokter jaga. Ellea, Abimanyu, dan Gio menunggu dengan harap-harap cemas. Terutama Ellea, air matanya bahkan belum juga kering. Kedua bola matanya bengkak dan wajahnya memerah. Abi menarik tangannya agar dapat ia peluk. Ellea tidak tenang, ia sangat cemas akan keselamatan Allea. Darah yang keluar dari tubuh Allea cukup banyak.
"Hei ... gimana?" tanya Rendra tergopoh-gopoh baru saja datang karena berita ini.
"Vin yang ngelakuin," bisik Gio sambil menyapu pandangan ke segala arah. Rendra menatapnya tak percaya," nggak mungkin! Kok bisa!" pekiknya.
"Vin dirasuki," sambar Ellea yang masih berada di pelukan Abimanyu.
"Terus sekarang dia di mana?"
"Itu yang harus kita cari tau. Berbahaya banget kalau kita biarkan dia berkeliaran di luar dengan kondisi seperti itu," jelas Abi.
"Nanti kita cari dia. Sekarang fokus dulu sama kondisi Allea, semoga dia baik-baik saja," timpal Gio.
Setelah menunggu beberapa menit, seorang dokter keluar dari ruang IGD tempat Allea dirawat. Tampangnya terlihat lesu, seolah menyiratkan berita buruk yang hendak ia sampaikan. Ellea segera menghampiri pria dengan pakaian putih khas dokter.
"Dok, gimana saudara saya?!" tanya Ellea. Pria itu melepas masker yang menutupi mulutnya, ia menarik napas dalam sambil menatap Ellea nanar. "Ibunya baik-baik saja, tapi maaf kalau bayi di dalam kandungannya tidak bisa kami selamatkan. Janinnya remuk dan terpaksa harus kami ambil," terang dokter itu.
Tubuh Ellea lunglai, hingga Abimanyu meraihnya agar tidak jatuh. Berita ini memang sudah dapat diprediksi, sesuai dengan kondisi terakhir Allea. Tetapi tetap saja, mendengar hal ini secara langsung membuat ia terkejut. Apa yang akan terjadi pada Allea jika sampai mengetahui hal ini. Apalagi semua terjadi karena Vin.
"Allea masih belum sadar, Dok?" tanya Abi.
"Untuk sementara dia masih belum sadar karena kondisinya masih belum stabil. Dia masih harus banyak istirahat. "
"Kalau gitu, terima kasih, Dok."
Malam ini Ellea menginap di rumah sakit, menunggu Allea yang masih terbaring di ranjang pasien. Beruntung kini ia sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Kondisinya memang cukup lemah. Tapi dia baik-baik saja. Sementara itu, Rendra dan Gio bergerak untuk mencari keberadaan Vin. Dan untuk sementara Abi diam di rumah sakit, karena bagaimana pun juga, Ellea dan Allea harus dijaga. Tidak menutup kemungkinan kalau bahaya akan datang walau mereka berada di rumah sakit seperti sekarang.
Ellea tidur di pinggir ranjang tempat Allea tidur. Ia hanya menyenderkan kepalanya saja di sisi itu. Tubuhnya ia biarkan duduk di kursi. Abimanyu yang sejak tadi ada di sofa, lantas beranjak karena perutnya yang keroncongan. "Sayang ... aku mau beli makan dulu, ya. Kamu mau nitip sesuatu?" tanyanya berbisik di telinga gadis itu. Ellea hanya melirik sekilas sambil menggeleng. "Aku masih kenyang, Biyu. Kamu aja."
"Ya udah. Aku tinggal sebentar, ya. Nggak apa-apa, kan?" tanyanya lagi, memastikan. Ellea mengangguk. Sebelum pergi Abi melepas jaketnya dan meletakkan di atas tubuh Ellea. Ellea hanya mengintip sedikit dan kembali berusaha memejamkan mata lagi. Ia merasa lelah. Hampir semalaman dirinya tidak istirahat.
__ADS_1
Tapi samar-samar, ia merasa ada suara yang memanggilnya. Suara seorang wanita yang sangat ia kenal, dan cukup sering ia dengar dalam beberapa bulan belakangan ini. Ellea memutuskan beranjak dan bangun dari tidurnya. Tapi ia sangat terkejut saat dirinya menjauh dari ranjang Allea, ia melihat tubuhnya sendiri masih dalam posisi yang sama. Ellea segera meraba wajahnya dan menatap tubuhnya sendiri. "Aku udah mati, kah?" tanyanya dalam hati.
Tapi ia masih saja mendengar suara panggilan itu. Suara seorang wanita yang memanggil, "Ellea ... Ellea." Secara berulang. Ellea memutuskan keluar dari ruang inap itu. Mencari di mana sumber suara yang mengganggu dirinya. Koridor rumah sakit ia telusuri. Beberapa kali ia berpapasan dengan manusia dan tentu makhluk yang mirip manusia, dengan wajah pucat. Roh. Hingga sampai di sebuah ruangan yang ada di ujung lorong, Ellea mendekatkan telinganya, memastikan asal suara panggilan itu ada di dalamnya. Saat ia memutar handle pintu, ia langsung melotot melihat Elisabeth ada di sana, sedang duduk di sebuah ranjang pasien dan tersenyum saat melihat Ellea datang.
"Elisabeth?! Kenapa kamu di sini?"
"Ell, lama tidak ketemu, ya? Sini," ajaknya agar duduk di samping wanita paruh baya itu. Ellea menurut dan menempatkan dirinya duduk. Ia masih bingung dengan keadaan ini. Bagaimana ia bisa keluar dari tubuhnya sendiri. Bagaimana dia malah bertemu dengan Elisabeth di sini. Karena biasanya mereka bertemu di dalam mimpi saja.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Ellea spontan. Elisabeth tersenyum tipis. Ia menarik napas dalam-dalam lalu menatap kedua bola mata Ellea yang jernih. "Kamu dalam bahaya, Ell. "
"Maksudmu?" tanya Ellea, heran.
'Kamu pasti sudah tau tentang para iblis yang sudah masuk ke desa ini, kan?'
"Iya. Dan mereka yang melukai saudaraku! Apa mau mereka sebenarnya?" tanya Ellea yang mulai terbawa emosi.
"Mereka menginginkanmu, Ell. Mereka sedang mencarimu."
Elisabeth menggeleng pelan, "Sebenarnya kamu lebih dari itu. Aku berbohong tentang status kamu."
"...."
"Kamu bukan pembantu malaikat, Ell. Aku berkata demikian agarv keberadaanmu tidak diketahui mereka."
"Jelaskan sekarang!"
"Kau adalah Nephilim! Anak dari manusia dan malaikat."
"Hah! Jangan bercanda, Elisabeth!"
"Aku serius. Kamu adalah Nephilim. Ras yang jarang ada di bumi dan merupakan ras yang penting. Karena darahmu itu suci. Dan sangat membahayakan bagi beberapa oknum yang berseberangan dengan ayahmu."
__ADS_1
"Wow. Jadi maksudmu ayahku seorang malaikat? Ayah yang mana, Lis? Andrie Wongso atau Adrian?" Pertanyaan yang wajar diutarakan Elea, karena dia memiliki dua orang ayah. Dan sepengetahuannya kedua pria itu manusia. Walau salah satunya adalah seorang gangster.
"Ayah kandungmu menyamar menjadi Andrie Wongso, dia tidur dengan ibumu, Lin, dan akhirnya kalian ada di kandungan wanita itu."
"Jadi, aku dan Allea adalah Nephilim? Kami kembar, kan?"
"Tidak, Ell. Karena hanya satu keturunannya yang menjadi ras Nephilim. Dan itu hanya ada di dalam gadis suci. Yaitu kamu."
"Suci dalam artian ...?"
"Secara harfiah, Ell. Kau masih perawan, kan?" tanya Elisabeth sambil menatap tubuh Ellea dari atas sampai ke bawah. Ellea menutupi bagian tubuhnya dengan kedua tangan seperti merasa sedang ditelanjangi. Ellea mengangguk pelan.
"Yah, sejak awal aku sudah mengintai kalian berdua, karena belum ada satu pun yang terlihat menuruni ras Nephilim. Tapi saat Allea kehilangan keperawanannya, maka semua sudah jelas. Dan karena alasan itu juga, mereka mulai datang untuk mencari dan menangkapmu."
"Dan, kenapa aku harus ditangkap?"
"Kau tau, kalau ras Nephilim di dunia ini sudah hampir punah? Mereka semua dibunuh oleh para iblis, karena kemampuan kalian akan membahayakan mereka. Ada 10 Ras Nephilim yang harus berkumpul dan mematahkan portal pintu gaib, tempat para iblis keluar masuk. Semakin lama portal itu terbuka, maka kejahatan di bumi makin tidak bisa dihentikan. Bukan kejahatan oleh manusia saja, terkadang mereka, para iblis, merasuki manusia dan melakukan banyak kejahatan. Dan tugas kalian, menutup portal itu."
"Jadi harus ada 10 Nephilim untuk menutup itu?"
"Yah, 10. Dan aku baru menemukan satu, yaitu kau. Tugasku harus mencari 9 orang lainnya. Beberapa waktu lalu, aku sudah bertemu 2 Nephilim lainnya, tapi ... mereka telah tewas. Mereka tidak mau melakukan tugas ini, dan akhirnya mereka terbunuh sendiri karena para iblis itu. Satu Nephilim yang sudah terdeteksi, maka semua makhluk bisa mengendusnya. Jadi mau tidak mau, kau harus menerima takdirmu, Ell. Kau harus menutup portal itu."
Elea diam sejenak. Ia merasa terkejut dengan perkataan Elisabeth. Sekaligus bingung. "Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Bertahan hidup. Jangan sampai mati, sampai aku mengumpulkan Nephilim lainnya. Bisa?"
"Aku usahakan."
Tiba-tiba tubuhnya digoyang-goyangkan, dengan suara Abimanyu yang mengusik telinganya. Ellea lantas membuka mata, dan melihat wajah Abi di depannya. "Kamu kenapa? Mimpi?" tanya pria itu. Ellea tengak tengok dan ternyata dia sudah ada di kamar inap Allea, kembali ke tubuhnya sendiri. Bahkan ia tidak tau bagaimana prosesnya.
"Nephilim?" gumamnya dalam hati.
__ADS_1