
Bel masuk baru saja berdering saat aku berjalan santai memasuki gerbang sekolah. Beberapa siswa lain ikut mempercepat langkahnya karena takut terlambat. Namun aku, justru bersikap sebaliknya. Kini gedung kelas dua ada di depanku, aku melirik sekilas dan melihat Kak Rayi ada di sana, bersama Sabrina dan juga dua sahabatnya, Kak Bintang dan Kak Roger. Sabrina terus bergelayut manja di lengan Kak Rayi, tetapi pandangan Kak Rayi justru tertuju padaku. Tiba-tiba Kak Bintang berteriak memanggil namaku. Aku otomatis menoleh dan menghentikan langkah, karena dia menyuruhku menunggunya untuk turun ke bawah. Kak Roger hanya menatapku sambil menunjukkan jari tangan yang dia bentuk hati diiringi senyum tipis di wajahnya. Sementara Kak Rayi menatapku nanar karena kini Sabrina melirikku tajam dan berusaha menghalangi pandangan di antara kami.
"Pagi, Bil," sapa Kak Bintang ramah. Aku berusaha menarik kedua sudut bibirku untuk menyambutnya. Rambutku yang tergerai, terbang terkena angin pagi yang menyejukkan. Aku menyingkapnya lalu mengumpulkannya jutaan helai rambutku dan menyampirkannya ke bahu kanan. "Pagi, Kak."
"Bagaimana keadaan kamu? Wajah kamu masih sedikit lebam, ya?" tanyanya sambil menyentuh pipiku. Anehnya, aku tidak mau mengelak dari Kak Bintang. Dia justru makin mendekatkan tubuhnya padaku, mengamati lekat-lekat tiap sudut wajahku. Ia juga mengusap ujung bibir dan pipi kananku yang masih terdapat bekas lebam di sana.
"Udah nggak apa-apa kok, Kak. Sudah diobati semalam. Tinggal bekasnya saja. Ya udah, aku balik kelas dulu ya, Kak," pamitku saat melihat Bu Mawar berjalan menaiki tangga. Jam pelajaran pertama adalah beliau, dan aku tidak boleh terlambat. Aku segera berlari tanpa menunggu jawaban Kak Bintang.
"Bil, nanti istirahat makan bareng, ya," jeritnya membuat suara gema di sekitar. Aku sampai melotot sambil menatap ke sekitar kami. Beberapa orang menatapku dan Kak Bintang bergantian. Tetapi kuanggap itu hal biasa. Kini aku harus cepat sampai ke kelas sebelum Bu Mawar.
2 jam sudah kami dibuat pusing oleh Bu Mawar, pelajaran diakhiri dengan tugas menghafal tata nama senyawa anorganik. Kini bel istirahat berdering nyaring, otomatis beberapa siswa pasti akan bergerombol untuk keluar kelas. Terlalu banyak berpikir membuat perut mudah lapar, jadi aku memutuskan pergi ke kantin dengan Zidan, seperti biasa.
Saat kami turun ke bawah, di ujung tangga sudah ada Kak Bintang yang sepertinya menungguku. Aku hampir lupa kalau dia memang sudah bilang, akan ke kantin bersamaku. "Yuk," ajaknya sambil melambaikan tangannya padaku. Zidan berbisik," Kenapa sekarang malah jadi Kak Bintang yang deketin elu, Bil?"
Aku hanya mengangkat bahuku menjawab pertanyaannya. Alhasil kami bertiga pergi ke kantin bersama-sama. Suasana hatiku sudah lebih baik dari kemarin. Memang benar, kalau waktu akan menyembuhkan segala luka. Walau belum sepenuhnya sembuh, setidaknya aku sudah bisa menghadapi kedekatan Kak Rayi dan Sabrina dengan lapang dada.
Kami sampai di kantin yang tidak begitu ramai, karena ternyata ada lomba basket yang bertujuan untuk mencari pemain terbaik yang akan berlomba dengan sekolah lain, katanya untuk memperingati hari olahraga nasional. Kak Roger ikut dalam pertandingan itu, kata Kak Bintang, di antara mereka bertiga, hanya Kak Roger yang paling jago bermain basket.
Di sudut lain kantin ada Kak Rayi dan Sabrina yang sedang makan dengan cerocos Sabrina yang memekakkan telinga. Padahal saat ini kami berada jauh dari meja mereka. Netra Kak Rayi terus tertuju padaku, tatapannya sendu, namun dia seolah tidak bisa menjauh dari Sabrina. Yah, itu sudah menjadi keputusannya, bukan. Kini kami hanya lah sebatas mantan pacar yang sama-sama belum bisa terbiasa dengan posisi kami sekarang. Aku masih mencoba dan terus mencoba, menganggapnya tidak ada. Mencoba membuang rasa ini sejauh mungkin. Walau sebenarnya aku sangat merindukannya.
"Makan apa, Bil?" tanya Kak Bintang.
"Yang biasa aja, Kak," sahut ku tanpa menatapnya.
"Yang biasa?"
Begitu aku sadar, aku hampir lupa kalau dia bukan Kak Rayi yang tau apa saja makanan kesukaanku. "Eh, eum, bakso aja, nggak pakai mie. Minumnya jus alpukat," sahutku sambil menampilkan barisan gigi putih.
"Oke. Aku pesenin dulu, ya," katanya ramah, lalu berjalan ke Bu Kantin. Zidan mengomel karena tidak juga ditawari memesan makanan juga. "Sana pesen sendiri!" ocehku sebal.
__ADS_1
Zidan akhirnya beranjak dan memesan makanannya sendiri. Tak lama Kak Bintang kembali dengan makanan di nampan. "Silakan makan, Nabila," ujarnya. Sejak awal, memang dia selalu bersikap baik dan sopan padaku. Jadi aku selalu merasa sikapnya tidak berlebihan sekarang.
"Hm, Kak, aku ke toilet dulu, ya," kataku sambil menyapu pandang ke sekitar. Melihat letak toilet yang sebenarnya terlihat dari kantin. Kak Bintang mengangguk sambil menyantap makanannya.
"Mau ke mana lu!" jerit Zidan yang juga sudah kembali dengan makanan miliknya.
Toilet di sekolahku ada tiga tempat, dan hanya toilet ini yang paling dekat dengan kantin. Ada tiga bilik toilet dengan tembok di depan ketiga bilik toilet ini. Tujuannya agar orang yang ada di toilet tidak terlihat langsung dari arah kantin.
Saat aku mendekat ke salah satu bilik toilet, aku mendengar suara seseorang sedang menggaruk tembok sebelah. Dengan ragu mendekat ke bilik sebelah. Hawa sekitarku terasa aneh. Sepertinya ada yang tidak beres. Knop pintu kubuka perlahan, saat pintu terbuka sempurna, aku melihat Abitra ada di dalam.
"Kamu ngapain?" tanyaku heran.
"Bil ... aku sudah lama tidak berada di rumah keluarga Rayi."
"Loh kenapa?"
"Maksud kamu Sabrina yang melakukan itu?"
Abitra mengangguk, " Kamu harus membantunya!"
"Tapi bagaimana caranya?" tanyaku, hanya saja Abitra sudah menghilang begitu saja. Berkali-kali aku memanggil namanya, tapi dia tidak muncul lagi.
"Bil?" Suara seseorang terdengar lirih di dekatku. Saat aku menoleh ternyata ada Kak Rayi di sana. Berdiri di ujung pintu masuk toilet, hanya menatapku nanar. Aku menarik nafas panjang. Keinginan buang hajat tertunda, karena dua sosok itu muncul. Aku kembali mengingat perkataan Abitra, dan menatap Kak Rayi iba. Akhirnya aku mendekat. "Kenapa?"
"Eum, kamu baik-baik saja, kan? Kata Roger kamu berantem sama preman di jalan pas pulang sekolah? Astaga, pantesan muka kamu gini." Dia hendak mendekat untuk membelai wajahku, namun aku malah mundur satu langkah.
"Aku nggak apa-apa kok. Buktinya masih bernafas sekarang, kan?"
"Syukurlah." Dia menunduk, aku kini dapat melihat wajahnya dari jarak dekat, lingkar hitam matanya terlihat jelas, wajahnya sedikit pucat dan tidak segar dari biasanya. Bibirnya agak menghitam. Memang perubahan itu tidak akan terlihat jelas, hanya samar, dan aku baru menyadarinya. Mungkin benar kata Abitra.
__ADS_1
"Mendingan kamu balik sana, nanti dicariin Sabrina!" sindirku.
"Enggak apa-apa kok, Bil. Dia lagi ke kantor, dipanggil guru. Eum, kamu pulang sama Bintang atau Roger aja, ya. Jangan sendirian."
"Kenapa?"
"Aku khawatir," ucapnya pelan. Tak berani menatap mataku.
"Eum, aku nggak mau pulang sama mereka."
"Tapi, Bil ..." Kak Rayi mendongak dengan kedua mata yang melebar.
"Aku maunya pulang sama Kak Rayi. Titik."
"....
"Kalau Kak Rayi nggak mau, aku bakal di sini sampai besok!" ancamku serius. Dia menggaruk kepala, dan tampak bingung. "Gimana?"
"Eum, tapi ... Aku harus anter Sabrina pulang dulu."
"Nggak masalah. Asal setelah antar dia, Kak Rayi balik ke sini buat antar aku pulang!"
"Kamu ... nggak marah?"
"Mau nggak?!" tanyaku menegaskan.
"Mau! Mau banget." sahutnya dengan anggukan penuh semangat.
Mungkin aku salah karena membiarkan Kak Rayi begitu saja. Seharusnya aku mempertahankan nya. Bukannya malah marah dan membiarkan Sabrina menguasai Kak Rayi. K ita lihat saja Sabrina, siapa yang akan menang nanti.
__ADS_1