
Halo semua. Maaf, baru bisa update. Dua hari kemarin ada kesibukan di dunia nyata. Huh, kejar tulisan sekarang.
.
.
.
Happy Reading, gaes.
__________________________
"Jadi kalian udah pacaran?" tanya Papa sambil mengoles selai kacang di lembar roti tawar yang berada di piring. Aku hanya menanggapi dengan santai, sembari meneguk susu hangat yang baru kuseduh.
"Hu um," sahutku. Sedikit malu, namun berusaha menutupinya.
"Yang penting bisa jaga diri. Pacarannya yang bener. Fokus sekolah juga," nasehat Papa.
"Iya, Pa. Papa nih, memangnya aku sama Kak Rayi mau apa ih. Masih kecil juga. Nggak bakal macam-macam," tandasku dengan bibir mengerucut, pertanda sebal pada apa yang Papa maksud. Aku tau ke mana arah pembicaraan ini.
"Iya, iya. Papa percaya. Anak Papa nggak akan aneh-aneh. Lagian kalau Rayi sampai macam-macamin kamu, ya lihat saja nanti." Kopi di meja Papa sudah tandas. Papa juga mulai merapikan dasinya. "Berangkat sekarang aja, yuk. Nanti macet," ajak Papa sambil menatap jam tangan di pergelangan tangannya. Aku pun mengangguk dan segera menghabiskan susu hangat milikku.
Selama perjalanan Papa banyak mengobrol dan membahas banyak hal. Karena beberapa waktu lalu Papa terlampau sibuk dengan segala urusan bisnisnya. Dan meninggalkan ku di rumah seorang diri. Aku juga menceritakan tentang Kak Faza kemarin. Dan Papa cukup maklum dengan tindakanku.
Sepanjang jalan aku dan Papa saling curhat, hingga akhirnya samar-samar aku melihat ada motor Kak Rayi yang melintas di depan mobil. Namun terhalang oleh mobil di depanku. Tapi suaranya dan warna motornya sekilas terdengar sama. Hanya saja saat aku melongok dan mencari keberadaan motor itu, yang kulihat adalah seorang wanita berada di boncengan nya. Jadi aku berpikiran kalau itu pasti bukan Kak Rayi. Dan, orang yang memiliki motor itu memang tidak hanya dia saja.
Mobil berhenti di depan pintu gerbang sekolah yang masih terbuka lebar. Banyak siswa yang masuk ke dalam dengan langkah terburu-buru mau pun lamban. Setelah aku mencium punggung tangan Papa, aku mulai meninggalkan mobil dan segera masuk ke dalam.
Posisi gerbang sekolah yang berada di tengah, mampu membuatku melihat keberadaan parkiran motor yang ada di sisi kanan. Dan sisi tersebut memang parkiran khusus siswa, karena di sisi kiri adalah parkiran khusus guru dan staf.
Jarak yang cukup jauh membuatku harus menyipitkan mata untuk menyapu pandang ke sana. Mencari jejak keberadaan motor Kak Rayi yang ternyata sudah terparkir di tempatnya. Tempat biasa dia memarkirkan motor kesayangannya itu. Dengan riang aku mulai berjalan menuju ruang kelasku. Lorong ruang kelasku memang melewati kelas Kak Rayi terlebih dahulu. Sambil berjalan aku juga memeriksa keadaan sekitar, mencari keberadaan Kak Rayi yang belum kulihat sejak tadi. Biasanya dia ada di depan kelasnya, menungguku, dan biasanya juga dia akan mengejarku dengan ucapan selamat pagi hingga menemaniku berjalan sampai ke tangga ruang kelas 1.
__ADS_1
Bahkan saat aku menoleh dan mencarinya, dia tak kunjung menampakkan diri. Sampai akhirnya aku menabrak seseorang di depan. Dan suara khasnya membuatku langsung mengenalinya walau aku belum melihat wajahnya.
"Ya ampun, Bil. Kalau jalan itu lihat ke depan, ini malah lihat ke belakang mulu! Nyariin siapa sih?" tanya Kak Roger dengan segelas minuman teh yang tampaknya dingin. Terlihat bulir air di gelas plastik tersebut.
"Ih, kakak yang salah. Ngapain di jalan," tukasku sambil mengerucut dan berjalan melewatinya begitu saja. Dan tampaknya Kak Roger tidak terima dengan sikapku ini. Dia terus mengejarku dengan berbagai pertanyaan menyelidik lainnya.
"Pasti nyariin Rayi, kan? Hayo ngaku," ejeknya sambil terus menjajari langkahku.
"Ye, ngarang."
"Kalau ngarang itu pelajaran bahasa Indonesia, Bil," elaknya sambil terus berjalan mengikutiku.
Dari lantai dua, Zidan memanggil, dan otomatis aku langsung mendongak ke atas, sehingga mendapatinya sedang melambaikan tangan dengan tumpukkan kertas yang digulung kecil di tangannya.
"Apa?!" jeritku agak kesal. Deretan teman-teman sekelas juga berada di sana. Dan ini adalah aktivitas pagi yang biasa dilakukan sebagian orang sambil menunggu bel masuk berbunyi. Bahkan deretan siswa kelas 1 yang ada di lantai dua dan tiga banyak yang berada di pinggir pagar pembatas yang tingginya hanya setengah badan orang dewasa.
"Tolong ke ruang guru dulu, Bil. Ambilin buku absensi. Gue lupa!" ujarnya sambil menunjukkan barisan gigi putihnya.
"Gitu maksudnya, Bil. Lu tau, kan, kalau sekarang elu ini termasuk famous di sekolah. Apalagi elu sama Rayi sekarang pacaran. Yakin gue ini, banyak orang yang sirik, dan mencoba memisahkan kalian berdua," tukasnya, dia terlihat ngotot, bahkan sangat menggebu-gebu. Hingga membuat langkahku berhenti dan menatapnya sebal.
"Ini kak Roger mau ngapain sih?! Ngikutin aku terus. Udah sana balik kelas!" protesku dengan memasang wajah sebal.
"Lah kan tadi gue bilang, nanti takut terjadi sesuatu sama elu. Lu tau nggak sih kalau banyak fans Rayi selama ini. Nanti kalau tiba-tiba elu di bully massal bagaimana? Di seret ke kamar mandi, diiket terus dikunci di dalam. Hih, apa nggak bahaya?" tanyanya dengan berkelit terus menerus.
"Lebay ah!" sungutku, melanjutkan kembali perjalanan menuju ruang guru yang sebenarnya hanya tinggal beberapa langkah lagi. Bahkan di belokan depan sudah sampai di pintu ruang guru yang kucari. Tapi mengapa sikap Kak Roger seperti menahanku dan mencegahku untuk sampai ke sana dengan segera.
"Bil, Nabila!" jerit Kak Roger dan terus mengejarku.
Langkah kubuat cepat, sampai akhirnya aku berbelok ke ruang guru. Dan, rasanya jantungku serasa mau copot. Aku berhenti dengan tubuh lemas. Apa yang ada di hadapanku benar-benar nyata. Sepertinya apa yang kulihat tadi di jalan, memang Kak Rayi. Dan wanita yang ada di hadapanku sekarang adalah yang tadi kulihat. Yah, Kak Rayi berada di depan ruang guru bersama seorang wanita yang memakai pakaian seragam seperti kami. Tapi rasanya aku baru pernah melihatnya.
Seketika aku berbalik badan. Mengurungkan niatku untuk masuk ke ruang guru. Dan Kak Rayi memang tidak melihatku, karena dia terlalu sibuk merapikan rambut wanita tadi yang berantakan. Entah apa penyebabnya.
__ADS_1
"Eh loh, ke mana, Bil?" jerit Kak Roger yang langsung menahan tanganku. Dan membuatku berhenti dan makin kesal dengan sikapnya pagi ini. Aku yakin Kak Rayi mendengarnya. "Eh, Yi, Sabrina, kalian di sini?" tanya Kak Roger sambil melirikku dengan sangat jelas. Aku balas meliriknya sinis.
"Bil? Mau ke mana?" tanya Kak Rayi yang terdengar santai. Aku langsung memejamkan mata dan mendengus sebal. Karena upaya pelarianku gagal. Tapi kenapa aku harus lari, seharusnya aku yang melabraknya karena merasa aku dan Kak Rayi sudah resmi berpacaran, dan dia tidak seharusnya menempel pada kekasihku seperti itu. Ah, aku tidak boleh posesif tentunya.
Kak Roger mendesis dan mengisyaratkan aku untuk menoleh pada orang yang mengajakku bicara tadi. Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu menoleh. "Mau ke kelas, Kak."
"Loh tadi kata Zidan, elu disuruh ambil buku absen kelas, Bil? Kagak jadi?" tanya Kak Roger sambil menaikkan kedua alisnya seolah meledekku. Aku menyipitkan mata dan menatapnya penuh sinyal peperangan. "Awas aja nanti," batinku dengan tatapan tajam kepadanya. Dia justru tersenyum tertahan.
"Eh, elu belum kenalan sama Sabrina, kan, Bil?" tanya Kak Roger lalu menarik tanganku dan mendekat pada mereka berdua.
"Selamat pagi sayang, kamu tadi jadi berangkat sama Papa, kan?" tanya Kak Rayi seperti yang biasa dia lakukan padaku. Dan seharusnya dia melakukan itu 10 menit lalu. "Ih, itu kamu pakai lipgloss, ya? Agak pink-pink merona gitu. Tapi kok kelebihan sedikit, Yang," ujarnya mendekat dan membersihkan sudut bibirku dengan ibu jarinya. Netranya terus menatapku. Tersenyum dengan tatapan teduh, seperti biasanya.
"Iya, sama Papa tadi, Kak."
Kak Rayi mengerutkan kening mendengar jawabanku. "Kok, manggilnya gitu?"
"Nggak enak ah. Di sekolah ini loh," bisikku mendekat ke telinganya. Tapi aku yakin kalau dua orang yang berada di dekat kami juga mendengarnya. Kak Roger berdeham. "Eh, Brin, kebetulan nih, ini Nabila, pacarnya Rayi," tukas Kak Roger.
Kak Rayi menoleh ke dua orang itu, karena memang posisinya membelakangi mereka berdua. "Ah, iya, ini Nabila, Brin. Pacar gue," kata Kak Rayi memperkenalkan kami pada akhirnya. Sabrina terlihat dingin menatapku. Ada gurat ketidak sukaan dari nya melihatku di sini. "Bil, dia Sabrina, teman kami di SMP dulu. Dan sekarang dia mau sekolah di sini," tambah Kak Rayi dan berhasil menjawab semua pertanyaan mengganjal di hatiku sejak tadi.
Kupaksakan menarik kedua sudut bibirku dan mengulurkan tangan sebagai bentuk perkenalan. "Nabila." Tapi dia justru mengalihkan pandangan dan menarik tangan Kak Rayi dengan rengekan yang membuatku muak. Mencari kantin karena belum sarapan? Cih, kasihan sekali. Harusnya kubawakan sisa sarapanku tadi di rumah. Agar wanita di depanku ini berhenti merengek. Sungguh menyebalkan sekali melihat pemandangan di depanku ini.
"Aku balik kelas dulu," kataku lalu berjalan meninggalkan mereka begitu saja. Aku benar-benar sudah muak, dan tidak tahan melihatnya. Daripada aku marah dan bersikap arogan di sana, lebih baik aku menyingkir saja. Sementara itu panggilan dari Kak Rayi dan Kak Roger tidak kupedulikan lagi, dan segera mempercepat langkah bahkan terkesan berlari.
Tiba-tiba di depan toilet guru seseorang baru saja keluar dari sana dan langsung menahan tanganku. Sempat takut jika ada guru yang marah karena melihatku berlarian di sekolah, namun ternyata itu adalah Kak Bintang. Wajahnya terlihat basah, sepertinya dia habis cuci muka. Bola matanya juga mengkilap seperti basah. Dan bibirnya tidak menampilkan senyum seperti biasanya. Ada yang aneh dengan sikap Kak Bintang pagi ini.
"Kamu ngapain, Bil? Jangan lari-lari, nanti kalau jatuh bagaimana?!" cegahnya dengan suara pelan. Aku yakin ada yang tidak beres dengan dirinya pagi ini. Yah, sama seperti pagiku yang kini terasa hambar.
"Mau bel masuk, Kak, takut telat," elakku sambil memalsukan senyum. Kak Bintang meneliti kedua mataku. Dengan alis yang bertautan. Tetapi segera suara yang ku maksud tadi benar-benar berdering kencang. "Tuh, kan?" tukasku dan merasa menang atas perdebatan yang belum masuk ke titik panas seperti biasanya.
Kak Bintang melepaskan pegangan tangannya dan membuatku mendapat kesempatan untuk lari dari hadapannya. Jeritannya seolah bagai angin lalu. Yang penting aku harus segera pergi dari para seniorku sekarang.
__ADS_1
________________