
Jonathan Angelo. Pemuda berkulit putih dengan Freckles di sekitar hidung itu adalah sosok anak yang santun. Ia kerap membantu orang lain. Ramah dan murah senyum. Tapi di balik semua sikap itu, dia memiliki otak yang sakit. Dia seorang sosiopat yang sangat rapi menutupi kejahatannya. Nathan lahir dari keluarga berada. Ayahnya adalah seorang warga negara Belanda menikah dengan ibunya yang asli pribumi. Mereka bertemu saat ibu Nathan bekerja di salah satu kantor penerbitan di Belanda.
Dia anak tunggal. Karena krisis yang dialami keluarganya, Nathan dan ibunda terpaksa kembali ke tanah air. Ayahnya meninggal. Diduga karena bunuh diri. Karena tengah menggantung di pintu kamarnya rumah mereka dengan keadaan pucat dan hampir bengkak. Ibu Nathan yang sedang bekerja di luar kota, mendadak pingsan saat melihat keadaan suaminya. Sementara Nathan yang ada di rumah seolah tidak mengetahui apa-apa. Dia bahkan terkesan tenang saat polisi menanyainya.
Kematian ayahnya menjadi salah satu pemicu dirinya harus kembali ke tanah air bersama ibunda. Mereka tinggal di sebuah rumah susun kumuh di pinggir ibu kota. Keluarga ibu Nathan tidak ada yang mau menerima mereka berdua karena saat mereka ditampung oleh kakek nenek dari ibu Nathan, kakeknya mengalami serangan jantung 3 hari setelah mereka datang. Dan Nathan ada di kamar ssang kakek saat beliau kejang-kejang.
Semua orang menganggap penyebab kakek terkena serangan jantung adalah karena Nathan. Rosa, ibu Nathan, lantas bekerja menjadi penjaga toko di salah satu toserba tak jauh dari rumah susun mereka. Nathan lantas bersekolah. Tetapi beberapa kali ia selalu terlibat masalah dengan teman-temannya atau pihak sekolah. Akhirnya Nathan hanya di rumah saja, setelah terkena DO dari pihak sekolah. Nathan yang saat itu masih kelas 3 sekolah dasar, terkenal sebagai anak yang bengal. Dia juga licik.
"Apa yang kamu lakukan seharian ini, Nathan?!" tanya Rosa sepulang kerja. Ia mendapat informasi kalau Nathan mendorong salah satu anak tetangga hingga gegar otak. Sang ibu marah karena segala tekanan hidup yang selama ini ia hadapi. Ia lelah dan jengah, terutama menghadapi sikap putranya yang kian hari kian aneh. Ia sempat membawa Nathan ke psikiater, dan jawaban dokter di luar dugaan.
"Dia anak yang berbahaya, Bu. Anda harus berhati-hati."
"Maksud dokter?"
"Saya pikir dia anak normal seperti yang lain, gejala yang saya pikir adalah hiperaktif ternyata salah. Saat dia bilang ... kalau dia yang membunuh ayahnya."
Rosa terkejut mendengar kata-kata dokter. Tapi ia yakin kalau dokter itu tidak mungkin berbohong. Karena saat sampai di rumah, Rosa menanyakan pertanyaan yang sama ke Nathan. Dan jawabannya sama seperti kata dokter tadi.
"Papah berisik. Mengeluh terus, jadi aku bikin diam." Kalimat itu keluar dari mulut anak sekecil itu dengan santai. Tidak ada gurat kesedihan atau ketakutan dalam diri Nathan saat Rosa menyuruhnya menceritakan kejadian itu.
Kejadian Nathan mendorong anak tetangga dari lantai 3 hingga gegar otak bukan lah hal pertama. Nathan kerap berulah yang membuat semua penghuni rumah susun takut jika harus berdekatan dengan anak itu. Rosa melempar gelas yang tengah ia genggam. Saat mendengar pengakuan Nathan kalau ia telah membunuh anak anjing yang mereka temukan di taman tempo hari. "Dia ngencingin kaki aku. "
"Di mana mayat Choki?"
Nathan menggandeng ibunya sampai ke balkon kamar mereka. Di sana Choki sudah bersimbah drah dengan kepala yang sudah terlepas dari tubuh. Tubuhnya dikuliti, hingga bulu anjing itu beterbangan dan mengotori seluruh lantai balkon.
Saat itulah Rosa benar-benar berada di titik jenuh dalam hidupnya. Ia memiliki anak yang sakit jiwa. Ia membawa Nathan ke rumah sakit jiwa Santo Yoseph dan bertemu David. Rosa mendaftarkan anaknya untuk mendapat perawatan di rumah sakit itu. David tidak hanya mengelola rumah sakit saja, karena ada sebuah panti asuhan yang juga miliknya, berada tak jauh dari rumah sakit.
"Baiklah. Besok datang lagi, ya. Kita cek lagi kesehatan Nathan," kata David dengan sabar memperlakukan Nathan. Rosa memang hanya bisa melakukan pengobatan rawat jalan untuk Nathan. Ia tidak punya cukup biaya untuk meng-asrama-kan Nathan di rumah sakit itu.
Sampai di rumah. Sikap Rosa tidak lagi sama. Ia banyak diam dan bersikap kasar pada Nathan. Nathan yang menyadari ibunya berubah lantas menyimpan dendam. Ia menyiapkan sebuah teh hangat untuk ibunda yang sudah dicampur racun. Sekalipun Nathan menderita gangguan kepribadian, sebenarnya dia anak yang cerdas. Ia mampu mengerti beberapa hal hanya dari sekali melihat. sebuah buku yang ia baca, mampu ia ingat setiap detilnya. Bahkan halaman dan tiap katanya Nathan pasti ingat.
"Tehnya, Ma." Nathan meletakan cangkir di meja makan, Rosa yang masih sibuk memasak hanya menoleh sekilas, dan terus melanjutkan kegiatannya. Nathan segera duduk di depan Tv dan menonton acara kartun kesukaannya. Nathan selalu ceria. Seolah tidak ada beban. Padahal diam-diam Nathan selalu memperhatikan gerak-gerik ibunya. Rosa meraih cangkir teh yang disediakan Nathan, meneguknya hingga tandas. Smirk di wajah Nathan terlihat mengerikan. Rosa yang menangkap keanehan itu lantas mendekat. "Kamu kenapa senyum begitu? Ada yang lucu?" tanya Rosa. Nathan hanya menggeleng tanpa menjawab apa pun.
Hanya dalam beberapa menit saja, Rosa kejang-kejang. Mulutnya mengeluarkan busa. Nathan hanya tersenyum melihat ibunya yang sedang menghadapi kematian. Nathan mendekat. "Nathan nggak suka dibentak, Ma," katanya pelan dengan tatapan mengerikan.
Karena kematian Rosa, akhirnya David membawa Nathan ke panti asuhan yang ia kelola, sekaligus mengobati Nathan juga. Dari sana lah, ia mengenal Siska, Bisma, dan Riki. Mereka terkenal sebagai 4 sekawan. Tidak ada satu pun orang yang berani melawan mereka, tapi mereka tidak pernah membantah perkataan David dan hanya David yang mereka takuti.
________
Cafe Pancasona kembali seperti semula. Dalam artian dengan personil yang lengkap. Abi, Ad, dan Gio sudah kembali beraktifitas seperti biasa. Sekali pun masih ada pegawai baru, mereka tetap membantu cafe. Karena makin hari cafe Pancasona makin ramai. Keadaan desa Amethys kembali normal. Semua obyek wisata kembali dibuka, home stay juga sudah di penuhi beberapa pengunjung yang sengaja berlibur.
Abimanyu kembali menyeduh kopi dengan cekatan. Kini semakin bertambah personil, makin mereka mudah melayani pengunjung dengan tepat dan cepat. Nabila muncul seorang diri. Ada beberapa tas yang ada di tangannya. Gadis itu terus melihat ke Abimanyu yang ditanggapi dingin oleh pria itu.
"Kopi satu," pinta Nabila, ia segera duduk di kursi yang ada di depan meja barista.
Tanpa menjawab apa pun, Abi segera meracik kopi permintaan Nabila. Bahkan Abimanyu tidak perlu bertanya kopi seperti apa atau kopi yang bagaimana yang diinginkan Nabila. Karena Nabila tipe wanita yang selalu menikmati 1 rasa kopi saja.
"Mau ke mana?" tanya Abi tanpa menatap gadis di depannya. Nabila tak langsung menjawab, dia menoleh ke sekitarnya lalu kembali pada pemuda di depannya itu. "Nanya ke gue?"
"Enggak ke cangkir!"
"Dih, jutek amat, Pak. Astaga. Pantes jomblo," ejek Nabila santai. Mendengar kalimat barusan ia langsung teringat 1 nama. Allea.
'Bagaimana kabar Allea?' gumam Abi dalam hati.
"Elu pikir, elu kagak jomblo?"
"Eits, jangan sembarangan itu mulut kalau ngomong!"
Kopi tersaji di depan Nabila. "Gue mau balik. Tugas gue kelar." Abimanyu memandang Nabila agak lama. "Kan belum ketangkep si Hara?"
"Perintah, Bi. Bentar lagi gue dijemput juga ini. Ya sudah. Mau bagaimana lagi coba?"
__ADS_1
Adi dan Gio mendekat, Nabila bersalaman dengan dua pria itu. Mereka saling berbincang tentang kepulangan Nabila yang di luar dugaan. Bagaimana pun juga, Nabila cukup kompeten dalam menjadi seorang agen. Tawa terdengar sampai ke luar cafe. Abimanyu yang awalnya selalu memasang tampang dingin, perlahan melunak. Ia kini tak segan-segan tersenyum saat mereka bertiga melontarkan celotehan menggelikan.
"Eh tapi ... Setelah Hania, bukannya ada lagi, ya? Targetnya?" tanya Gio yang tiba-tiba teringat sesuatu.. Semua orang menatapnya. Dan mulai berpikir hal yang sama. "Bener juga. Pas di kolam renang itu, kan ada 1 foto anak lagi, setelah Hania. Tapi kita nggak tau siapa kan."
"Lagi pula, mereka nggak menyebut nama lain selain 10 anak itu. Jadi? anak ke 11 siapa?"
Semua kembali terdiam. Nabila yang awalnya bersemangat pulang, lantas mulai ragu-ragu. Di saat yang bersamaan Maya muncul dari balik pintu. Ia menyapa semua orang dan berakhir dengan menanyakan keberadaan kakaknya.
"Duduk dulu, May. Sebentar lagi kan cafe tutup. Ridwan mungkin di belakang. Beres-beres."
"Oh. Ya sudah, Bang Abi. Maya tunggu deh."
Sebuah mobil sedan hitam datang. Semua netra menatap sang pemilik mobil itu, begitu juga Nabila. Karena saat melihat mobil itu datang Nabila menggumam. "Gila. Ngapain dia ke sini? Kesambet setan mana tu anak?" Ia mengatakan itu pada dirinya sendiri. Keluar seorang pemuda dengan jaket denim berkaca mata minus bertenger di hidungnya. Ia lantas masuk saat melihat Nabila di dalam.
"Ngapain?" tanya Nabila spontan.
"Kan elu mau balik? Gue jemput, Bil." Pemuda itu menatap Nabila heran, dan kini beralih ke semua orang di dalam. Beruntung keadaan cafe sudah sunyi. Semua pengunjung sudah pulang karena sudah terpampang tulisan "close" di pintu cafe. Nabila sempat melongo mendengar jawaban itu. Ia mendekat dan menempelkan punggung tangannya di kening pemuda itu. "Kamu pikir aku gila?"
"Eh kamu? Tunggu tunggu. Nggak salah, Zal?"
Pria itu lantas mengapit kepala Nabila dengan tangan kanannya dan mendekat gadis itu ke dalam pelukannya. "Dasar perempuan keras kepala. Udah dibilangin jangan ke sini. Bikin khawatir saja."
Dan semua orang di sana hanya melongo melihat hal itu. Para jomblo yang haus kasih sayang hanya menelan ludah beberapa kali lalu mengalihkan pandangan dan lebih memilih menatap barisan biji kopi yang tertata rapi di toples. Merasa sikap semua orang berubah, Nabila lantas memperkenalkan pria yang ada di sampingnya. "Kenalin. Ini Rizal, pacar gue."
Gio batuk-batuk mendengar kalimat barusan. Abimanyu melotot karena ejekannya barusan terjawab sudah. "What? Pacar? Sorry gue ralat. Gue Rizal, tunangan Nabila." Otomatis mereka melirik ke jari manis pemuda itu. Ternyata benar ada cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin yang sama, yang dipakai Nabila tapi di kalung yang ia kenakan.
"Wah, Bil. Elu jahat nggak bilang-bilang punya tunangan." Adi menyambut Rizal dan berjabat tangan erat. Saling memperkenalkan diri. Rizal hanya tersenyum mendengar hal itu. Kini sebuah kopi hitam pekat tersaji di hadapan Rizal. Aroma kopi yang segar membuat beberapa orang tenang. Ridwan yang baru saja selesai dengan pekerjaannya di belakang lantas menemui sang adik yang sudah tertidur dengan kepala tergeletak di atas meja. "Yah, molor ini anak?"
"Nungguin elu, Wan. Bagaimana caranya kalian pulang?" tanya Gio.
"Bareng gue saja. Nanti Paman Gio sama Paman Adi bawa mobil satunya. Lagian ada yang mau aku pesan ke ibu mu, Wan," kata Abimanyu.
"Oh oke, Bang."
"See you." Kalimat itu terucap dari bibir Nabila dengan terasa berat. Menoleh kembali untuk terakhir kalinya. Tapi, ia melihat sesuatu yang aneh di sekitar Maya. Ada bayangan hitam yang melingkari tubuh Maya. 'Ada apa ini?' batinnya.
"Take care, Bil."
Nabila tersenyum, dengan segala pikiran buruk saat melihat keadaan Maya yang seperti diambang kematian. Beberapa kali Nabila dapat melihat jika seseorang itu akan meninggal. Asap gelap akan melingkari tubuh orang itu, jika ia akan meninggal dalam waktu dekat. Tapi, Rizal keburu menarik Nabila dan masuk ke mobilnya.
Dua orang itu segera masuk ke mobil, dan pergi meninggalkan desa itu. Ada perasaan getir dalam hati Nabila saat keluar dari cafe Pancasona. Bagaimana pun juga, dia merasa nyaman tinggal di tempat itu. Tetapi satu hal yang masih mengganjal di pikiran Nabila. "Apa yang akan terjadi pada Maya?"
Rizal memberondong dengan banyak pertanyaan semasa Nabila ada di desa itu. Perkembangan kasus dan semua yang Nabila temui dan alami. "Jadi kalian ke rumah sakit jiwa itu?"
"Iya. Kenapa?" tanya Nabila yang melihat gelagat aneh dalam diri Rizal.
"Eum, Bil. Ada satu hal yang belum kamu tau."
"Soal?" tanya Nabila yang kini duduk menghadap Rizal yang masih fokus menyetir.
"Kamu ingat, pembunuhan 20 tahun lalu? yang pernah menggemparkan seluruh negeri?"
"Oh iya. pembunuhan yang menjadi pemicu kasus kasus ini sekarang, kan?"
"Iya. Ternyata pelaku pembunuhan 20 tahun lalu belum mati."
"Apa?!" pekik Nabila.
"Aku baru dapat informasi sebulan lalu. Makam tersangka kosong. Tulang belulangnya tidak ada beserta peti matinya."
"Hah? Dicuri?"
"Bukan. Dia belum mati. Dia mengalami mati suri."
__ADS_1
"Kamu tau dari mana?"
"Penjaga makam. 20 tahun lalu dia melihat seseorang keluar dari makam itu. Dia takut. Jadi nggak berani ngejar. Untuk menutupi keresahan penduduk, penjaga makam itu menutupi hal ini. DAn baru terbongkar kemarin, dia mengaku, kalau orang itu sudah kabur sejak lama."
"Gila! Terus di mana dia sekarang?"
"Aku merasa kalau dia juga turut andil dalam kasus-kasus 7 tahun lalu dan yang baru-baru ini. Aku coba periksa latar belakang keluarga Siska, Riki, Bisma, dan Nathan. Tapi nggak ada yang aneh. Mereka nggak ada hubungannya sama pelaku itu."
"Zal, nama pelaku 20 tahun lalu siapa?"
"Patrik David."
Seketika mata Nabila membulat sempurna. Ia seolah tersedot dalam ingatannya kemarin, saat bertemu David, pemilik rumah sakit jiwa itu. "Pak David, Zal. Pemilik rumah sakit itu. Apakah namanya sama?"
Nabila teringat kalimat terakhir David sebelum ia pergi dari kediamannya kemarin. Sejak pergi dari tempat itu, Nabila merasa ada yang aneh dalam diri David. Tapi dia belum menyadari keanehan apa yang ia rasakan saat itu. Dan kini ia mulai paham terlebih dengan kalimat David kemarin.
"Pantesan, kemarin dia bilang gini. ' Segera tangkap Nathan, sebelum Hania menjadi korban selanjutnya.'"
"Apa yang aneh?"
"Zal, dari mana dia tau kalau Hania yang akan jadi korban selanjutnya? Kami nggak membahas kematian 9 orang itu. Bahkan menyebut nama mereka juga enggak. Jadi dari mana David tau soal Hania?"
"Bener juga. Gila!"
"Kita balik. Kita harus ke rumah Abimanyu sekarang."
"Oke."
________
Abimanyu menyetir dengan Ridwan di sampingnya. Maya masih terlelap di jok belakang mobil. Ia terlihat kelelahan. "Maaf, Bang. Malah kami merepotkan. Kalau Maya nggak tidur mending kami jalan kaki saja tadi, Bang."
"Sudahlah, Wan. Lagi pula aku mau ketemu ibu kamu. Banyak bahan makanan yang sepertinya harus kita tambah. Ibu kamu pasti punya kenalan penyetok yang barangnya bagus dan segar."
"Oh begitu."
Mereka sampai di rumah Ridwan. Seorang ibu yang sudah mereka kenal menyambut kedatangan mereka. Senyum terukir di bibirnya saat melihat orang yang ia kenal kini berjalan masuk ke dalam rumahnya. "Ibu belum tidur?" tanya Ridwan lalu mengecup punggung tangan sang ibunda. Maya yang tadi dibangunkan masih berjalan gontai dan melakukan hal yang sama dengan Kakaknya. Tas Maya terjatuh hingga beberapa isi di dalamnya terjatuh. "Pelan, dek. Ganti bajumu dulu, baru tidur," suruh Ridwan. Maya tidak menjawab hanya terus memungut barang-barang miliknya.
Abimanyu melotot saat melihat sebuah benda dari dalam tas Maya. "May, itu... gantungan kunci itu udah ketemu?"
Maya menoleh lalu tersenyum. "Belum, Bang. Ini Maya dapet lagi. Di kasih teman."
"Teman? temen siapa?"
"Eum, nggak tau. Tiba-tiba saja sudah ada dilaci meja aku. " Maya kemudian pamit ke kamarnya, dan membuat Abi masih dikelilingi ribuan pertanyaan dan dugaan.
"Bang Abi kenapa?" tanya Ridwan.
Abimanyu masih terdiam, sementara itu ibu Ridwan ada di dapur tengah membuat teh hangat untuk tamunya. Abi bingung apa ia harus menceritakan dugaan yang kini memenuhi kepalanya atau ia simpan saja sendiri.
"Wan, gini. Gue nggak tau apa ini bener atau salah. Tapi lebih baik kamu mulai berjaga-jaga, terutama Maya."
"Maya?"
"Saat di kolam renang waktu itu, kami menemukan beberapa foto korban dan target pembunuhan kemarin. Ternyata ada 11 korban yang menjadi target pembunuhan. Tapi mereka nggak tau siapa target ke 11. Apalagi foto ke 11 itu, nggak nampak wajah. "
"Jadi maksud, Bang Abi? Maya ...."
"Iya. Hm, maaf. dugaan itu karena aku liat gantungan kunci yang Maya punya. Apalagi ternyata Maya nggak tau siapa yang kasih, kan?"
Ridwan diam sesaat. Berpikir tentang apa yang diucapkan Abimanyu sedikit masuk akal.
"Lalu kita harus bagaimana?"
__ADS_1
"Jangan karena Hara ada di luar negeri, kita bisa bersantai. Gerakan mereka selama ini sangat cepat dan berhati-hati. Jaga Maya, Waan. Jangan sampai dia kenapa napa."