pancasona

pancasona
31. Ayah Rea


__ADS_3

"ITAAAA!" teriak mereka bersamaan.


Ita belum bisa diselamatkan, kini giliran Diah, Leni, Apri dan Rea. Semua orang terjatuh ke tanah, seperti ditarik oleh sesuatu. Mereka semua terpencar dengan jeritan meminta tolong. Para pria hanya bisa bengong, karena tidak tahu harus berbuat apa. Hingga akhirnya ada sebuah ledakan di sekitar mereka. Semua orang menatap sekitar. Asap yang mengepul membuat mereka batuk batuk. Di balik asap itu ada sebuah bayangan, lebih tepatnya beberapa bayangan gelap yang kini mendekati mereka. Mereka yang tersungkur di tanah mulai ketakutan. Hanya saja kaki mereka yang sedang dicengkeram erat oleh sesuatu membuat mereka tidak bisa bergerak.


Mereka berusaha melepaskan diri karena bayangan hitam yang sedang mereka lihat, kini mulai mendekat. Bahkan Apri mulai menjerit histeris. Disusul oleh jeritan dan tangisan yang lainnya. Semua orang sudah ketakutan, putus asa, dan pasrah. Bayangan teror lain sudah terbayang di depan mata. Tapi tiba-tiba jeratan yang ada di kaki mereka terlepas begitu saja. mereka semua bingung dan saling tatap.


Para pria mulai membantu teman-teman wanitanya untuk berdiri. Mereka semua berkumpul dan mulai waspada pada apa yang akan terjadi selanjutnya. Mereka tentu panik, takut, dan mulai putus asa dengan semua yang akan terjadi nanti. Tapi nyatanya bayang itu justru tampak melukai bayangan hitam yang mirip akar pohon, yang tadi menjerat mereka semua hingga panik dan ketakutan.


Bayangan hitam yang baru saja datang, makin lama menjadi terang. Mereka pun terperangah. Tentu saja bingung dengan apa yang terjadi. Sekitar mereka mulai bisik. Suara jeritan serta tangisan mulai terdengar bersahutan. Ada hal yang terasa janggal. Bukan terjadi pembantaian massal kepada mereka bersepuluh, justru terjadi perkelahian sekitar mereka. Yah, bayangan bayangan di sekitar justru seperti sedang bertarung satu sama lain.


Sekalipun wujudnya tidak terlihat jelas, tetapi mereka semua dapat merasakan jika bayangan-bayangan ataupun sosok di sekitar mereka itu sedang terlibat pertengkaran hebat. Pohon di sekitar bergerak-gerak seperti tertiup angin kencang. Daun berguguran, bahkan semakin lama angin yang berhembus di sekitar mereka semakin kencang. Mereka semua hanya bisa memejamkan mata sampai menutup telinga, berharap angin topan itu segera menghilang dari mereka semua.


Mendadak suasana sekitar menjadi hening. Satu persatu dari mereka memberanikan diri untuk membuka mata, mereka semua penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi di saat yang bersamaan, terutama saat mereka mulai membuka mata, mereka terkejut dengan apa yang ada disekitar mereka. Suasana saat ini bukan lagi sebuah hutan dengan suasana yang kosong, sunyi dan senyap. Tapi sebaliknya.


"Kalian baik-baik saja?" tanya salah satu orang dengan pakaian khas seorang Pramuka.


Mereka saling pandang dan kebingungan. Sekalipun mereka melihat banyaknya manusia di sekitar, tapi mereka masih tidak percaya jika semua yang mereka lihat adalah benar-benar manusia.


Terlalu seringnya mereka berinteraksi dengan makhluk halus yang berada di hutan, membuat mereka tidak bisa mempercayai sepenuhnya keberadaan manusia-manusia nyata yang kini sedang mengerubungi mereka semua.


"Hai, kalian baik baik aja, kan?"


"Kalian ke mana saja? Kami sudah mencari kalian selama ini!" tambah yang lain.


"Kami pikir kalian sudah hilang, dan tidak bisa ditemukan lagi. Syukurlah kalau kalian baik baik saja!" tegas seseorang yang terlihat mengamati seluruh tubuh mereka bersepuluh.


Namun mereka tetap bungkam, tapi saat salah satu dari mereka memanggil nama Rea, gadis yang dipanggil pun tampak menoleh mencari sumber suara.


Rea menemukan seseorang yang ia kenal di balik kerumunan itu. Rupanya orang pria paruh baya tersenyum saat melihatnya Rea pun menyambutnya dengan mata berbinar.


"Ayah," panggil Rea kepada pria tersebut. Tidak hanya itu Rea juga berlari untuk memeluknya. Hal ini membuat teman-temannya terkejut. Mereka semua saling pandang, seolah-olah mempunyai satu pemikiran yang sama.


"Kamu baik-baik saja, Sayang?" tanya pria itu kepada Rea.


Rea menahan tangis justru membuat isak tangisnya terlihat jelas. Setelah melepaskan pelukan keduanya pun saling tatap. Ada perasaan yang digambarkan oleh Rea kepada ayahnya.


" Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya ayah Rea.


"kami tersesat, Ayah. Padahal kami sudah berusaha untuk keluar dari tempat ini, Tapi semua itu sia-sia. Kami sudah lewat jalur yang sama Kami pergi lebih jauh, kami seolah-olah lagi kembali ke tempat itu," jelas Rea.

__ADS_1


Ayah Rea lantas kembali memeluk putrinya. Dia mengelus punggung Rea lembut, berusaha menenangkan gadis itu. Hal ini membuat teman-temannya mulai terbuka benar serta yakin kalau orang-orang disekitar mereka sekarang memang lah manusia asli, bukan makhluk jadi-jadian atau semacamnya.


Salah seorang senior yang dikenal sebagai ketua dari acara ini mendekati Dana.


" Kenapa kalian bisa tersesat bukannya kalian sudah memegang peta untuk perjalanan kita kali ini?" tanya senior tersebut.


" Yah itu benar. Saya bahkan sudah mengikuti jalur yang sebenarnya. Kompas juga masih berfungsi, kami melewati jalur Utara sesuai dengan peta yang ada di tangan saya. Tapi kami justru tersesat berulang kali. Setiap kami melewati jalur Utara kami seolah-olah kembali diputar pasal kami tersesat tadi." Dana menjelaskan dengan tenang.


Semua orang tentu kebingungan mereka saling tatap tanpa bersuara sama sekali.


"Coba aku lihat peta mu," pinta senior itu kepada Dana.


Dana akhirnya mengambil Peta tersebut dari dalam tasnya. Untung saja Dana tidak jadi membuang benda tersebut karena dia pun masih penasaran. Bagaimana bisa mereka sulit keluar dari hutan itu padahal jalur yang mereka lewati adalah jalur pendakian. Jalur yang memang biasa dilewati oleh orang-orang yang berada di hutan tersebut. Bahkan penduduk sekitar juga kerap berkeliaran di hutan tersebut, dan tidak ada kasus orang tersesat sejauh ini.


Peta pun dibuka. Mereka semua memperhatikan benda itu sambil mengerutkan kening.


"Kami dari sini, lalu ke arah sini. Bukannya kami ada di jalur yang benar?" tanya Dana sambil menjelaskan pada para senior.


Beberapa senior tampak diam, sambil terlihat berpikir keras. Mereka terus menatap ke Peta tersebut juga sesekali memperhatikan sekitar.


"Aneh, kan, Kak?" tambah Dana sambil bertanya lagi pada mereka yang berdiri di depannya.


"Kak ... Jawab!" tegur Blendoz yang sudah tidak sabar mendengar penjelasan orang orang tersebut.


"Ini memang aneh," sahut salah satu dari gerombolan pemuda dengan jas almamater yang sama.


"Tuh, kan! Jadi kenapa kami bisa disesatkan begini? Apakah hal ini memang pernah terjadi sebelumnya?" tanya Hani ikut menimpali.


"Eum, kami tidak tahu tentang hal itu, hanya saja yang aneh dalam hal ini ... Justru peta nya," jawab senior tersebut.


"Peta nya?" tanya mereka serentak. "Memangnya petanya kenapa?" tanya Dana penasaran.


"Ini bukan Peta yang seharusnya kalian bawa. Lagipula peta ini tampak kusam, seperti benda yang sudah lama. Memangnya kamu mendapatkan peta ini dari siapa?" tanya senior menatap Dana serius.


Dana yang ditanya begitu lantas diam beberapa saat. "Perasaan yang memberikan peta itu ... Salah satu dari kalian! Dia memakai jas almamater yang sama," jelas Dana.


"Salah satu dari kami? Siapa? Kau ingat orangnya? Atau namanya?" cecar para senior.


"Eum ... Namanya ... Sebentar saya ingat ingat dulu," gumam Dana yang terlihat berpikir keras untuk bisa mengingat orang tersebut.

__ADS_1


"Tunggu, memangnya ada apa, ya, Kak? Apa ada yang salah?" tanya Hana yang mulai curiga.


Para senior saling tatap, lalu menarik nafas panjang. "Jadi begini ... Peta ini, bukanlah peta yang seharusnya kalian miliki," ucap salah satu senior dengan rambut cepak. Dia mengangkat kertas usang tersebut ke samping tubuh untuk menegaskannya.


"Maksudnya bukan peta yang seharusnya kami miliki? Loh kenapa bisa begitu? Memangnya apa yang salah?" Hani tampak tidak terima dengan kesalahan yang terjadi.


"Sebentar." Dia menoleh ke belakang dan meminta sesuatu pada kawannya yang lain. Lalu sebuah kertas dengan warna putih bersih diberikan. "Nah, ini. Ini peta asli yang seharusnya dibawa oleh semua peserta. Coba kalian bandingkan dengan peta yang kalian bawa. Apakah sama?"


Dana, Hana, Hani, dan Blendoz pun menatap dua benda itu bergantian. Mereka semua terdiam cukup lama untuk memeriksa dua peta yang saat ini berada di tangan Dana. Keributan ini membuat rombongan Dana yang lain ikut penasaran. Mereka pun mendekat dan menyimak lebih jelas apa yang sedang diperdebatkan saat ini.


"kenapa ini?"


"Dan, kok beda sih?"


"iya bener. dari warna kertasnya juga beda sama yang kita punya, kan?"


"kok bisa sih? loh kemarin gimana ceritanya? siapa yang kasih ini ke kamu?"


Begitulah pertanyaan dari teman-teman Dana yang terus bersahutan tiada berhenti. Sementara Dana hanya bisa dengan pikiran yang sangat kacau. Dia pun tidak tahu penjelasan yang bisa dipakai untuk situasi dan kondisi yang sedang mereka hadapi. Kertas bicaranya memang berbeda kertas yang ia yakini adalah PETA seharusnya mereka bahwa sejak awal berbeda dengan peta yang Dana miliki sejak acara ini dimulai. Hanya saja pernyataan dari para senior tentu tidaklah salah dan harus mengakui kalau peta yang ia miliki bukanlah peta yang seharusnya alias peta palsu.


" ya ini memang berbeda dengan peta yang kami miliki. Jadi peta ini bukanlah peta yang seharusnya Kami punya?" tanya Dana menegaskan sekali lagi. Dia masih merasa jika semua yang terjadi bisa dia mengerti sepenuhnya.


" yah seperti yang Kami jelaskan tadi ini bukanlah peta yang seharusnya kalian bawah Kalau kalian tidak percaya, silakan kalian periksa tim lain."


Dana bukanya tidak percaya dengan pernyataan para senior, hanya saja dia tidak mengerti. Bagaimana bisa mereka memiliki peta yang bukan peta yang sebenarnya. Kini satu-satunya hal yang ingin dilakukan adalah mencari orang yang telah memberikan benda tersebut kepada dirinya.


Dana menatap sekitar mencari pelaku yang telah membuat timnya tersesat selama hampir 2 hari lamanya. Dana masih ingat bagaimana wajah orang itu. wajahnya cukup mudah untuk diingat olehnya. Sampai detik ini Dana belum bisa menemukan orang tersebut berada di sekitar mereka. Dana semakin cemas, dia khawatir dirinya akan dituduh sebagai orang yang telah membuat timnya tersesat. Karena dia belum bisa menemukan pelaku yang telah memberikan peta tersebut kepada dirinya.


Rea yang melihat hal ini lantas mengajak ayahnya untuk ikut mendekat. Perdebatan mulai terjadi. Sebagian dari mereka seperti memojokkan Dana untuk bisa memberikan penjelasan yang lebih akurat. Sementara Dana justru lebih banyak diam.


"Tunggu, Maaf kalau saya menyela pembicaraan kalian," kata ayah Rea pada mereka semua. " Kebetulan saya mendengar semua obrolan kalian dari kejauhan tadi jadi ada yang membuat saya ikut penasaran dan ingin mengetahui apa yang terjadi Rea Bagaimana menjaga anak saya juga salah satu anggota tim yang tersesat tadi."


"Oh, nggak apa apa, Om. Maaf, kalau kami belum bisa memberikan penjelasan apa pun. karena sampai detik ini pun, akar permasalahan ini belum diketemukan," jelas salah satu senior.


Tersenyum terlihat tenang dan sangat berwibawa di tangan kanannya ia memegang tasbih yang tidak pernah putus ia panjatkan.


"Sebenarnya kita hanya cukup mencari tahu orang yang memberikan peta tersebut, kan?" tanya ayah Rea sambil menunjuk peta yang berada di tangan Dana.


"Iya, Om. Tapi Dana bilang nggak ada di sini," tambah Hani.

__ADS_1


" Dia memang tidak ada di sini, tapi dia sedang mengamati kita sejak tadi."


__ADS_2