pancasona

pancasona
42. Kembali ke hutan


__ADS_3

Namun tiba tiba, Fauzan justru menoleh ke arah mereka semua. Sontak mereka terkejut, dan makin menutupi tubuh masing masing, dengan bersembunyi  di balik pohon atau semak semak.


Dana masih mengintip Fauzan, dan dia menyaksikan, kalau Fauzan kini sedang berlari ke arah mereka dengan sebuah pisah di tangannya.


"Gila! Lari!" jerit Dana.


Dana dan teman-temannya berlari kocar-kacir. Para wanita menjerit ketakutan. Semua orang kini melihat Fauzan tampak lain. Fauzan yang mereka kenal kini seperti bukan Fauzan yang biasanya. Matanya tajam dan mengerikan. Tidak ada sorot mata yang menunjukkan keramahan seperti yang mereka kenal sebelumnya.


Fauzan mengejar mereka semua lalu dia pun menyerang Hana yang posisinya berada paling dekat dengannya. Fauzan melompat ke punggung Hana, berusaha menancapkan pisau ke leher Hana, tapi Hani, saudara kembarnya segera menendang Fauzan dan membuat kedua orang itu jatuh ke tanah. Akhirnya terjadilah pertarungan di antara tiga orang itu. 


Para gadis berkumpul menjadi satu. Mereka bersembunyi di balik pohon besar, namun tetap penasaran pada apa yang terjadi. Mereka mengintip dari balik pohon sambil menatap cemas ke perkelahian yang terjadi di antara Fauzan, Hana, dan Hani. 


"Len, cepat taruh anggrek hitamnya di tempat kemarin!" tukas Rea dan menyadarkan Leni yang sedang bengong menyaksikan perkelahian yang teman-temannya. 


Leni bergegas menuju sumur tua sambil membawa bungkusan yang berisi bunga anggrek hitam. Sementara Rea dan yang lainnya hanya menunggu dari kejauhan. Fauzan kini berhasil dipegangi oleh Dana, Blendoz, dan juga Hani. Sementara Hana yang kelelahan akibat berkelahi sebelumnya dengan Fauzan, hanya duduk di tanah sambil memegangi lehernya. Ternyata pisau yang dibawa oleh Fauzan berhasil melukai leher Hana sedikit. Goresan itu mengakibatkan darah segar menetes. 


Dengan cepat, Rea mendekat, lalu menutup luka itu dengan sapu tangan yang ia bawa. "Untung cuma tergores aja, Han," ungkap Rea sambil mengelap darah tersebut dengan sapu tangannya. 


"Tapi pedih tahu, Re. Tetap sakit!" ucapnya sedikit meringis menahan pedih.


"Idih, masa jagoan cengeng! Ini luka kecil tahu!"kata Rea meledek. 


"Emangnya jagoan nggak boleh nangis?" tanya Hana, diikuti senyum tipis di bibir keduanya. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan Rea dan Hana dari kejauhan dengan tatapan datar. 


Tiba-tiba seseorang menjerit. Sontak semua orang menoleh dan melihat Leni sedang ditarik oleh akar pohon yang menjuntai sangat panjang. "Ya ampun!" jerit mereka.


"Leni!"


"Han, lo kejar Leni!" perintah Hana. 


"Gue apa Hana?" tanya Hani.


"Lo berdua, dodol!" 


Blendoz dan Dana masih sibuk memegangi Fauzan, karena jika sampai dia terlepas maka akan membahayakan yang lain. Hanya saja mereka tidak memiliki tali untuk bisa mengikat Fauzan seperti tempo hari. Akhirnya Hani mengejar Leni yang sedang ditarik oleh akar pohon tadi. Hana menyusul walau sambil memegangi lehernya yang terluka. Rea yang bingung sekaligus cemas pada kondisi Leni, akhirnya ikut berlari menyusul mereka bertiga. 


"Dan, pakai ini bisa?" tanya Diah yang ternyata menemukan akar pohon lain yang bentuknya sudah dililit hingga membentuk seperti tali yang cukup panjang dan kuat. 


"Bisa! Sini," pinta Dana yang khawatir pada Rea, karena kini fokusnya terbagi dan dia terus memperhatikan arah di mana teman-temannya pergi. Blendoz dan Dana berhasil mengikat Fauzan dan membawanya ke batang pohon besar,  agar dia tidak bisa kabur lagi. 


"Udah, sana. Lo kejar mereka," kata Blendoz pada Dana.


"Lo nggak apa-apa jaga Fauzan sendirian?" tanya Dana menatap cemas pada pemuda di hadapannya itu. 


"Nggak apa-apa. Lagian dia udah kita ikat kencang kok. Nggak akan kabur. Kan udah diikat simpul mati."


Fauzan menggeram dan menatap teman-temannya dengan tatapan tajam. Dia sangat marah dan berusaha melepaskan diri dari ikatan itu. Tapi sayangnya, ikatan yang dibuat sangat kencang, sehingga sekeras apa pun Fauzan berusaha melepaskan diri, itu hanyalah usaha yang percuma. Karena semakin dia bergerak, semakin kencang ikatan itu. 

__ADS_1


"Iya, Dan. Kamu susulin mereka. Takut terjadi hal buruk. Kita di sini sama Blendoz. Kalau Ozan lepas, aku timpuk pakai ini," tunjuk Diah pada batang pohon yang sangat pas digenggam, mirip tongkat bisbol. 


"Iya, kalau bisa secepatnya kamu temukan mereka. Ini sudah sore. Sebentar lagi malam. Bakal lebih bahaya kalau kita ada di sini terus," cetus Ita. 


"Ita benar. Buruan, Dan." Apri terus mendesak Dana agar segera menyusul teman-teman mereka yang lain. 


Tanpa pikir panjang lagi, Dana segera berlari menyusul teman-temannya yang lain. Jeritan suara Leni masih terdengar di sekitar mereka. Sekalipun suaranya perlahan mulai pelan. Setidaknya Dana bisa mengikuti arah suara tersebut untuk bisa menemukan teman-temannya.


Leni yang terus ditarik oleh akar pohon, terus menangis dan menjerit meminta bantuan. Dibelakangnya, Hana, Hani dan juga Rea berusaha mengejarnya walau dengan kesulitan.


Bahkan Rea sudah kehabisan tenaga, terpaksa berhenti berlari untuk beristirahat sejenak. Nafasnya tersengal-sengal. Kayaknya sudah terkuras akibat mengejar Leni sejak tadi. Dana yang berhasil menyusulnya, Lantas menyuruh Rea untuk kembali pada teman-teman yang lain.


"Enggak, Dan. Aku mau ikut kejar Leni!" kata Rea bersikeras.


"Tapi kamu udah kecapean, Re."


" Enggak kok. Aku baik baik aja. Cuma istirahat sebentar. Ayo, kita kejar Leni lagi."


Rea kembali berlari meninggalkan Dana yang sedang menatapnya sambil geleng-geleng kepala.


"Dasar keras kepala!" kata Dana yang tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Rea.


Rea dan Dana mengejar Leni. Hingga akhirnya mereka melihat Hana dan Hani yang sedang tengkurap di atas tanah sambil memanggil nama Leni.


"Astaga! Leni!" jerit Rea yang melihat Leni sedang di pinggir lubang besar.


Leni pegangan pada akar pohon yang ada di sekeliling lubang tersebut. Tubuhnya berayun. Dia terus melihat ke bawah, di mana lubang itu lihat cukup dalam. Hana dan Hani mengulurkan tangan untuk bisa meraih Leni.


Melihat mereka berdua kesulitan, Rea ikut melakukan hal yang serupa. Hanya Dana saja yang berdiri sambil berkacak pinggang menatap sekitar. Tak lama dalam menatap ke Sisi kiri posisinya berdiri sekarang. Dia lantas mengambil sebuah akar pohon yang menggantung dari salah satu pohon, lalu menariknya agar bisa diraih oleh Leni.


"Pegang itu, Len!" jerit Dana.


Leni yang melihat ada akar pohon dari Dana di sampingnya, berusaha untuk meraihnya. Walau kesulitan, Leni akhirnya berhasil.


Setelah Leni berhasil meraih akar pohon tersebut, Dana, Hana dan Hani, membantu Leni dengan menarik akar pohon tersebut ke atas. Alhasil Leni berhasil diselamatkan. Mereka berempat duduk begitu saja di atas tanah. Kejadian yang baru saja mereka alami, cukup mengejutkan dan tentu saja menguras tenaga dan energi mereka. Tapi mereka lega, karena Leni berhasil diselamatkan. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Akhirnya mereka pun memutuskan Kembali ke tempat semula, di mana teman-teman yang lain menunggu mereka.


Semua sudah berkumpul. Fauzan yang juga sudah kelelahan, tidak lagi Brontak bisa melepaskan diri dari jeratan ikatan tersebut. Mereka kan kembali melanjutkan perjalanan.


"Yakin nih, mau balik sekarang? Ini udah mau malam loh!" kata Hana pada mereka semua.


"Gila kalau nggak balik sekarang, serem tahu! Mending kalau mau bangun tenda, di sana aja. Yang agak jauhan sama tuh sumur!" cetus Diah.


"Iya, bener! Itu sumur udah jelas sumber malapetaka!" ungkap Ita sambil menoleh ke sumur tersebut.


"Ya udah. Buruan jalannya. Biar kita bisa cepat pergi dari sini," tambah Hani.


Fauzan yang masih dalam keadaan terikat, di depan didampingi Dana dan Hani yang ada di samping kanan dan kirinya. Sementara Blendoz berjalan di belakang mereka, bersiap jika Fauzan melakukan gerakan mendadak.

__ADS_1


Para gadis tentu berjalan dibelakang mengekor kepada teman-teman pria. Langkah mereka sengaja dibuat lebih cepat. Yang ada dipikiran mereka saat ini hanyalah untuk segera bisa menjauh dari sumur konon misteri selama ini.


Sebelumnya mereka sudah memberikan tanda di beberapa pohon yang tadi dilewati. Belajar dari pengalaman yang sudah pernah terjadi, mereka tidak ingin kembali tersesat dalam situasi mencekam seperti sekarang.


Satu jam sudah berlalu, dalam perjalanan kembali semua saling membisu. Tidak banyak obrolan seperti sebelumnya. Apalagi dengan kondisi fisik mereka yang sudah terlalu lelah. Bahkan langkah para gadis rombongan di depannya. Hingga tanpa sadar rombongan mereka terpisah.


" Kalian mau istirahat dulu atau terus jalan?" tanya Dana sambil menoleh ke belakang. Namun Betapa terkejutnya begitu melihat hanya ada Hana dan Blendoz di belakangnya. "Lho! Yang lain ke mana?" tanya Dana yang seketika berhenti berjalan sambil menujuk ke belakang Hana dan Blendoz.


Sontak mereka Langsung menoleh ke belakang dan sama-sama terkejut saat melihat teman wanita mereka tidak ada di belakang.


"Rea!"


"Itaaaaa!"


"Diaaah!"


"Apriiii!"


"Leni!"


"Kalian di mana?"


Mereka berteriak memanggil nama teman-teman yang lain. Tentu saja mereka panik tiba-tiba saja teman-teman mereka menghilang secara serempak. Padahal setahu mereka, jadi semuanya berkumpul dan berjalan beriringan.


" coba gue balik ke belakang Siapa tahu mereka kecapean," ujar anak berjalan kembali ke belakang, menyusuri tempat yang tadi mereka lalui sebelumnya.


"Oke."


Setelah beberapa menit berlalu Hana kembali lagi. " mereka nggak ada!" pekiknya dengan ekspresi serius.


Tentu saja berita tersebut adalah berita yang kurang baik. Mereka pun kebingungan. Situasi sudah mulai gelap. Tapi teman-teman yang lain justru menghilang tanpa jejak. Dana, Hana, Hani, dan Blendoz mulai panik. Tapi Fauzan justru malah tertawa.


" kenapa lo ketawa?!" tanya Dana, kesal.


"Percuma kalian cari mereka. gue yakin, mereka udah diambil sama penghuni sumur tadi."


"Jangan macam macam ya, Zan! Gue heran sama lo. Kenapa lo bisa sejahat ini sih?!" omel Dana yang sudah benar benar kesal dan muak pada tingkah Fauzan.


" Jahat apanya? Ini salah kalian, Kenapa kalian kembali lagi ke sini? Karena jika kita sudah kembali lagi ke sini kita bakalan sulit untuk tempat ini!"


" terus lo sendiri ngapain di sini. Cari mati?" tanya Hana Ketus


" tentu saja gue mau mengorbankan kalian supaya gue bisa kaya. Dan gue juga terbebas dari temapt ini. Jadi cuma gue bisa pulang dengan selamat!"


"jangan mimpi lo!" bentak Blendoz.


"Kenyataan, bro! Lihat? mana mereka? Asal kalian tahu, kalau mereka sudah diambil satu persatu untuk dijadikan persembahan. Dan, ritual gue tadi, ya tujuannya untuk menjadikan kalian bahan persembahan!"

__ADS_1


Tiba-tiba saja ikatan yang menjerat tubuh Fauzan terlepas satu persatu. Mereka berempat terkejut dan mundur menjauhi Fauzan. Apalagi saat mereka melihat mata Fauzan berubah menjadi hitam.


__ADS_2