
Kejadian yang terjadi di kamar mandi rumah kosong sudah membuat geger semua orang. Mereka bertiga sedang dikerumuni orang orang yang penasaran dengan apa yang terjadi. Wajah para gadis itu tampak ketakutan dan pucat.
"Mungkin cuman angin aja," hibur Dana setelah Rea menceritakan semuanya kepada mereka.
"Angin gimana sih, Dan! Jelas-jelas nggak ada angin yang masuk. Kalian sudah pernah masuk ke dapur rumah itu kan? Tahu kan Gimana posisinya? Enggak ada angin masuk sama sekali apalagi yang bisa membuat pintu kamar mandi itu menutup dengan keras!" jelas Ita dengan menggebu.
Dana hanya menarik nafas panjang sambil memperhatikan mereka. Dia tidak tahu lagi harus berkata apa untuk bisa menenangkan teman-temannya. Memang benar jika dapur rumah tersebut terasa mengerikan bagi Dana. Dia pun juga merasakan hal itu saat memasuki rumah tersebut. Tapi Dana tidak ingin memperkeruh keadaan dengan menyetujui semua statement teman-temannya. Apalagi di sekeliling mereka ada warga desa yang lain. Dia tentu tidak enak jika harus memperbesar masalah tersebut.
"Ya sudah. Kalian balik ke tenda dulu aja. Nanti kita makan dulu. Tuh, yang lain lagi siapkan makan malam," kata Hana sambil menunjuk ke api unggun yang sedang membakar sosis dan juga daging ayam bawaan mereka.
" lebih baik kalian tidak usah memasak. Nanti saya kirimkan lagi makan malam untuk kalian," ujar Bu Kades.
"Wah, Bu Kades. Terima kasih banyak, tapi sepertinya tidak perlu karena kami juga masih punya stok makanan. Kami tidak ingin makin merepotkan. Sudah diizinkan menginap di desa ini saja kami sudah berterima kasih sekali," kata Blendoz berusaha terlihat sopan dan ramah.
"Ah, tidak apa-apa. Ya sudah saya mau masak dulu, Ya. Tunggu sebentar." wanita paruh baya itu segera melenggang pergi meninggalkan kerumunan. Dia terlihat sangat bahagia saat mengatakan akan menyiapkan makan malam untuk mereka. Alhasil Mereka pun tidak bisa berbuat banyak. Dan kini hanya tinggal menunggu saja hidangan apa yang akan disiapkan oleh Bu Kades.
Hari mulai beranjak petang. Suasana desa yang awalnya ramai, kini mulai berkurang aktivitasnya. Sebagian besar orang sudah masuk rumah masing-masing. Tiada lagi kegiatan di luar. Entah untuk bercengkrama satu sama lain. ataupun melakukan aktivitas santai lainnya.
"Eh, di sini nggak ada warung ya?" tanya Leni kepada teman-temannya.
"Ada kok. Tuh, di ujung sana. Tadi ada warung buka," ujar Hani sambil menunjuk arah yang dituju.
" Emangnya mau beli apa?" tanya Hana.
" Lotion anti nyamuk. Banyak banget nyamuk di sini," kata Leni sambil menggaruk beberapa bagian tubuhnya.
"Jauh nggak sih, Han?" tanya Rea yang ikut penasaran.
"Enggak kok. Tuh kalian lihat rumah rumah itu, kan? Nah di antara rumah itu ada gang kecil. Masuk aja ke situ. Nanti ada warung. Tadi gue juga habis beli rokok di sana." Benda yang ia bicarakan memang kini ada di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Sedang ia hisap hingga menimbulkan sebuah kepulan asap tebal yang membuat batuk beberapa orang di dekatnya.
" mau ikut, Re?" tanya Leni menawarkan diri.
"Iya. Ikut."
"Ya udah yuk."
Akhirnya mereka berdua pun pergi ke tempat yang ditunjuk oleh Hani tadi.
"Jangan lupa bawa hape. Siapa tahu kalian butuh senter. Sebentar lagi gelap," tukas Dana.
"Oke. Bawa kok nih," tunjuk Rea ke benda pipih di tangannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Tidak ada suara azan yang bergema layaknya desa-desa lainnya. Sekalipun terasa aneh bagi mereka tapi mereka menganggapnya itu adalah hal yang biasa. Padahal biasanya Di beberapa desa di wilayah nusantara sangat kental dengan kegiatan keagamaan. Terutama agama Islam yang mengedepankan sholat sebagai tiang agama. Bahkan biasanya suara adzan akan bersahutan di sebuah wilayah pedesaan. Tapi di desa ini terasa sangat sunyi. Bahkan semua pintu dan jendela sudah ditutup rapat oleh pemilik rumah.
Dua gadis itu berjalan meninggalkan tenda. Namun baru beberapa langkah berjalan, ada suara yang memanggil mereka. Lalu muncul Dana dan Hana yang tampak bergegas menyusul.
"Kenapa?" tanya Rea menatap kedua pemuda itu heran.
"Ikut," sahut Dana santai.
"Eh, mau beli juga?"
"Kagak. Mau kawal kalian. Takut terjadi apa-apa," sindir Hana sambil melirik Dana dan Rea bergantian.
"Dih, apa-apaan sih!" cetus Rea sambil tertawa.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Jalanan yang mereka lewati masih bebatuan. Itu sebabnya mereka harus berhati-hati sekali dalam melangkah. Apalagi karena hari sudah malam. Tentunya jarak pandang mereka sudah terbatas. Karena di sepanjang desa tidak ada lampu jalan. Hanya ada penerangan dari teras rumah rumah warga. Itupun berasal dari lampu bohlam yang nyalanya tidak terlalu terang.
"Sepi banget ya, kalau malam begini," celetuk Leni sambil bergidik karena rasa dingin yang masuk melalui celah-celah jaketnya.
"Iya. Ya maklumlah, namanya di desa terpencil gini. Nggak ada yang namanya hiburan tv atau internet. Beda sama kita yang hidup di kota," jelas Dana.
Hanya ada suara jangkrik mengiringi langkah mereka. Tidak ada lagi obrolan di antara keduanya. Sampai akhirnya Hana menyeletuk. "Bocahnya siapa tuh, ya?" tanyanya sambil mengernyitkan kening menatap ke sebuah sudut gelap di antara rumah yang satu dengan rumah yang lain.
"Bocah apa? Jangan ngaco lo, Han. Mana ada anak kecil berkeliaran malam-malam gini. Apalagi dari tadi kita justru nggak ketemu warga sama sekali loh," cetus Leni.
"Di mana sih, Han?" tanya Rea penasaran dan justru menyalakan lampu flashnya. menyorot ke sudut yang ditunjuk Hana.
"Heh, udah ah. Yuk, jalan lagi," kata Dana lalu menarik tangan Rea yang sedikit tertarik dengan sosok bocah yang disebutkan Hana tadi.
"Tapi, Dan ... Kita harus cari tahu, bocah siapa itu. Setahu aku, di desa ini nggak ada anak kecilnya," cerocos Rea sambil tangannya tetap digandeng Dana.
"Ya karena itu, makanya mending kita cepat jalannya. Udah malam. Nggak usah aneh-aneh!" ujar Dana serius.
Rea pun tidak lagi melawan lagi perkataan Dana. Mereka berempat segera berjalan menuju warung yang tadi disebutkan teman-temannya yang lain. Tak butuh waktu lama, akhirnya warung yang dimaksudkan terlihat di depan mata. Kondisi warung itu tidak terlalu ramai. Tapi nyala lampu di tempat itu sangat terang, berbeda dengan rumah rumah yang selama ini mereka lihat.
"Buruan sana," kata Dana yang akhirnya melepaskan tangan Rea.
Dua gadis itu pun akhirnya berjalan masuk ke dalam warung tersebut. Warung itu sama seperti warung - warung kelotongan yang selama ini ada. Ada banyak barang dagangan yang dipajang di etalase dan juga tergantung di bagian depan, samping warung tersebut.
"Permisi," seru Leni sambil tengak tengok ke dalam. Tidak ada tanda-tanda adanya sang empunya warung di dalam. Tapi Rea justru memperhatikan kondisi di sekitar yang juga tampak sangat sepi.
"Wah, ada gado-gado juga nih kayaknya," gumam Hana sambil membuka daun pisang yang menutupi cobek di atas meja. Di meja tersebut ada beberapa sayuran rebus dan kacang tanah yang belum ditumbuk halus.
__ADS_1
Tapi saat Hana membuka daun pisang itu, dia justru terperenyak. Hingga mundur menjauh sambil terlihat tampak sangat terkejut.
"Kenapa?" tanya Dana bingung.
"Astaga, gila. Jorok banget!" kata Hana sambil menunjuk ke meja tersebut.
Dana akhirnya mendekat dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Hana sebelumnya. Dia pun sama terkejutnya, hanya saja jauh lebih bisa menahan diri daripada reaksi Hana tadi.
"Kenapa sih?" tanya Rea penasaran.
"Re, jangan!" cegah Dana, tapi gadis itu terlanjur membuka penutup cobek dan sontak melotot. Bukannya menjauh karena jijik, Rea justru mendekat dan memeriksa semua bahan makanan itu. Rupanya semua makanan yang ada di atas meja sudah dipenuhi belatung. Semua makanan itu sudah busuk. Leni yang hanya melihat dari kejauhan bahkan hampir muntah-muntah.
"Oh. ada tamu, ya," sapa seorang wanita dari dalam warung.
Mereka semua langsung menoleh dan terkejut melihat kedatangan pemilik warung tersebut. "Oh, mau beli gado-gado? Kebetulan masih banyak," kata wanita itu lagi dengan terlihat ramah.
Mereka berempat menoleh ke meja yang berisi bahan-bahan untuk gado-gado. "Tapi gado-gadonya ...." Wanita itu segera membuka daun pisang yang menutupi cobek dan bersiap hendak membuat bumbu gado-gado andalannya. Dengan santainya dia menuang kacang tanah goreng yang bercampur belatung yang masi menggeliat di dalamnya. 'Mau berapa?" tanya wanita itu lagi tanpa rasa jijik atau kaget.
"Oh, maaf, Bu. Kami nggak pesan gado-gado," ujar Rea agar wanita itu berhenti melakukan aksinya membuat gado-gado belatung.
"Oh, nggak pesan gado-gado? Jadi mau beli apa? Silakan pilih sendiri," katanya lagi lalu kembali ke dalam warung dengan wajah yang berseri-seri namun agak sedikit pucat.
Leni melirik ke Rea, mereka berdua seolah-olah sedang berdiskusi dalam bahasa batin yang hanya mereka berdua saja yang tahu.
"Eum, apa ada minyak kayu putih, Bu?" tanya Leni.
"Ada. Sebentar saya ambilkan," kata ibu tadi lalu berbalik ke etalase di belakangnya.
Rea dan Leni memperhatikan semua brang-barang yang ada di warung tersebut. Toples toples tampak penuh dengan belatung hidup. Leni yang sudah tidak tahan, lantas berlari ke samping warung dan memuntahkan semua isi perutnya di sana. Rea seorang diri berdiri di depan warung. Saat pemilik warung berbalik badan, kini wajah ibu paruh baya itu juga tampak penuh dengan belatung. Rea terkejut, lalu menutup mulutnya rapat-rapat. Disaat bersamaan, Dana langsung meletakkan selembar uang lima puluh ribuan dan menarik tangan Rea untuk pergi dari tempat itu.
Mereka berjalan cepat meninggalkan warung dengan perasaan yang kacau. Sepanjang jalan mereka terus membahas mengenai pemilik warung tadi.
"Itu setan, kan?" tanya Leni menatap teman-temannya yang tampak tergesa-gesa berjalan.
"Udah, jangan dibahas," cetus Dana.
"Astaga, serem banget. Tapi kenapa bisa isinya belatung semua?"
"Namanya juga setan! Gimana sih lo." Hana tampak ketakutan dan justru menjadi emosional saat suasana hatinya sedang kacau seperti sekarang.
"Apa warung itu memang begitu, atau warga desa memang nggak tahu tentang warung itu," tukas Rea yang masih penasaran.
Dalam perjalanan pulang, mereka berpapasan dengan warga desa yang melintas. Pria itu berjalan sambil menunduk . Melihat hal itu, Hana bermaksud ingin mengadukan hal tersebut.
"Iya, hanya ada satu saja warung di sini, Mas. Memangnya kenapa?" tanya pria itu balik.
"Kok penjualnya aneh, ya, Pak."
"Aneh bagaimana ya?" Pria itu masih terlihat menunduk. Sementara Hana justru bingung bagaimana menjelaskan hal tersebut. Dia cemas jika apa yang tadi dilihatnya hanya sebuah halusinasi saja.
"Aneh, Pak. Duh, pokoknya aneh dan menyeramkan deh, Pak," kata Hana.
"Apa aneh seperti ini?" tanyanya lagi sambil mendongak.
Hana terkejut. Begitu melihat kalau wajah pria yang ia temui justru sama seperti wajah pemilik warung tadi. Wajahnya rusak, penuh belatung di sertai darah dan nanah. Bahkan tak lama setelah itu bau menyengat yang busuk tercium. Dana, Leni, dan Rea juga sama terkejutnya dan kini mulai tampak ketakutan. Mereka mundur-mundur dan akhirnya berlari terbirit-birit.
Untungnya jarak warung tadi dan tenda yang mereka dirikan tidak terlalu jauh. Toh, desa ini juga memang tidak terlalu luas. Mereka pun segera sampai di tenda yang memang hanya satu-satunya tempat yang memiliki kehidupan. Teman-temannya masih asyik memasak makan malam sambil tertawa dengan candaan masing-masing.
Begitu sampai di tenda, mereka semua ngos-ngosan dan langsung duduk begitu saja tanpa peduli kotor atau basah. Karena baru saja Apri menyiram air bekas merebus mie instan ke tanah.
"Kenapa sih?" tanya Diah saat melihat keempat temannya seperti sedang lomba lari.
"Gila! Sumpah!" tukas Leni tanpa penjelasan lebih lanjut.
"Apanya? Datang-datang malah kayak orang habis dikejar setan aja," imbuh Apri dengan santai karena sedang sibuk membakar jagung.
"Iya, bener! Ada setaaan!" jerit Hana menunjuk ke arah mereka berlari tadi.
"Makanya, malam-malam tuh nggak usah kelayaban gitu. Jadi ketemu setan!" sindir Hani sambil makan.
"Bukan itu maksud gue! Tapi ...." Saat Hana menatap saudara kembarnya dia langsung menepis tangan Hani dan membuat makanan yang berada di tangannya terlempar jatuh ke tanah.
"Heh, Han! Sembarangan banget sih Lo! Sayang banget kan, itu makanannya! Kotor jadinya!" omel Hani tidak terima.
"Kotor apaan! Tuh lihat makanan yang mau lo makan!" tunjuk Hana ke tanah di mana makanan tersebut jatuh. Hani memperhatikan dengan seksama dan langsung jatuh terjungkal ke belakang. Dia lalu menatap tangan kanannya yang masih memegang sedikit makanan. Di tangannya kini banyak sekali belatung yang menggeliat memenuhi sebagian tangannya. Hani menjerit dan berusaha membersihkan binatang tersebut dari tangannya. Keributan ini tentu mengundang perhatian orang lain. Terutama keluarga Pak Kades yang letak rumahnya paling dekat dengan mereka semua. Benar saja, Pak Kades membuka pintu rumahnya. Sontak mereka semua terkejut dan menjerit.
"Ada apa ya, Mas, Mba? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Pria yang selama ini mereka kenal sebagai kepala desa, tapi kini wajahnya menjadi mengerikan. Tidak berbeda jauh dengan apa yang Dana, Leni, Hana dan Rea lihat tadi., Wajah Pak Kades juga sama seperti dua warga desa yang tadi mereka temui sebelumnya. Rusak, penuh belatung di wajah serta beberapa bagian tubuhnya.
"Eum, maaf, Pak. Kami membuat keributan. Tadi ada kecoa, jadi mereka kaget," kata Dana berusaha terlihat baik-baik saja.
"Oh, begitu. Ya sudah, saya masuk lagi, ya."
"Oh iya, Pak. Maaf sebelumnya. Kami janji tidak akan berisik lagi sekarang," kata Dana lagi.
__ADS_1
Pak Kades lantas masuk ke dalam, dan semua langsung histeris sambil menutup mulut masing-masing. "Astaga, sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa muka Pak Kades jadi begitu sih?" rengek Apri yang langsung memeluk lengan Diah dengan tubuh bergetar hebat.
"Mereka semua sudah mati," kata Rea lantang.
"Mereka semua? Maksudnya siapa lagi selain Pak Kades?"
"Tadi kami ketemu pemilik warung dan warga lain. Kondisi mereka sama seperti Pak Kades." Dana berusaha terlihat tenang, walau dalam hatinya sangat gelisah.
"Serius ini?" tanya Hani tampak terguncang.
"Serius kalian tadi ketemu warga desa lain dan kondisi mereka sama kayak gitu?" tanya Blendoz yang seakan akan berusaha untuk tidak memercayainya.
"Yah, serius. Gini ... Kalau memang benar kata Rea, mereka itu sudah meninggal, kita harus pastikan dulu sebelum bertindak lebih jauh," jelas Dana.
"Memastikan gimana maksud lo, Dan? Kurang jelas apa lagi?" tanya Hana.
"Siapa tahu, nggak semua warga desa begitu."
"Dan, rasanya kita nggak ada waktu buat periksa semua warga desa di sini, malam malam gini. Sebenarnya sejak awal kita datang ke sini memang sudah banyak kejanggalan. Aku cuma baru sadar aja kalau ternyata ini jawabannya."
"Kejanggalan apa maksud kamu, Re?"
"Dan, kamu sadar nggak sih kalau semua rumah di sini kondisinya kotor berdebu? Itu aneh loh. Terus ... Nggak ada satupun anak kecil yang ada di desa ini, kan?"
"Bener juga kata Rea. Nggak ada anak kecil satupun di sini. Tapi ... Apa mungkin mereka nggak sadar kalau mereka sudah meninggal, ya? Soalnya gue pernah denger ada kisah yang kayak gini."
"Iya, masuk akal juga. Karena tadi kalian lihat sendiri, kan, gimana reaksi Pak Kades? Kalau memang mereka sadar kalau mereka sudah meninggal, mereka nggak akan bersikap biasa aja kayak Pak Kades tadi."
"Ibu warung tadi juga gitu. Dia bersikap biasa aja waktu ada belatung di toples kacang di warungnya. Dan semua barang-barang di warungnya penuh belatung!"
"Mereka nggak sadar atau sebenarnya tahu, tapi nggak mau tahu?"
"Re, jangan bikin kode yang bikin gue mikir kenapa sih? Maksud lo apaan?"
"" maksudnya, sebenarnya mereka sadar kalau mereka sudah meninggal, tapi mereka nggak peduli dan bertindak layaknya manusia normal yang masih hidup pada umumnya," jelas Dana.
"Apa pun itu kita harus secepatnya pergi dari sini. Kalau perlu malam ini juga. Bahaya banget tahu nggak sih?! Kita tinggal di tengah-tengah zombi!"
"Mereka bukan zombi. Tapi ruh manusia."
"Tapi bukannya kita bisa bersentuhan sama mereka, ya?"
"Eh, enggak ah! Kita sama sekali belum pernah bersentuhan sama satu pun warga desa sini. Bahkan saat kita pertama kali datang aja, kita kan gak jadi salaman sama Pak Kades. Waktu mau salaman dia kayak nolak gitu kan."
"Oh iya bener."
"Eh jadi ... Kalau memang semua warga desa sini sudah pada meninggal, Yang tadi kita makan apa dong," tukas Blendoz sambil menatap makanan Hani yang jatuh ke tanah.
"Ya jelas sama kayak itu, belatung," jawab Rea santai.
Sontak beberapa dari mereka langsung muntah-muntah di tempat.
Masih dalam situasi mencekam, tiba-tiba terdengar suara guntur dan kilat yang menyambar di langit. Ini sebuah pertanda alam Kalau sebentar lagi akan turun hujan lebat.
"Duh, mau hujan lagi," rengek Apri makin panik.
"Ya udah masuk tenda, jadi satu aja! sambil kita pikirin rencana kita selanjutnya," titah Dana dan disetujui semua orang.
Mereka semua masuk ke dalam tenda dan berkumpul menjadi satu. Sekalipun tenda tersebut hanya muat untuk tidur 5 orang, tapi jika untuk duduk 9 orang itu juga masih cukup. Kini mereka semua duduk membentuk lingkaran. Tak lama rintik hujan mulai turun. Perlahan tapi pasti hujan yang hanya gerimis berubah menjadi deras dan makin deras diiringi suara guntur yang menyambar di langit. Mereka semua saling merapatkan jaket masing-masing. Cahaya dari api unggun tadi sudah padam akibat diguyur hujan lebat. " jadi rencana kita Selanjutnya apa? Apa kita harus pergi sekarang juga atau tunggu sampai pagi?" tanya Blendoz sambil menatap teman-temannya satu persatu.
" Kalau menurut gue sih, kita nggak bisa pergi malam ini juga. Di luar hujan lebat. Kalau kita nekat pergi dari Desa ini malam ini juga, kita bakalan menemukan hal mengerikan lain di luar sana."
"Iya, Dana bener. Apalagi Desa ini dikelilingi sama hutan. Emangnya kalian siap masuk ke hutan lagi malam-malam gini dan kondisinya hujan deras?" tanya Rea.
Mereka semua diam tapi saling menatap satu sama lain menunggu jawaban teman-temannya.
" Terus kalau kita nggak pergi malam ini, kita nginap di sini lagi dong. Tapi Aku gak mau tidur berpisah. Kita harus tidur jadi satu. Takutnya terjadi hal buruk nanti kalau kita lagi tidur," rengek Apri yang terdengar masuk akal.
" Iya Apri benar. Tapi kita juga nggak bisa tidur di tenda bersembilan kayak gini kan. Terpaksa kita harus pindah."
" pindah ke mana, Dan?"
" ya cuma rumah di belakang kita aja yang kosong, enggak ada penghuninya."
"Ih, tapi ada setannya!"
"Tapi setan kan gak kelihatan. Kalau rumah lain setannya kelihatan semua. Kalian mau pilih yang mana?"
Pilihan yang diberikan Dana sama-sama mengerikan. Tapi sesuai kesepakatan bersama mereka pun menyetujui untuk tidur di rumah kosong yang berada di belakang tenda mereka. Apalagi melihat kondisi tenda yang rapuh. Ternyata tenda mereka juga bocor, jadi tidak bisa bertahan lama. Akhirnya mereka semua pun mengungsi ke rumah kosong yang ada di belakang tenda mereka.
Pakaian mereka sedikit basah karena terkena air hujan saat masuk ke dalam rumah tersebut. Itu tidak begitu dirasakan oleh mereka semua. Kini mulai memeriksa rumah tersebut dengan lebih teliti. Seperti bagian luar rumah, bagian dalam rumah tersebut juga kotor penuh dengan debu tebal. Hanya saja mereka tidak terlalu memikirkan hal itu, mereka justru mulai menggelar sleeping bed masing-masing dan tidur dengan posisi saling berdekatan. Tujuannya agar mereka bisa saling menjaga satu sama lain.
Sekalipun hari sudah malam, rasa lelah juga sudah menggelayut di tubuh mereka, tapi mereka belum juga merasakan kantuk. Mereka masih cemas terhadap kemungkinan buruk yang bisa terjadi saat mereka tidur nanti.
__ADS_1
"Suara apa itu?" tanya Ita dan membuat semua orang membisu.