
Kematian Siska bukan berita baru bagi telinga masyarakat. Justru mengetahui bahwa Siska ternyata masih hidup itulah yang membuat gempar seluruh desa dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Kasus 7 tahun silam. Bagai momok baru dalam masyarakat baru-baru ini. Terlebih berita mengatakan kalau ternyata Giska dan Siska bersahabat selama 3 tahun terakhir. Seseorang yang ingin dibunuh Siska malah menjadi orang yang paling ingin dia lindungi.
"Jadi siapa yang menembak Siska?" tanya Adi, di cafe Pancasona, berkumpul dengan tim Andrew.
"Seorang penembak runduk," sahut Andrew datar. Mereka duduk di sebuah meja yang ada di halaman cafe. Cafe Pancasona memang menyediakan suasana indoor dan outdoor. Topografi desa yang didominasi pepohonan membuat suasana outdoor terasa menyenangkan. Sejuk dan dingin. Kopi masih terlihat mengepul di meja. Mereka baru saja berkumpul 5 menit lalu. Abimanyu mengambil cangkir miliknya dan menghirup aroma kopi yang selalu menenangkan dirinya di saat pikirannya kalut. Seperti sekarang.
Gio juga otomatis melakukan hal yang sama, begitu juga yang lain. Uap kopi terlihat menggiurkan jika diminum saat masih panas seperti ini. "Siapa yang bikin kopi?" tanya Andika dengan menatap kopi miliknya yang baru saja ia sesap. Netranya menatap lurus ke arah Abimanyu yang bersikap acuh.
"Itu, anak baru. Hara. Kenapa? Nggak enak?" tanya Adi sambil menunjuk sosok pemuda yang ada di balik meja barista. Semua mata otomatis melihat ke arah yang Adi tunjuk. Tanpa reaksi berarti dan kembali pada pembahasan tadi.
"Penembak runduk? Gi, ada banyak penembak runduk yang elu tau?" tanya Adi.
"Hm. Penembak runduk yang mana dulu ini? Resmi atau tidak resmi?"
"Kan keahlian itu nggak banyak dimiliki orang, Gi. Masa iya sebanyak itu yang ada dipikiran lu?!"
"Ya iya, maksud gue kalau yang resmi ya cuma Pak Tatang Koswara. Kalau yang ilegal ya ada beberapa, cuma gue nggak tau list terbarunya sekarang. Nanti coba gue tanya teman."
"Ada yang aneh," kata Abimanyu dengan segala macam pemikiran dalam kepalanya.
"Menurut lu apaan, Bi?"
"Siska ini cuma dijadikan boneka oleh seseorang. Buktinya dia sebenernya nggak rela kalau Giska mati, jadi sekarang kita harus cari siapa otak dibalik segala pembunuhan ini."
"Iya, itu pun yang saya pikirkan sejak dulu. Apalagi saat Riki masih kecil. Mana ada anak kecil yang punya pikiran membunuh teman sebayanya. Soalnya 'saat kami menangkap Riki, kami juga memeriksa kejiwaannya. Dan dia tidak punya sisi psikopat seperti yang kami kira. Ada seseorang yang menyuruhnya, dia juga yang mengatur segala hal tentang apa yang harus Riki lakukan."
"Lalu bagaimana keterlibatan Bisma? Apa dia ada hubungannya dengan Riki, atau Siska?" Adi makin penasaran. Hingga kopi miliknya hanya tinggal setengah cangkir.
"Mereka bukan satu darah. Mereka bukan saudara. Setelah gue selidiki, antara Riki, Bisma, dan Siska bertemu di rumah sakit jiwa. Tempat Siska dirawat dulu," terang Andika dengan semua bukti yang sudah ia kumpulkan.
"Jadi maksud lu, Bisma pernah jadi pasien rumah sakit jiwa?"
"Yes, tepat sekali. Kalian lihat ini?" tunjuk Andika pada beberapa lembar kertas yang sengaja ia perbanyak. Semua hasil penyelidikannya ada di tumpukan kertas itu. "Di situ adalah tanggal Bisma masuk sebagai pasien rumah sakit jiwa, karena mengalami kekerasan seksual dari keluarga terdekatnya. Ia depresi dan tidak mau berbicara sama sekali, bahkan hampir 6 bulan ia dirawat, Bisma tidak pernah membuka mulutnya untuk berbicara."
"Gila! Anak sekecil itu mengalami kekerasan seksual seperti apa? sampai-sampai dia nggak mau ngomong lagi?"
"Itulah. Bahkan dokter dan perawat sampai sekarang nggak tau apa yang udah dialami Bisma semasa kecilnya. Tapi saat Bisma masuk pertama kali, di tubuhnya banyak luka lebam. Bahkan kepalanya berdarah. Dokter bilang ada gumpalan darah di otaknya. Itu yang membuat kepala Bisma sering sakit."
"Mungkin gumpalan itu juga alasan dia jadi seorang sosiopat," sambar Gio asal.
"Mereka bertemu di rumah sakit jiwa? Di mana rumah sakit itu, Ndik?" tanya Abimanyu.
"Rumah sakit jiwa Santo Yoseph."
_________
Mobil berhenti di halaman parkir sebuah rumah sakit jiwa terbesar di kota. Tim Andrew harus mencari Hania Putri, target terakhir dari segala rentetan kasus pembunuhan yang hampir beberapa bulan ini menyita perhatian mereka. Hania yang ada di negeri ginseng itu membuat mereka harus mempersiapkan segala hal untuk datang ke tempat Hania. Bukan jarak yang dekat, dan mereka harus mempersiapkan segalanya dengan sempurna. Terlebih pembuatan paspor cukup menyita waktu. Baik Andrew, Andika dan Jesika belum pernah ada yang pergi ke luar negeri. Maka dari itu, mereka harus mempersiapkan paspor untuk kepergian mereka.
"Bi, kenapa kita malah ke sini? Bukannya ikut Andrew saja menyusul Hania. Pasti pembunuh itu bakal datang ke Hania, kan?" tanya Nabila dengan banyak protes yang keluar dari bibirnya. Abimanyu yang berjalan menyusuri koridor, sempat berhenti sebentar dan menoleh ke gadis yang kini terus membuntutinya sejak keluar dari cafe tadi. "Kalau nggak mau ikut, sana! Lu ikut saja Pak Andrew. Siapa suruh ngikutin kita!" kata Abimanyu, ketus. Ia lantas berjalan lagi tanpa menoleh pada Nabila.
"Yang sabar, Rose. Ini ujian," tutur Gio menepuk bahu Nabila. Panggilannya berganti menjadi nama yang selalu ia pakai saat menjadi intelijen di tim nya. Sementara Adi terus mengekor Abi sambil tetap waspada pada sekitarnya. Mereka mencari ruangan pemilik rumah sakit ini.
__ADS_1
Akhirnya langkah mereka terhenti pada sebuah ruangan yang bertuliskan David Immanuel. Mereka berhasil mengantongi nama itu saat bertanya ke seorang perawat senior. "Ini, bener?" tanya Adi menunjuk ruangan di depan mereka. "Sepertinya. Kita masuk saja buat memastikan," saran Abimanyu.
Kini mereka sudah berada di dalam ruangan besar pemilik Rumah Sakit Jiwa Santo Yoseph. Di hadapan mereka ada seorang kakek tua yang berumur kira-kira 70 tahun. Rambutnya yang sudah putih semua dengan keriput di hampir seluruh lipatan kulitnya. Ia terus melebarkan senyum saat menyambut tamunya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya David dengan suara khas kakek-kakek. Lemah dan terasa bijak. Yah, itulah kesan pertama yang ia tampilkan pada mereka.
"Begini, Pak David. Kami mau bertanya beberapa hal mengenai pasien rumah sakit ini," kata Adi menanggapi. David mengerutkan dahi sedikit terkejut namun terus ia tahan dengan senyumnya yang kembali terukir. "Mungkin lebih tepatnya, mantan pasien anda." Abi mengoreksi.
"Oh, baiklah. Silakan, mungkin saya bisa bantu," kata David dengan tenang.
Abimanyu mendesis ke arah Gio, sadar akan bahasa isyarat dari Abi ia lantas mengeluarkan beberapa foto yang sudah ia dapatkan dari beberapa sumber. Siska, Riki, dan Bisma. David memicingkan matanya, membuat kerutan di wajahnya bertambah.
"Apakah Anda kenal mereka?" tanya Abi serius. Netra Abi terus menatap tiap inci wajah David. Menangkap berbagai ekspresi dari pria tua di depannya. Tak langsung menjawab, David justru memungut foto-foto itu dan mencoba mengingat wajah-wajah itu.
"Siska, Riki, dan Bisma. Mereka dulu pasien di sini."
Foto yang Abi punya adalah foto mereka saat sudah dewasa. Wajar saja kalau David agak lama memahami deretan foto yang kini menjadi bahan pertanyaan beberapa orang tamunya sekarang.
"Bapak ingat? Sekitar ... eum, mungkin 7 atau 6 tahun lalu anak perempuan ini datang ke sini, namanya Siska?" Kini Nabila ikut bertanya agar David lebih mudah memahami arah pembicaraan mereka. "Dia adalah korban bullying yang pernah mencoba bunuh diri saat di rawat di sini," tambah Nabila.
Hingga 10 menit berlalu David baru mau membuka mulutnya, yang membentuk huruf O.
"Oh, iya, saya baru ingat. Siska? Riki, dan Bisma. Maaf kejadian itu sudah lama, dan saat kalian menyebutkan nama asli mereka, saya agak bingung. Karena mereka sudah dibaptis dan memakai nama baru."
"Mereka semua?"
"Oh, tidak. Hanya Siska, yang mengganti nama baptis Angel, lalu satu lagi ... Sebentar." David beranjang dengan kesusahan menuju sebuah lemari besar yang ada di sudut ruangan besar itu. Ia lantas kembali dengan sebuah album foto yang cukup besar. Ia kembali duduk di tempatnya tadi.
"Ini mereka," tunjuk David ke sebuah foto dengan 4 orang anak kecil.
"Mereka ini?" tanya Adi yang sengaja tidak meneruskan pertanyaannya.
"Siska, Riki, Bisma, dan Nathan."
"Nathan?" tanya mereka serempak.
"Iya. Mereka ini selalu bersama. Saat Siska datang, Bisma dan Nathan yang memang pasien paling lama di sini, langsung menjadi teman Siska. Mereka selalu bersama-sama. Bahkan kami sempat mengira kalau mereka sudah baik-baik saja. Lalu Riki datang tak lama setelah itu. Kehadiran Riki membuat mereka bertiga makin baik-baik saja. Dalam artian, kalau kalian melihat secara langsung pasti akan berpikiran sama seperti saya. Mereka berbeda dari pasien saya yang lain. Sika yang paling labil dan terkadang sulit dikendalikan, akan mudah luluh karena bujukan Nathan. Mereka bagai saudara. Selalu kompak dan membantu satu sama lain. Sampai kejadian itu terjadi." Tatapan David menerawang ke langit-langit. Padahal jika ada yang bisa melihat, David berusaha kembali ke beberapa tahun silam. Hari di mana sebuah tragedi rumah sakit terjadi.
"Ada sebuah keracunan massal yang terjadi beberapa tahun lalu, saat mereka masih ada di sini."
"Keracunan?"
"Iya. Mereka menaruh kalium sianida pada makan siang semua pasien. Dan semua pasien, meninggal."
"Apa?!" pekik Gio terkejut. Reaksinya seolah tidak mempercayai perkataan DAvid. Tidak hanya Gio, Nabila bahkan menjambak rambutnya sendiri, ikut membayangkan kejadian naas itu. Bahkan dalam bayangan Nabila itu hal yang cukup mengerikan.
"Kalium sianida? Bagaimana anak-anak sekecil mereka bisa tau tentang zat tersebut?"
David menaikkan kedua bahunya dan menarik nafas panjang. "Mereka istimewa. Bahkan mereka mampu menipu kami semua dengan bersikap normal. Sangat normal. Tapi dibalik itu semua, mereka sakit!"
"Lalu?"
__ADS_1
"Karena kejadian itu, rumah sakit ini sempat akan ditutup, tapi lantas orang tua Nathan berusaha membuat keadaan rumah sakit ini stabil."
"Di mana Nathan sekarang?"
"Oh dia sekarang tinggal di pedesaan. Bahkan baru beberapa hari lalu dia datang ke sini."
"Apa Anda memiliki foto Nathan terbaru?"
"Oh tentu. Kami sempat berfoto kemarin." David merogoh kantung celananya dan mengambil benda pipih dari sana. Ia membuka kunci sandi dan segera meluncur ke galeri. "Ini."
Abimanyu langsung memundurkan tubuhnya saat meliat foto yang ditunjukkan David. Ia tak menyangka kalau pemuda itu adalah otak dari pembunuhan di desa selama ini. "Hara?" jerit Nabila.
"Ah benar. Dia selalu dipanggil Hara oleh teman-temannya. Gabriel Hosehara."
Abi dan yang lain saling pandang. Mereka tidak menyangka kalau musuh mereka dekat sekali dengan mereka selama ini.
"Hara atau Nathan diperbolehkan pulang karena selama dua tahun belakangan, ia bersikap baik. Bahkan sering membantu di gereja."
"Hm. Baiklah. Terima kasih, Pak. Kami permisi." Abi beranjak dan segera keluar dari ruangan itu, diikuti Adi dan Gio. Mereka berdua berteriak memanggil nama Abi yang ini berjalan agak cepat, terkesan terburu-buru.
"Eum, terima kasih Pak David. Maaf teman saya, dia kelelahan karena perjalanan tadi cukup menyita waktu. "
"Ah tidak apa-apa, semoga apa yang saya sampaikan bisa membantu proses penyelidikan kalian, ya. Segera tangkap Nathan. Sebelum Hania jadi korban selanjutnya," bisik David dengan senyum tipis. Nabila mengangguk dan kemudian keluar ruangan itu menyusul yang lain.
_______
"Ini bener-bener gila! Hara?! Astaga!" raung Abimanyu yang benar-benar kesal sekarang. Hara adalah pegawai barunya yang cukup disukai Abimanyu. Sikapnya yang ramah dan sopan pada pengunjung membuat Abi menyukainya walau baru beberapa hari ia bekerja di cafe. Terlebih Hara membuat kopi yang enak. Abi yang termasuk orang pemilih dalam sajian kopi, tidak pernah menolak kopi buatan Hara selama ini.
Mobil melaju cepat. Mereka kembali ke desa. Adi yang berkali-kali menghubungi ponsel Andrew terus mengumpat kesal. Ponsel Andrew tidak bisa dihubungi.
"Mungkin mereka sudah di pesawat, Di." Nabila melirik sampingnya dan melihat kegelisahan Adi. Semua orang di dalam mobil ini cemas dan kesal.
"Paman, coba hubungi Ridwan."
"Oh iya. Astaga. Kenapa bisa lupa!" runtuk Adi pada dirinya sendiri.
Perjalanan ke desa mereka membutuhkan waktu yang cukup lama. Hampir 5 jam mereka harus berkendara. Gio menggantikan Abi menyetir. Karena kondisi emosi Abi yang sedang labil, membuatnya takut jika Abi tidak bisa fokus dalam mengemudi.
"Gimana, Di?" tanya Gio melirik ke spion di tengah.
"Hara ijin. Nggak ada di cafe. Katanya ada urusan."
"Itu, kan. Gila. Dia pasti nyusulin Hania." Gio ikut naik pitam.
"Apa kita perlu ke sana juga?" Nabila bertanya dengan berbagai kemungkinan.
"Rasanya nggak perlu. Lagipula aku agak aneh tadi, sama Pak David." Abi terus menatap keluar jendela. Memikirkan hal aneh dan mengganjal apa yang membuatnya gelisah.
"Aneh bagaimana?"
"Entahalah. Mungkin cuma perasaanku saja. Aku ngerasa ada yang dia tutupi."
__ADS_1
Nabila ikut menatap jendela sampingnya. Memikirkan kalimat yang tadi diucapkan Abimanyu. "Iya. Aku juga merasa." Batin Nabila yang hanya mampu ia dengar sendiri