
Pagi ini suasana dapur rumah Elang nampak hidup. Dua orang wanita Yang kini tinggal di rumahnya, mendadak menjadi chef. Tawa mereka terdengar hingga lantai dua rumah ini. Keseruan kegiatan memasak memang tergambar jelas di sana. Ellea yang menjerit karena cipratan minyak panas, mendapat tawa lepas dari Shanum. Walau mereka dulu bertetangga, namun sebenarnya mereka tidak begitu dekat. Hubungan ini justru tercipta karena kejadian yang tidak diduga sebelumnya, dan akhirnya mereka kini menjadi sahabat.
Suara langkah kaki menggema, menuju dapur karena rasa penasaran yang cukup tinggi. Pria dengan setelan tuxedo, dan chelsea boots hitam, kini berdiri tak jauh dari dua wanita di sana. "Kalian sedang apa? Jangan sampai dapurku hancur karena ulah kalian. Awas saja kalau sampai itu terjadi." Elang meraih apel di meja dan menggigitnya. Saat ia hendak pergi, Shanum berdeham.
"Eum, sarapan saja dulu. Kami sudah memasak banyak makanan," ucapnya agak ragu. Ellea yang melihat ekspresi wajah Shanum, lantas mengerutkan dahi. Tak lama tersenyum.
"Betul, Pak Ceo. Anda sebaiknya sarapan dulu. Masakan Shanum sungguh lezat." Ellea mendekat ke Elang, dan menggandengnya agar duduk di salah satu kursi meja makan. Awalnya pria itu seperti tidak begitu tertarik untuk sarapan, karena ini bukan kebiasaannya selama ini. Ia lebih suka menikmati kopi hitam dari pada makan berat seperti itu. Namun Elang pasrah dan menurut saja. Karena tak dapat dipungkiri aroma masakan ini benar-benar menggugah selera. Bahkan sejak Elang membuka mata tadi. Dalam hati kecilnya, ia bersyukur, karena rumahnya terasa seperti rumah. Bukan hanya sebuah bangunan mewah dengan dirinya yang tinggal seorang diri.
Suara pertikaian dari Adi dan Gio terdengar makin jelas. Dalam suasana se-pagi ini, mereka berdua sudah berkelahi hanya karena hal sepele.
"Kubalas, kau, lihat saja nanti! " murka Adi dengan tangan kanan menunjuk Gio yang ada di seberang meja makan. Menempatkan diri duduk di samping Elang yang sudah lebih dulu menyantap sarapannya.
"Aku tidak takut padamu, bodoh!" Gio menanggapi santai bahkan terkesan meledek Adi, hingga membuat emosi Adi kembali naik.
"Kurang ajar, kau. Kemari! Akan kurontokan gigimu sekarang juga!" Adi bersiap mendekat pada Gio. Sementara Gio sudah membusungkan dada, menantang Adi.
Meja dipukul keras. Semua orang menatap sang pemilik rumah dengan tegang. Elang beranjak lalu menatap mereka berdua bergantian. Sorot matanya tajam bagai burung elang sesungguhnya.
"Aku sudah selesai," ucap Elang, menyapu sudut bibirnya dengan celemek makan yang tersampir di pahanya. Kursi berderit karena terdorong ke belakang, Elang pergi begitu saja dengan piring yang tersisa sedikit makanan.
"Lihatlah, ini karena ulahmu!"
"Kau yang memulai lebih dulu, idiot!"
Walau dengan berbisik, Adi dan Gio masih saja beradu mulut bahkan saat sarapan. "Aku berangkat sekarang saja!" kali ini Abimanyu tidak berselera makan, dan menyusul Elang keluar.
"Kalian berdua benar-benar.... " Satu pukulan mendarat pada kepala Adi dan Gio karena Ellea.
"Hei ... Memangnya apa salah kami?!" jerit mereka hampir bersamaan.
Sementara Shanum segera mengejar dua pria yang kini sudah sampai halaman.
"Begitulah kelakuan dua pamanmu itu. Tidak pernah berubah sama sekali," tutur Elang, membuka pintu Porsche Cayman putih miliknya.
Abimanyu tertawa kecil menanggapi, ikut membuka pintu samping Elang. Namun sebelum mereka masuk ke dalam mobil, sebuah derap kaki mengalihkan perhatian dua pria dingin itu. Shanum dengan tergopoh-gopoh membawa dua kantung kotak makan.
Saat sampai di dekat mobil Elang, ia menekuk tubuhnya dengan kedua tangan bertumpu pada lututnya. Tentu dengan masih memegang dua tas makan berwarna ungu dengan motif polkadot pink.
"Kenapa?" tanya Elang, menatap heran ke gadis itu. Terpaksa ia mendekat dan kini berdiri di samping Abimanyu.
"Huh ... Kalian berjalan cepat sekali. Ini! Aku sudah membuatkan kalian bekal makan siang." Shanum masih berusaha mengatur nafasnya, dan tentu, menyodorkan dua tas bekal itu pada Elang.
"Kau tidak usah repot, aku biasa makan...."
Bugh!
Belum sempat Elang meneruskan kalimatnya, Abimanyu menyikut perut Elang sambil melotot. "Apa?" tanya Elang, yang benar-benar tidak paham.
"Oh, baiklah. Terima kasih sudah merepotkanmu. Kalau begitu kami pergi dulu." Abi meraih dua kotak makan itu lalu menarik Elang agar segera masuk ke mobil.
Wajah Shanum berbinar. Walau peluh membanjiri wajahnya, tapi bahagia terpancar jelas di bibirnya. Ia terus menarik sudut bibirnya, samar. Sekalipun dia bahagia, tapi ia tetap berusaha menyembunyikan perasaan itu.
Ada kebahagiaan tersendiri saat netra miliknya dan sorot mata tajam Elang bertemu. Yah, cinta mulai bersemi di hati Shanum, untuk Elang.
_____
Jalanan sudah cukup ramai, hanya saja mereka tidak harus bermacet ria pagi ini. Karena keadaan lalu lintas masih teratur.
Mobil mewah itu berhenti tepat saat lampu merah di perempatan jalan. Satu persatu orang mulai melewati zebra cross. Di samping kanan dan kiri jalan memang berderet toko dan gedung-gedung tinggi. Wajar saja, kondisi lingkungan ini cukup sibuk. Semua orang sudah memulai aktifitasnya.
Tiba-tiba saja, Abimanyu melotot, saat dua orang wanita memakai pakaian yang sama dengan mantel bulu tebal, lewat di depan mereka. "Ah, sial!" runtuknya dan terus memperhatikan dua orang itu.
"Ada apa?"
"Dua wanita itu, paman!" tunjuk Abi ke wanita yang kini masuk ke sebuah toserba 24jam di seberang jalan.
"Kenapa mereka?" Elang ikut menatap mereka intens. Hati kecilnya sudah bisa menebak, hanya saja ia masih menunggu penjelasan Abimanyu. Karena Abi bukan termasuk orang yang suka berkomentar hal yang tidak penting.
__ADS_1
"Kalla," kata Abi, menoleh ke pria yang tengah memegang kemudi di sampingnya.
"Ah, sial! Kalau saja aku tidak ada meeting pagi ini, akan kukejar mereka!" runtuk Elang, kesal.
"Tapi paman ... Aku baru melihat Kalla dengan wujud wanita seperti tadi. Dan di dalam perut salah satu dari mereka ... ada janin!"
"Apa? Kau yakin?!"
"Yah, sangat yakin."
"Tunggu, Bi. Apakah kau bisa melihat seperti apa rupa janin dalam perutnya tadi?"
"Eum, tidak begitu jelas, karena terlalu jauh dari pandanganku, paman. Memangnya kenapa?"
Tin. Tin.
Lampu sudah berubah menjadi hijau, terpaksa Elang menghentikan diskusi ini dan segera menjalankan mobilnya.
"Akan sangat berbahaya, jika wanita tadi hamil anak manusia."
"Maksud, paman?"
Elang menoleh pada Abi, lalu berhenti tepat di depan cafe. "Kita harus membunuh janin itu! Segera. Karena jika sampai anak itu lahir, kekuatannya dua kali lipat dari 5 orang Kalla. Seperti dirimu! Kemampuanmu lebih hebat daripada ayahmu!"
Kunci terbuka, dengan ragu Abimanyu membuka pintu sampingnya. Pikirannya masih berkecamuk.
"Hei ... Ambil satu kotak makan ini. Tidak mungkin aku, memakan semua." Elang melempar satu kotak makan itu lewat jendela mobilnya. Lalu segera melajukan kendaraannya pergi.
"Kau juga sama gilanya, paman," gumam Abimanyu, menatap kotak makan yang ada dipelukannya.
_____
Elang sampai di depan pintu lobi kantornya. Ia disambut seorang security yang segera menundukan tubuhnya saat Elang turun dari mobil.
Pria itu melempar kunci mobil, dan pria dengan pakaian safari hitam itu dengan cekatan menangkapnya. Hal ini merupakan aktititas rutin setiap pagi yang mereka berdua lakukan.
Elang hanya mengangguk, membetulkan letak dasi di lehernya. "Suruh Kasim mencuci mobilku."
"Baik, Pak."
Keadaan lobi sudah ramai orang berlalu lalang dengan kesibukan masing-masing. Elang berjalan santai menuju lift yang ada di sudut ruangan yang di dominasi kaca tebal sebagai pembatasnya.
Antrean di depan lift mendadak menguar, saat salah satu pria menoleh ke belakang. "Pak Elang datang!" katanya dengan berbisik.
"Selamat pagi, Pak," sapa mereka bersamaan.
"Pagi." Kini Elang berdiri di depan pintu lift paling depan, dan orang-orang di sekitarnya menjaga jarak dengan sikap sungkan.
Pintu lift terbuka. Elang masuk. Sementara orang-orang di luar sana masih mematung. Elang terkenal sebagai seorang ceo yang dingin,dan kejam. Tidak ada satu pun pegawainya yang berani dekat-dekat dengannya, bahkan hanya dari sorot matanya saja seolah mampu membunuh mereka dengan segera.
"Kalian tidak mau masuk?" tanya Elang yang melihat orang-orang di depan lift mematung.
Seolah mendapat kejutan listrik, mereka tersadar dan segera masuk lift satu persatu.
Ruangan Elang ada di lantai 58. Lantai paling atas. Dan di lantai itu hanya ada ruangan miliknya, pantry khusus ceo, dan sebuah ruangan untuk meeting. Elang termasuk orang yang malas jika harus meeting di luar. Dia lebih suka kliennya datang sendiri ke kediamannya. Cukup angkuh, tapi semua kliennya selama ini sudah paham watak ceo itu, dan tentunya mereka akan menurut. Karena Elang memiliki kinerja kerja yang patut diacungi jempol. Tidak ada orang yang akan kecewa jika berbisnis dengannya. Hasilnya sudah sangat jelas terlihat, dengan perusahaannya yang kini berkembang sangat pesat.
Pintu lift dibuka, hanya ada dia seorang yang tersisa. Ia berjalan mantap di koridor lantai 59, menuju sebuah meja panjang dengan deretan kursi di sampingnya. Meja dengan papan nama Lian, dengan keterangan di bawah nama itu, sekretaris.
Mendengar bosnya datang, Lian beranjak dan menghentikan aktifitasnya. "Pagi, Pak Elang. "
"Pagi." Tanpa menoleh atau sekedar melempar senyum, ia terus berjalan masuk ke dalam ruangannya.
"Eum, maaf, Pak. Meeting pagi ini ditunda."
Elang berhenti, menoleh Lian dan menghembuskan nafas, kasar. "Buatkan aku kopi!" Ia kembali berjalan ke ruangannya.
Begitu pintu dibuka, aroma lapisan pertama yang timbul, langsung terhirup sampai ke ujung kepala dan bisa memberikan rasa lebih nyaman, segar, dan bahkan percaya diri bagi Elang. Aroma citrus. Aroma yang ia sukai dan tidak pernah ia ganti sejak pertama kali Elang berada di ruangan ini.
__ADS_1
Ia meletakkan asal, kotak makan yang sejak tadi ia bawa dan mampu menjadi buah bibir di kalangan karyawannya. Bisik-bisik itu berawal dari mereka yang satu lift dengannya. Elang peduli? Nyatanya sama sekali tidak. Ia tau, tapi tidak mau tau.
Ia menghempaskan tubuhnya di kursi kebanggaannya. Memutar pelan kursi hitam itu, dan otomatis tubuhnya ikut bergerak. Pikirannya menerawang jauh. Kejadian demi kejadian mengusik hati dan pikirannya. Ia lelah. Tapi, tidak boleh menyerah. Perjalanan masih panjang. Terlebih kini orang-orang yang ia sayangada di dekatnya. Membuat Elang jauh lebih bersemangat lagi.
Satu hal yang kini menjadi targetnya. Janin di perut wanita tadi. Ia berencana pergi ke toserba itu, karena wanita yang Abimanyu tunjuk memakai seragam yang sama dengan beberapa pegawai di sana. Akan sangat mudah menemukannya.
_____
"Maaf, Pak Elang, " Lian membuka pintu ruangan itu dengan ragu. Memasukan kepalanya ke dalam untuk mencari sang ceo. Sejak tadi panggilan telepon dan ketukan pintu darinya tidak mendapat reaksi dari pria itu. Lian khawatir terjadi sesuatu. Rupanya Elang sedang tertidur di sofa. Ia memang seperti kelelahan.
Jam menunjukan pukul 12.00, dan saatnya makan siang. Lian masuk dengan mengendap-endap, berusaha tidak menimbulkan suara yang akan membuat bos nya terbangun. Walau sebenarnya dia berniat membangunkan pria itu.
"Pak Elang? Pak. Bos. Bangun, Bos."
Lian mengguncang tubuh Elang perlahan, ditunggu beberapa lama Elang masih terlelap dalam tidurnya. Akhirnya karena tidak sabar, wanita itu berteriak memanggil Elang dan berhasil. Elang membuka matanya dan langsung mencekik Lian.
"Eugh! Pak... Ini saya," kata Lian yang hampir kehabisan nafas.
Elang segera melepas cengkraman tangannya. Dan membetulkan pakaiannya yang kusut. "Kamu! Hampir saja saya bunuh! Mengagetkan saja!" omel Elang, kesal.
"Maaf, Pak. Saya hanya memberitaukan kalau sudah jam makan siang, setelah ini Pak Elang akan ada meeting, " ucap Lian, tergagap.
"Argh! Ya sudah. Kamu makan siang saja dulu." Elang berjalan ke kursinya. Ia melepas dasi yang masih rapi ditempatnya. Membuangnya kasar. Saat ia menoleh ke meja kanan, kotak makan itu membuatnya teringat sang pembuatnya.
'Gadis bodoh. Untuk apa dia repot-repot membawakan bekal makan siang. Memangnya dia pikir aku tidak punya uang untuk makan di restoran?' gumamnya.
Otak berkata tidak. Namun tangan Elang justru kini menjulur dan meraih kotak makan itu. Ia penasaran atas makanan apa yang dibawakan Shanum.
Shanum membawakan rantang berisi 5 tingkat. Nasi, salad sayur, beberapa potong steak daging, sup jamur, dan buah-buahan yang sudah dikupas dan dipotong dadu. Senyum mengembang di bibir Elang. Kini ia menyantap habis semua makanan buatan Shanum. Perutnya yang keroncongan mulai diam karena mendapat asupan gizi yang cukup.
Elang mengelus perutnya, ia merasa buncit hanya memakan bekal makan siang itu. "Aku harus ke gym nanti."
_____
"Lian, jam berapa kita meeting?" tanya Elang melalui sambungan telepon.
"Pukul 13.30, Pak. Tapi... Klien kita minta meeting di coffe shop yang ada di ujung jalan."
Elang diam beberapa saat. Bayangannya menguar ke tempat yang Lian katakan. 'Coffe shop ujung jalan? Bukan, kah, itu.... "
"Ya sudah. Persiapkan dirimu, kita berangkat sekarang!" Elang menutup telepon dan segera memakai jas yang ia sampirkan di kursi.
Sementara diujung telepon sana, Lian masih tidak percaya kalau Bosnya langsung mengiyakan permintaan klien mereka. Tapi ia segera bergegas. Karena Elang tidak suka membuang waktu.
_____
Mobil terparkir di bahu jalan. Ia keluar diikuti Lian. Elang melepas kaca mata hitamnya dan menatap ke toserba yang ada di seberang jalan.
"Mari, Pak. Kita sudah ditunggu," ajak Lian dan sedikit membuyarkan lamunan Elang.
Meeting berjalan lancar. Elang dan kliennya kini sudah mengbrol santai dengan menikmati secangkir kopi espresso terbaik di tempat ini. Kliennya memang penyuka kopi, dan cafe ini merupakan salah satu cafe dengan kopi yang lezat. Sebenarnya Elang lebih suka menikmati kopi buatan Abimanyu, tapi dia memiliki tujuan lain menyetujui coffe shop ini.
Tawa Elang sirna, saat ia melihat wanita itu tengah menyebrang jalan, menuju cafe ini. Netra tajam Elang terus menangkap pergerakan wanita itu. Rupanya ia masuk ke cafe, menuju kasir. Menyodorkan beberapa lembar uang, dan tak lama petugas kasir memberikan pecahan uang yang cukup banyak. "Terima kasih," kata wanita itu dan segera keluar dari cafe.
"Lian...."
"Ya, Pak?"
"Kau ikuti wanita itu, dan cari tau identitasnya. Nama dan alamat! Hati-hati! " bisik Elang tanpa melepas pandangannya ke seberang jalan.
Lian yang mengerti instruksi Bosnya, langsung mengiyakan dan pergi ke toserba itu. Ini bukan hal pertama yang ia lakukan untuk sang bos. Selain menjadi sekretaris, Lian cukup lihat menjadi seorang informan.
Tak lama, Lian kembali dengan secarik kertas ditangannya. Ia segera menempatkan diri duduk di samping Elang. "Namanya kristin. Dia baru 3 bulan bekerja di sana. Ini alamatnya."
Smirk licik terpancar di wajah Elang saat mendengar informasi dari Lian.
"Ini akan jadi malam terakhirmu, wanita jahanam!" batin Elang.
__ADS_1