pancasona

pancasona
Part 142 Malam yang Mencekam


__ADS_3

Sinar mentari muncul dari ufuk timur. Hutan mendadak ramai karena penemuan mayat semalam. Pak Rahmat yang dikabarkan menghilang sejak tiga hari lalu akhirnya ditemukan. Dalam kondisi tewas mengenaskan. Sejak malam hilangnya Pak Rahmat, istrinya memang sudah melaporkan hal ini ke kepala desa. Warga seolah tidak terkejut atas penemuan mayat Pak Rahmat. Mereka terlihat biasa saja, hanya tetap menunjukkan ekspresi jijik dan ngeri saat melihat tubuh yang terkoyak itu.


Polisi datang dengan mobil ambulance untuk mengambil jenazah serta menyusuri TKP. Garis polisi melintang di sekitar penemuan mayat itu. Vin juga dimintai keterangan terkait saksi pertama yang melihat mayat tersebut. Juga Gio dan Abimanyu serta. Ternyata ini bukan penemuan pertama dalam satu bulan ini. Ini adalah mayat ketiga yang bernasib sama. Dua mayat sebelumnya adalah turis yang menginap di home stay. Sepasang suami istri yang sedang berbulan madu, ditemukan meninggal dengan kondisi yang sama seperti Pak Rahmat. Dugaan sementara yang polisi bisa pastikan adalah serangan binatang buas. Dan kini patroli kembali dikerahkan untuk mencari binatang buas tersebut.


Tiga pemuda penghuni rumah kayu dekat TKP, kini kembali ke aktivitas mereka. Kembali ke cafe yang sudah mereka tinggal untuk jangka waktu yang cukup lama. Banyak pekerjaan rumah yang harus Abi dan Gio selesaikan perihal cafe pancasona. Selama mereka pergi, cafe diurus oleh Maya, selaku orang kepercayaan Abimanyu. Ia tidak bekerja sendiri, dan merekrut beberapa karyawan lain yang bertugas di lapangan. Maya bagian menjaga kasir sesuai perintah Abi. Sementara 3 karyawan lain adalah orang baru semua. Cafe ini memang sering mengalami bongkar pasang karyawan. Sekarang hanya ada Maya, Joe, Rain, dan Marcel. Tiga pria itu adalah kawan dekat Maya saat sekolah dulu. Maya memperkerjakan mereka karena memang mereka layak dan butuh pekerjaan ini.


"Gimana, May? Cafe? Aman?" tanya Abi begitu masuk ke dalam tempat ini. Rumah kedua baginya yang sudah lama tak ia kunjungi. Gio masih ada di halaman depan, mengatur beberapa perabot dan kursi yang kurang tepat penataannya. Ia memang cukup teliti dan 'bawel' untuk urusan yang satu ini. Karena sejak awal renovasi, Gio-lah yang paling turut andil dalam pengerjaannya. Sampai meletakkan barang dan pajangan, Gio yang melakukannya. Abimanyu tidak terlalu memusingkan hal itu. Karena ia tau Gio memiliki selera yang bagus dan bidang arsitektur bangunan.


"Bang Abi?!" jerit Maya yang cukup terkejut dengan kedatangan sang pemilik cafe. Ia lantas berhambur memeluk Abimanyu yang selalu memasang reaksi sama, datar dan dingin. "Akhirnya pulang juga!" ujar Maya, melepaskan pelukannya lalu beralih ke Vin dan Gio yang masih ada di luar.


"Om Adi nggak ikut?" tanyanya. Dalam sekejap raut muka Abi berubah sendu. Matanya berkaca-kaca. "Paman Adi ... meninggal, May. Beliau nggak selamat kemarin," tutur Abi dengan menahan luka di hati, tenggorokannya tercekat dan berusaha terdengar normal saat menceritakan kronologi kejadian itu.


Maya langsung duduk begitu saja di kursi kasir, namun tatapannya kosong. Ia juga sedih atas kepergian Adi yang terkesan tiba-tiba dan dengan cara yang menyedihkan. Baginya, Adi juga salah satu keluarga di sini. Walau Adi dan Abimanyu terkesan mirip dalam bersikap, tapi Maya tau dibalik sikap cuek dan dingin mereka, dua orang pria itu juga memiliki hati yang lembut dan tulus. Adi juga sering membantu Maya selama ini. Saat Maya masih sekolah dulu, Adi sering mengantarnya pulang atau menjemputnya saat di sekolah. Memang bukan hal yang disengaja, hanya kebetulan Adi ada di jalan saat Maya pulang atau berangkat sekolah, tapi setidaknya tidak semua orang akan mau memberikan tumpangan pada anak gadis ingusan yang sangat cerewet dan menyebalkan seperti Maya. Dan hanya dua pria itulah yang mau meluangkan waktu mereka hanya untuk hal remeh seperti ini.


"Sudah. Jangan berlarut sedihnya. Doakan saja, semoga Paman Adi berada di tempat yang indah di sana. Mungkin memang Tuhan lebih sayang dia. Paman Adi sudah cukup banyak membantu kita, dan sekarang saatnya dia bahagia di sana, tanpa beban, tanpa syarat apa pun," tukas Abimanyu, menepuk bahu Maya, lalu memandang sekitar. "Hey, kamu nggak mau kenalin karyawan baru ke Abang?" tanya Abi, berusaha mengalihkan rasa sedih Maya. Maya lalu menyapu air matanya, dan menarik nafas panjang.


"Bentar, Bang." Ia beranjak dan memanggil 3 pria yang selama sebulan ini bekerja bersamanya di sini. Mengenalkan mereka pada CEO cafe, dan mengenalkan Abi pada karyawannya sendiri.


"Maaf kalau kalian baru bertemu saya sekarang. Beberapa waktu lalu memang saya banyak urusan. Tapi sekarang, saya sudah kembali dan ... ayo kita bekerja sama demi cafe ini!" kata Abi mengakhiri sesi perkenalan singkat itu.


Cafe Pancasona kembali ramai. Orang-orang selalu berdatangan silih berganti, seakan tak pernah sepi pengunjung, membuat cafe ini maju pesat dari sebelumnya. Abi harus mengembangkan bisnis ini dengan membuka lahan lagi. Ruangan indoor rasanya akan kurang jika keadaannya seperti sekarang, maka dari itu ia akan membeli lahan yang ada di samping cafe. Ia berencana membangun cafe lebih besar lagi. Tak perlu membuka cabang di tempat lain, karena lokasi yang ia punya sekarang sudah sangat strategis.


"May, tanah di sebelah siapa pemiliknya?" tanya Abi saat keadaan cafe lenggang. Maya mendongak karena saat ini sedang sibuk memisahkan nota penjualan. "Tanah ini?" tanyanya sambil menunjuk samping kanan cafe.


"Iya. Kayaknya Abang mau melebarkan cafe lagi. Ngeliat keadaan cafe sekarang, ramai banget. Jadi keliatan sempit. Pengunjung bakal kurang nyaman lama-lama."


"Bener banget, Bang. Kalau nggak salah itu punya Pak Yudistira."


"Yang mana orangnya?"


"Ih, ya ampun! Masa nggak tau? Itu loh tuan takur desa kita. Yang tanahnya di mana-mana!" tutur Maya setengah kesal. Saking cueknya seorang Abimanyu, ia bahkan tidak mengenal semua warga desa. Padahal Abi lahir dan besar di desa ini.


Abimanyu hanya ber-oh ria lalu berjalan ke belakang. Membuat Maya menarik nafas dalam-dalam sambil berucap, "Sabar, May. Ini ujian."


"May, siapa yang mindahin patung Semar di depan ke samping? Itu bikin hawanya nggak oke tau, nggak? Pindahin!" Tiba-tiba Gio masuk sambil mengomel yang membuat Maya hampir hilang kesabaran. "Ya ampun, Om Gio gimana sih?! Kan pas awal dateng Om Gio yang nyuruh dipindahin ke samping!"


"Masa sih?" tanya Gio yang kebingungan sendiri.

__ADS_1


"Tuhanku berikan aku kesabaran di tengah pria-pria pikun dan menyebalkan di tempat ini," kata Maya sambil menengadahkan kedua telapak tangannya ke atas seolah sedang berdoa. Sarkas, tapi Gio malah tertawa sambil mencubit kedua pipi gadis itu. Pria tua nan pikun itu kembali ke depan, halaman cafe dan kembali berkutat pada kesibukan sebelumnya. Bercocok tanam.


Pintu cafe mulai dipasang papan bertuliskan "Close". Menandakan tempat ini akan segera ditutup. Pengunjung mulai menyelesaikan makan mereka dan satu persatu beranjak pulang. Sebelum pulang selalu diadakan briefing harian guna membahas semua hal yang berkaitan penjualan dan suka duka yang dialami seharian. Beberapa keluhan akan diungkapkan tiap karyawan dan jika memang bisa diselesaikan bersama maka akan dicari solusi terbaiknya. Agar mereka nyaman dan tidak berat bekerja di cafe ini. Contohnya saja, Saat Rain yang kesulitan membereskan meja kotor yang ditinggalkan pengunjung, maka esoknya Joe juga akan bertugas membantu Rain. Atau keluhan atas pengunjung yang selalu bersikap tidak menyenangkan pada masakan Marcel, maka Maya akan menggantikan Marcel dalam menyiapkan pesanan orang itu. Mereka saling mengisi dan melengkapi agar terus mempertahankan cafe Pancasona.


"Kalian tau kasus penemuan mayat Pak Rahmat?" tanya Vin memulai pembicaraan setelah briefing selesai.


"Oh, iya, Bang. Ngeri! Tadi pas berangkat saja gue sempet ngeliat. Astaga. Nggak nafsu makan deh habis itu," kata Joe mengingat kejadian pagi tadi.


"Memangnya kalian nggak denger suara aneh begitu, Bang? Kan kejadiannya di dekat rumah Bang Abi?" tanya Rain penasaran. Wajar pertanyaan itu terlontar dari mulutnya, karena memang lokasi penemuan mayat sangat dekat dengan rumah Abimanyu.


"Heh! Kan kejadiannya mungkin sudah agak lama kata Pak Kades, mayatnya sudah lama di sana," bela Maya.


"Tunggu! Seberapa banyak kalian tau soal kasus ini? Katanya Pak Rahmat bukan korban pertama?" tanya Abimanyu. Ia memang ingin mendengar lebih rinci dari pandangan orang lain tentang masalah ini.


"Iya, Bang. Waktu korban pertama itu, saya ketemu mereka beberapa jam sebelum mereka ditemukan meninggal." Marcel angkat bicara, membuat mereka penasaran.


"Jam berapa elu ketemu dia, Cel?" tanya Gio yang duduk di dekat jendela sambil menyulut rokok.


"Sekitar jam-jam pulang kerja gini, Om. Kan saya kalau pulang jalan kaki, nah papasan sama mereka. Sempet saya dengar obrolan mereka waktu itu. Katanya si istri ngerasa denger suara berisik di belakang rumah. Dia ketakutan, dan mereka itu kalau nggak salah dalam perjalanan ke rumah Pak Kades buat lapor."


"Suara berisik yang kayak bagaimana? Kamu tau?"


"Terus?"


"Ya terus saya lanjut pulang. Eh besoknya mereka diketemukan sudah meninggal. Serem!" kata Marcel sambil bergidik ngeri.


"Menurut kalian apa yang membunuh mereka sampai mayatnya kayak gitu?" tanya Abimanyu serius.


"Kok Bang Abi nanyanya, apa? Bukan siapa?" Maya mulai menyadari ada hal yang tidak beres di desanya, melihat reaksi Abimanyu yang seperti itu.


"Yah, karena kalau manusia nggak akan bisa melakukan perbuatan seperti itu, May," jawab Abi santai.


"Mendingan mulai besok cafe ditutup lebih cepat, Bi. Kasihan mereka kalau pulang kemaleman, kita nggak tau sedang terjadi apa di desa kita, kan?" ujar Gio memberikan saran.


"Iya, Paman. Memang itu yang Abi pikirkan tadi."


Akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing. Karena kejadian penemuan mayat Pak Rahmat, jalanan desa terasa lebih sunyi dari biasanya. Orang-orang merasa takut jika bepergian malam-malam. Mereka memilih tinggal di dalam rumah jika memang tidak ada kepentingan yang sangat mendesak.

__ADS_1


"Maya biar Abang anter pulang. Paman sama Vin bisa pulang bareng Marcel, kan? Kalian bisa lewat jalur yang searah," kata Abi memberikan pilihan yang paling aman. Karena Joe dan Rain pulang bersama menaiki sepeda. Rumah mereka bersebelahan, jadi setidaknya mereka tidak pulang sendiri-sendiri.


Abi pergi ke arah yang berlawanan dengan Gio dan Vin. Mereka memang bertanggung jawab atas keselamatan karyawan cafe, khususnya. Jangan sampai salah satu dari mereka bernasib sama seperti Pak Rahmat.


Abi dan Maya mulai berjalan santai melewati jalanan beraspal yang masih terlihat baru. Pengaspalan jalan dilakukan 3 minggu lalu karena jalan di desa ini sudah banyak yang berlubang. Mereka berjalan sambil terlibat obrolan ringan. Abi banyak bertanya tentang keadaan cafe saat ia tinggalkan. Maya yang memang memiliki kepribadian ramai dan supel, mudah menceritakan semua hal yang terjadi di desa sejak Abi pergi.


"Jadi Bang Abi mau beli tanah itu? Tanah Pak Yudistira?"


"Iya. Mungkin besok Abang ke rumahnya. Buat tanya-tanya lebih jauh. Kita butuh memperluas cafe, kan, May?"


"Iya, sih. Apalagi sekarang cafe emang makin ramai."


"Ssst!" desis Abi ke Maya yang hendak melanjutkan perkataannya tadi. "Kamu dengar itu?"


Suara lolongan anjing terdengar dari kejauhan, membuat Maya makin merapatkan tubuhnya ke Abimanyu. Bukan lolongan anjing itu yang menjadi alasan Abi berhenti. Tapi suara berisik di sekitar mereka. Abi mendengar suara orang yang berlari dengan cepat. Dan secara samar ada suara geraman yang khas. Tapi sayangnya Maya tidak mendengar hal itu. Maya justru fokus pada suara lolongan anjing yang berada jauh dari mereka.


Sebenarnya suara lolongan anjing adalah hal yang sering di dengar di daerah ini, hanya saja mengingat ada kejadian penemuan mayat baru-baru ini, membuat semua orang ketakutan pada hal-hal yang sebenarnya sudah ada sebelum kejadian ini ada.


"Argh!" suara jeritan seseorang terdengar nyaring dari tempat Abi dan Maya berdiri. Mereka sontak saling pandang dan berpikir hal yang sama. Siapa dan ada apa di sana.


Seseorang kini terlihat berlari ke arah mereka, membuat Abi menyuruh Maya bersembunyi di belakang tubuhnya, sementara Abi bersiap dengan kuda-kudanya. Perlahan sosok yang mendekat itu makin jelas, dan rupanya itu adalah Lulu, tetangga samping rumah Maya. Maya yang dari awal bersembunyi hanya mengintip dari balik punggung pria kekar itu, lantas terkejut dan keluar dari tempat persembunyiannya. "Lulu?!" jeritnya disertai nada bertanya. Lulu yang melihat mereka berdua terlihat lega dan mempercepat larinya. Abi dan Maya ikut mendekat agar langkah gadis itu bisa cepat mereka lampaui.


"Kenapa, Lu?" tanya Maya begitu dekat dengan gadis itu. Ia menangkap tubuh Lulu yang terlihat sangat lemas akibat berlari. Entah sejak kapan Lulu berlari dan sudah berapa jauh ia berlari. Dan pertanyaan paling penting, apa yang ia hindari.


"Itu! Itu!" kata Lulu menunjuk belakangnya. Maya dan Abi melihat ke arah yang Lulu tunjuk, namun tidak menemukan apa pun juga.


"Itu apa? Ngomong yang jelas!" cecar Maya dengan tidak sabaran.


"May ...." Abi menyuruh Maya lebih pelan dalam menanyakan hal itu. Karena wajah Lulu sangat pucat dan seperti ketakutan sekali.


"Lu ... kamu kenapa lari?" tanya Maya, kali ini lebih lembut.


"Ada yang ngikutin aku, May. Serem banget. Aku takut!" rengek Lulu menangis sejadi-jadinya.


"Serem? Serem bagaimana? Kamu lihat bentuknya?"


"Lihat. Dia muncul dari hutan. Terus ngejar aku tadi. Walau gelap tapi aku bisa jelas lihat dia!"

__ADS_1


"Hewan?" tanya Abi. Lulu menoleh dengan tatapan heran, "Kok hewan? Manusia, Bang!"


"Apa? Manusia?"


__ADS_2