pancasona

pancasona
Part 126 teror


__ADS_3

Abi membuka mata, tepat saat Faizal masuk toilet. Ia mengernyitkan kening, saat merasakan sesuatu yang aneh. Abi menoleh ke tempat duduk Vin dan Allea, mereka masih ada di tempatnya tengah terlelap sambil saling memeluk satu sama lain. Abi tersenyum. Di sampingnya ada Ellea yang juga sudah memejamkan mata dengan headset yang menyumpal kedua telinganya. Abi menarik selimut untuk menutupi Ellea, kemudian beranjak.


Menatap ke kursi Faizal yang kosong. Ia lantas tengak tengok mencari keberadaan rekannya itu. Satu tempat yang ada dibenaknya adalah toilet.


"Jangan-jangan yang tadi barusan masuk toilet," gumam Abi. Ia lantas berjalan menuju toilet, karena memang harus buang air kecil yang sudah ditahan sejak beberapa menit lalu.


Ia mulai berjalan memasuki lorong dekat toilet. Ada 3 toilet yang tersedia, dua toilet menunjukan kosong, tidak ada yang menempatinya, dan yang 1 toilet ada isinya, yang pasti itu Faizal. Abi sangat yakin. "Zal, lu di dalem?" tanya Abi mengetuk pintu itu sekali.


Hening.


Tidak ada sahutan sama sekali. Hal itu terasa aneh bagi Abi, mengingat ia sangat yakin melihat seseorang masuk ke dalamnya, dan kursi Faizal kosong, menandakan pemiliknya pasti ada di dalam toilet. Tidak ada tempat lain di pesawat ini selain toilet tentunya.


Abi mengernyitkan kening. Mendekatkan telinganya ke pintu. Ia merasa ada yang aneh. Lalu Abi memutuskan masuk ke toilet yang ada di sampingnya. Menutupnya dengan mengeraskan suaranya. Ia lantas menuntaskan hajat nya, menekan tombol flush, dan keluar dari toilet itu.


Bugh!


Suara berdebum terdengar  jelas dari dalam toilet. Di dalam sana, Faizal tengah berjuang hidup dan mati dengan sebilah pisau di lehernya. Ia mencoba menahannya sebisa mungkin. Walau lehernya sudah terkena sayatan pisau itu sejak awal masuk ke toilet ini. Darah sudah mengalir, tapi tidak mengucur deras, hanya menetes hingga kerah kemejanya terkena bercak merah itu.


Suara nafas yang tertahan terdengar sampai luar toilet. "Lepas!" bisik Faizal terus menahan agar pisau itu tak menyayatnya lebih dalam. Karena akibatnya akan fatal, bukan hanya lehernya yang akan berdarah, tapi tenggorokannya akan putus, tentunya ia pasti mati sebelum sampai di tanah air.


Pria di depannya, menyeringai. Mencoba menekan pisau yang sudah ada di dekat leher Faizal makin dalam. Tubuhnya memang cukup kekar, berotot, berbanding terbalik dengan Faizal yang bertubuh kurus dan tidak lebih tinggi dari orang di depannya. Ia tidak tau, siapa orang akan membunuhnya ini. Tapi siapapun dia, pasti menginginkan flash disk itu dan kematian Faizal tentunya.


Saat pisau itu hanya tinggal beberapa inci saja, pintu di dobrak dengan sekali tendangan oleh Abimanyu. Pemuda itu, menarik satu sudut bibirnya. Kemudian mendorong orang yang hampir membunuh Faizal, hingga membentur closet duduk di belakangnya.


"Keluar!" suruh Abi melirik ke sudut di mana Faizal masih diam, memegang lehernya sambil batuk-batuk.


Faizal keluar dari tempat sempit itu dengan tergesa-gesa hingga ia terjatuh saat di luar. Beberapa penumpang melongok dari tempat duduk masing-masing karena mendengar keributan di toilet. Tak lama dua orang pramugari mendekat dan membantu Faizal. Mereka sedikit terkejut melihat luka di leher pria itu. Satu orang pramugari itu, mencoba menenangkan penumpang lain, dan menjelaskan situasi yang terjadi.


Pramugari lain, membantu mengobati luka Faizal. Sementara itu di dalam toilet masih terjadi baku hantam yang cukup sengit. Dengan kondisi tempat yang sempit membuat pergerakan mereka terbatas. Saling pukul dan tendang, hingga saat Abi tersungkur, pisau yang tergeletak di lantai, di ambil oleh orang itu. Ia hendak menyerang lagi, tapi sebuah tendangan membuatnya kembali terjungkal ke belakang.


"Kurang ajar lu! Nyerang temen-temen gue!" kata Vin dingin. Ia melirik Abi dan membantunya berdiri, " Inget, ini di udara, nggak ada tanah."


Abi hanya tersenyum lalu menyeret orang tadi keluar. Mereka mengikatnya di salah satu kursi yang masih kosong. Dan, menjadi detektif dadakan. Penasaran siapa yang menyuruhnya dan ini adalah kesempatan mereka bisa mengorek info lebih dalam.


Faizal kembali dengan leher yang di perban. Orang tadi yang sudah diikat menatap benci pada mereka bertiga.


"Gimana? Ngaku nggak dia?" tanya Faizal. Vin menggeleng, sementara Abi masih menatap pria rambut pirang itu dingin.


Vin berdiri, mendengus sebal. Dan mempersilakan Faizal untuk menggantikannya. Kini Faizal yang duduk di depan orang itu. Kembali pertanyaan yang sama ia lontarkan, sama seperti Vin tadi. Tapi, pria itu tiba-tiba memakan liontin kalung nya. Abi sontak berusaha melepaskan tangannya, kaget dengan sikapnya yang tiba-tiba itu.


"Ngapain dia?!" tanya Abi panik.


"Racun! Dia minum racun?!" kata Faizal.


"Apa?!"


Dan benar saja, dalam hitungan detik, ia kejang-kejang, mulutnya berbusa dan hanya membutuhkan lima menit, wajahnya sudah pucat pasi dengan warna biru yang samar. Ia tewas.


"Damn!" umpat Vin, menjambak rambutnya sendiri.


"Ini biasa terjadi. Di film. Pasti mereka punya racun, jika ada di saat genting akan mereka minum, demi menjaga rahasianya," tutur Faizal dan mendapat tatapan tajam Abi.


"Film? Astaga!"


_______

__ADS_1


Pesawat landing dengan mulus. Akhirnya mereka tiba juga di Bandara Soekarno Hatta. Kabar kepulangan ini memang sengaja dirahasiakan dari siapapun. Tidak ada yang tau, maka tidak ada orang yang datang menjemput mereka sekarang.


"Elu gimana, Zal? Pulang atau ikut kita?" tanya Abi saat mereka sudah sampai di Crub.


Crub adalah bagian dimana penumpang akan naik dan turun dari kendaran menuju atau meniggalkan bandara.


Faizal menatap Alexandre Christie silver yang melingkar dipergelangan tangannya, benda itu juga sudah menemaninya selama dua tahun terakhir. "Kayaknya pulang dulu deh. Gue kangen rumah. Nanti gue ke tempat kalian, kalau udah kelar urusan di rumah."


"Oh ya udah. Tapi ... Hati-hati, Zal. Lu tau kan mereka benar-benar pengen bunuh kita. Buktinya di pesawat tadi ...," jelas Vin. Mereka bersalaman sebelum benar-benar saling melepas kepergian masing-masing. Faizal sudah naik taksi dan melesat pergi dari Bandara sejak 15 menit lalu.


"Kita gimana?" tanya Vin, yang memang tidak tau harus ke mana. Tempat aman yang mungkin bisa menyembunyikan mereka sementara waktu.


"Eum, ke rumah gue aja! Siapa tau paman Gio bisa bantu kita."


Mereka berempat menghentikan sebuah taksi dan pulang.


Indonesia. Abi lupa kapan terakhir kali ia meninggalkan negeranya. Beberapa bulan terakhir ini cukup berat baginya. Berada di negeri orang dengan musuh yang tidak tau siapa dan di mana, membuatnya hampir celaka beberapa kali. Ia membuka kaca jendela di samping. Duduk di samping supir yang terlihat sudah berumur. Mereka akan pergi ke stasiun kereta, karena perjalanan ke desa Abi cukup jauh dari ibukota.


Vin dan dua gadis kembar itu, duduk di jok belakang. Abi menghirup udara di luar dalam-dalam. Mengisi paru-parunya dengan oksigen yang ada di tanah airnya. Terasa berbeda baginya. Lebih menenangkan walau sebenarnya ia akui, kalau Venesia lebih minim asap knalpot. Mungkin karena dia tidak berada di pusat kota kemarin. Tapi, Abi lebih menyukai udara di sini. Indonesia. Dengan Segal hiruk pikuknya keramaian ibukota, suara bikin klakson kendaraan yang berebut jalan, teriakan pengemudi yang sudah lelah karena harus terjebak macet selama beberapa jam. Yah, itulah Indonesia. Tapi ia cinta tanah airnya. Apa pun yang terjadi.


Mereka sampai di stasiun, segera keluar dari taksi setelah membayar terlebih dulu argo yang cukup banyak. Ellea segera Abi gandeng di tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang tas milik gadisnya dan punggungnya ada tas miliknya.


Vin dan Allea berjalan di belakang mereka, tapi masih malu-malu untuk mempraktekan seperti pasangan di depan mereka. Kemesraan yang memang wajar ditunjukan dari pasangan kekasih. Tetapi, Allea dan Vin belum menentukan seperti apa hubungan mereka sebenarnya. Walau terlihat jelas, baik Vin dan Allea sama-sama menaruh rasa yang sama.


Mungkin mereka tidak ingin terburu-buru. Atau masih sama-sama malu.


Kereta sedikit lenggang. Ada beberapa kursi yang terlihat kosong. Mereka duduk berdampingan. Perjalanan ke rumah Abi membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam lamanya.


"Biyu, kamu nggak kasih kabar Gio sama Adi? Kalau kita pulang hari ini?" tanya Ellea sambil menyuapi kekasihnya dengan sepotong roti yang mereka beli di stasiun tadi. Abi menggeleng sambil menguyah sobekan roti dari tangan Ellea.


"Selama di Venesia malah aku nggak kasih kabar mereka. Cuma pas sampai aja."


"Sekali, Paman Adi ngirim pesan. Tanya soal kamu. Tapi aku sibuk, nggak sempat balas."


"Kamu ini! Kalau mereka khawatir gimana, Biyu. Kasihan, pasti mereka kepikiran kamu!" omel Ellea. Yang malah ditanggapi dengan senyum lebar pemuda di sampingnya. Ia justru mencium punggung tangan Ellea dan berhasil membuatnya diam.


Perjalanan selama 2 jam tidak lagi menyenangkan. Karena baik Abimanyu dan Vin tetap waspada akan bahaya di sekitar. Mereka tidak mau hal seperti di pesawat terulang lagi di dalam kereta ini. Abi iseng memperhatikan sekeliling, dan mencoba mencari orang yang mungkin mencurigakan. Sama halnya dengan Vin. Mereka terlihat kompak, lalu saling mengangkat bahu, pertanda keadaan masih terkendali.


"Vin, aku mau toilet dulu," kata Allea yang otomatis menyuruh pemuda itu menyingkir karena ia harus keluar dari tempat duduk nya.


"Aku anterin," sahut Vin bersiap berdiri.


Tapi Allea langsung menatapnya tajam. "Nggak usah! Ngapain. Keliatan kok itu toiletnya."


"Tapi, kan ...."


"Udah ah. Aku bisa sendiri. Pokoknya kalau ada yang ndeketin aku nanti, baru kamu bertindak. Oke?" pinta gadis itu sambil mengerdilkan sebelah matanya.


Vin menarik nafas panjang, dan kembali duduk. Matanya tak lepas dari pintu di tengah gerbong. Toilet di mana Allea berada. Lima menit hingga 10 menit gadis itu tak kunjungi keluar, membuat Vin uring-uringan.


"Sana cek coba," suruh Abi yang mengetahui kegelisahan sahabatnya.


"Jangan ah, nanti gue di omelin lagi." tolak Vin dalam keadaan serba salah.


Ia mencoba tenang dan berfikir positif, sampai tiba-tiba pintu itu dibuka, dan anehnya yang keluar dari ruangan itu bukanlah Allea, tapi wanita lain.

__ADS_1


"Loh! Allea mana?" pekik Vin langsung beranjak dari duduknya dan menahan tangan wanita yang baru saja keluar.


Hal itu membuat Abi ikut cemas, ia bersama Ellea mendekat ke toilet.


"Heh! Mana Allea?!" tanya Vin dengan emosi.


"Allea? Siapa? Maaf saya nggak tau!" kata wanita dengan rambut blonde ikal itu.


Ellea mendekat ke pintu toilet. Mencari keberadaan saudara kembarnya. Abi mengikutinya dan mereka kebingungan karena tidak menemukan Allea di sana.


"Kok nggak ada, Biyu?! Mana Allea?" tanya Ellea panik. Abi mendekat ke jendela dan memeriksa. "Nggak mungkin keluar dari jendela ini. Pasti masih ada di sekitar sini, Ell!"


Suara Vin yang emosi di luar terdengar sampai dalam. Ellea keluar dan memberitaukan pada Vin kalau Allea tidak ada di dalam.


"Jangan buat gue kasar ke elu, ya! Mana Allea?! Jelas-jelas tadi gue liat dia masuk ke dalem sana," jerit Vin menunjuk pintu toilet yang terbuka. Keadaan ini membuat sedikit keributan di gerbong mereka. Beberapa orang yang penasaran berdiri, bahkan ada beberapa yang mendekat dan bertanya permasalahan yang sebenarnya. Ellea mencoba menjelaskan dengan hati-hati, sementara Vin masih terus menekan wanita itu untuk mengaku.


"Vin, sabar," bujuk Ellea, menahan lengan pemuda berotot itu. Walau ia tau tenaganya tidak sebanding dengan Vin. Mata Ellea menangkap hal aneh yang terasa familiar. Sejurus dengannya, wanita itu langsung mengambil kalung yang melingkar di lehernya. "Vin kalungnya!" jerit Ellea lalu menarik tangan wanita itu dan membuat liontinnya terlepas dan jatuh ke lantai. Vin melotot saat melihat liontin yang sama seperti pelaku di pesawat tadi. "Elu!" Vin makin emosi dan menekan tubuh wanita itu, membuatnya kesakitan.


Penumpang lain ada yang merasa iba tapi juga kesal dan bingung yang bercampur menjadi satu. Ini memang hal aneh jika sampai ada orang hilang di dalam kereta pada saat masuk ke toilet. Kasus yang jarang terjadi.


"Vin! Allea ketemu!" jerit Abimanyu dengan suara yang terdengar samar. Vin melepas wanita tadi dan menyusul Abi ke dalam diikuti Ellea dan beberapa orang lain.


Mereka menoleh dan mencari keberadaan Abi di sekitar, bingung karena tak menemukan keberadaan pemuda itu, tapi seseorang menunjuk ke atas dan berteriak. "Itu di sana!"


Vin mendongak dan melotot saat melihat tubuh Allea tak berdaya. "Bantuin gue! Pegangin Allea!" jerit Abi. Vin mendekat dibantu beberapa orang di luar.


Sampai di bawah, gadis itu terlihat pucat dengan wajah sedikit biru.


"All? Allea?" panggil Vin sambil menepuk dan menggoncang goncangkan tubuh lemah di pangkuannya. "Dia kenapa, Bi?!" tanya Vin panik. Abi menggeleng dan sama cemas nya.


Namun, seseorang mendekat dan memeriksa kondisi Allea. Dari denyut nadi dan jantung. Ia menyuruh wanita di belakangnya mengambil tas miliknya. Rupanya ia seorang dokter.


"Dia keracunan!" kata pria setengah baya itu.


"Apa? Terus gimana?"


"Hm, sebentar. Tolong ambilkan air minum! Dan yang lain bisa beri kami udara? Kalian bisa kembali ke tempat duduk kalian!" perintahnya dan benar-benar mujarab. Ellea datang dengan botol air mineral, sementara pria dengan kemeja kotak-kotak itu mengambil obat dari dalam tasnya.


"Oh sial! Perempuan tadi mana, Vin?!" tanya Abi yang baru menyadari pelakunya kabur.


"Astaga! Kabur!"


"Kita tolong Allea dulu yang penting!" kata Ellea.


Pria itu memasukan beberapa pil obat ke mulut Allea, dan meminumkannya bersama air mineral tadi. Mereka bersama-sama membuat agar obat tadi masuk ke perutnya.


"Anda dokter?" tanya Ellea penasaran. Pria tadi mengangguk.


"Itu obat apa?" tanya Vin.


"Ini untuk mencuci perutnya, agar racun apa pun yang ia minum bisa keluar. Setidaknya ini pertolongan pertama sekarang. Kita ada di kereta, tidak mungkin menghentikan benda ini ditengah hutan, kan?" tanyanya dengan menunjuk jendela dengan barisan pohon tinggi di luar.


Beberapa menit ditunggu akhirnya Allea batuk-batuk, Vin mengangkat tubuh Allea saat melihat gadis itu akan muntah. Obat itu bekerja, menyelamatkan nyawa Allea. Setidaknya Allea selamat sekarang, walau pelakunya kabur.


"Gue coba cari perempuan itu!" kata Abi. Tapi Allea menahan tangannya, lalu menggeleng. "Biar aja, Biyu. Percuma."

__ADS_1


"Kalian ini siapa sebenarnya? Musuh kalian mengerikan!" tukas dokter itu.


"Yah, kami berkali- kali hampir mati, Dok. Ngomong- ngomong ... Terima kasih."


__ADS_2