
Fauzan mulai berjalan menghampiri Pak Wiryo. Di tangannya sudah ada sebuah patung ukiran kayu yang berlumuran darah. Benda tersebut telah menjadi senjata Fauzan untuk melukai teman-temannya.
Pak Wiryo sudah bersiap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Dia sadar kalau orang yang sedang dihadapinya justru yang lebih berbahaya daripada iblis. Fauzan sama sekali tidak kesurupan. Perilaku nya yang kerap berubah-ubah, adalah karena pikirannya sendiri yang jahat. Fauzan memiliki masalah pada mentalnya. Seharusnya dia pergi ke psychiater. Tapi dia justru menganggap kalau tindakannya adalah hal yang benar. Seperti yang dikatakan oleh Pak Wiryo, Fauzan memang menyembah iblis yang terkurung di sumur hutan terlarang. Tapi Fauzan sama sekali tidak pernah kesurupan. Semua yang dia lakukan selama ini atas dasar kesadarannya sendiri. Pak Wiryo yang sejak awal melihat hal itu belum berani untuk mengambil keputusan. Karena dia belum yakin pada apa yang dia pikirkan.
Pak Wiryo bahkan tidak menyangka kalau ada manusia sejahat Fauzan. Dengan gerakan cepat Fauzan menghantamkan patung di tangannya ke arah Pak Wiryo. sontak pak Wiryo jatuh dengan kepala yang berdarah. Warga yang menyaksikan hal itu lantas berusaha untuk membantu. Hanya saja kekuatan yang Fauzan miliki yang sangat kuat. Sehingga mereka semua pun dengan mudah yang dikalahkan.
Kondisi Pak Wiryo dan warga desa sudah lemah. Rea, Diah, dan Leni mulai ketakutan karena kini tidak ada orang yang bisa mereka andalkan untuk melumpuhkan Fauzan.
"Zan, Sebenarnya kamu kenapa sih. Salah kami apa, Zan. Kenapa kamu bisa tega melakukan hal ini kepada kami. Kalau ada masalah kan kita bisa bicarakan baik-baik," ucap Rea berusaha untuk menyadarkan Fauzan.
" salah kalian apa? Sebenarnya kalian nggak punya salah apa-apa. Gue cuman sama kalian semua sikap sok jagoan, sok hebat, terutama dia. Fans berat lo," tunjuk Fauzan ke arah Dana.
" Zan mungkin ini cuman salah paham. Kami nggak seperti apa yang kamu pikir. Bahkan kami semua sudah menganggap kamu bagian dari tim kami. Kita bisa ikut segala kegiatan sama-sama. Kita juga bisa kerjasama nanti saat masuk kuliah. Enggak ada orang yang sok jagoan atau merasa paling hebat diantara yang lain. Kami semua menganggap semuanya sama. Nggak ada yang menonjol dan yang paling hebat. Kalau kamu mempermasalahkan Dana yang menjadi ketua tim kita, kami minta maaf kalau kamu enggak setuju Dana jadi ketua kita. Dana dipilih warna diantara kita semua dia yang paling bisa menjadi pemimpin karena dia orang yang bisa berpikir jernih di saat keadaan sedang kacau, Dana juga sudah terbiasa bekerja di dalam organisasi. Ketua OSIS tapi aku yakin kalau dana enggak pernah berniat untuk menjadi sok jagoan atau sok memimpin. Tapi kalau kamu nggak suka dana jadi ketua kita, kita bisa gantikan dia. Atau kamu mau jadi pemimpin kita? Kami nggak masalah kok."
" omong kosong! Sudahlah kalian semua itu sama saja. Memang kalian lebih pantas jadi tumbal iblis itu. Tenang saja kalian semua akan menjadi tumbal tinggal menunggu giliran saja."
"Zan, kamu itu yang suka omong kosong! Justru semua omongan tadi itu lebih tepatnya ditunjukkan ke kamu, Zan. Kamu itu sok jagoan, sok paling bisa segalanya. Tapi sebenarnya kamu nggak punya kemampuan apapun. Kam cuman sirik aja sama Dana. Dasar benalu!" sergah Diah. Yang berhasil memicu amarah Fauzan.
"Oke. Loh jadi giliran pertama yang gua antar ke sumur itu!" kata Fauzan lalu mendekati Diah.
__ADS_1
Rea dan Leni berteriak dan berusaha menahan Fauzan agar tidak mendekati Diah. Hanya saja kedua Gadis itu tentu tidak bisa melakukan apapun. Diah yang mulai ketakutan hanya bisa mematung. Fauzan langsung mencengkram rambut dia dan menyeretnya keluar dari rumah."
Dia menjerit kesakitan sambil memegangi rambutnya. Sementara Fauzan terlihat tanpa ekspresi dan berjalan begitu saja keluar.
Rea dan Leni terus mengikuti Fauzan. Mereka menjerit dan membuat kehebohan di luar. Rea juga berusaha untuk melepaskan tangan Fauzan dari rambut Diah. Bahkan Leni mengambil sebuah balok kayu dan memukulkannya ke kepala Fauzan. Hanya saja Fauzan tidak merasakan apapun dan terus berjalan tidak memedulikan gangguan di sekitarnya. Beberapa warga desa yang terbangun karena suara berisik tidak berani untuk menolong mereka. Ada dua orang yang mendekat berniat untuk menolong para gadis itu. Hanya saja berakhir dengan tidak baik. orang orang itu terluka hanya dengan sekali pukul. Rea dan Leni tidak pantang menyerah dan terus mengikuti Fauzan Dan Dia. Sampai akhirnya tiba tiba Fauzan berhenti berjalan.
Leni dan Rea yang sejak tadi tidak memperhatikan jalan, lantas menatap ke Jalan depan mereka. Lebih tepatnya ke arah Fauzan menatap. Entah datang darimana ada dua orang pemuda yang Menghadang perjalanan mereka.
"Mba, apa kalian melihat Bapak kami? Kata Ibu, Bapak pergi sama kalian tadi?" tanya yang mereka kenal sebagai putra Pak Wiryo. Mereka memang sempat bertemu di hutan kemarin, dan Pak Wiryo mengenalkan pemuda itu sebagai putranya. Hanya saja pemuda satunya masih asing bagi mereka bertiga. Dilihat dari wajah dan postur tubuhnya, dia terlihat lebih tua dari mereka bertiga.
"Itu, Bapak sama temen-temen saya masih di rumah. Mereka terluka," jelas Leni sambil menunjuk arah rumah home stay dan menatap Fauzan sebagai sebuah isyarat.
"Astagfirulloh! Mas, aku lihat bapak dulu, ya." Radi menatap pemuda di sampingnya yang sejak tadi tampak tenang.
"Iya, Mas."
Radi segera berlari kembali ke Home Stay. Fauzan kembali berjalan masih sambil menjambak rambut Diah.
"Hentikan! Lepaskan wanita itu!" suruh nya tegas.
__ADS_1
"Siapa kamu? Tidak usah ikut campur masalah orang lain. Lebih baik kau mundur saja atau kau akan bernasib sama seperti yang lain," ancam Fauzan.
" Benarkah? Lebih baik kau jangan sombong dulu dengan perkataanmu. Jika kau ingin membawa gadis itu, langkahi dulu mayatku!"
Mendapat tantangan seperti itu, Fauzan tampak antusias. Dia kini melepaskan Diah, dan mulai menghadapi lawannya.
Rea dan Leni segera menolong Diah dan membawanya menjauhi 2 orang itu. Fauzan pun melawan pemuda di depannya. Sejauh ini Fauzan Akhirnya bisa menemukan lawan yang sepadan. Pemuda itu tampak sama kuatnya dengan Fauzan.
Bahkan sampai sekarang keduanya belum ada yang terluka sama sekali. Hal ini menjadikan pertarungan tersebut terlihat seru. Ketiga gadis yang menyaksikan hal tersebut berharap pemuda itu bisa melumpuhkan Fauzan. Karena jika sampai Fauzan yang menang maka nyawa mereka pun akan terancam.
"Siapa dia, ya? Rasanya aku baru lihat?" tanya Rea sambil terus menatap pemuda itu.
"Sama. Mungkin salah satu warga sini juga, cuma kita baru lihat sekarang."
Hanya dalam beberapa menit saja, akhirnya pemuda itu pun berhasil melumpuhkan Fauzan. Baru kali ini mereka melihat Fauzan kewalahan menghadapi lawannya.
"Tolong ambilkan tali!" pinta pemuda itu pada warga sekitar yang mulai berdatangan menjadikan ini tontonan.
Fauzan akhirnya diikat oleh pemuda itu yang tampak sudah lemas setelah bertarung dengan lawan yang sepadan dengannya.
__ADS_1
"Saya sudah menghubungi kantor polisi. Dia harus di adili. Tidak ada unsur gaib atau pun setan demit lainnya. Semua murni karena niatan dia mencelakakan kalian.
Rea menatap pemuda itu lekat lekat. Ada debar aneh yang ia rasakan saat menatapnya.