
"Apa? Apri jugaaa?" tanya Blendoz benar benar terkejut.
Dia langsung menoleh ke teman teman yang masih berdiri di dekat api unggun. "Heh! Sini! Bantuin, bego!" umpat nya dengan ekspresi serius.
Melihat kalau Rea tidak ada di luar, Dana berlari mendekat. "Rea mana?" tanyanya pada para gadis.
"Masih di dalam! Dia lagi pegangin Apri!" tunjuk Ita ketakutan. Tangannya bergetar hebat ke arah tenda tersebut. Bahkan dari luar tenda kondisi di dalam bisa terbaca dengan jelas. Tenda itu bergerak tidak beraturan, seperti ada perkelahian sengit di dalamnya.
Tanpa berpikir lagi Dana langsung masuk ke dalam tenda. Begitu sampai di dalam dia melihat dua orang wanita yang sedang terlibat perkelahian sengit.
Hanya saja perkelahian itu dominan dikuasai oleh Apri yang saat itu terlihat tidak seperti dirinya yang biasanya. Apri menjadi lebih agresif dan brutal. Dia tidak segan-segan menyerang secara membabi buta ke Rea yang kini berada di bawah tubuhnya.
Rea sedang menahan tangan Apri yang hendak mencekik lehernya tapi Rea seperti tidak ingin membalas serangan dari Apri. Dia lebih memilih untuk bertahan agar amukan Apri bisa dia redam. Dana segera mendekat dan melerai keduanya. Dia menarik tubuh Apri menjauhi Rea. Walau dengan begitu Apri berusaha berbalik menyerangnya. Tapi setidaknya tenaga Dana jauh lebih besar ketimbang Rea yang saat ini sedang menatap mereka berdua dengan tatapan kebingungan.
Perkelahian sengit itu akhirnya bisa diredam dengan bantuan Hana, Hani juga Blendoz. Ketiga pria itu lantas menyeret Apri keluar dari tenda meninggalkan Dana yang sedang mengatur nafasnya yang hampir habis.
"Dan, kamu baik baik aja?" tanya Rea sambil mencoba membantunya berdiri.
"Aku baik baik aja kok. Kamu gimana? Ada yang luka?" tanya Dana sebaliknya.
"Enggak. Aku juga nggak apa apa. Ayo, kita keluar. Kasihan Apri," cetus Rea dan tampak panik hingga buru buru berlari keluar.
Rupanya Apri sedang diikat di pohon lain, sama seperti yang mereka lakukan pada Ozan. Kini suara jeritan dari kedua orang itu cukup membuat suasana hutan menjadi lebih riuh dan berisik.
Mereka berdelapan berkumpul di depan Ozan dan Apri yang sudah terikat kuat di pohon yang berjejeran dengan jaraknya tidak cukup jauh satu sama lain. Mereka menarik nafas panjang, sambil menatap dua teman mereka yang tiba tiba menjadi aneh.
"Sebenernya mereka kenapa sih?" tanya Hana.
"Dibilang kesurupan! Pakai nanya lagi!" cetus Hani.
"Maksudnya, kok bisa gitu, Han! Memangnya kesurupan bisa nular?"
"Bisa," ucap Rea datar.
Mereka semua menatap Rea yang sejak tadi memperhatikan Apri dan Ozan bergantian.
"Memangnya iya? Tau dari mana, Re?" tanya Blendoz.
"Aku pernah lihat orang kesurupan, bersamaan. Ya gini misalnya. Satu orang kesurupan, yang lain nanti menyusul. Dulu ... Waktu SMP."
"Terus gimana cara sembuhin mereka? Tahu nggak?"
"Eum, ada doa doa. Cuma aku nggak tahu, apa berhasil. Karena aku belum pernah sembuhin orang kesurupan."
__ADS_1
"Nah itu lo tau, Re! Kenapa tadi diem aja?"
"Bukan diem aja, Han! Tapi dia nggak yakin apa doa itu berhasil atau enggak. Lo denger nggak sih tadi?" bela Dana tegas.
"Iya iya. Gitu aja nge-gas lo, Dan."
Dana hanya melirik Hani sambil menatapnya kesal. Sejak mereka tersesat, Dana menjadi lebih sensitif dan mudah sekali marah.
"Kalau gitu coba aja, Re," kata Leni.
"Eum ... Gimana, ya." Rea tampak ragu pada apa yang hendak dia lakukan.
"Coba dulu. Lo hafal doanya, kan?" tanya Hana.
"Hafal. Kita semua bisa kok sebenarnya."
"Emangnya doanya apa aja?"
"Surat al fatihah, Surat Al-Baqarah ayat 1-5, Surat Al-Baqarah ayat 255-257 ditambah Ayat Kursi (3x),
Surat Al-Baqarah ayat 284-286, Surat Al-Mu'minun ayat 115-118, surat al ...."
"Heh! Lo ngejek gue ya? Gue mana hapal surat al baqarah! Dih, udah ah, lo aja," pungkas Hana.
"Ckckck. Agama lo apa sih?!" tanya Diah agak kesal.
"Ya islam."
"Islam kok nggak hapal al fatihah!" sindir Ita.
"Udah udah. Jangan pada ribut. Re ... Mau coba nggak? Biar aku temenin, takutnya nanti mereka bersikap bar-bar. Gimana?" tanya Dana mulai bernegosiasi.
"Itu bener, Re. Coba aja dulu. Yang penting yakin, Allah bakal bantu," tambah Leni.
Rea menarik nafas panjang, dia menatap teman temannya bergantian. Lalu akhirnya mengangguk.
"Ya udah. Semoga berhasil, ya," kata Rea mulai percaya diri.
"Nah! Gitu dong!" kata Blendoz.
Rea mendekati Apri lebih dahulu. Posisi Apri yang memunggungi pohon, dengan kedua tangan yang terikat berada di samping kanan kiri tubuhnya, terlihat ingin melepaskan diri. Tapi untungnya ikatan itu cukup kuat, sehingga Apri kesulitan membukanya.
Rea berdiri di hadapan Apri. Menatap sorot mata Apri yang melotot tajam. Dana berada di dekat Rea, bersiap dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi. Walau kedua tangan dan kaki Apri sudah diikat kencang, tapi tidak ada yang tidak mungkin jika Apri bisa tiba tiba lolos dari jeratan tali itu.
__ADS_1
Rea menjulurkan tangan kanannya ke depan wajah Apri. Jarak Rea dan Apri memang tidak terlalu jauh. Setidaknya Rea berjaga-jaga agar Apri tidak bisa menyentuhnya saat dia sedang melakukan ruqyah.
Rea menarik nafas panjang kemudian mengucapkan basmalah. Serentetan doa-doa yang memang dia hafal, satu persatu mulai keluar dari mulutnya.
Semua orang yang ada di situ hanya memperhatikan dengan seksama. Beberapa diantaranya juga ikut menggumamkan doa yang mereka bisa atau sekedar beristighfar agar mereka tidak ikut-ikutan kesurupan seperti Apri. Bagaimanapun jika apa yang dilakukan Rea berhasil, maka setan yang ada di dalam tubuh Apri pasti akan keluar dan bisa saja mencari tubuh pengganti untuk dirasuki.
Rupanya doa-doa yang di panjatkan oleh Rea cukup berhasil karena Apri sekarang mulai menunjukkan tanda-tanda kesakitan. Jeritannya makin keras. Apri memekik dengan tubuh yang kaku sambil menatap ke atas. Tangan Rea yang awalnya berada di kepala Apri, kini mulai turun sedikit demi sedikit ke bagian perut. Rea sama sekali tidak menyentuh Apri, dia hanya menunjuk bagian tubuh Apri sambil mengumandangkan doa-doa.
"Keluar kamu!" ucap Rea tegas. Jari telunjuknya menunjuk ke bagian perut, tepatnya di ulu hati Apri.
Perlahan tangannya seolah mendorong sesuatu ke bagian atas, hingga sampai kerongkongan. Dan anehnya, Apri seperti sedang dicekik. Dia kesulitan bernafas dan bahkan berhenti berteriak.
Tangan Rea berhenti di depan tenggorokan Apri. Peluh di dahinya sudah mulai banjir. Rea sudah mulai kepanasan padahal suasana di sekitarnya cukup dingin.
Rea menjerit dengan sebuah kalimat doa terakhir, lalu menunjuk dengan tangan bergetar ke bagian mulut Apri.
Tiba-tiba saat tangan Rea sudah sampai ke atas, Apri langsung lemas. Dia pingsan.
"Eh? Udah pergi? Re? Berhasil?" tanya Hani penasaran.
Rea tidak langsung menjawab dia justru
terus memperhatikan Apri yang memang sudah tidak sadarkan diri. Rea menoleh ke Dana yang masih berdiri di sampingnya. Sebuah bahasa isyarat hanya dengan tatapan mata, mampu membuat Dana langsung mengerti apa maksud dari Rea. Dana segera mendekat dan memeriksa kondisi Apri.
Setelah dirasa semua baik-baik saja, dia melepaskan ikatan tersebut dan meminta bantuan Hana yang tak jauh dari mereka untuk membawa tubuh Apri berbaring di tikar yang berada di dekat api unggun.
Setelah memastikan apa yang terjadi pada Apri, Rea kemudian melanjutkan lagi tugasnya untuk Ozan, dan melakukan ruqyah seperti apa yang dilakukan sebelumnya.
Tidak diduga ternyata Rea berhasil menyadarkan kedua temannya yang kesurupan. Berbekal apa yang pernah dia lihat dulu, rupanya ilmu itu berhasil
menyelamatkan timnya dari kesurupan massal.
Jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Semua orang sudah kelelahan bahkan sudah mulai sangat mengantuk.
Akhirnya mereka pun memutuskan untuk istirahat. Sebelum melanjutkan perjalanan esok hari
Apri dan Ozan yang masih belum sadar
dibawa masuk ke dalam tenda.
Mereka semua sudah yakin, jika dua teman itu sudah benar-benar sadar, sehingga tidak perlu lagi untuk diikat seperti sebelumnya.
Suasana hutan kembali hening. Tidak ada lagi suara berisik dari Ozan maupun Apri. Mereka semua mulai berusaha untuk tidur karena perjalanan mereka masih cukup panjang, dan mereka pun sudah sangat ingin pulang.
__ADS_1