
Abimanyu menatap Rendra dengan tatapan bingung. Ia tidak mengerti maksud dari iblis di hadapan mereka ini. Sama hal nya seperti Rendra, ia pun tidak paham kenapa iblis itu seperti orang yang sedang sekarat karena meminum racun. Bukan, kah, apa yang ia minum adalah darah. Dan pertanyaannya, ada apa dengan darah Abimanyu tersebut.
Ia memegangi lehernya, ekspresi wajahnya seperti tercekik. Abi dan Rendra mendekat dengan ragu. Menolong atau membiarkan dia begitu saja. Tetapi menolong pun mereka juga tidak tau bagaimana caranya.
"Bi, darah lu ada apanya sih?" tanya Rendra yang kini mendekat ke temanmu itu.
"Mana gue tau, Ren. Belum pernah uji lab. Mungkin dia alergi sama darah manusia?"
"Gila! Ngaco lu! Terus gimana? Mati tu orang," cetus Rendra yang sama-sama melihat makhluk di depan mereka sudah berhenti bergerak.
"Ngomong-ngomong Om Gio ke mana sih, Bi? Kali aja dia tau elu ni makhluk apaan. Bukan nya dia yang paling deket sama elu dan bokap lu?"
"Lagi ada urusan. Bentar lagi juga balik," kata Abi terus menatap mayat yang tergeletak di lantai itu. "Sekarang yang paling penting, kita harus cari tau, gimana cara memakamkan iblis?"
Rendra memutar bola matanya. Pergi dari tempat itu dan kembali ke lantai atas. Dua pria itu tidak tau lagi harus berbuat apa terhadap mayat tersebut. Di saat Rendra kembali ke atas dan mulai bergelut lagi dengan tumpukan buku di sana, Abi justru masih penasaran. Ia terus menatap jasad iblis di depannya itu. Dahinya mendadak mengkerut, ia merasa mayat di depannya mulai menunjukkan reaksi aneh. Terpaksa Abi mundur dan terus memperhatikan hal di depannya. Tubuh itu perlahan mulai membiru dan menghitam.
"Ren ... Ada yang nggak beres nih!" kata Abi yang terus menerus menjauh, dan kini mendekat ke tempat Rendra berada.
"Kenapa itu, ya?" gumam Rendra dengan pertanyaan yang serupa seperti apa yang Abi pikirkan.
"Jangan-jangan dia hidup lagi, Ren."
"No, bukan! Bi ... Bahaya!" Rendra mulai menarik lengan baju Abi dan mencari jalan keluar dari rumah ini.
"Heh! Kenapa?!"
"Gue rasa itu mayat bakal meledak!"
"What?! Gila! Kok bisa?!"
"Nggak usah mikir kenapa bisa kayak gitu, tapi pikirin gimana cara kita keluar sebelum kita ikut meledak!" tutur Rendra.
Abi menunjuk jendela kamar. Mereka berdua satu persatu meninggalkan rumah Yudis dengan tergesa-gesa. Kaki mereka mendarat ke tanah dengan cukup cepat. Hingga nyeri terasa saat beberapa detik sampai. Keduanya sempat mengerang menahan sakit tapi terus melanjutkan aksi melarikan diri ini. Tiba-tiba, suara ledakan yang cukup keras membuat mereka terpental. Kobaran api terlihat di rumah Yudistira. Abi dan Rendra duduk di rerumputan sambil menatap rumah itu.
"Bener, kan?"
"Gila! Kok bisa gitu sih?!"
"Ya bisa. Gue sering ngeliat begituan. Yuk, cabut," kata Rendra lalu beranjak meninggalkan tempat itu.
"Heh! Mau ke mana? Terus itu kebakaran, Ren!"
"Tenang aja, rumah Pak Yudis ada alarm kebakarannya, jadi ada air yang bisa mengurangi api itu, terus bentar lagi juga pemadam kebakaran datang."
"Kok elu tau?" tanya Abi sambil tetap mengejar Rendra.
"Gue yang pasang semua keamanan rumahnya."
Dua pria itu mulai berjalan meninggalkan rumah Yudis dan masuk ke dalam hutan. Mereka memutuskan kembali ke rumah Rendra untuk mengambil beberapa perlengkapan yang akan mereka butuhkan nantinya. Hutan sudah menjadi teman mereka, bukan lagi tempat mengerikan seperti saat mereka menghadapi werewolf tempo hari, karena kawasan desa ini semua sudah menjadi perlindungan mereka berdua. Rendra selalu patroli saat malam hari, sementara Abi siang hari.
Tetapi tentang iblis ini, merupakan hal baru bagi Abi. Walau Rendra sudah tau sedikit, tapi semua informasinya masih kurang akurat. Mereka kehilangan Ellea. Dan sampai sekarang mereka tidak tau harus mencarinya ke mana.
Rumah Rendra sudah ada di depan mata, mereka mengambil beberapa senjata terutama untuk bekal perjalanan mencari Ellea. Hingga ponsel Abi bergetar, dengan sebuah panggilan masuk. Ia menatap Rendra dengan dahi berkerut, membuat Rendra bertanya siapa penelponnya. "Pak Yudis!"
"Hah?! Angkat!"
"Ya, Pak?"
"...."
"Bapak sudah sadar?"
"..."
"Oke, kami ke sana!"
Rendra yang penasaran memaksa Abi menceritakan apa yang dikatakan Yudis tadi. "Kita suruh ke rumah sakit! Sekarang."
Keduanya segera kembali ke rumah sakit dengan mengendarai motor milik Rendra. Suara knalpot yang nyaring, membuat suasana hutan agak berisik. Rendra yang sangat menyukai kecepatan berkendara, membuat Abi harus lebih erat berpegangan. Tak dapat dipungkiri kalau Rendra adalah seorang pembalap yang cukup handal. Karena dalam sekejap, mereka suah berada di rumah sakit lagi. Mereka segera masuk sambil menenteng tas besar yang sudah dipersiapkan sejak tadi. Langkah dipercepat, karena mereka juga ingin mengetahui bagaimana kondisi Yudis sebenarnya. Dan tentu mereka ingin berdiskusi tentang hilangnya Ellea.
Yudis tengah terbaring di ranjangnya, dengan oksigen yang menempel di lubang hidungnya. Ada serangkaian alat di samping ranjangnya dengan bunyi mirip detak jantung. Yudis sudah membuka matanya, saat dua pria ini datang. Suster jaga baru saja mengganti kantung infus miliknya. Ia lantas tersenyum dan menyambut dua pemuda itu.
"Anda tidak apa-apa, Pak?"
"Sebenarnya apa yang terjadi kemarin? Kenapa mobil bisa terperosok ke hutan cukup dalam?"
Yudis tersenyum dan berusaha menguatkan dirinya sendiri karena sebenarnya kondisi tubuhnya masih lemah. "Ellea dalam bahaya," ucapnya dengan suara yang sangat pelan.
__ADS_1
"Iya, kami tau, Pak. Bahkan dia sudah hilang. Kami mau mencari dia. Katanya dia ada di titik nol pusat bumi. Kami harus ke mana sekarang?"
"Bagaimana kalian tau?" tanya Yudis heran.
Abi dan Rendra saling pandang dan bingung bagaimana harus menjelaskan semua ini pada Yudis. Tentang ritual mereka memanggil iblis dan tentu ... rumahnya yang telah terbakar habis. Keduanya garuk-garuk kepala, menoleh ke arah lain. Dan hal itu membuat Yudis makin penasaran.
"Apa? Kalian memanggil iblis?"
"Eum, kami bisa jelaskan, Pak. Sebenarnya saat itu kami bingung ...." Belum selesai Abi menjelaskan persoalan ini, Yudis sudah memberondong mereka dengan pertanyaan lain, yang tentu tidak mudah mereka jawab.
"Rumahku? Bagaimana bisa rumah ku terbakar? Astaga!"
"Mm ... Maaf," gumam Rendra dan Abi bersamaan.
Yudis menarik napas panjang. Ia kesal tapi juga bingung. Tentu kasihan pada dua pemuda ini. Sikap mereka mengingatkannya pada wataknya dulu saat masih muda. Selalu memiliki rasa keingintahuan besar, dan nekat.
"Ellea ada di salah satu titik tertinggi di dunia ini. Di sana tempat para malaikat turun ke bumi ratusan tahun lalu. Lhasa, Tibet."
"Lhasa?"
"Iya, betul. Lhasa itu salah satu kota tertinggi di dunia. Di sanalah, titik nol kehidupan. Karena dulu para malaikat saat turun ke bumi selalu mendarat di kota itu. Dan di tempat itu, Ellea disekap. Sambil menunggu Amon datang."
"Lalu, apa yang harus kami lakukan?"
"Tentu kalian harus menggagalkan rencana itu. Karena jika sampai Amon berhasil meminum darah Ellea, maka para iblis akan lebih banyak datang, dan mengacaukan dunia. Mereka akan sulit untuk dibasmi. Bukan dengan mantra exorcism, atau air suci bahkan pisau perak lagi. Di saat itu terjadi, maka kiamat lah dunia ini." Penjelasan Yudistira memang sangat menakutkan.
"Kalian tau, siapa yang membawa Ellea?"
Keduanya menggeleng. Karena memang benar-benar tidak tau tentang hal ini. Abi bahkan baru pertama kali melihat sosok itu. "Awalnya kupikir Elisabeth yang ada di kamar Allea, tapi tiba-tiba mereka berdua justru menghilang," jelas Abi.
"Memang dia Elisabeth. Elisabeth bukanlah dari bangsa malaikat seperti yang kita kira selama ini. Aku baru sadar kalau dia anak dari Amon."
"Amon punya anak?"
"Yah, anak angkat tentunya. Anak yang ia ciptakan sendiri. Dulu aku berhasil membunuh Raven, tapi ternyata sekarang dia memiliki anak perempuan lain. Dia sudah mendekati Ellea sejak awal. Membuatnya bimbang dan akhirnya membawa Ellea pergi dengan mudah. Kita kecolongan!"
"Kurang ajar!" umpat Abi sambil mengatupkan rahangnya. Tangannya mengepal dan benar-benar marah kali ini.
"Berarti kita harus cepat ke sana, Bi. Eum, apa ada waktu khusus untuk ritual itu, Pak?"
"Saat terjadinya Earthquake Lights."
"Fenomena alam, di mana ada sebuah cahaya yang muncul di langit biasanya bersamaan dengan adanya aktivitas tektonik dan vulkanik. cahaya itu terang dan biasanya ada di pegunungan. Tapi sampai sekarang masih belum diketahui cahaya tersebut disebabkan oleh apa."
"Oh."
"Tapi kita nggak tau kapan fenomena itu terjadi, Pak. Hal itu nggak bisa diprediksi, kan?"
"Memang. Karena saat itu terjadi ada yang datang. Entah malaikat, entah iblis. Semua tergantung dari warna yang ditunjukkan. Jika yang datang Amon, maka warnanya dominan merah."
Suasana mendadak berubah. Suhu udara menjadi dingin, hingga mereka merasakan bulu kuduk yang meremang. Ketiganya saling tatap dan merasakan ada keanehan di tempat ini. "Vin di mana?" tanya Abi.
"Dia masih di ICU. Kondisinya kritis. Allea? Bagaimana?"
"Ren, kayaknya elu harus cek Allea sekarang!" suruh Abi. Rendra mengangguk, ia segera keluar dari kamar Yudis, dengan perlahan. Memeriksa terlebih dahulu kondisi di luar kamar ini. "Gaes!" kata Rendra langsung menutup pintu ini dan menguncinya rapat.
"Kenapa?"
"Gila. Banyak banget setan di luar!"
"Maksud lo?"
"Mata hitam ada di mana-mana. Kayaknya mereka nggak bakal membiarkan kita keluar dari sini!"
"Kita harus gimana, Pak?' tanya Abi menatap Yudis penuh harap.
"Buat lingkaran perangkap setan di depan pintu! Cepat!" suruh Yudis. Rendra memulai mencari benda apa pun yang bisa ia pakai untuk menulis di lantai rumah sakit ini. Ia beruntung menemukan sebuah spidol permanen di laci nakas. Ia mulai menggambar sama persis seperti apa yang ia lihat di rumah Yudis. Ingatannya memang kuat, jadi tidak mungkin salah menggambar.
"Sekarang kalian tuang air suci ini mengelilingi ranjang ku!" Botol Yudis berikan dan Abi mulai melakukan seperti apa yang Yudis pinta.
"Lalu?"
"Lalu kalian pergi lewat jendela."
"Tapi, Pak? Bagaimana dengan anda?"
"Aku yakin mereka mengejar kalian. Dan kalau pun kalian meninggalkan ku di sini, aku tidak apa-apa. Tinggalkan saja senjata itu untukku. Aku akan menghambat mereka." Rendra menarik napas panjang, ia mendekat ke Abi.
__ADS_1
"Bi, biar gue di sini sama Pak Yudis. Elu pergi sekarang cari Ellea. Gimana pun juga harus ada yang menjaga mereka di sini. Masih ada Vin juga Allea di sini."
"Ren ...."
"Bagaimana pun harus ada yang menghentikan Amon membunuh Ellea. Dan itu elu. Biar gue di sini temenin mereka. Cepet, Bi! Pergi. Sebelum mereka masuk dan menangkap kita semua!" Abi merasa bingung. Ia seolah berat meninggalkan teman-temannya di sini. Ia takut jika ia pergi, maka para iblis itu akan membunuh mereka.
"Percaya gue, Bi. Kami bakal baik-baik saja. Cepat, Pergi!" Rendra bahkan mendorong Abi untuk segera pergi lewat jendela kamar. Abi mulai menuruti perintah mereka walau dengan hati berat. "Jaga diri kalian baik-baik," katanya sebagai salam perpisahan.
"Pasti. Jaga juga Ellea, jangan sampai dia mati!" suruh Rendra dengan menatap Abi nanar. Abi segera turun dari jendela kamar Yudis. Kamar ini berada di lantai 3 gedung rumah sakit ini. Ia perlahan terus turun, berpegangan pada apa pun yang ia temui, agar lekas sampai ke bawah. Sementara itu, Rendra mengambil kursi dan duduk di sudut yang ia sukai, sudut yang pas untuknya menembak nanti. Ia juga menyiramkan sekitarnya dengan air suci yang masih tersedia. Yudis sudah memegang senjatanya, sekalipun napasnya masih tidak bisa normal, tapi ia yakin kalau kedua tangannya masih bisa bergerak normal dan bisa menembak mereka nantinya. Ia masih berguna bahkan sampai titik darah penghabisan.
Abi sudah berhasil mendarat dengan mulus ke lantai paling bawah. Ia berlari kecil sambil terus bersembunyi agar tidak diketahui orang lain. Beberapa kali ia menoleh ke arah jendela kamar Yudistira yang baru saja ia tinggalkan. Saat ia sudah berada di luar rumah sakit, Abi sempatkan berhenti di sebuah pohon besar yang tak jauh dari rumah sakit. Ia masih menatap ke jendela itu. Perasaannya was-was. Dan tak lama setelah itu, suara tembakan terdengar nyaring dari tempatnya berdiri. Tak hanya sekali, tapi tembakan beruntun membuat hatinya nyeri. Ia tak bisa membayangkan apa yang sedang terjadi di sana. Tapi, ia harus terus bergerak. Ia harus menemukan Ellea. Dan menghentikan ritual iblis itu.
Abi berlari menuju sebuah mobil yang sengaja ia parkir jauh dari rumah sakit. Ia sudah mempersiapkan segalanya, dan rencana matang itu harus sirna karena Rendra yang memilih tinggal di sana. Abi memang sedih, bahkan ia tidak tau, apakah Rendra masih hidup atau sudah mati sekarang.
Ia segera masuk ke mobil dan mulai pergi meninggalkan desa. Malam sudah sangat larut. Sebentar lagi matahari juga akan menampakkan sinarnya. Abi meraih telepon genggamnya, menghubungi Gio yang entah sedang ada di mana. Gio pergi tanpa pamit, tanpa meninggalkan pesan apa pun.
Kini ia benar-benar merasa sendirian. Tidak ada Rendra, tidak ada Vin, tidak ada Gio. Ia harus berjuang sendiri. Tujuannya adalah bandara. Ia harus segera terbang ke Tiongkok. Ke kota Lhasa.
Sampai bandara, mata Abi benar-benar sudah sangat lelah. Setelah duduk di kursi miliknya, ia segera memejamkan mata. Karena perjalanan ke Lhasa membutuhkan waktu yang cukup lama, dan ini saatnya dia tidur.
________
Selama berabad-abad, sebuah kerajaan Buddha terperangkap di tengah komplek pegunungan tertinggi di dunia. Para penjelajah menyebutnya 'negeri terlarang'. Para traveler tak mungkin melewatkan ibukota Tibet ini, Lhasa.
Lhasa merupakan destinasi wajib para pecinta alam dan tradisi. Ibukota Tibet ini misterius sekaligus magis. Atmosfer spiritual yang kental muncul dari kuil-kuil Buddha nan suci, berlatar keindahan dan komplek pegunungan tertinggi di dunia yaitu Himalaya. Jalur yang meliuk di antara pegunungan nya menjadi salah satu jalur terindah untuk pendakian.
Lhasa berhasil memikat hati tiap traveler yang menginjak tanah sucinya. Kota ini tampak begitu asing, namun semua kultur dan keindahan alamnya akan membawa Anda pada sebuah kecintaan. Alamnya terlalu memesona, bahkan katanya, melebihi indahnya negeri Eropa. Masyarakatnya awalnya penganut Bon, salah satu aliran Shamanisme yang memuja banyak dewa. Lhasa disebut atap dunia, kota para dewa, dan kota suci. Wajar jika di sini lah tempat titik nol kehidupan yang di maksudkan oleh para iblis.
Abi sudah sampai. Tenaganya sudah pulih karena beberapa jam tertidur di dalam pesawat tadi. Udara di tempat ini sungguh dingin. Ia yang tidak membawa persiapan pakaian cukup, terpaksa harus mencari toko pakaian untuk sekedar membeli jaket tebal dan juga kaus tangan beserta penutup kepala.
Sebuah jaket bulu tebal sudah ia beli, dengan semua perlengkapan lain yang ia butuhkan untuk beberapa waktu ke depan. Cuaca di tempat ini berbanding terbalik dengan desanya, Amethys. Bahkan Abi sendiri tidak tau harus pergi ke mana sekarang.
Abi melihat sebuah cafe. Ia masuk untuk mengisi perutnya yang kosong. Ia butuh asupan. Bahkan ia lupa, kapan terakhir kali dirinya makan dengan tenang.
Daftar menu membuat Abi sedikit lebih lama memilih. Karena makanannya cukup asing di mata dan takutnya di lidahnya juga. Di mulai dengan sebuah makanan bernama Momos, makanan klasik yang mirip dimsum ini langsung menarik perhatian Abi. Ia pasti akan mudah memakannya karena bentuknya yang familiar. Teko yang berisi teh mentega selalu ada di tiap meja. Ini merupakan minuman khas tempat ini. Ia juga memesan nasi unik yang merupakan hidangan utama. Sambil menyantap makanan nya, Abi juga memperhatikan sekitarnya. Semua gerak gerik pengunjung menjadi perhatiannya.
Ada beberapa orang yang menarik perhatiannya. Tingkah dan sikap yang aneh, membuat Abi curiga. Apalagi saat mereka terus memperhatikan dirinya. Atau sekedar mencuri pandangan ke arahnya.
Satu yang pasti, salah satu dari mereka memiliki warna mata hitam saat Abi menatapnya tadi. Sekilas. Tapi sangat terlihat jelas dalam pandangannya.
Begitu pria itu hendak pergi, Abi juga buru-buru menyelesaikan makannya. Setelah membayar, ia langsung mengikutinya. Dengan jarak aman, Abi terus mendekat. Setidaknya iblis di depan pasti bisa ia tanyai.
Sampai di sebuah lorong yang cukup sunyi, pria tadi yang sepertinya menyadari kalau sedang diikuti, segera berlari dan membuat Abi kaget. Ia sontak ikut lari mengejarnya. Mereka berlari melewati lorong-lorong yang ada di sekitarnya. Pria itu terus menghindari Abi yang tak kenal menyerah.
Hingga sampai di sebuah gang buntu, dan tentu sudah tidak ada lagi jalan lain untuk kabur. Pria itu malah tersenyum, dan tak lama setelah itu, beberapa orang mulai muncul di belakang dan sekitar Abi. Ia dijebak.
"Mau apa kalian?!" tanya Abi lantang.
"Kau sendiri mau apa di sini?"
"Di mana Ellea!"
"Ellea? Oh, nephilim itu? Jadi kau datang untuk mencari dia?"
"Katakan, di mana dia sekarang!" tegas Abi.
"Kalau tidak, bagaimana?" tanya pria itu seperti menantangnya.
"Aku bunuh kalian semua!" ancam Abi.
"Bagaimana caranya? Apa kau punya senjata untuk melawan kami? Pistol perak, atau pedang yang sama? Bahkan kau tidak membawa apa pun!" ejeknya.
Sadar dirinya memang seperti orang bodoh yang akan bunuh diri, Abi mendadak diam. Ia memikirkan cara untuk melawan. Jika mereka manusia, maka akan mudah baginya melumpuhkan satu persatu orang ini. Tapi sayangnya mereka adalah iblis. Dia tidak punya kitab mantra untuk melakukan exorcism, tidak punya air suci dan semua hal yang ia butuhkan sekarang.
"Serang dia!" suruh nya ke semua orang di tempat ini. Abi dikeroyok dengan membabi buta. Tenaganya memang kuat, ia mampu bertahan, tapi jika tanpa perlawanan cukup, maka Abi bisa benar-benar sekarat. Apalagi kakinya tidak menginjak tanah. Semua yang ada di sekitarnya adalah paving.
Tangannya terluka karena cakaran salah satu dari mereka. Ia dikeroyok, dan tentu makin lama dirinya kewalahan. Abi terkena tendangan hingga terpental mundur cukup jauh. Ia membentuk tembok di belakangnya hingga memekik sampai muntah darah.
Mereka merasa di atas angin, namun tiba-tiba salah satu kepala dari mereka ditebas seseorang. Menggelinding hingga sampai di kaki Abimanyu. Semua lantas menatap orang itu, orang yang telah membunuh salah satu iblis ini dengan cepat.
"Paman Gio?!" pekik Abi, saat melihat sosok yang ia kenali ada di belakang mereka semua. Memegang pedang panjang dengan wajah yang dingin dan datar. Ia lantas melempar pedangnya yang lain ke arah Abimanyu. Abi dengan cekatan menangkapnya.
"Jangan tinggalkan senjata mu, Anak muda," cetusnya lalu kembali menyerang mereka. Kini kekuatan sudah hampir sepadan. Setidaknya ada Gio sebagai dewa penyelamat. Abi memiliki senjata untuk melawan mereka. Tusukan demi tusukan terus ia layangkan dan seolah kekuatannya telah kembali. Ia merasa memiliki semangat baru. Mungkin karena ada Gio di sini. Dia merasa tidak sendirian lagi.
Dalam sekejap, mereka semua telah tewas. Para iblis ini sudah mati dengan meninggalkan tubuh manusia yang sudah tidak bernyawa lagi. Ada rasa bersalah di dalam benak Abi dan Gio, mereka membunuh manusia yang tak bersalah. Tetapi, tubuh yang pernah dirasuki iblis, tidak akan kembali seperti semula. Sekali pun iblis itu telah keluar dari tubuhnya. Akan ada iblis lain yang bisa merasuk dalam dirinya. Bahkan dia akan menjadi semacam wadah bagi para iblis nantinya. Semua harus ada konsekuensinya, ada yang harus dikorbankan untuk sebuah perjuangan. Seperti Vin, mereka pun masih memikirkan apa yang harus di lakukan pada Vin nanti. Mungkin setelah masalah ini selesai, dan mereka semua masih hidup.
"Paman ke mana saja! Kenapa baru muncul sekarang?!" tanya Abi sedikit kesal. Gio malah tertawa lalu mengajaknya pergi dari tempat ini sebelum mayat ini ditemukan oleh orang lain.
__ADS_1
"Nanti gue ceritain!"