pancasona

pancasona
Part 194 Rahasia home stay


__ADS_3

"Jean ngapain di sana?" tanya Gio ikut melihat dari kaca jendela rumah mereka. Belum sempat mendapat jawaban apa pun, tiba tiba kaca di samping Jean di pecahkan. Jean menjerit karena para manusia yang keluar dari kolam kini mulai merangsek masuk ke dalam rumah. Gio dan Wira tidak bisa berbuat apa apa, karena mereka sendiri memiliki musuh yang nyata.


Pintu sedang berusaha didobrak dari luar. Wira dan Gio mencari alat untuk menyerang dan bertahan diri dari serangan mereka. Ellea dan Nayla juga mencari cara untuk menahan kedua orang tersebut.


Ellea berlari ke salah satu pria tadi, lalu menendang tubuh dan mengapit lehernya dengan kakinya. Mereka jatuh bersamaan, namun Ellea mampu bertahan dan berada di atas tubuh itu. Ia sekuat tenaga menahan orang itu yang sudah terkunci di bawahnya. "Tali!" jerit Ellea. Nayla yang sempat melongo lantas mengambil tali yang ia lihat di dapur, dekat perkakas pertukangan.


Wira yang sedang menangani orang satunya tidak bisa berbuat banyak, ia bahkan terlihat kewalahan. Gio ikut membantunya. "Gio! Bantuin!" jerit Nayla. Kedua wanita itu berencana mengikat pria danau ke sebuah tiang yang ada di tengah rumah. Nayla menyumpal mulut orang itu yang terlihat berbahaya bagi dirinya. Karena sejak ia masuk, rasanya dia mirip orang kelaparan dan hendak menggigit semua orang yang ia temui.


Mereka akhirnya berhasil mengikat satu orang tadi, lalu giliran orang satunya. Dengan susah payah mereka berhasil mengikat satu orang lainnya di tangga kecil yang hanya digunakan untuk hiasan saja. Karena seluruh rumah di penginapan ini hanya ada satu lantai. Mereka bingung melihat dua orang yang menyelinap ke rumah mereka, tapi bersikap mirip mayat hidup. Mereka bagai tidak memiliki akal dan yang ada, hanya rasa ingin menyerang dan menggigit siapa saja yang mereka temui.


"Mereka ini apa?" tanya Gio menatap dua manusia aneh yang sudah mereka tangkap dan ikat kencang.


"Sepertinya semua penginapan ini di serang. Aku tadi melihat beberapa orang keluar dari danau, yah, seperti mereka ini. "


"Apa tidak sebaiknya kita cek semua orang?"


"Kalian nggak apa apa?" tanya Arya yang sudah kembali ke rumah dengan Abimanyu.


"Hampir saja. Hey, kalian ke mana sih?" tanya Gio sebal.


"Di sebelah, ada kejadian aneh. Lintah Vlad. Jean dan Hans yakin kalau orang orang ini terkena lintas itu," jelas Arya serius, menatap mereka satu persatu. "Kamu nggak apa apa sayang?" tanyanya ke Nayla. Nayla mengangguk, "kalian?" tanyanya balik sambil menatap Arya dan putra mereka, Abimanyu.


"Kami baik baik saja, Bu. Kita harus mengumpulkan orang orang ini. Dan mengeluarkan lintah Vlad dari dalam tubuh mereka. Kalau nggak, mereka akan mengacaukan kota."


"Wow, zombie. Sangat mirip, ya," cetus Gio.


Wira hanya diam sambil terlihat sedang berfikir sesuatu. Akhirnya setelah berdiskusi, mereka semua berpencar dan mencari semua orang orang yang baru saja bangkit dari danau itu.


Mereka membagi menjadi tiga team. Mereka juga membawa senjata yang memang diperlukan. Mobil Hans juga memiliki perlengkapan senjata yang cukup untuk mereka. Yang pasti, orang orang yang baru saja bangkit dari danau, harus dibunuh. Karena mereka sebenarnya sudah mati. Dan kini mereka bangkit lagi karena pengaruh lintah Vlad tersebut.


Satu persatu rumah di datangi oleh mereka. Menyeret keluar mayat hidup berlendir dan basah tersebut. Mereka lantas mengumpulkannya di luar, setelah dibunuh tentunya. Mayat mereka dikumpulkan dan nantinya akan dibakar. Hanya dengan begitu pengaruh lintah tersebut hilang.


Tetapi jika manusia yang dihinggapi lintah tersebut sebelumnya masih hidup, maka mereka harus mengeluarkan lintah itu terlebih dahulu. Biasanya lintah tersebut akan keluar dari tubuh inangnya yang masih hidup dengan cara memanaskan tubuh inangnya. Hans dan Jean telah melakukannya dan berhasil. Saat mereka menghadapi pria di samping penginapan mereka tadi. Hans membakar sofa di dekat pria tersebut dan tak lama lintah itu keluar dari tubuh inangnya. Yah, penginapan kini menjadi kacau karena kejadian ini.


Tiap team akan masuk ke rumah yang didatangi oleh manusia danau. Bentuknya beraneka ragam, dan yang pasti mereka mengerikan. Kulitnya pucat dan keriput, karena terlalu lama ada di dalam air. Bahkan ada yang hanya tinggal tulang kerangka tubuhnya saja. Tak sungkan sungkan, mereka langsung membunuh semua makhluk tersebut dengan sekali tebas di kepalanya, dan tusuk di jantungnya. Mayat bergelimpangan di lantai, dan anehnya tidak ada setetes pun darah dari mayat tersebut. Lintah menyerap habis darah di tubuh mereka dan menjadikan mereka zombie air tawar. Aneh memang. Tapi begitu lah adanya.


Beberapa orang yang masih selamat, panik, dan ketakutan. Namun telah berhasil ditenangkan oleh Nayla dan Ellea. Mereka juga melaporkan kejadian ini kepada pemilik home stay. Suasana riuh membuat seluruh penghuni home stay keluar. Karena setiap rumah juga didatangi oleh para manusia danau tersebut. Beruntung mereka selamat, hanya terkena luka luka kecil saja. Dan tentu perasaan tertekan dan trauma psikis akan di alami mereka semua.


Kobaran api membara di sekitar danau. Semua mayat sudah dibakar tanpa tersisa lagi. Beberapa orang kembali ke dalam rumah, sebagian lagi menonton pembakaran massal mayat dari dekat danau. Polisi dan pemilik home stay sudah datang karena telah dihubungi sebelumnya. Pak Erik dimintai keterangan terkait banyaknya mayat yang berasal dari danau miliknya tersebut.


Setelah diusut sudah banyak kejadian orang hilang sejak home stay ini di bangun. Dan ternyata mereka tenggelam di danau tanpa alasan jelas. Bahkan Pak Erik saja tidak tau menahu tentang hilangnya orang orang tersebut. Dan dipastikan dia memang berkata jujur. Tetapi selama masa penyelidikan Erik akan ditahan di kantor polisi terdekat guna kepentingan penyelidikan.


Wira berdiri di tepi danau, menatap ke air tenang yang telah menjadi tempat paling misterius malam ini. Lintah Vlad adalah salah satu makhluk yang mematikan dan anehnya yang membuat Wira penasaran, dari mana datangnya lintah tersebut. Karena tidak mungkin makhluk itu tiba tiba berada di danau tersebut. Mengingat danau ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu.


"Kenapa?" tanya Jean yang kini sudah berdiri di samping malaikat yang telah kehilangan karunianya tersebut. Pria itu yang masih berstatus malaikat langit, kini lebih mirip pria yang sedang patah hati. Ia sering terlihat murung dan menyendiri.


"Aneh," kata Wira tanpa melepaskan pandangannya pada danau di depan mereka.


"Apanya?" tanya Jean dengan menampilkan kerutan di dahinya.


"Aku yakin ada yang nggak beres sama danau ini. Kamu merasa nggak , Jean?"


"Hm, sepertinya memang begitu. Lintah Vlad ini nggak mungkin datang sendiri ke tempat ini. Pasti ada orang yang sengaja taruh di sini. Tapi Erik tadi rasanya bener bener nggak tau, Ra. Sejauh yang aku lihat dia jujur," jelas Jean.


"Kita harus selidiki, Jean. Takutnya mereka masih ada di sana," tunjuk Wira ke arah danau dengan dagunya.


Garis polisi memang sudah dipasang di sepanjang danau. Besok semua pengunjung diharuskan meninggalkan penginapan, dan untuk sementara penginapan ini ditutup. Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Mereka akhirnya benar benar tidak istirahat semalaman. Niat hati ingin tidur dan bersantai semalam, ternyata malah menghadapi kasus yang menguras tenaga.


Hans mulai beraksi bersama Gio. Mereka berdua mencari tau tentang sejarah danau dan home stay yang mereka tempati sekarang. Mereka kembali menempati salah satu rumah penginapan untuk menyelidiki kasus ini. Hans dan Jean memang memiliki organisasi khusus yang resmi milik pemerintah, dan organisasi ini memang khusus menyelesaikan permasalahan supranatural yang tidak bisa dijelaskan oleh akal dan semua kasus kasus aneh yang bukan ranah polisi biasa.


Semua pengunjung sudah mulai meninggalkan tempat ini saat matahari sudah mulai naik ke permukaan, bahkan sebagian dari mereka justru bergegas pergi sebelum matahari muncul. Rasa takut dan cemas yang mereka rasakan atas kejadian semalam membuat mereka ingin segera angkat kaki dari penginapan ini. Dan dapat dipastikan kalau penginapan ini akan ditutup. Citra buruk yang melekat akan menjadikan tempat ini tidak lagi memiliki harga jual, seindah apa pun pemandangan yang ditawarkan.

__ADS_1


"Lihat ini," tunjuk Gio ke laptop yang ada di hadapannya. Semua orang kini mendekat dan melihat apa yang ditemukan oleh Gio. Kemampuannya memang sangat dibutuhkan dalam kelompok ini. Dan Hans juga salah satu orang yang memiliki bakat seperti Gio.


"Apa itu?" tanya Wira.


"Di sini dijelaskan sebelum penginapan di sini di bangun, danau ini aman aman saja. Bahkan banyak orang yang memakainya untuk keperluan memancing dan anak anak yang mandi di sini juga nggak ada yang mengalami hal buruk. Tapi ... setelah penginapan di sini di bangun, 5 bulan setelahnya, ada satu kabar orang hilang," jelas Gio.


"Dan, ternyata Erik itu bukan pemilik tunggal. Dia bersama saudaranya membangun tempat ini. Tiga bulan setelah penginapan ini dibangun, nggak ada pengunjung sama sekali. Tapi setelah bulan keempat, penginapan ini menjadi ramai pengunjung, dan akhirnya berkembang pesat."


"Terus?"


"Yah, seperti yang Gio bilang, pada bulan ke lima, ada satu orang yang hilang di danau. Polisi mencari ke penjuru danau, tapi mayatnya tidak ditemukan. Kasus ini ditutup tanpa kejelasan."


"Siapa saudara Pak Erik?" tanya Abimanyu.


"Namanya Trian. Tapi ... dia hilang. Nggak ada data apa pun di sini."


"kalau begitu kita harus tanya Pak Erik tentang saudaranya itu."


Hans dan Jean beranjak. Mereka akan menyelidiki ke kantor polisi dan bertanya pada Erik tentang apa yang terjadi pada saudaranya itu. Sementara itu, yang lain menunggu di penginapan. Suasana di home stay sudah sunyi. Garis polisi melintang di sepanjang danau dan sekeliling penginapan. Bahkan di sekitar hutan yang dekat dengan tempat tersebut.


Matahari sudah naik hingga terasa di atas kepala. Beberapa petugas polisi ada yang berjaga di sekitar. Tidak ada yang bisa tidur dengan keadaan ini. Walau semalaman mereka tidak bisa tidur nyenyak, dan misalkan ada yang sempat tidur pun itu hanya sebentar saja.


Wira, Arya, dan Abimanyu berjalan jalan di sekitar danau. Mereka merasa memeriksa danau merupakan salah satu cara yang jitu, untuk mencari tau apa yang terjadi di dalam genangan air tersebut. Wira jongkok sambil terus menatap ke dalam air. Arya berdiri tak jauh dari Wira, sementara Abimanyu mengamati sekitar danau.


Blup! Terdengar suara gelembung dari tengah danau. Hal ini menarik perhatian mereka bertiga. Ketiganya bahkan saling pandang dengan tatapan bingung. "Apa itu?"


"Ikan, mungkin?"


"Atau ... orang, lagi?"


"Maksudmu masih ada mayat hidup yang tertinggal, begitu?"


"Hey, apa ada alat menyelam?" tanya Abimanyu sambil menatap kedua pria di depannya. Mereka akhirnya memikirkan hal yang sama seperti apa yang ada di pikiran Abimanyu.


Untuk mendapatkan peralatan menyelam bukan hal yang sulit. Ada sebuah gudang penyimpanan barang barang yang memang ada di salah satu penginapan yang memang diperuntukkan untuk pemilik tempat ini. Dan beberapa barang yang penting di simpan di rumah ini.


Ketiga pria itu masuk ke dalam danau. Nayla dan Ellea yang melihat hal itu dari rumah, langsung bergegas menyusul mereka. "Ini apa apaan sih? Pada ngapain ke sana?!" tanya Nayla, cemas. Seorang petugas polisi yang berada di sekitar danau, memang disuruh menunggu di sana. Arya memintanya berjaga jaga, kalau kalau mereka bertiga tidak juga muncul ke permukaan.


"Kita tunggu aja, Nay," kata Ellea sambil mengajak Nayla duduk di sebuah batu besar yang ada di dekat danau. Kedua wanita itu menunggu dengan harap harap cemas. Bagaimana pun juga tidak ada yang tau apa yang ada di dalam danau itu. Karena bisa saja, lintah lintah itu masih ada di dalam sana. Dan itu akan sangat berbahaya bagi ketiga pria itu.


Keadaan di dalam air tidak begitu baik, karena air yang ada di danau, makin lama makin keruh saat mereka makin dalam menyelam. Oksigen yang ada di punggung mereka rasanya cukup untuk menyelam beberapa menit. Mereka terus menyusuri semua bagian danau. Berpencar untuk mempercepat pencarian. Padahal mereka bahkan tidak tau apa yang sedang mereka cari di bawah sini. Lampu senter yang ada di dahi mereka mulai dinyalakan, saat keadaan di bawah makin dalam dan gelap.


Sampai akhirnya mereka menemukan sebuah kotak besar. Bahkan sangat besar. Karena penasaran mereka berusaha membuka kotak tersebut. Tetapi kotak besar itu terkunci. Wira mengisyaratkan teman temannya untuk naik lagi ke atas. Mereka semua sepakat naik, namun saat hendak berenang kembali ke atas, sesuatu membeli kaki Arya. Arya kesulitan berenang, dan berusaha melepaskan diri dari belitan itu. Abimanyu yang melihat ayahnya kesulitan lantas berusaha menolong. Dia berenang mendekat ke kaki Arya. Sesuatu ada di kaki Arya, mirip rumput, tapi anehnya sangat kuat mengikat kaki Arya. Abimanyu menatap ke ayahnya dan Wira, kembali melambaikan tangannya, pertanda ikatan tersebut tidak bisa dilepaskan dengan tangan kosong. Wira menyuruh Abi menahan diri, karena dia akan kembali ke atas dan membawa alat untuk memotongnya.


Kedua pria itu menunggu di bawah, dan Abi masih berusaha melepaskan ikatan itu walau ternyata makin erat membelit kaki Arya. Tiba tiba Abi merasakan bayangan aneh yang melintas. Abi mencoba menoleh dan mencari bayangan apa yang ia rasakan tadi. Arya yang tidak memperhatikan, malah kebingungan dengan sikap Abi sekarang. Ia bertanya pada putranya namun Abi hanya menggeleng. Arya kembali menatap ke atas, menunggu Wira yang tak kunjung datang, karena makin lama perasaannya makin tidak enak.


Wira yang sudah berada di atas, lantas segera diberondong dengan banyak pertanyaan dari kedua wanita yang menunggu mereka sejak tadi. "Gimana? Mana yang lain?" tanya Naya mencemaskan putra dan kekasihnya.


"Kaki Arya terbelit sesuatu, susah banget dilepasin, aku butuh gunting. Bisa tolong ambilin?" tanya Wira, menatap Ellea. Ellea mengangguk dan segera berlari ke dalam untuk mencari alat yang diminta Wira.


"Ra, Arya nggak apa apa, kan? Abi?" tanya Nayla cemas.


"Mereka nggak apa apa kok. Tenang aja," jelas Wira sambil menetralkan nafasnya.


Sebuah mobil parkir di jalan yang tak jauh dari mereka. Hans dan Jean keluar dari dalamnya dan seolah membawa angin segar bagi mereka yang masih ada di tempat ini. Mereka berdua mendekat ke Nayla dan Wira. "Loh, kamu ngapain pakai baju itu?" tanya Jean melihat Wira heran.


"Di bawah ada kotak besar. Kita harus angkat itu ke atas, kami curiga isi di dalamnya," jelas Wira.


"Kami?" tanya Hans.


"Iya, Abi dan Arya masih di bawah. Kaki Arya terbelit sesuatu, dan susah dilepas."

__ADS_1


Hans dan Jean saling pandang, sorot mata keduanya menyiratkan hal buruk. Dan itu tertangkap oleh Wira. "Kenapa? Apa yang kalian dapat?" tanya Wira.


"Tadi kami ke penjara, dan meminta Erik untuk bercerita tentang saudaranya itu."


"Terus?"


"Kata Erik, dia sama saudaranya bertengkar. Dan setelah hari itu, Erik nggak pernah lagi melihat saudaranya itu. "


"Kok aneh, ya?"


Ellea keluar dari rumah dengan membawa gunting yang diminta Wira. Di belakangnya ada Gio yang ikut berlari kecil mendekat ke mereka.


"Gaes, gue dapat informasi!" jerit Gio sambil membawa laptopnya. Ia mulai menarik nafas dalam dalam saat sudah sampai di dekat mereka.


"Gini, jadi ternyata Erik ini punya gangguan identitas disosiatif. Jadi dia seolah memiliki kepribadian ganda. Sebelum saudaranya menghilang, Erik datang ke penyihir. Erik putus asa karena penginapan ini sepi. Dia meminta pesugihan untuk tempat ini. Tadi gue udah nanya langsung ke dukun itu! Dan bener, Erik dulu ke sana."


"Jangan jangan saudaranya itu di bunuh lagi!" tebak Ellea.


"Bisa jadi!"


Wira meraih gunting dari tangan Ellea. Lalu kembali masuk ke dalam air. Saat ia kembali ke dalam air, ia melihat kedua pria di bawah itu, sedang meronta karena cekikan bayangan hitam aneh. Wira bergegas berenang mendekat. Ia lalu menusuk bayangan itu dengan gunting nya. Bayangan itu memudar, setidaknya untuk sementara waktu. Wira segera melepaskan ikatan dari kaki Arya. Mereka segera kembali naik ke atas.


Ketiga pria itu sudah berhasil selamat. Mereka meminta polisi mengambil kotak kayu yang ada di dasar kolam. Ketiga penyelam dadakan itu diam, mereka terkejut dan merasa aneh melihat bayangan di bawah danau. Bentuknya adalah sosok manusia, tetapi wajahnya tidak begitu jelas. Keduanya hampir kehabisan nafas, karena Wira terlalu lama di atas, Arya dan Abi hampir mati di bawah air.


Alat berat digunakan untuk mengambil kotak kayu di bawah. Beberapa polisi kembali memenuhi tempat ini. Semua tentu penasaran dengan kotak yang ada di bawah sana. Perlahan kotak itu mulai terlihat di permukaan. Dan akhirnya, mereka semua dapat melihat kotak itu bersama sama.


Salah seorang polisi membuka gembok yang ada di kotak. Kotak itu sudah berlumut dan sangat licin. Dan saat kotak itu dibuka, mereka terkejut melihat kerangka tubuh manusia. Masih utuh dengan pakaian yang melekat di tubuhnya.


Gio memperhatikan tulang belulang tersebut, lalu mencocokan dengan gambar yang ia dapat di internet. "Wah, bener, dia ini Trian. Saudara Erik yang menghilang!" pekik Gio yakin.


"Astaga! Kenapa dia di sini? Pasti ada yang dengan masukin dia ke petik ini dan membuangnya ke danau!" tebak Nayla.


"Dan orang itu ...."


"Erik!" tebak semua orang.


Trian adalah orang yang menentang keras, saat Erik akan melakukan pesugihan. Agar usaha penginapan mereka laku. Trian termasuk orang yang religus, sementara Erik memiliki gangguan kepribadian ganda.


Pada suatu ketika, mereka berdebat tentang hal ini. Karena emosi Erik justru menjadikan Trian korban pesugihan yang mang dibutuhkan untuk melancarkan aksinya. Trian mati dan di masukan ke dalam kotak. Bukan peti mati manusia. Hanya sebuah kotak. Bahkan saat ditemukan, Trian dalam posisi menekuk kaki. Terjepit karena ruangan kotak yang kecil. Kotak itu lantas di masukan ke dalam danau. Setiap tahun, Erik harus memberikan tumbal untuk iblis di dalam danau. Tiap tahun, Erik menculik orang atau jalan pengunjung tempat itu, mengikat mereka dengan tanya besi dan menceburkannya ke dalam danau.


Arwah Trian tidak tenang. Dia dendam karena apa yang sudah dilakukan Erik dulu. Dan dendamnya itu perlahan membuat Erik sering terluka, tetapi Erik yang memiliki gangguan kepribadian, tidak pernah mengira dan tidak ingat kalau Trian dia bunuh sejak lama. Erik memiliki dua sisi yang sangat pandai ia perankan. Saat ia menjadi orang baik, dia sangat dipercaya orang lain. Tapi saat dia berubah jahat, dia lupa semua kejahatan yang sudah ia lakukan. Bahkan dia tidak tau kalau saudaranya sudah ia habisi dengan tangannya sendiri. Trian yang dendam lantas memunculkan lintah lintah itu, dan mulai melakukan teror ke orang orang di penginapan itu.


Kerangka tulang Trian kini sudah dikuburkan dengan layak. Upacara penguburannya juga dilakukan dengan sangat religius, agar arwahnya tenang, tidak lagi melakukan teror apa pun ke orang lain. Bahkan ke saudaranya sendiri. Erik yang mendekam dipenjara, kini juga mulai gila. Bahkan seminggu setelah dia divonis bersalah, Erik malah gantung diri di sel penjaranya. Perlahan ia mengingat semuanya. Segala sikap yang ia lakukan dulu. Membunuh saudaranya sendiri, bahkan orang orang di sekitarnya. Dia depresi dan akhirnya memutuskan bunuh diri.


Kasus Erik selesai dengan akhir yang melegakan. Mereka kini harus memulai lagi perjalanan mereka. Misi ini masih sangat panjang. Tiba saatnya mereka harus berpisah dengan Jean dan Hans.


"Kalau kalian butuh sesuatu, kalian hubungi saja kami," kata Hans pada mereka semua.


"Maaf, kami nggak bisa ikut. Karena kami juga punya pekerjaan lain," tambah Jean.


"Iya, kami tau, dan misi ini nggak ada sangkut pautnya sama kalian. Kami bisa kok menyelesaikan sendiri."


"Iya, bener. Kalian nggak usah khawatir. Tetap saling berkabar, bagaimana pun juga kita ini sudah seperti saudara.


"Semoga kalian berhasil. Karena kalau kalian gagal, kami juga bisa mati. Karena kami yang paling dekat dengan para iblis."


"Jean benar, kalau kalian gagal, aku yakin, kalau kami akan menjadi daftar orang yang akan mereka bunuh. Organisasi kami. Semua kehidupan kami."


"Yah, kami akan lakukan sebisa kami."


Mereka saling berjabat tangan satu sama lain. Masing masing masuk ke kendaraan masing masing dan berpisah di jalan ini.

__ADS_1


__ADS_2