
"Manda ... Man ..." Panggil seorang wanita bersuara lembut sambil membelai kepala Manda lembut.
Manda mulai mengucek ucek matanya dan menoleh ke sumber suara. "Umi ..., " sahutnya sambil menutup mulut karena menguap.
"Kamu pulang aja, biar Habibi Umi yang jagain sekarang. Kamu pasti capek kan. " kata Umi sambil merapikan rambut Manda yang berantakan karena tertidur di pinggir bed pasien dimana Habibi sedang terlelap.
"Nggak apa apa kok, Umi. " sahut Manda lalu beralih menatap Habibi yang masih terbaring dihadapan nya.
"Gimana Bibib? Ada perubahan? " tanya Umi.
"Alhamdulillah tadi malem udah bangun sebentar. "
"Alhamdulillah ... " kata Umi lega. "Kamu sarapan dulu sana ... Jangan sampai ikut sakit seperti Bibib." suruh Umi.
Manda menatap Habibi lagi, tak lama menganggukan kepala. Manda keluar dari ruang rawat dan berjalan menuju Kantin yang letaknya di bawah. Sepanjang Ia berjalan, dia selalu merasa diikuti. Berkali kali Manda menoleh kebelakang, tapi tidak juga ditemui siapapun disana. Hanya beberapa orang yang hilir mudik di sekitarnya.
Sampai di depan pintu lift. Manda ikut menunggu lift turun bersama beberapa orang disampingnya.
Ting!
Saat lift terbuka, semua orang yang ada disampingnya masuk. Namun tidak dengan Manda. Dia terpaku dan menatap seseorang di dalam lift dengan menganga. Manda berjalan mundur tanpa melepaskan pandangan dari orang dihadapannya.
"Mba ...? Masuk nggak?" Tanya seorang pria didalam lift hendak menekan tombol.
Manda hanya menggeleng pelan dan terus mundur teratur. Saat lift akan tertutup, seseorang keluar begitu saja menembus pintu lift yang sudah tertutup. Manda terus mundur dan sosok itu pun terus mendekat. Dia menyeringai dengan terus menatap Manda tajam.
"HAHAHAHA ... AMANDA ... BAGAIMANA KABAR KAWAN MU ITU? MASIH TIDAK SADARKAN DIRI KAN? ITULAH AKIBAT NYA KARENA DIA TERUS MENCAMPURI URUSANKU!" katanya dengan suara bergetar.
"KAMU!! APA MAU MU?! " tanya Manda dengan suara bergetar.
"MAUKU? KAMU!!" Ucap Abadon lantang, "Kamu lupa? Tugasku, membawamu ke Amon? Dan, DIA!!" Tunjuk Abadon ke ruangan Habibi "Sudah mengacaukan rencanaku! " ucapnya dengan penuh kemarahan. Di sekeliling tubuhnya seperti ada bara api yang menyala.
Manda terpaku dan terlihat berfikir keras, bagaimana agar dia bisa terlepas dari Abadon. Memang Abadon tidak sekuat Amon. Tapi tetap saja, dia kaki tangan Amon yang tidak bisa diragukan lagi kemampuannya. Terakhir kali Manda berhadapan dengan Abadon, dia koma selama 3 hari di Rumah Sakit.
Abadon menjulurkan tangan nya menjadi panjang sekali, Manda langsung berlari menghindarinya. Hingga tangan Abadon berhasil mencekik Manda lalu mengangkat Manda tinggi-tinggi. Manda kesakitan, Ia terus meronta agar terlepas dari cekikan Abadon. Tubuh nya terangkat terus ke atas. Tangan nya dia gunakan untuk menahan jemari Abadon yang ada di lehernya, walau Manda tau itu percuma. Abadon yang berjarak 5 meter dari Manda terus meledakan tawa nya, tawa penuh kemenangan. Ketidak berdayaan Manda membuat Abadon berada di atas angin. Hingga...
Claaashhhh!
"AAARRRGGGG!! " raung Abadon menggelegar memenuhi ruangan. Beruntung di lantai ini hanya ada mereka saja.
Tangan Abadon menggelepar putus begitu saja dan jatuh ke lantai. Manda pun ikut terjatuh di lantai, dengan memegangi lehernya sambil terus batuk batuk. Nafasnya tidak beraturan, paru parunya yang sempat kosong beberapa saat, membuat nya harus segera mengisinya kembali dengan oksigen sebanyak banyak nya.
"KURANG AJAR KAMU! " teriak seseorang dari kejauhan.
Saat Manda mendongak, ternyata Habibi tengah berdiri di ujung koridor dengan memegang infus di tangan kirinya dan sebuah bola cakra emas di tangan kanan nya yang bersinar terang.
"Habib ... " ucap Manda dengan nafas berat.
"Kamu nggak apa apa, Man? " tanya Habibi serius. "MANDA!! LIGHTNING COLD!!! " Teriak Habibi lagi.
Manda mengangguk, segera saja dia duduk sambil menyilangkan kaki nya dilantai dan terlihat berkonsentrasi penuh. Perlahan tangan Manda membentuk bola bola putih bersinar dan dingin.
Abadon masih mengerang kesakitan sambil memegangi tangan nya yang telah ditebas oleh Habibi. Ia menatap Manda dan Habibi dengan penuh kebencian. Dengan gerakan cepat, Abadon berhasil melesat dan mencekik Habibi hingga kantung infus nya terjatuh dan membuat jarum infusnya menyembul hingga merobek pergelangan tangan nya. Darah pun mulai menetes ke lantai dengan cukup deras. Tubuh Habibi terangkat ke atas. Ia pun mulai berontak seperti yang dilakukan Amanda tadi.
Bulatan sinar putih terang mulai terlihat dalam genggaman Manda. Bola bola yang awalnya kecil kini membesar sebesar bola basket, mata Manda langsung mengarah ke Abadon yang tengah menikmati siksaannya ke Habibi.
Wuuuuush!
Bola putih terang yang Manda buat di lemparkan nya ke Abadon, dan tepat mengenai dada iblis itu. Abadon terpental dan menghilang bagai debu.
"Uhuuk... Uhuuuk... " Habibi batuk batuk sambil memegangi dadanya.
Manda segera berlari menghampiri nya. "Kamu nggak apa-apa kan, Bib? " tanya Manda cemas.
"Nggak apa- apa kok, Man. Kamu sendiri gimana?" Tanya Habibi sambil memperhatikan Manda dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Aku nggak apa- apa kok. Kamu kok bisa kesini? Aku pikir kamu masih tidur. " tanya Manda heran.
"Kita sambil jalan aja yuk..., "ajak Habibi sambil berjaln kembali ke ruang rawat inap nya. "Jadi tadi aku udah bangun, tapi ternyata cuma ada Umi. Kata Umi kamu lagi nyari sarapan, cuma... Entah kenapa perasaanku nggak enak. Karena pas aku buka pintu kamar, hawa diluar panas banget. Akhirnya aku cari kamu. " jelas Habibi.
"Umi tau?"
__ADS_1
Habibi menggeleng.
Mereka sampai di Ruang rawat Habibi dan ternyata Umi sedang mengobrol dengan Abi yang ternyata sudah datang sedari tadi.
"Abi... " Habibi menyapa Ayahnya. "Udah lama?" Lanjut Habibi sambil memegangi lehernya.
"Kalian kenapa?" Tanya Abi dengan memandang tajam Habibi dan Manda.
Mereka yang ditatap seperti itu hanya menelan ludah berkali kali lalu mulai duduk dan menceritakan apa yang telah terjadi barusan.
Umi dan Abi saling pandang dan menghembuskan nafas berat.
"Kita harus lebih waspada. 'Mereka' sudah mulai lebih gencar menyerang." Kata Abi serius.
"Kita harus gimana, Bi?" Tanya Umi cemas.
"Sebenarnya yang 'mereka' incar... MANDA!" Kata Abi sambil beralih nenatap Manda.
"Tapi kita nggak mungkin membiarkan Manda sendirian menghadapi ini kan, Bi! " tutur Habibi geram.
"Pasti, Bib."
Umi mendekat ke Manda lalu memeluknya erat.
"Ni anak kemana sih? nggak dateng - dateng." gerutu Kevin sambil mondar- mandir di Lobby Kantor.
Tak jauh darinya, ada Vita yang sibuk cengengesan karena membaca obrolan grup Wa nya. "Bentar lagi paling, Vin, ah... Bawel banget deh." sindir Vita.
"Gue masih penasaran, Vit. Manda tuh kemaren kenapa buru - buru balik. Pasti ada masalah deh." tukas Kevin penasaran.
Tak lama dari kejauhan mobil minicooper Manda mulai memasuki pelataran parkir Kantor. Manda turun dari mobilnya diantar Habibi dengan seabuah plester yang menghiasi kepalanya, kondisi Habibi pun tak kalah memprihatinkan dengan beberapa perban yang menghiasi kepala dan pergelangan tangannya. Jalan nya pun agak pincang.
"Lho kalian kenapa tuh? Muka pada bonyok gitu?" tanya Kevin sambil mendekat ke Manda dan Haabibi.
"Nggak apa- apa. Biasa, Bro." jawab Habibi sambil menyentuh luka di wajahnya.
"Kalian berantem sama siapa nih?" Vita ikut menanggapi sambil terus mengamati wajah Manda dan Habibi bergantian.
"Bib ... Ada apa sih?" tanya Kevin masih penasaran.
Habibi hanya garuk garuk kepala.
Manda duduk di kursi miliknya sambil memainkan pena ditangannya.
"Man ... Kemarin Haga nyariin tau. Kamu sih pulang gitu aja, pamitpun enggak." ujar Vita.
Manda diam sejenak sambil menatap pena ditangannya. "Dia bilang apa?"
"Cie ... Penasaran." canda Vita sambil cekikikan.
Alvin masuk ke Ruangan mereka sambil membawa map biru ditangannya.
"Manda mana Manda?" tanyanya dengan raut wajah serius.
"Hadir!" ucap Manda sambil mengangkat tangan kanan nya ke atas.
Alvin mendekat ke Manda yang duduk di ujung.
"Elu yang berangkat ke Jepang ya. Gue nggak bisa. Gue harus ke Kantor cabang." paksa Alvin.
Manda menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan."Iya ...,"
Suasana Kantor kembali sibuk beberapa saat setelahnya. Semua kembali ke rutinitas masing- masing. Dan minggu depan Manda akan pergi ke Jepang bersama Kevin.
Sepulang kerja Habibi sudah menunggu Manda di parkiran depan Kantor, sambil bersandar di kap mobil, Habibi memainkan sepatunya sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana nya. Ditendang nya beberapa kerikil batu didekat kakinya, pikirannya menerawang jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Ia mengingat- ingat pertama kali dia dan Manda bertemu.
Mereka sudah lama saling mengenal, bahkan saat masih duduk di bangku SMU. Manda dan Habibi satu sekolah. Hanya saja mereka belum dekat seperti sekarang. Kedekatan mereka bermula saat Manda mengalami kecelakaan beberapa tahun silam. Dan, Habibi lah yang menyebabkan Manda kecelakaan saat Habibi mengemudi sambil mengantuk. Kedekatan mereka makin intens apalagi saat Manda mulai diganggu makhluk gaib. Habibi yang memang indigo sedari lahir, selalu menjadi tempat berlindung Manda saat Ia takut dan merasa terancam. Habibi lah yang melatih rasa takut Manda hingga dia menjadi lebih berani sekarang. Habibi juga yang mengajarinya bela diri agar Ia bisa menjaga dirinya sendiri. Yah ... Semua Habibi.
"Bib ... !!" teriak Manda sambil berlari menghampirinya.
Habibi mendongak lalu melemparkan senyum tipis ke Manda.
__ADS_1
"Udah?"
"Udah Bib. Kamu udah lama?" tanya Manda.
"Baru aja kok. Yuk ... Kita ke rumah Arifin." ajak Habibi lalu berjalan ke pintu mobil dan membukakan nya untuk Manda.
Sepanjang perjalanan mereka ngobrol seperti biasa. Arifin, adalah sepupu Habibi, dia juga mengajar di sebuah Pondok Pesantren yang Ia dirikan bersama keluarganya.
Hanya dalam 20 menit, mereka sampai di Rumah Arifin.
"Assalamualaikum ... Fin ..." seru Habibi sambil melongok jendela ruang tamu.
"Wa alaikum salam ..." sahut seseorang dari dalam.
Kalian? Kirain siapa. Masuk deh." Ajak Arifin lalu menuntun mereka berdua duduk disofa panjang bermotif bunga-bunga di Ruang tamu Rumahnya.
"Maaf ganggu ya, Bang." ujar Manda sungkan sambil meletakkan tas nya di meja.
"Santai, Man. Eh, kamu pulang kapan?" tanya Arifin lalu berjalan ke dalam.
"kemarin ... Eh, jangan repot-repot, Bang!" seru Manda setengah berteriak.
Arifin lalu keluar membawa nampan dengan beberapa cangkir teh dan kudapan ringan.
"Repot apaan sih. Namanya menjamu tamu hukumnya sunah loh." sahut Arifin sambil meletakan cangkir teh ke meja.
"Makasih ya, Bang." ungkap Manda.
"Sama - sama Manda. Eh, ngomong - ngomong kalian dari mana?" tanya Arifin sambil menatap Manda dan Habibi bergantian.
"Pulang kerja, Bang." sahut Manda.
"Tunggu ... Kalian kenapa ? Kok bonyok gitu tuh muka." tanya Arifin sambil menatap Manda dan Habibi lekat- lekat.
"Biasa, Fin." jawab Habibi sambil meraih cangkir teh dan menyecapnya perlahan.
Arifin terdiam sejenak, pandangan nya kosong. Lalu menaikkan sebelah bibirnya dan mengangguk cepat. Seolah paham apa yang terjadi pada Manda dan Kevin. "Terus apa tindakan kalian sekarang?" tanya Arifin serius.
"Yang jelas aku mau lawan 'mereka', Bang. Aku capek terus menghindar." ujar Manda sambil menarik nafas panjang.
"Kamu harus hati-hati Manda. 'mereka' licik." kata Arifin dingin.
"Iya Bang. Aku paham maksud Bang Arifin. Makanya aku mau minta tolong Bang Arifin buat kasih saran gimana ngelawan mereka."
"Aku pasti bantu. Tapi ini bukan waktu yang tepat. Karena Amor nggak akan bisa kita musnahkan di sini. Tapi ... Dia akan datang kesini saat terjadi Gerhana bulan biru kemerahan." ucap Arifin yakin.
"Apa? Gerhana bulan biru kemerahan? Emang ada ya, Bang?" tanya Manda heran.
"Ada. " sahut Habibi sambil menatap cangkir teh ditangannya. "Kamu pernah denger mitos soal Batara Kala?" sambung Habibi lalu menoleh ke Manda yang duduk disampingnya.
"Batara Kala? Bentar ... Pernah denger, tapi belum paham gimana mitos soal Batara Kala itu."
"Jadi mitos yang berkembang di masyarakat, dulu Batara Kala mencuri air keabadian di Surga terus di penggal kepalanya sama Batara Wisnu karena aduan Batara Surga sama Batara Candra ke Batara Guru. Kepalanya tetap hidup dan melayang di udara dan bernafsu menelan keduanya. Dan sejak saat itu, fenomena Gerhana bulan menjadi fenomena mistis. Dan saat SUPER BLUE BLOOD MOON, adalah saat Amor datang ke sini. Karena saat itu, dia menjadi lebih kuat. Karena akan ada 3 peristiwa bulan yang nggak biasa. Yaitu Supermoon ekstra, bulan biru dan gerhana bulan total. Dan itu terjadi ... " potong Habibi lalu beralih menatap Arifin yang sedari tadi ikut menyimak.
"2 bulan lagi." sambung Arifin mantap.
"2 bulan lagi?" tanya Manda sekali lagi.
Mereka berdua mengangguk bersamaan.
"Jadi kita cuma punya waktu 2 bulan aja?" ungkap Manda.
"Yah ... Begitulah." sahur Arifin.
"Tapi saat hari itu tiba, Amor akan terus meneror kita, terutama ... Kamu, melalui Abadon." sambung Habibi.
"Tapi bukannya Abadon kemarin ..." ujar Manda lalu melirik Habibi.
"Dia belum mati, Man. "jawab Habibi.
___________________
__ADS_1