pancasona

pancasona
Part 160 Vin kerasukan


__ADS_3

Masih menjadi misteri kenapa para iblis ini datang ke desa Amethys. Dari penuturan Zio, entah nama sebenarnya dari manusia itu atau nama dari si iblis ini, mereka sedang mencari seseorang.


Tentu rasa cemas mulai mendatangi Abi dan teman-temannya. Karena posisi Ellea yang memiliki peran sebagai pembantu malaikat, bisa jadi yang membuat beberapa iblis itu datang ke sini. Apa pun dan siapa pun yang mereka cari, tentu tetap menjadi hal tidak baik bagi desa mereka. Abi mulai membuat simbol lain sesuai saran Yudistira. Di depan pintu rumahnya, depan pintu kamar, dan di balik jendela di semua tempat. Allea juga melakukan hal yang sama. Vin yang sedang berada di luar kota, membuat Gio membantunya mengamankan rumah itu.


"Ell, kalau Vin nggak pulang malam ini, kau menginap saja di rumah kami," saran Gio. Allea yang sedang berbadan dua memang perlu perhatian ekstra dan juga keamanan ganda. Apalagi Vin setelah mereka menikah, lebih sering sibuk dengan pekerjaannya.


"Tenang saja, Om. Aku berani kok di rumah sendirian. Lagi pula Om Gio udah bikin simbol itu, kan? Aku yakin mereka nggak bakal bisa masuk."


"Hm. Ya sudah, terserah kau aja. Kalau ngotot mau di rumah sendiri. Tapi kalau ada apa-apa, langsung telpon kami, ya."


"Siap, Bos!" sahut Allea sambil memberi hormat ke pria itu. Gio tersenyum sambil mengusap kepala gadis itu. Ia pun kembali ke rumah setelah tugasnya selesai.


"Jangan lupa, taburi garam di sekeliling rumah, terutama depan pintu dan jendela." Begitulah pesan terakhir Gio, dan Allea hanya mengangguk, tanpa melakukan hal itu tentunya. Ia merasa kalau hal itu terlalu berlebihan.


Malam tiba. Lolongan serigala membuat mereka semua mendengarkan dengan seksama. Mereka tau kalau itu suara dari Rendra. Ia akan melolong di malam hari jika keadaan genting. Dan lolongan ini baru mereka dengar setelah beberapa bulan terakhir.


"Biyu ...," panggil Ellea dengan wajah cemas. Mereka bertiga sedang berada di ruang makan karena baru saja menyelesaikan makan malam.


"Nggak apa-apa. Malam ini biar aku sama Paman Gio berjaga-jaga."


"Tapi Allea gimana? Vin udah pulang belum sih?" tanya Allea cemas.


"Coba elu telpon dia, Ell. Pastiin. Kalau Vin belum pulang, gue jemput aja ke rumahnya. Biar dia tidur sini," tukas Gio. Ellea mengangguk lalu segera meraih gawai yang ada di nakas dekat sofa. Berkali-kali ia menghubungi Allea, tapi panggilan itu tak kunjung mendapat balasan.


[All, Vin udah pulang belum? Kalau belum kamu nginep sini aja, ya.]


Hampir menunggu 10 menit lamanya, pesan Ellea tak dibalas maupun dibaca. Hal ini membuat gadis itu makin cemas. Ia yakin terjadi sesuatu di rumah Allea, karena Allea tidak mungkin mengabaikan telepon genggamnya begitu saja. Ia merupakan seorang wanita yang aktif berselancar di dunia maya. Dan jarang sekali melepas ponselnya dalam waktu yang lama. Bahkan saat tidur sekali pun, ia bisa langsung terbangun jika ada pesan masuk. Karena notifikasi yang ia gunakan menggunakan nada dan getar yang cukup tinggi dan lama.

__ADS_1


Di tempat lain. Rumah Allea. Vin yang baru saja pulang dari pekerjaan nya, segera terkejut saat mendapati di pintu rumah itu ada simbol yang melingkar di sana. Vin mengambil kaleng cat yang masih memiliki cairan cat di dalamnya. Ia menumpahkan cat tersebut hingga mengenai simbol itu.


"Waduh, tumpah!" jerit Vin yang membuat cairan cat itu mengenai hampir seluruh teras rumahnya. Allea yang mendengar suara suaminya, lantas segera keluar.


"Loh, Yang, kok tumpah cat nya?" tanyanya heran.


"Ketendang tadi, nggak sengaja, Yang. Duh berantakan ini teras kita. Besok aja diberesin, ya. Minta tolong orang buat nge-rapihin," ujar Vin lalu merangkul istrinya dan menggiringnya masuk ke dalam. Allea menahan tubuh suaminya sambil melihat ke lantai kayu di teras.


"Yah, simbolnya hilang dong," gumamnya sedikit cemas.


"Simbol apa sih?"


"Om Gio tadi bantuin aku bikin simbol penangkal setan di rumah. yang."


"Buat apa?" tanya Vin, sambil mengerutkan dahinya. Allea mendekatkan bibirnya ke telinga Vin berbisik, "ada setan di desa kita."


"What?! Ah, ngaco!" cetus Vin kembali mengajak istrinya masuk ke dalam.


"Setan seperti apa sih? Apa sepertiku?" tanya Vin menatap wanita di depannya. Allea terperanjat, saat melihat warna bola mata Vin yang berubah menjadi hitam. Allea segera mundur, menjauh.


"Siapa kamu?!" jeritnya yang kini mulai ketakutan.


"Aku adalah orang yang tadi kamu bicarakan," sahut Vin sambil terus berjalan pelan mendekati Allea.


"Mau apa kamu!"


"Ah, ya, benar sekali pertanyaanmu. Tapi santai saja, aku hanya butuh kau hanya untuk umpan saja."

__ADS_1


"Maksudnya?!"


Vin meraih telepon genggamnya, lalu menunjukkan ke Allea. "Hubungi saudara kembarmu, kalau aku ada di sini!" katanya lantang.


"Hah? Apa?! Jangan harap!" jeritnya, menantang.


"Oh, kau mau bermain-main denganku, ya?" Vin berlari ke arah Allea. Sementara wanita itu berlari menghindari Vin yang bukan Vin lagi. Allea yang naik ke lantai dua, kemudian dijambak rambutnya hingga ia terpeleset dan jatuh dari tangga. Allea menjerit dan akhirnya pingsan. Darah keluar di antara kedua kakinya. Vin menyeringai.


"All! Allea! Vin!" panggil beberapa orang di luar rumahnya. Vin segera mencari jalan keluar, melompat dari jendela dan pergi dari rumahnya sendiri.


"Om, ini kenapa gini teras Allea?" tanya Allea yang melihat keadaan teras itu kacau.


"Padahal simbol itu aku buat di sini," gumam Gio mengamati tumpahan cat itu sambil mengusap dagunya.


Abi melihat mobil Vin yang sudah parkir di halaman rumah. "Kita masuk!"


Pintu dikunci dari dalam. Ellea panik dan mulai cemas. "Gimana dong ini!" raungnya sambil menatap Abi.


"Minggir!" sahut Abi. Ia lalu menendang pintu rumah Allea hingga sedikit rusak.


Mereka masuk sambil terus memanggil nama Allea dan juga Vin.


"Astaga! Allea!" jerit Ellea sambil berlari ke tubuh lemah yang sudah bersimbah darah di sana. Ellea berusaha menyadarkan saudaranya. Ia menepuk pipi Allea dan terus menjerit memanggil namanya. Gio dan Abi mencari keberadaan Vin. Abi mencari di bawah, sementara Gio di lantai atas.


Allea mulai mengerjapkan matanya, ia meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya. "All? Ada apa ini?" tanya Ellea.


"Vin ... Vin." Hanya kalimat itu yang mampu diucapkan Allea. Ia lantas menjerit sambil meremas perutnya. "Sakit, Ell. Perutku!" erangnya lalu melongok ke bawah. Ia melotot saat melihat darah gang begitu banyak keluar di antara kedua kakinya. "Anakku! Anakku!" jeritnya.

__ADS_1


"Vin kamu lewat jendela!" kata Gio dari lantai atas.


"Kita bawa Allea ke rumah sakit," sahut Abi dan langsung membopong kakak iparnya itu.


__ADS_2